Bulan Suci Ramadhan Di Banjarmasin Dan
Revolusi Budaya Tradisi Dan Adat Islam Banjarmasin
WELCOME BLOGGER FROG GOZILLA
Terima kasih pada anda para pembaca yang sudah mau
meluangkan waktu berharga anda hanya untuk membaca tulisan saya
Pendahuluan
Tulisan
ini saya bisa pertangung jawabkan kebenaran nya, dan tulisan ini di tulis juga
di bantu oleh kawan-kawan Avril fans fender Banjarmasin, dan tulisan ini juga
dari hasil dari diskusi bersama bersama tokoh-tokoh sesepuh Tanah Melayu,
pemerintah dan ormas-ormas, dan juga di hasilkan dari penelusuran lapangan langsung.
Tulisan
ini membahas dan memaparkan tentang Revolusi budaya, tradisi dan adat Islam
Banjarmasin, dan bagai mana bulan suci Rahmadhan atau bulan puasa di Tanah
Melayu, kegiatan apa saja yang di lakukan masyarakat, serta budaya dan Tradisi
Islam Melayu dari zaman kono hinga zaman moderen ini secara singkat dan jelas.
namun dalam tulisan ini hanya untuk di Fokus kan memampatkan Revolusi budaya,
tradisi dan Islam banjar, dan Bulan Ramadhan di tanah melayu Banjarmasin saja,
sedankan yang lain nya untuk memperlengkap tulisan ini agar jelas dan dapat di
pahami maksut nya dengan mudah.
Tulisan
ini juga sengaja merahasikan nama-nama Tokoh masyarakat, pemerintah dan
ormas-ormas yang terlibat dalam penulisan ini, karena sudah perjanjian bersama
setelah membaca ulang tex tulisan ini sebelum di terbitkan baik menjadi buku
dan artikel di Internet. Dan tulisan ini juga tidak merahasikan nama tokoh
masyarakat, pemerintah, dan ormas-ormas yang tidak meminta kami untuk
merahasikan nama nya. Dan di larang keras mencopy dan mencetak ulang tulisan
ini tanpa izin tertulis Avril fans Fender Banjarmasin Kantor Berita Kanada
Banjarmasin Industri Tv berita dan Musik Rock. Dan pelangaran cetak ulang akan
di jerat hukuman yang berlaku oleh pemerintah Indonesia dan Malasyia.
Tulisan
ini di tulis dengan bahasa melayu banjar yang tercampur dengan bahasa Indonesia
murni, karena saya kurang pasif bicara bahasa Indonesia murni, namun pasif
bicara bahasa melayu banjar, dan tulisan ini di tulis dengan kata kalimat kata
kasar, karena bengitulah tutur dealek bahasa melayu Banjar hulu, jadi mohon
kebejikan anda pembaca jika ada kekeliruan dalam tulisan ini.
Bulan Suci Ramadhan Di Banjarmasin Dan Revolusi Budaya Tradisi Dan Adat Islam Banjarmasin
A. Sejarah
Islam Masuk Tanah Melayu Banjarmasin Dan Revolusi Budaya Dan Tradisi
Banjarmasin
Gambar
Diskusi bersama Avril Fans Fender Banjarmasin di Kantor Berita Kanada
Banjarmasin
Tidak
jelas rasa nya membicara masyarakat banjar dan budaya Islam moderen nya, tanpa
mengetahui dulu sejarah bagai mana Islam ini masuk Banjar, yang menjadikan
Masyarakat Banjarmasin moderen ini. Dan sudah tentu banyak orang yang tidak tahu
bagai mana sejarah pulau Kalimantan ini secara 100% bahkan mereka orang banjar
itu sendiri, namun bukan karena tidak bisa di usut tuntas tentang sejarah pulau
Kalimantan ini, hal demikian terjadi tersebut di Karenakan akibat minim nya
sekolah di Indonesia ini membuat pelajaran sejarah untuk seluruh Nusantara ini,
sekolah hanya memberikan materi pendidikan sejarah berasas Jawa Majapahit saja,
jarang sekali membuat materi pendidikan sejarah Indonesia ini yang tidak
berasas Majapahit. Pemerintah hanya menekankan banyak kebijakan hanya untuk
Jakarta dan Pulau jawa saja tidak yang lain, bahkan Pemerintah yang bertanggung
jawab atas masalah ini juga tidak bertanggung jawab, mereka hanya membuat
penelitian peninggal sejarah untuk Jawa saja bukan yang lain, karena mereka
semua memang orang Jawa, dan jelas belum ada Presiden Indonesia yang non jawa.
Namun
belakangan ini atau pada rezim Jokowi ini, pemerintah sudah mulai memperhatikan
nya, akibat tekanan yang di berikan masyarakat daerah Nusantara, dan
kajian-kajian tentang sejarah daerah nusantara pun mulai di lakukan. Dan
penelitian-penelitian yang di lakukan oleh Mahasiwa Universitas Lambung
Mangkurat di mulai pada tahun 2010 lalu, atas perminta Sultan Khairul Saleh
Banjarmasin. Yang mana penelitian ini di danai seponsor, Industri dan sedikit
bantuan pemerintah Indonesia. Namun tahun 2012 lalu penelitian sejarah di
Banjarmasin di serehkan pada Avril fans Fender oleh Sultan Khairul Saleh
sendiri, dan sampai sekarang ini. Dan dalam perjalanan penelitian selama tujuh
tahun, dari mahasiwa universitas Lambung Mangkurat sampai pada Avril fans
Fender Banjarmasin banyak sekali menemukan bukti peninggalan sejarah Kalimantan
ini, yang mana Avril fans Fender menemukan arca-arca kono, mulai dari daerah
Rantau, Kandangan, Amuntai, Tabalong, Balangan, Kaltim sampai Brunai daru
salam, yang mana arca ini masih memakai tulisan malayu kono, dan hampir separu
lebih dari arca atau prasasti sejarah yang belum di terjemahkan tulisan nya,
dan kebanyakan dari arca sejaraha yang sangat sulit di terjemahkan adala arca
sejarah yang bertahun dari 200 M sampai pada tahun 1596, itu pun kalau benar
Avril Fans Fender bersama kawan dari malasyia dan Pak. Prof Liang Liji, yang
meneliti sejarah hubungan Cina dengan Kalimanta, ini menyatakan tahun tersebut
Tapi jelas nya arca atau piring Cina Kono dan patung yang di temukan tersebut
adalah Jelas sekali benda tua sekali.
Sultan Temengung Afdileng Borneo Banjarmasin abad 19-20
Dan
banyak sekali forum perdebatan ahli sejarah, baik ahli sejarah Indonesia
sendiri atau luar negeri, ahli sejarah non Islam atau ahli sejarah Islam itu
sendiri, kadangkala perdebatan tersebut memimcu konflik antar kubu mereka
sendiri, yang mana mereka menelah awal Islam di Bagian Selatan Kalimantan. Yang
mana kebanyakan kelompok berpedapat adalah Islam di selatan Kalimantan adalah
dari dirikan nya Kesultanan Banjarmasin tahun 24 September 1526 lalu, dan juga
Walisongo dengan Demak, dan teori lain nya dari pedagang muslim Arab, Aceh, dan
Parsi. Namun perlu di katahui bahwa di bagian Utara Kalimantan Orang Melayu
sudah menganut agama Islam, sebelum berdiri nya Kesultanan Banjarmasin, atau
pada abad 12, namum terbatas sekali, Karena juga banyak Kerajan Melayu baik
Sumatera dan Kalimantan perang dengan Majapahit, dan bagian selatan Kalimantan
yang di kuasai Siriwijaya di rampas Majapahit, namun Majapahit tidak menguasai
bagian Kalimantan Utara yang di Kuasai Brunai, dan Majapahit menyerang kerajaan
suku dayak Nansarunai, dan mendirikan nya Negara Diva pada tahun 1362 M Oleh
Suryanata, kerajaan Hindu Budha di Amuntai, atas perkawinan Putri Junjung buih
dengan Raden Arya Majapahit, dan Bhuda dan Hindu adalah agama Negara Diva
Tersebut, dan hal tersebut selalu mendorong pembenaran Islam masuk banjar
akibat didirikan nya Kesultanan Banjarmasin atas bantuan Demak Jawa tersebut.
Tapi setelah di lakukan penelitian lebih dalam dengan banyak biaya ini Bahwa
Islam masuk Banjarmasin bukan Karena Kesultanan Banjarmasin, tapi kelompok
orang Islam sudah ada sebelum Kesultanan Banjarmasin didirikan pada tahun 1526
M 24 September. namun mereka terbatasi Oleh Negara Daha, dan menurut sejarahwan
Suku Dayak Kapuas, di pesisir Sungai Barito Kelompok Muslim yang ada pada zaman
Negara Daha 1448-1526 M, bukan pedagang,
melainkan petani dan sudah menetap di sana, namun tidak di ke tahui dari mana mereka
berasal, karena sangat terbatasi, namun dugaan sementara mereka muslim yang berasal
dari utara Kalimantan Brunai, karena terlihat dari corak budaya dan tradisi
Islam nya tersebut, sangat sama dengan Brunai, dan sebagian lagi dari Sumatera
dan Malaka, kelompok muslim dari Sumatera ini yang di gadangkan para ahli
sejarah, adalah yang mendiami Kuin atau sekarang Banjarmasin, dan klaim lain
ahli sejarah banjar yang mengatakan kelompok muslim Sumatera itu adalah
kelompok yang mendiami Oloh Masih bahasa dayak untuk menyebut Banjarmasin, dan
mereka ini lah yang di angap pengekut Patih Masih pimpinan kampung oloh masih, namun
kebanyakan ahli sejarah menolak Klaim tersebut, namun setelah di adakan nya
forum diskusi Kesultanan Banjarmasin dengan sesepuh tua Kalimantan Sumatera,
yang mana diskusi ini di adakan untuk menghentikan semua perdebatan dan ketidak
samaan pendapat tentang kapan Islam masuk banjar tersebut, yang di lakukan pada
14 Desember 2013, yang memutuskan dengan hasil temuan dan penelitian Kelompok Avril
fans fender, Islam sudah ada di bagian selatan Kalimantan Sebelum Kesultanan
Banjarmasin didirikan, namun tidak tahu kapan dan tahun berapa dan kelompok
suku mana yang membawa Islam ke Banjarmasin. Kesultanan Banjarmasin tidak
membawa Islam ke Banjarmasin, tapi Kesultanan Banjarmasin adalah pemerintah
resmi Kalimantan bagian selatan adalah kerajan Islam pertama didirikan di
bagian Selatan Kalimantan, dan setelah masuk Islam nya Pangeran Samudra pada
tanggal 24 September tahun 1526, dan di beri gelar Sultan Surianshah. Dan
Sultan Suriasyah menetapkan Islam sebagai teologi resmi Negara, dari sejak
itulah berkembang nya Islam di bagian selatan Kalimantan. Dan tegas nya adalah
tidak dapat di katahui dengan pasti kapan dan oleh siapa Islam masuk
Banjarmasin, dan tidak bermaksut mengulang Kalimat, Kesultanan Banjarmasin
adalah pemerintah resmi pertama yang berasas Islam di bagian selatan Kalimantan
setelah menaklukan Negara Daha 1526 M, di hulu sungai Barito, dan pemerintah
resmi pertama yang benar-benar mengembangkan ajara Islam terhadap masyarakat
Dayak Kalimantan, Brunai memang sebuah pemerintah Islam kuat di utara
Kalimantan, namun tidak mampu menyebarkan Islam di Tanah dayak Kalteng. Seperti
yang di katakan ahli sejarah Cina Prof Liang Liji, andai saja Belanda tidak
datang ke Kalimantan, untuk menjajah Kalimantan, maka seluruh masyarakat
Kalimantan akan menjadi muslim, karena perkembangan Islam terhalangi oleh
perang Kesultanan Banjarmasin dengan Belanda dan Inggris. Dan sejarah
Kalimantan setelah berdirinya kesultanan Banjarmasin, sejarah yang bisa di
pertangung jawabkan kebenaran nya, karena setelah Kesultanan Banjarmasin
didirikan masyakat melayu banjar sudah mulai menulis dan membaca, meski memakai
tulisan Arab dengan kata Kaliman bahasa melayu banjar kono, maka dari itu
sejarah mulai di tulis para elit Istana Kesultanan Banjarmasin, dan semua
dokumen Sejarah Kalimantan sejak berdiri nya Kesultanan Banjarmasin di beri
nama Hikayat Banjar, dan semua nya pristiwa sejarah di tuliskan di dalam hikaya
banjar tersebut, meski kadang unsur gaip mitos mitologi di gambarkan dalam penulisan hikayat Banjar oleh
penulis Istanan Banjarmasin tersebut, namun perlu di pahami hikayat Banjar
adalah sumber utama dari sumber lain nya, dari semua kajian penulisan sejarah
Kalimantan di lakukan, yang semua dapat di pertangun jawab kebenaran nya, dan
dari hikayat Banjar tersebutlah para ahli sejarah menemukan banyak situs
sejarah di Kalimantan, karena daerah mana yang tercantung dalam Hikayat banjar
tersebut, para ahli sejarah melakukan penelitian di daerah yang disebut dalam
Hikayat Banjar tersebut, penilitian di lakukan untuk memastikan kebenaran nya, dan
semua situs yang tercantung dalam hikayat banjar tersebut di temukan para ahli
sejarah, seperti makam-makam tua dan sebagai nya, jadi inti nya Hikayat Banjar
adalah dokumen Sejarah yang utama, yang menjadi kajian tokoh sejarah Kalimantan
di samping juga yang lain nya.
Dan kami
tegaskan lagi pada anda, Kesultanan Banjarmasin tidak memasukan Islam ke banjar
pertama, tapi kesultanan Banjarmasin adalah pemerintah Islam pertama yang ada
di selatan Kalimantan, dan Kesultanan Banjarmasin adalah pemerintah pertama
yang menyuburkan perkembangan Islam ini. Dan setelah didirikan nya Kesultanan
Banjarmasin, Islam hampir saja membunuh semua Budaya dan Tradisi Kalimantan
yang berasas Hindu Bhuda atau anenisme, yang mana Kesultanan Banjarmasin pada
zaman nya selalu menegakan pembantahan terhadap unsur gaip, dan menghancurkan
praktik sihir, yang pada akhir nya mendorong masyarakat berusaha, berjuang dan
berdoa, bukan berharap pada berhala atau masalah gaip lain nya. Perkembangan
Sekolah berbasis Islam pun di bangun, dan pemendahan pelabuhan perdagang dari
Marabahan ke Banjarmasin, menjadikan Banjarmasin sentral perdagangan paling
maju di Kalimantan, dan banyak para pedagang asing yang datang, dan turut
berjasa dalam perjuangan Kesultanan Banjarmasin. Dan tidak begitu lama
Kesultanan Banjarmasin didirikan, maka dengan cepat nya Revolusi Budaya dan
Tradisi berubah drastic, yang mana Islam adalah menjadi acuan pembentukan
Budaya banjar tersebut, yang mana Budaya Banjar ini adalah sebuah budaya
gabungan antara melayu, dayak dan Jawa, yang menjadikan budaya banjar sendiri,
karena sebelum Kesultanan Banjarmasin didirikan, Budaya yang berkembang di
Kalimantan adalah budaya Jawa, bisa di katakana Budaya pijaman oleh masyarakat
di banjar, hanya dayak saja yang memakai budaya ciptan nya sendiri, namun
setelah Kesultanan Banjarmasin berdiri masyarakat Banjar tidak lagi memijam
budaya orang lain, melainkan sudah punya Budaya dan tradisi sendiri, yang semua
nya berbasis pada Islam, Kesultanan Banjarmasin juga mengembangkan Budaya
arsiktur Rumah mereka, yang mana arsik tektur Rumah budaya Banjar ukiran sangat
Melayu berbasis Islam sekali, yang mana Rumah banjar disebut dengan Rumah
bubungan tinggi. Perubahan Budaya dari pakain masyarakat banjar juga berubah,
yang mana Budaya pakaian zaman Kesultanan Banjarmasin adalah budaya pakain
melayu yang juga berbasis Islam, yang menekankan moralitas pada pakian mereka
tersebut, karena Islam melarang pakain yang memperlihakan aurat, bahkan bagunan
mesjid yang mulai mengacu pada Demak juga perlahan berubah menjadi masjid yang
menjadi kembangan Kesultanan Banjarmasin sendiri. Namun ada satu hal yang
paling sulit hilang nya, yang selalu menjadi konflik masyarakat Banjar
tersebut, masih ada nya pengaruh unsur Hindu Bhuda, yang kadang kala
menyesatkan Islam itu sendiri, dan ini selalu di perangi elet Kesultanan
Banjarmasin, dengan mengembangkan pendidikan Islam.
Gambar
Rumah Adat Banjarmasin. Yang di beri nama Rumah bubungan tinggi. Rumah adat ini
terpangaruh Melayu Islam, Dayak, dan Jawa, yang melahirkan arsiktiktor Budaya
dan Tradisi Rumah orang Banjar sendiri.
Gambar
pakain adat Banjarmasin, Murni Melayu Banjar Islam.
Gambar Mesjid Kembangan Arsektitor Kesultanan Banjarmasin Sendiri, yang melepaskan pengaruh Demak Jawa, dan lebih kental Dayak dan Melayu Sumatera, menjadikan ini Mesjid Banjar sendiri.
Dan orang
paling berjasa mengembangkan Budaya dan Tradisi Islam di kesultanan Banjarmasin
yang di ketahui secara umum oleh banyak orang, adalah Muhammad Arsad
Al-Banjari, dan di mungkinkan ada tokoh lain selain Arsad, Cuma belum di
temukan saja, mungkin penelitian sejarah di masa akan datang bisa menemukan
tokoh baru yang sejajar dengan Arsad. Dan yang mana beliau Arsad ini dulu di kirim
sekolah ke Mesir Arab dan Suriah oleh Kesultanan Banjarmasin, dan setelah
pulang ke Banjarmasin beliau mendirikan studi pembelajaran Islam, dan mengarang
buku terkenal mengenai budaya dan tradisi Islam Kalimantan, dengan nama buku
nya adalah Kitap Sabilal Muhtadin, dan kitap ini lah yang menjadi banyak acuan
pembentukan Budaya dan Tradisi Islam Banjarmasin, dan orang berjasa lain adalah
Muhammad Nafis, yang juga melanjutkan pengembangan Islam yang menulis buku
Burdah, yang mana 2 kitap ini menjadi sandaran teologi Islam Banjar tersebut,
dan jelas nya 2 orang tersebut adalah orang banyak berjasa dalam perkembangan
budaya dan Tradisi Islam Kalimantan, meski kadang ada budaya yang di
kembangakan berlawanan dengan Islam itu sendiri, doktrin masalah Haul orang
mati adalah salah satu nya, dan doktrin yang lain lagi, yang mana hal tersebut
tidak terdapat dalan Hadis dan Al-Qur’an. Klaim mereka Islam Banjar mereka
adalah Suni, Sunah Asli waljamah, dan mengadopsi mahzhat Imam Safi, Imam
Hanapi, dan Al Gazali, tapi menurut ahli Sejarah Timor tengah yang melakukan
penelitian Islam Kalimantan yang bernama Ali Pasha yang penelitian di lakukan
dari tahun 1999 lalu sampai pada tahun 2004 menyatakan Islam suni di Banjar
tidak sama dengan Islam suni di Timor Tengah, dan Islam Suni banjar adalah
Islam suni banjar itu sendiri, karena banyak budaya Islam yang berubah, kadang
bisa menghalakan sebuah budaya terlarang, budaya sejaian tersebut, yang kadang
kubur bisa menjadi berhala nya kelompok banjar ini, bahkan kuburan Muhammad
Arsat Al- Banjari dan Nafis di jadikan berhala, yang jelas terlihat di
Palampain Martapura Banjarmasin, banyak orang datang miminta permohonan, dan
penjualan zimat serta ayat suci Al-Qur’an itu sendiri.
Kesultanan
Banjarmasin dari pulang nya Arsat Al-bajari dari belajar di Timor tengah,
menjadi pusat studi dan pembelajar Islam Kalimantan, dan hampir semua budaya
dan tradisi Islam yang ada di Pulau Kalimantan adalah budaya Kesultanan
Banjarmasin, semua orang di Kalimantan datang belajar agama Islam ke Martapura,
dan di Martapura berdiri sebuah Pesantren paling besar di Kalimantan, mulai
sejak didirikan oleh Muhammad Arsad hingga sekarang, dan selalu melahirkan
ulama Islam tingkat Internasional, contoh ulama Islam Kesultanan Banjarmasin
yang moderen adalah Guru Ijai atau guru Sekumpul, dan nama lahir nya K.H
Muhammad Zaini bin Adul Ghani, yang
semua orang Islam menuruti ajaran beliua ini, dan Kesultanan Banjarmasin juga
bukan saja pusat studi Islam Kalimantan, namun Kesultanan Banjarmasin adalah
benteng utama dan paling kuat orang Islam Kalimantan, orang muslim mana saja
yang lari ke Banjarmasin dan meminta perlindungan maka pemerintah akan
melindungi nya, bahkan meski kadang muslim salah, tetap di bela nya Kesultanan
Banjarmasin sampai titik darah penghabisa, dan semua orang yang tingal di
Kalimantan tahu, jangan pernah menghina agama Islam di hadapan orang Banjar
kalau tidak ingin berurusan dengan mereka, meski orang Banjar bukan orang yang
fanatic dengan agama islam itu sendiri, atau mengamalkan ajaran Islam dengan
benar, tapi kecintan masyarakat Banjar terhadap Islam tidak bisa di pungkiri
lagi, layak nya orang Aceh dan Sumatera barat yang sangat mencintai Islam, dan
semua gaya hidup nya dan cara nya adalah Islam. Dan budaya dan tradisi
masyarakat banjar yang berubah dengan cepat pasca didirikan nya Kesultanan
Banjarmasin, budaya dan tradisi kuliner nya, semua tradisi makan berubah yang
pemicu perubahan tersebut, dengan di adakan nya seleksi halal dan haram nya
Kesultanan Banjarmasin, dari makanan pokok sampai makanan pelengkap nya
berubah, kue dan semua jelas nya, yang kadang kala juga ada budaya kuliner yang
lahir baru, yang mana budaya kuliner ini hanya di adakan 1 tahun sekali, pada
bulan puasa saja, yang mana setiap santap suar dan berbuka puasa, dan tidak ada
masyaraka yang kelaparan pada bulan puasa di Kalimantan pada zaman Kesultanan
Banjarmasin, karena semua orang pada saur dan berbuka puasa membagikan makanan
kepada siapa pun, kaya dan miskim semua duduk di meja yang sama dan memakan
makan yang sama, dan menjelang Hari Idul Fitri masyarakat banjar membagikan
baju dan celanan pada siapa pun, dan orang hari raya Idul firi zaman dulu
memakai baju yang sama, dan sholat bersama, dan ini jelas budaya dan tradisi
baru buatan kesultanan Banjarmasin. Budaya selamatan juga di adakan, orang
secara bergilaran di sebuah kampong menyelangarakan ini, dan berbagi makanan
bersama setelah pengajian bersama. Dan budaya dan tradisi yang berubah Pasca
kesultanan Banjarmasin didirikan, ya itu pada Budaya Dan Tradisi seni hiburan
music, teater dan lain nya, yang semua berbasis Islam, pada budaya seni sebelum
Kesultanan Banjarmasin didirikan, adalah termasuk budaya seni Exstrim suku
dayak, namun Kesultanan Banjarmasin berdiri berubahlah budaya tersebut. Budaya
dan Tradisi music di masyarakat Banjar menjelma menjadi budaya music agama,
begitu juga dengan teater nya, yang semua berasas Islam, lirik lagu berasas
islam dialok teater juga berasas Islam, yang mana Budaya ini di kenal zaman
moderen ini Madihin, dan Hapshi kasidah dan sebagai nya, semua berasas Islam.
Revolusi
budaya dan tradisi pasca berdiri nya Kesultanan Banjarmasin, yang mana para
Sultan menyurukan pada masyarakat, mengadakan parade arakan setiap malam bulan
puasa, yang mana arak-arakan ini bertujuan membangukan orang untuk santap saur,
dan kadang mereka berbagi makanan bersama, makan di pingir jalan dan sebagai
nya, kebersama yang sangat akrap sekali, dan bulan puasa adalah bulan yang
sangat di rindukan orang di Kalimantan zaman dulu, kemeriahan yang tidak ada
tandingan nya, semua orang di banjar libur bekerja 1 bulan penuh, semua
melakukan pesta agama, pesta yang benar meriah sekali, orang gotong royong
memperbaiki mesjid, jalan dan lain nya, yang semua Budaya dan Tradisi ini
adalah buatan Kesultanan Banjarmasin.
Kelahiran
budaya dan tradisi Islam banjar baru, yang kadang di angap ulama menyimpang, ya
itu budaya korban hari raya Idul Adha, yang mana masyarakat Banjar secara
bergiliran membeli sapi korban, yang cara pengorbanan nya terpengaruh Dayak,
yang mana tidak ada budaya Idul Adha Islam macam tersebut, mereka membendaki
sapi itu sebelum di sebelih, dan teologi gaip lain nya, yang terpengaruh dayak.
Revolusi Budaya dan tradisi yang terjadi pasca didirikan nya Kesultanan
Banjarmasin, dulu bangsawan banjar di beri gelar Pangeran, atau gelar
kehormatan masyarakat kaya adalah Pangeran, dan orang bergelar Pangeran tidak
harus orang Istana, atau keturunan resmi para Raja, gelar Pangeran adalah gelar
bagi para orang kaya atau berpengaruh, tapi setelah Kesultanan Banjarmasin
berdiri, gelar Pangeran di masyatakat berubah menjadi gelar Haji, dan sedangkan
gelar Pangeran hanya untuk kalangan Istana saja, atau keturunan para raja saja,
bukan orang kaya menurut masyarakat banjar orang yang belum pergi naik haji
tersebut, dan mereka mengatakan orang kaya meski orang itu tidak benar kaya
kalau iya pernah naik haji orang kaya nama nya, bukan orang hebat kaya dan
berani jika orang tersebut belum naik Haji. Dan perlu di Ketahui pada abad
17-18 Banjarmasin menjadi orang terbanyak naik Haji, meski sambil perang
melawan Belanda, mereka pergi naik Haji dengan Kapal Layar Aceh, karena semua
jemaah Haji di Kalimantan sebelum berangkat ke mekah, mereka akan singah dulu
ke Aceh, maka dari itu Aceh di berikan gelar Serambi mekah.
Revolusi
masyarakat Kalimantan pasca berdiri nya Kesultanan Banjarmasin, yang mana
revolusi ini adalah Revolusi yang menatukan banyak kelompok Enis Kalimantan,
baik dari kalangan Melayu atau Jawa, dan jelas nya adalah berdamai nya kelompok
melayu dengan Jawa, pasca perang Majapahit VS Sriwijaya dan Samudara Pasai
Aceh, dan dalam buku sejarah di nyatakan perang paling besar yang terjadi di
Asia Tengara yang pernah terjadi yang di ketahui secara umum oleh banyak orang
saat ini, adalah Perang Majapahit VS Sriwijaya Sumatera, Samudra Pasai dan
Brunai Daru Salam, perebutan tutorial yang tak pernah berkesudahan tersebut,
namun Setalah Islam masuk Nusantara semua mulai berdamai, alasan utama
perdamain ini adalah sama nya agama yang di anut nya mereka Islam, Islam
mengangap semua orang muslim itu bersaudara hukum nya wajib membantu saudara muslim lain yang
sedang kesusahan, dan persatuan perang melawan Belanda dan Inggris baik di
Kalimantan atau Jawa juga beralasan ini,
dan dirikan nya Negara Indonesia dan Malasyia juga alasan nya ini, jelas dan
singkat Islam menyatukan mereka semua nya dalam seluruh perjuangan yang di
lakukan berbagai kelompok, meski kadang budaya dan tradisi Islam tidak sama di
antara 1 dan yang lain nya, bahkan kadang bisa berkonflik, namun moral litas yang
di bentuk Islam tidak menjadikan perang saudara muslim Asia Tengara, seperti
perang Melayu VS Jawa atau di kenal orang luas, Sumudra Pasai VS Majapahit. Harun
Yahya ahli sejarah Turky Usmani dan Prof Dr Haiti penulis buku Histori Of The
Arab berkujung ke Banjarmasin pada 17 Maret 2005 pasca perdamain Aceh dengan
pemerintah Jakarta mengatakan, tidak ada agama lain selain Islam yang bisa
mendamaikan 2 suku terbesar di Asia tengara Jawa dan Melayu selain Islam, tiada
teologi lain selain teologi Islam yang menyadarkan kelompok Jawa dan melayu
ini, dan mereka bersatu padu menyebarkan Islam, yang di pimpin 5 Kekuatan
besar, Demak Bintara, Mataram, Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh dan
Kesultanan Banjarmasin, bahkan mereka berniat menaklukan kerajan Phlipina yang
ada di laut Utara Kalimantan. Dan hanya Kesultanan Banjarmasin pada zaman
Sejarah yang membukan pintu untuk kelompok Jawa di Kalimantan pasca runtuh nya
Negara Diva, yang mana Negara Diva basis perlindungan orang Jawa pasca runtuh
nya Majapahit, dendam kelompok Dayak dan Brunai melayu terhadap Jawa tidak bisa
di bendung lagi, akibat Majapahit mengempur kerajan dayak Nansarunai.
Kesultanan Banjarmasin membuka pintu untuk semua orang luar Kalimantan, dan hal
ini lah yang membaut Banjarmasin menjadi wilayah paling maju dan moderen dari
zaman sejarah hingga sekarang ini.
Dan
Revolusi social masyarakat yang besar terjadi hanya pada zaman Kesultanan
Banjarmasin berdiri, memang sebelum Kesultanan Banjarmasin berdiri sudah
terjadi fenomena revolusi social masyarakat Kalimantan, Cuma yang paling besar
dan bersejarah revolusi Sosial masyarakat yang terjadi iyalah pada zaman
Kesultanan Banjarmasin. Revolusi social yang terjadi ini akibat agama Islam dan
pelancung yang datang ke Banjarmasin. Banjarmasin pada zaman Kesultanan
Banjarmasin menjadi sebuah multik Eknik, dan satu-satu nya Daerah Kalimantan
yang multi eknik, karena pada zaman Kono Dayak menolak enik lain, sedangkan
Kesultanan Banjarmasin Tidak, yang penting mereka tunduk pada adat istiadat
Banjar tersebut, dan paling di tekankan harus tunduk pada Islam, maka dari itu
juga banyak pendatang terkejut melihat fenomena ini, yang mana orang luar
Kalimantan memandang Kesultanan Banjarmasin displin Islam keras, namun sebenar
nya tidak, Cuma keras hanya pada masyarakat banjar saja, tidak untuk pendatang
selama iya tunduk dengan ajaran Islam itu Sendiri. Revolusi Sosial yang paling
penting terjadi pada era Kesultanan Banjarmasin, atau pada abad 18-19 lalu
adalah, sadar nya masyarakat tentang Pendidikan Teknologi, dan bagai mana
penting nya Teknologi untuk pertahanan Negara, namun hal ini juga tidak
membuang Islam, dan hasil nya Skuler kawin dengan Islam, yang membentuk
Masyarakat banjar sekarang ini, dan banyak orang banjar pada zaman itu pergi
keluar Kalimantan untuk belajar. Dan hal ini di nilai ahli sejarah, adalah
terpengaruh Muhammad Arsad Al- Banjari tersebut untuk menuntut Ilmu, dan
pernyatan ini menjadi sebuah perdebatan pajang antara ahli sejarah di
Banjarmasin, namun ada lagi pedapat lain, mengangap Revolusi Sosial, atau orang
banjar menyebut dengan kata Revolusi Islam Banjarmasin 2, yang di galang untuk memusnahkan
teologi Dayak unsur Gaip dan menganti nya dengan unsur skuler, di akibat perang
dengan Belanda, yang mana Belanda yang perang dengan senjata Moderen, sedangkan
Prajurit Kesultanan Banjarmasin hanya memakai golok dan tameng saja, dan hal
ini menyadarkan penting nya Teknologi untuk Negara, maka terjadi lah pergi
untuk belajar ke negeri orang, memang pendapat ini terlihat agak kebenaran nya
secara garis besar, namun jika di pelajari dengan cermat bukan Karena ini,
karena sudah mulai didirikan Kesultanan Banjarmasin yang sudah membantah hal
gaip itu. Dan menurut kajian ahli sejarah Banjarmasin yang bernama Anang
Ardiashah, Revolusi itu sebenar terjadi akibat persaingan perdagan yang besar
di Banjarmasin, dan pengaruh pendatang yang datang Ke Banjarmasin membawa skil
untuk bersaing, baik secara Industri, dagang dan buruh kerja Industri, yang
mana juga masyarakat banjar malu dengan pendatang yang cerdik, sedangkan mereka
terkekang kebodohan, dan jelas nya pada abad 18-19 Banyak industri berdiri di
Banjarmasin, baik yang luar negeri dan dalam negeri sendiri, yang membutuhkan
tenaga kerja berpendidikan tinggi, dan juga terpangaruh nya masyarakat banjar
dengan Turky Usmani dan Iran Persia, yang mengembangkan teknologi, meski paham
Islam banjar berlawanan dengan Iran Persia itu sendiri, namun mereka secara
jujur salut dengan Iran Persia yang mengembangkan Teknologi. Revolusi Sosial
pada abad 18-19 ini juga dengan cepat mengubah Banjarmasin, meski Belanda zaman
ini menyatakan Kesultanan Banjarmasin di Hapuskan, namun di dalam dada dan
pikiran orang Banjar tidak runtuh Cuma pindah Istanan Saja, ke pedalam
Kalimantan, dan Kesultanan berubah menjadi Pegustian, dan pengustian ini di
pimpin oleh Anak Pangeran Antasari yang bernama Gusti Muhammad Seman, orang ini
memipin suku dayak muslim perang melawan Belanda, hingga beliau gugur pada
tahun 1905 lalu di Kalteng, Belanda mengagap ini kejatuhan Kalimantan sepenuh
nya, maka Belanda memecah daerah Totorial Kesultanan Banjarmasin dengan sandi
Afdeling Borneo, dan menjadikan Banjarmasin basis sentral pemerintah Belanda
yang mengantikan Kesultanan Banjarmasin, namun angapan ini salah, nyata
Kesultanan Banjarmasin terus ada hingga detik ini, mereka hanya kehilangan
Istana saja, dan hal ini juga memicu kembali Revolusi Sosial masyarakat
Kalimantan, yang membentuk budaya dan tradisi baru menguatkan penting nya
pendidikan, maka dari itu pada fase ini banyak di bangun perkompulan social,
dan pendirian banyak sekolah tinggi di Banjarmasin, dan era ini era Jepang di
Kalimantan, dan Jepang berkawan dengan Kesultanan Banjarmasin untuk menghadapi
Belanda, meski Jepang Kejam nya. Dan jelas nya adalah apa pun yang terjadi di
Banjarmasin, tidak sedikit pun mengikis paham Islam nya, justru malah
memoderenisasi nya, yang mana Pesantren juga mengajukan pada siswa menulis
huruf latin dan sebagai nya, dan sekarang Pesantren Martapura pada era ini
sudah mengadakan Sesytem pendidikan digital Komputer.
Hal yang
paling penting juga mengenai Revolusi Sosial Budaya Kesultanan Banjarmasin
adalah, zaman dulu abad 18-19 Pemerintah bukan saja pemimpin Politik dan
masyarakat, tapi pemerintah juga pemimpin Agama Islam, sholat Jum’at dulu di
banjar langsung di pimpin Sultan Banjar, atau aparator pemerintah, di desa-desa
Kalimantan penghulu, atau pemerintah Kecamatan Kesultanan banjar, juga
melakukan hal yang sama, kepala desa langsung memimpin agama, sholat berjamah
dan seluruh kegiatan lain nya, mesjid atau langgar adalah tempat orang
bermusyawarah untuk kepentingan bersama, dan banyak lagi fungsi mesjid di
masyarakat Kalimantan. Singkat nya pemerintah bukan saja memerintah politik
sipil militer, namun juga imam Islam. Kesultanan Banjarmasin langsung turun ke
masyarakat dalam kegiatan, besar atau kecil kegiatan tersebut, selamatan atau
sukuran pada masyarakat aparat kesultanan Banjarmasin tidak pernah Absen,
mereka memasak makan bersama, bahkan pernikan, tidak peduli maskin atau kaya,
kesultanan Banjarmasin langsung ikut terjun ke masyarakat luas, gotong royong
mengadakan pesta yang semua berbasis Islam. Kegiatan Remaja Mesjid juga di
adakan, yang fungsi nya untuk mengajari anak-anak mengaji Al-Qur’an, dan ini
wajid di laksanakan, remaja mesjid pada bulan Ramadhan memasak bersama untuk
bersantap saur dan berbuka puasa bersama, dan kegiatan ini juga langsung di
pimpin Kesultanan Banjarmasin, tidak peduli kaya atau miskin semua nya sama di
hadapan tuhan, semua orang berbagi makanan di mesjid di jalan tempat lain nya,
zakat dan sebagai nya, para petani setiap musim panen akan memberikan 10% hasil
penenya untuk mesjid, agar kegiatan terus belangsung. Dan banya hal penting
lain nya lagi.
Terserah
apa pun tanggapan anda pembaca, percaya atau tidak anda, saya tidak bermaksut
mengucilkan yang lain nya, atau mengangukan Kesultanan Banjarmasin, karena jika
anda belajaran sejarah Kalimantan dengan benar, maka anda akan mengetahui hal
ini, dan lilihatlah di perpustakan buku-buku sejarah tentang Kalimantan di
sana, lihat dari mana sumber yang di ambil untuk mengambarkan Kalimantan zaman
kono, sudah pasti hikayat banjar, Tex Sejarah Brunai dan Solu, dan Kesultanan
Kutai Kartanegara. Tapi yang paling lengkap pasti hikaya Banjar dengan perecian
yang mudah di pahami walau agak kedengaran dongen, dan sejarah paling lengkap
di tulis untuk sejarah daerah Kalimantan, hanya sejarah Banjarmasin. Dan saya
tegaskan lagi ini bukan untuk mengangukan Banjarmasin tapi ini kenyatan
terjadi, dari zaman didirikan nya Kesultanan Banjarmasin, Banjarmasin menjadi
sebuah daerah yang amat penting bagi Kalimantan ini, dan peranan penting bagi
penduduk Kalimantan, dan peranan penting utama adalah perdagang dan studik
pendidikan, di mana pun orang Tinggal di Kalimantan, mereka ingin mengejar
pendidikan, maka sudah pasti ke banjar, baik ingin pendidikan skuler atau
pendidikan agama Islam, dan hampir seluruh Industri yang ada di Kalimantan
berkantor Induk di Banjarmasin, dan moderenisasi social juga terjadi banjar dan
dalam waktu begitu singkat menyebar kewilayah lain. Hal penting yang perlu di
ketahui, kalau anda pendatang luar Kalimantan yang melihat orang muslim di
Kalimantan, orang akan menyebut nya suku banjar meski orang itu bukan banjar,
hanya dayak yang muslim berganti budaya nya, orang jawa di Kalimantan,
membulakan semua orang muslim yang tingal di Kalimantan, yang berbicara non
dialek tutur dayak maka iya akan di bulat dalam suku Banjar, meski iya bukan
Banjar, orang muslim Balikpapan dan Samarinda hingga sambas juga orang banjar,
padahal mereka dayak kutai yang muslim memakan bahasa banjar, orang dayak di
Kalteng juga sama, bahkan orang jawa yang lama menetap di Kalimantan akan
berubah menjadi banjar, semua budaya dan tradisi menjadi Banjar, dan juga orang
Jepang yang tertingal di Kalimantan pasca perang dunia 2 sekarang mereka
menjadi orang Banjar, dan ini sudah membuktikan betapa kuat nya Budaya dan Tradisi
Islam Banjarmasin mencengram orang Kalimantan. Dan jelas juga jika anda
pelancong datang ke Kalimantan, maka anda bertanya pada orang, dengan kalimat,
kamu orang mana, iya menjawab pasti saya orang banjar, padahal iya lahir di
Balikpapan, namun Balikpapan sendiri juga memakai budaya banjar. Sebelum
Indonesia Merdeka, bahasa resmi yang di pakai di Kalimantan adalah bahasa
Melayu Banjar dan melayu Brunai, karena bahasa melayu ini mudah di mengerti
orang mana saja, bahasa melayu ini juga adalah ibu dari banyak bahasa yang ada
di Kalimantan dan Sumatera, bahkan bahasa Indonesia murni juga adalah turunan
Bahasa Melayu. Dan Sultan Suriansyah dengan resmi menentapkan bahasa melayu ini
untuk semua penduduk Kalimantan. Singkat kata ini adalah membuktikan kuat nya budaya
adat Istiadat Banjar ini, dalam kurun 4 abad budaya banjar ini hampir membunuh
semua budaya yang ada di Kalimantan ini. Dan tidak dapat di pungkiri lagi,
Banjarmasin adalah daerah Acuan daerah lain di Kalimantan, semua berawal dari
Banjar, mengalir ke pedalam Kalimantan, semua kebijakan pemerintah Jakarta juga
di gantukan pada Daerah Banjarmasin, dan sejati nya adalah Banjarmasin adalah
suatu Negara berdaulat Sebelum Indonesia didirikan, dan kejatuhan banjar di
mulai pada tahun 1905, dan banjar tidak bisa lagi merebut daerah tutorial nya
sama sekali, dan kekosongan pemimpin di Banjarmasin mendorong para tokoh banjar
untuk bergabung Indonesia, dan ini berujung pemberontkan Ibnu Hajar. Alasan
paling kuat mengapa Ibnu Hajar memberontak adalah dengan di caplok nya daerah
Banjarmasin oleh Sokarno, dan memisahkan pemerintah dari agama, dan ini
bertolak belakang dengan budaya dan tradisi di Banjarmasin, yang saya sudah di
paparkan di atas tadi, dan kecerobohan juga di lakukan kembali oleh Orde Lama,
mereka melebur Provinsi Aceh menjadi Kabupanten yang ikut dalam tutorial
Sumatera Utara, dan ini adalah memicu perang Suadara pertama terjadi, yang
Jelas DI dan TII bergabung di bawah Komando Kawarsirto, Daut Aceh, Kahar
Muzakar Sulawesi, Ibnu Hajar Banjarmasin. Dan ahli sejarah Banjarmasin
mengatakan fenomena ini dengan Revolusi Sosial masyarakat Kalimantan baru,
karena terjadi pergesar budaya dan tradisi begitu drastic sekali, dan alasan
umum yang di ketahui orang mengapa Ibnu Hajar Memberontak, padahal iya pertama
setuju dengan bergabung dengan Indonesia? Adalah Pertama Sokarno menjanjikan
kepada setiap tokoh masyarakat terkemuka, jika Indonesia menang maka Indonesia
ini akan jadi Negara Islam Indonesia, maka saat ini di dendangkan Sokarno, para
Panglima Islam bergabung, namun ujung nya Indonesia berdiri bukan menjadi
Negara Islam justru memisahkan Agama, hal ini di angap Ibnu Hajar penghiantan
terhadap TII dan DI, namun itu masih membuat nya tidak memberontak, dan hal
yang paling mendasar nya dan utama adalah, Pemerintah Orde lama melebur daerah
Totorial Kesultanan Banjarmasin, mejadi Kalimantan Tengah dan Timor, dan sabah
Federasi bebas, Samas juga di bebaskan, hal ini lah yang memicu pemberontakan
tersebut, meski pemerontkan ini gagal, dan Ibnu Hajar di hukum mati, tapi
justru sengketa nya ini tidak pernah berakhir, dan semua masalah pemberontakan
di Kalimantan hal yang mendasari nya adalah ini, dan semua kelompok Separatis
Kalimantan juga masih mempermasalahkan hal ini. Saya sudah katakana ini masalah
budaya dan tradisi orang Kalimantan, kusus nya muslim, pemerintah tidak bisa
dipisahkan dari agama Islam, meski kelompok muslim banjar ini bukan orang
fanatic, tapi setiap sendi kehidupan nya adalah Islam, dengan di pisah nya
agama dari pemerintah, mesjid tidak lagi berguna sebagai wadah masyarakat
bermusyarah, dan tidak ada lagi yang menyokong kegiatan Agama. Kelompok dayak
sangat mendukung hal ini, karena mereka akan berhenti berurusan dengan
Kesultanan Banjarmasin, dan sekali lagi saya tegaskan, berdiri nya Indonesia
ini kembali merevolusi Budaya dan tradisi masyarakat banjar, dan untuk meredam
pemberontakan pemerintah memberikan daerah tutorial Islam, ya itu Martapura,
namun hal itu tidak membuat masyarakat puas, rasa berat di hati mereka masih
ada, dan kerap sekali perencanan pemberontakan terjadi di Kalimantan, jika anda
orang Kalimantan, anda tahu berapa kali sudah masyarakat Kalimantan yang di
motori Banjar melakukan pemberontakan, media Koran dan Tv hanya merahasikan nya
saja atas permintan pemerintah Jakarta, agar daerah lain tidak melakukan hal
yang sama, karena juga jika kabar menyebar luas, ujung nanti daerah melakukan
perlawanan. Dan sampai detik ini juga masih banyak kelompok Separatis di
Kalimantan, mereka hanya menungu waktu nya saja, karena belum ada alasan kuat
untuk melakukan, andai saja saat Kairul Saleh bupati banjar itu tidak di beri
izin untuk memugar publikasi pada masyarakat, atau meminta pengakuan
pemerintahJakarta bahwa Kesultanan tidak musnah, melainkan vakum dan kehilangan
Istanan saja pasca perang melawan Belanda saja, dan sekarang kembali Kesultanan
Banjarmasin tahun 2010, namun kembali bukan untuk berkuasa di Kalimantan, tapi
untuk menjaga budaya dan tradisi Islam Banjar dan budaya lain nya tidak hilang
di makan waktu, dan tidak bersifat Monarki (memirintah secara keturunan) atau
Feodalisme, maka dengan pasti kelompok seperatis akan melakukan pemberontakan,
meski Kairul Saleh tidak meminta nya pada kelompok Separatis, karena ini hanya
menjadi alasan mereka saja untuk memberontak pada pemerintah Jakarta. Dan jelas
nya juga memang ini yang di inginkan oleh masyarakat Kalimantan Selatan, dan
itu alasan nya mereka mendukung nya. Dan masalah ini juga masyarakat Kalimantan
Selatan mengatakan Yogyakarta boleh bergaya kesultanan Yogyakarta oleh
Hamengkobhon, bahkan sifat nya Monarki Feodalisme, masa Kesultanan Banjarmasin
tidak boleh, dan tidak dapat pengakuan nya akan perjuangan nya yang
mempertahankan Kalimantan dari jajahan belanda, ini jelas pemerintah tidak adil
dan pilih kasih, mungkin ini lah penyebab nya Aceh memberontak. Dan jelas nya
lagi bagi masyrakat banjar, Bupati atau Gubernur yang menjabat pasti di panggil
mereka sultan, dan angapan masyarakat banjar Moderen ini yang di maksut dengan
Kesultanan Banjarmasin adalah maksut nya adalah pemerintah tingkat 2 Republik
Indonesia, atau pemerintah daerah, jadi semua orang di dinas itu di angap
pegawai kesultanan Banjarmasin, TNI dan Polisi di angap prajurit kesultanan
Banjarmasin, maka dari itu budaya dan tradisi Islam banjar begitu kuat nya dan
lestari.
Waktu
berjalan, meski daerah tutorial Kesultanan Banjarmasin di pecah oleh Orde Lama,
namun masih tidak menghilangkan ligitimasih nya, Banjarmasin sebagai central
Perdagangan dan Studi belajar Kalimantan. Dan hal penting lain nya dalam
pergesaran budaya ini, angota DPRD serta Bupati atau Gubernor Banjar, masih
mengimami Sholat masyarakat, baik Sholat Jum’at dan seterus nya, dan ini juga
meredam pemberontakan, karena tidak ada sama sekali alasan untuk melakukan nya,
pemerintah juga masih mengepalai badan-badan agama dan budaya tradisi adat
banjar, kegiatan-kegiatan masyarakat masih terus berjalan. Dan saya tegaskan
lagi, Kesultanan Banjarmasin memang pemerintah Islam, namun masyarakat banjar
bukan orang fanatic dalam mengamalkan ajaran Islam itu sendiri, mereka sangat
mencinta Islam dan takan membiarkan Islam di hina, dan pada zaman Orde Baru
Banjarmasin terus berkembang, baik dari seni budaya dan tradisi nya, teater
music dan yang lain juga berkembang, pembentukan Band-Band Rock terjadi
Banjarmasin, music Rock tidak di larang di Banjarmasin meski pemerintah banjar
pemerintah Islam, film juga tidak di larang, Pakain wanita, wanita juga sudah
dari dulu tidak harus berhijap pada era kesultanan Banjarmasin, dan jelas nya lagi
Banjarmasin berkembangan dengan pesat dari daerah lain Kalimantan, Banjarmasin
banyak melahirkan artis berbakat, band Rock Berbakat yang go Internasional
bersaing dengan Jakarta, contoh Band Rock Banjarmasin Power Metal, meski Pawer
Metal didirikan nya di Surabaya, namun personel nya dari Banjarmasin, music
melayu berkembang menjadi music dangdut Melayu dan Islam juga semakin moderen
saja di Banjarmasin. Dan pada Fase ini Islam di pimpin oleh Guru Ijai, atau
guru Sekumpol Martapura, beliau juga mengembangkan ajaran Islam moderen, dan
beliau juga sandaran umat Islam Kalimantan, ribuan orang luar daerah Banjar
datang untuk belajar Islam pada beliau, Bupati dan Gubernur juga yang di lantik
juga menghadap beliua, bahkan konflik yang terjadi di Kalteng atara dayak dan
Banjar beliau juga orang yang mendamaikan nya, orang ini adalah paling di
hormati di Kalimantan, dan tidak ada satu pun orang membantah apa yang beliua
katakana untuk kepentingan bersama, dan Banjarmasin tetap menjadi benting
pertahanan Islam Kalimantan, dan beliua juga memisahkan daerah Martapura dengan
Banjarmasin Totorial, yang mana pusat Islam di Martapura, dan Banjarmasin
adalah wilayah bebas, maka dari itu Diskotik pun ada Di Banjarmasin, dan
diskotik Banjarmasin juga diskotik paling besar di Kalimantan, tidak ada diskotik
mana pun mampu mengalahkan HBI ini, Cuma untuk hal ini di bentuk juga badan
Islam untuk mengawasi nya, dan Diskotik libur pada hari penting Islam, Hari
Jum’at, bulan puasa harus libur 1 bulan penuh. Maka nya kadang orang heran
melihat Banjar ini, masyarakat Muslim skuler, dan cinta Islam meski mereka
membangkan ajaran Islam itu sendiri. Dan sudah di ketahui secara umum dari era
Kesultanan Banjarmasin, selama pandatang dari luar Kalimantan, Industri imigran
dan lain tunduk dengan Islam, dan menaati anturan yang di buat kelompok Islam,
maka pemerintah tidak akan mengangu gugat nya.
Gambar
Guru Ijai, Guru Sekumpul dan nama Lahir K.H Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani
Namun
juga pada era ini terjadi berbagai pristiwa penting yang juga menetukan banjar,
demontrasi dan kerusahan benar-benar terjadi, ada nya kolompok yang masih belum
terima terhadat pemecahan wilayah tutorial Kesultanan Banjarmasin, dan katakana
lah nya pemingiran nya budaya dan tradisi Banjar, kadang kala aksi ini bisa rasisme,
yang menuduh kalangan jawa, namun pemerintah daerah masih bisa meredam nya,
sangat sulit sekali melepas budaya dan tradisi Kesultanan Banjarmasin. Puncak
kerusuhan terjadi pada tahun 1998 lalu, dan kerusahan ini di sebut dengan
Jum’at berdarah atau Jum’at kelabu, kebencian atas pemerintah Jakarta yang
tidak menghargai Islam, partai pro nasionalis konvoi tidak tahu orang sholat
Jum’at mereka malah membabi buta di jalanan, dan jelas saja kelompok Islam
menyerang nya. Dan kerusahan pada tahun 2000 juga di Kalteng di pengaruhi oleh
kelompok Banjar, Madura VS Dayak, namun banyak muslim Madura lari ke Banjar,
dayak tidak berani mengejar nya, bahkan Guru Ijai kembali turun untuk
mendamaikan nya, andai saja guru Ijai tidak turun saat itu, kerusahan ini akan
membesar, dan bisar berujung banjar muslim vs Dayak, yang juga sebernar nya
Banjar muslim juga membantu Dayak, ini di dukung Kelompok banjar untuk membuat
Kekacuan untuk melakukan pemberontakan, tapi sukur saja Guru ijai mampu
mendamaikan nya, dan menjaga kelompok supaya jangan memberontak, guru Ijai juga
membuat kegiatan-kegiatan agama seperti Kesultanan Banjarmasin, untuk menahan
kerinduan nya masyarakat terhadap jati diri mereka sendiri. Dari tahun 2000
Pemerintah coba terus untuk melakuakn pembenahan terhadap Kelompok Banjar,
namun tidak ada perubahan tetap saja mereka masih merindukan Kesultanan
Banjarmasin pemimpin mereka, berbagai masalah melanda masyarakat banjar, pro
dan kontrak terus meliputi perjalanan mereka. Sebenar nya apa yang terjadi sudah
hampir menyerupai Kesultanan Banjarmasin, Ligitimasih banjar tidak hilang,
Banjar masih Sentral, dan pintu gerbang perdagang bagian Selatan Kalimantan,
banjar masih terus menjadi acuan daerah lain, dan Banjar masih menjadi studi
pendidikan, sentral Islam Kalimantan, jadi masalah ini kadang kala menjadi
pertanyan banyak orang yang melihat fenomenan ini, apa yang sebenar yang mereka
inginkan, hanya mereka yang tahu.
Dan pada
tahun 2003 di banjar, ada sebuah kelompok di buat lagi oleh para pemuda banjar,
yang mana kelompok ini misi nya adalah untuk membebaskan lagi Islam yang mulai
keluar Jalur, dan mereka memprotes pemerintah, mengapa pemerintah berdiam
melihat orang menjadikan Kuburan Muhammad Arsad Al-Banjari dan Nafis berhala,
dan penjualan ayat suci Al-Qur’an di lakukan, ini tidak lebih seperti pristiwa
sejarah yang terjadi di Mekah Arab Suadi, yang menjual air zam-zam tersebut,
dan kelompok ini hampir saja membuat konflik jika saja tidak di tangani oleh
pemerintah, dan dengan cepat juga pemerintah mengadakan larangan terhadap
penuhanan pada kuburan, bahkan di Tapin Rantau kuburan Datu Sangul juga di
jadikan berhala nya mereka tersebut. Dan ini juga kembali terjadi pengesaran
budaya dan tradisi adat Islam banjar tersebut, meski guru Ijai masih Hidup.
Para pengamat Agama dan tokoh budaya banjar mengatakan terhadap fenomena ini
terbalik sekali, karena pada zaman moderen ini masyarakat banjar terpengaruh
unsur gaip lagi, seharus zaman dulu bukan sekarang kata pengamat, kris atau
senjata bisa di angung kan mereka, tapi pergesaran Budaya ini tidak berlangsung
lama, dengan sigap Guru Ijai membendung kesesatan tersebut, dengan cara
memberikan paham mendidikan dengan Jelas sekali yang di terapkan di sekolah,
dan gerakan pergesaran budaya ini banyak terjadi di daerah hulu banjar, atau
benua 6.
Dan di
mulai dari tahun 2004, di Banjarmasin mulai terjadi gesekan-gesekan pemerintah
daerah dengan pemerintah pusat, yang mana ini masalah peraturan umum yang di
buat pemerintah Jakarta, yang di angap menyimpang, karena sudah jadi budaya di
Banjarmasin, mereka ini libur 1 bulan penuh bekerja, dan bulan puasa adalah
bulan yang sangat di tunggu-tunggu masyarakat Kalimantan, bulan puasa yang
sangat meriah dengan banyak pesta tersebut, orang-orang di banjar pada bulan
puasa ini libur bukan saja untuk melakukan Ibadah, namun juga ada alasan lain
nya lagi, dan Bulan Puasa pulang nya para perantau banjar ke Banjar lagi, dan
mereka sangat akrap sekali, mereka banyak melakukan kegiatan bersama, yang juga
kegiatan tersebut tidak semua nya agama Islam, Cuma kegiatan yang ada pada
bulan puasa di Tanah Melayu 70% berunsur Islam, dan sisa nya kegiatan lain nya.
Hal ini juga terkadang memicu konflik lagi, banyak Industri luar Kalimantan
yang beroperasi di Banjarmasin, yang kadang kala mereka bergiatan pada bulan
puasa, yang ujung membuat tergangu nya masyarakat, mereka yang bekerja di
Industri juga tidak di berikan libur oleh Industri di mana mereka bekerja, dan
ujung demontrasi terjadi di mulai dari Tabalong, daerah paling utara
Banjarmasin, PT Adaro menjadi sasaran mereka, pengawai PT Adaro meminta Cuti 1
bulan penuh, pada bulan puasa, dan menganti peraturan lama dengan yang baru,
yang mana PT Adaro memberikan cuti kerja 3 bulan sekali, dengan rentang waktu
libur 2 minggu lama nya, dan mereka meminta Cuti 3 bulan sekali itu di bulat
kan saja, menjadi libur panjang selama bulan puasa, perlu di pahami PT Adaro
berati tidak beroperasi karena tidak ada pegawai yang kerja, demontrans ini
begitu cepat menyebar hingga sampai ke Banjarmasin, dan pemerintah pun
mendukung hal ini, karena mereka memang ingin begeni, harus nya pemerintah
Jakarta memahami ini.
Kota
Banjarmasin moderen ini juga di datangi banyak pelancung baru, dan kaum dagang
baru, yang berujung masalah, karena mereka pendatang berjualan makanan pada
bulan puasa, dan pemerintah membiarkan nya, dan pemerintah tidak membereskan
nya seperti yang sereng di lakukan, sudah umum di Banjar, di larang berdagang
makanan pada bulan puasa, kecuali pasar ramadhan yang di awasi oleh
pemerintrah, dan di larang berdagang makanan dan semacam nya di depan mesjid
pada siang atau malam hari, karena bisa mengangu orang banyak nanti nya, dan
harus nya Pemerintah menertipkan penjualan miras pada bulan puasa ini, dan
akibat ini timbul angapan mungkin pemerintah yang duduk bukan orang banjar,
karena tidak tahu dengan budaya dan tradisi nya sendiri.
Dan pada
tanggal 20 Agustus tahun 2005 masyarakat muslim Kalimantan di guncang dengan
hebat nya, dengan kabar bahwa Guru Ijai meninggal dunia umur 63 Tahun. Dan
setelah kabar tersiar, aktivitas beberapa kota di Kalimantan terhenti Total,
toko-toko tutup, tidak ada orang berjualan, murit sekolah di pulangkan semua
nya, kantor pemerintah juga tutup, dan jalan begitu padat sekali, semua orang
tua muda, Islam Kristen dan kelompok dayak pun juga ikut berduyun menuju
Martapura untuk melihat Guru Ijai untuk terakhir kali nya, banyak orang tidak
bisa menahan tangis nya, Bupati, Gubernor dan angota DPRD pun semua melawat
kesana. Dan ini adalah sebuah fenomena luar biasa, baru kali ini terjadi dalam
sejarah Kalimantan, seorang ulama Islam meninggal banyak orang berduyun datang
mengantar ke kuburan, tangisan terdengar kemana-mana, dan kejadian terjadi
selama 7 hari, dan aktivitas semua berhenti Total. Orang penting yang meninggal
di Banjar masih tidak seperti ini kejadian nya, Bupati meninggal, aktivitas
masyarakat terus berjalan, Gubernur meninggal juga tidak terjadi semacam ini,
jelas begitu besar nya pengaruh dan charisma nya Guru Ijai ini. Selamatan di
mana-mana di adakan sampai 100 hari, di Balikpapan, Samarinda, Pontianak,
Palangkaraya, Muara Teweh, Puruk Cahu, Pangkalanbun, semua nya melakukan
selamat dan mendoakan Guru Ijai, bahkan sampai sekarang ini kuburan nya ada
orang terus mendoakan nya. Kepergian guru Ijai benar-benar memukul orang Islam
di Kalimantan, mereka semua kehilangan pemimpin hebat mereka, namun Guru Ijai
sangat banyak sekali mewariskan Ilmu pendidikan Islam pada murit nya, dan
kitap-kitap yang di tulis oleh Guru Ijai, dan sampai sekarang ini belum ada 1
orang pun yang mampu mengantikan posisi nya sebagai pemimpin orang Islam
Kalimantan, dan orang terus berharap tuhan akan mengerimkan lagi pemimpin
seperti itu hadir di tengah-tengah orang Kalimantan.
Gambar
orang berduyun mengantar Guru Ijai ke tempat peristirahatan yang tenang, 5
Agustus tahun 2005
Tapi
tampak terlihat dalam 2 tahun sepeningalan Guru Ijai belum ada perubahan pada
masyarakat, karena banyak orang yang memprediksikan, bahwa Islam akan terkikis
di masyarakat banjar, karena tidak ada lagi orang yang memimpin, dan sampai
pada bulan puasa pun juga masih tidak ada tampak perubahan pada masyarakat
banjar dan lain nya, kegiatan terus berjalan saja, pemerintah juga tidak apsen
dalam sholat berjamah di mesjid bersama masyarakat, dan selalu memberikan
masyarakat pengarahan, namun perlu di pahami dan di katahui, dari sejak di
pisahkan nya agama dengan pemerintah, mesjid hampir kehilangan pungsi nya, ya
itu tempat masyarakat berkumpul dan bermusyawarah, yang membawa pada akibat
rakyat tidak terlalu bisa bersuara lagi untuk memberikan saran terhadap
pemerintah, mesjid hanya jadi tempat Ibadah saja lagi, bahkan mesjid sangat
besar di bangun di Tanah Melayu tapi minim kegiatan nya. Dan pada akhir nya
mulai muncul tanda-tanda pada tahun 2010 yang tampak sedikit terlihat ada nya
Revolusi Budaya dan Tradisi Islam Banjar ini, meski Islam sangat kuat di hati
masyarakat, perubahan yang tampak itu sebenar bukan karena di tinggalkan guru
Ijai semata, namun ada hal lain jua mendasari nya, dan tanggapan oleh para
sesepuh banjar yang melihat perubahan ini mereka mulai mencoba menangani nya,
agar budaya dan tradisi Islam banjar tidak menghilang nanti nya, maka dari itu sesepuh
Banjar berencana untuk mempublikasikan nya secara luas bahwa Kesultana
Banjarmasin masih ada untuk masyarkat yang luar area Banjarmasin, karena hanya
orang yang tinggal di kota banjar saja yang tahu bahwa Kesultanan Banjarmasin
itu masih ada tidak runtuh, dengan cara meminta pengakuan pemerintah Jakarta,
seperti yang sudah saya kata kan di atas tadi, dan Sultan Khairul Saleh yang
memimpin nya, meski kadang kecurigan pemerintah Jakarta ada, dan pemerintah
Jakarta sangat mencengankan mereka, karena mereka takut hal ini bisa memimcu
masyarakat banjar ingin keluar NKRI, dari tahun 2010 itu juga Sultan Khairul
Saleh mengkapanyekan Sejarah Banjar Budaya dan Tradisi pada masyarakat agar hal
ini terus terjaga. Dan juga mengalakan penulisan Sejarah Banjar untuk jadi
bahan materi pendidikan di Banjarmasin, karena pendidikan sejarah tentang
daerah sunguh sangat kurang sekali, memang ini terlihat tanda berhasil nya
dalam mengintergrasi nya masyarakat banjar kembali. Dan hal paling umum yang di
ketahui tentang publikasi keberadan Kesultanan Banjarmasin itu untuk masyarakat
yang jauh dari Banjarmasin, untuk mengurangi rasa ketidak adilan pemerintah
Jakarta di hati penduduk Kalimantan, yang di angap mereka pemerintah Jakarta
hanya membangun Jakarta dan Pulau jawa saja, tidak untuk yang lain nya. Dan
juga untuk meredam banyak kelompok separatis yang bercongkang di Kalimantan,
yang mana kelompok ini adalah Kelompok pendukung Ibnu Hajar, dan sebagian dari
mereka adalah kelompok dayak muslim Loksado Kandangan benua Antaludin, yang
mana kelompok ini tergabung dengan militer resmi Pemerintah Indonesia, alias
Batalion TNI, yang terutama Batalion Kadangan dan Batalion 1008 Tabalong, yang
selalu mengatakan pemerintah Jakarta tidak menghargai perjuangan Kesultanan
Banjarmasin untuk Indonesia, seperti jasa Gusti Muhammad Seman Anak Pangeran
Antasari, Penghulu Dayak Muslim Kalteng Temengung Surapati, Temengungu
Antaludin, Sultan Kuning, Aleng Tambai Makah, Pangeran Antasari, Sultan
Hidayatulah, Haji Buyasin, Penghulu Rasit, Temenggung Jalil, Palinglima Batur, Dhemang
Lheman, Wangkang, Ali Akbar, Hasan Basryi, dan banyak lagi yang lain nya lagi.
Dan bukan hal baru di Kalimantan, kusus nya Kalimantan Selatan, Batalion pada
17 Agustus hari kemerdekan Indonesia, mereka menurunkan sepanduku-sepanduk,
baleho dan atribut lain nya, yang mengambarkan pahlawan kemerdekan Indonesia
yang tokoh Majapahit, seperti Jendral Sudirman contoh nya, seolah golongan
Majapahit saja yang berjasa untuk Indonesia ini tidak lagi ada yang lain nya,
bahkan Pahlawan Daerah di tanah kelahiranya, pemerintah memasang baleho
pahlawan Majapahit, itu justru menanbah kebencian masyarakat atan nenek moyang
mereka yang berjuang di daerah mereka, sedangkan Pahlawan Majapahit sendiri
tidak terlibat dalam perang tersebut, seperti perang Muning di Rantau oleh Sultan
Kuning dan Antasari, Perang Balangan, Perang Tatas, Perang Tabalong dan lain
nya, dan mengapa baleho yang bergambar Pahlawan Majapahit yang tidak terlibat
perang mempertahankan daerah itu di pasang di daerah itu, harus nya baleho dan
sepanduk yang di pasang bergambar pahlawan orang yang mempertahan kan daerah
tersebut, itu baru benar, dan alasan ini lah sesepuh Banjar mempublikasikan
Kesultanan Banjarmasin secara luas, tentang pengakuan Pemerintah Jakarta, agar
terjadi kesejatran bersama, dan menghilangkan rasa tidak adil tentang hanya
Yogyakarta saja yang boleh, dan untuk jelas nya lagi untuk menyatukan Muslim
Kalimantan semua nya, dan bersama membangun dan menjaga Budaya dan Tradisi
bersama agar tidak hilang baik di makan zaman, waktu serta ke adaan dunia yang
maju, serta doktrin budaya dan tradisi kelompok, klaim dan lain nya, dan juga
untuk menghentikan dugaan kekawatiran Islam akan terkikis akibat Guru Ijai
meningal dunia, pada para pengamat Banjar itu sendiri.
Dari
kabar yang tersiar keluar Banjarmasin atau Kalsel oleh media TV atau koran
mengenai kampanye keberadan Kesultanan Banjarmasin ini, sangat banyak dampak
positip nya yang terjadi, terutama pada daerah bagian Kalteng dan Kaltim, orang
dayak muslim yang tidak sependapat dengan pemerintah Jakarta menjadi berkurang,
karena orang dayak muslim Kalteng adalah orang yang berjuang bersama Gusti
Muhammad Seman Anak Pangeran Antasari melawan penjajah Belanda, dan Kelompok
dayak ini saat Muhammad Seman Meninggal sebagian melarikan diri jauh masuk
pedalaman Kalimantan Tengah, dan menetap di dalam hutan tersebut, bahkan tidak
sadar lagi bahwa Belanda sudah tidak ada lagi di Banjarmasin, dan dengan
Kampanye yang di sebarkan ke mana-mana ini baik media dan lain nya lagi,
membuat kelompok dayak ini keluar dari Hutan dan tepat pada tanggal 12 oktober
hari Kamis tahun 2011, dari kapal salah seorang pedangan Alalak Banjarmasin,
yang mana kapal dagang ini berdagang ke hulu sungai Barito Kalteng, dan Kapal
ini lah yang di tumpangi oleh para dayak untuk membutikan Kabar tersiar, mereka
melabukan jangkar nya di Pasar Terapung Banjarmasin, dan bergegas ke halaman
Mesjid Sabilah Muhthadin, untuk bertemu Sultan Khairul Saleh, dari sejak itu
lah Dayak muslim yang bersembunyi di Hutan Kalimantan keluar dari hutan, dan
hutan di mana mereka tinggal pun di kembangkan pembangunan nya, dan pemerintah
Kesultanan Banjarmasin dengan Resmi memberikan pembangunan generator listrik
untuk 4 kampung, mendirikan mesjid dan sekolah. Dan hal lain nya lagi adalah,
setelah kabar ini keluar Kalimantan Selatan, beberapa Kelompok separatis
Kalimantan, baik, Kateng, Kaltim, Kaltar, Kalbar, hingga Sabah Malasyia, keluar
dan pergi ke Banjarmasin, dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi, dan hanya
sebagian kecil kelompok separatis Kalimantan saja lagi yang masih belum
berdamai dengan pemerintah Jakarta. Dan dari sejak itu pemimpin dayak muslim
Kalteng, duduk beruding di Banjarmasin, yang mana mereka mengajukan tuntutan,
untuk mengebangkan kembali Budaya dan Tradisi Islam Kalimantan, yang wilayah
jauh dari Banjar, yang di angap dayak, mereka yang sudah pudar adat istiadat
nya, jadi perlu di ada kan kembali intergrasi dari pihak Kesultanan
Banjarmasin, namun Sultan tidak melakukan pengembangan langsung, tapi
mengadakan pembelajaran lokasi, untuk mengentahui apa yang harus di Lakukan.
Sedangkan rapat Kesultanan Banjarmasin tahun 2012, yang membentuk kembali tim
untuk penyelangaran remaja mesjid Kalimantan, karena ini yang banyak di
keluhkan masyarakat, yang merasa mesjid hanya menjadi tempat ibadah saja lagi,
tidak seperti dulu tempat musyawarah. Dan pada tanggal 5 April 2013, Masyarakat
Tabalong mengrim perwakilan ke Banjarmasin, untuk mengurus konflik Industri
pada bulan puasa dengan masyarakat Tabalong, dan juga permintaan resmi dari masyarakat
supaya PT Adaro membangun mesjid di KM 63 Jambantan Layang Simpang Wara, agar
masyarakat setepat dan pegawai PT Adaro, bisa melakukan ibadah nya. Dalam
menangapi hal ini, Kesultanan Banjarmasin pun berdiskusi dengan banyak para
tokoh terkemukan Kalimantan, untuk bagai mana cara mengambil tidakan yang
tepat, di samping mengirim untusan ke Jakarta untuk melaporkan nya.
Dan pada
hari selasa 4 Juni 2013, kelompok dayak muslim bagian Bontok, Puruk Cahu, Muara
Teweh sampai Kaltim dan Sambas, mengeluhkan mengenai makam Gusti Sultan
Muhammad Saman, sultan terakhir yang memrintah Kesultanan Banjarmasin di
pedalam Kalimantan Tengah dan Kaltim pasca perang dengan Belanda, yang tidak
terurus sama sekali, kuburan nya penuh dengan rumpu tebal, nisan nya dari kayu
ulin hampir hancur, dan sebenar nya pemerintah Provinsi Kalteng tahu ini Cuma
membiyarkan nya, bahkan Kesultanan Banjarmasin pun juga di tuduh kelompok ini
telah lalai melakukan kewajiban nya, Muhammad Seman adalah Anak Pangeran
Antasari. Dan setelah kabar ini merebak, Kelompok TNI Kadangan dan Batalion
1008, yang kebanyak mereka di kenal di masyarakat dengan nama Ormas Sumatera,
yang angota nya adalah kebanyak Dayak Loksado pendukung Ibnu Hajar ini pun
bergabung melakukan penuntutan ini, dan ini adalah hal paling memanas yang
terjadi sepanjang perjalanan masyarakat Kalimantan, yang berujung pada
pengulingan rezim SBY yang begitu dahsyat, di Tabalong Bupati Rahman Ramshi di
gulingkan kelompok ini, dan Pristiwa ini di kenal masyarakat luar Banjar dengan
nama Revolusi Islam 3, dampak tersiar nya kabar Keberadan Kesultanan
Banjarmasin itu, yang paling lebih parah nya adalah, daerah Kalteng sebagian
ingin bergabung dengan Pemerintah Provinsi Banjarmasin, karena mereka mengangap
Gubernor Teras Narang, telah memingirkan Budaya dan Tradisi Islam Kalimantan,
dan banyak lagi Konflik yang di timbolkan oleh masalah ini, terutama bentrokan
masa FPI dengan pasukan dayak Pro Teras Narang, tuduhan pemerintah tidak
menghormati bulan puasa di Kalteng, di mana orang makan di jalan semua nya,
meroko dan lain nya lagi, razia masalah miras tidak di lakukan, dan sampai
sekarang belum ada kepastian masalah ini, dan masalah ini di larang untuk di
publikasikan, karena bisa memicu pemberontakan, dan tulisa ini memamaparkan
masalah ini agar anda tahu jelas tetang terbentuk nya masyarakat muslim moderen
Kalimantan ini 2017, dan latar belakang masalah nya, bukan bertujuan untuk
memprokasi, semuga anda pembaca dengan bijak memahami nya.
Dan harus
di ketahui adalah, masalah mengenai luntur nya Budaya dan Tradisi Islam itu,
bukan masyarakat di kota Banjarmasin, tapi masyarakat muslim Kalimantan yang
berada di garis perbatasan Kalteng Kaltim hingga jauh ke pedalaman, karena di
kota Banjarmasin sudah di paparkan di atas tadi, tidak ada perubahan banyak
mengenai Budaya dan Tradisi adat Islam, meski guru besar Islam Kalimantan
meninggal dunia, Karena masyarakat Banjar sangat kuat, dan keberadan Kesultanan
Banjarmasin selaku pemerintah daerah yang di katahui secara umum, arti nya
mereka tahu bahwa Pemerintah Jakarta menghormati nya, tapi setelah di
publikasikan nya, maka ini lah yang terjadi dampak nya. Kelompok yang di bentuk
oleh Avril fans Fender untuk meniliti masalah ini di Masyarakat, mendapakan
hasil memang yang terjadi benar, bukan rekayasa dayak Muslim dan lain nya,
karena di luar Banjarmasin, Muslim mulai luntur sudah budaya dan tradisi, dan
ada sebagian kelompok juga yang memarjinalkan nya, dan yang jelas nya lagi
adalah, Kelompok Muslim di Kalimantan sejak dulu, sudah mengangap Kesultanan
Banjarmasin itu adalah benteng mereka, dan masalah apa saja yang terjadi di
antara mereka, pasti di adukan nya pada Kesultanan Banjarmasin untuk memutuskan
nya, dan sejak gugur nya Gusti Muhammad Saman, 1905 bagi mereka yang jauh dari
Banjarmasin merasa mereka sudah kehilangan benteng nya, dan dengan kabar ada
nya keberadan nya, maka otomatis mereka sangat antusias besar, mengadukan
masalah semua nya yang terjadi dari Gusti Sultan Muhammad Seman meninggal
dunia, dan sampai masak kini. Dalam wawancara tahun 2013 oleh Avril fans
Fender, yang mewawancarai suku dayak Kalteng, mereka mengatakan andai saja
Kesultanan Brunai daru Salam itu bagian dari Indonesia, maka kami akan
mengadukan masalah ini pada mereka Kesultanan Brunai, masalah ketidak adilan,
dan hampir luntur nya budaya dan tradisi Islam pasca Muhammad Seman Mininggal
dunia, dan sekarang kami sudah tahu Kesultanan Banjarmasin masih ada, Cuma
hanya di rahasikan pemerintah untuk membendung dampak ini, dan kami meminta
pada Kesultanan Banjarmasin mengambil tindakan nya, agar kesajatran pun
terkendali, dan kembanykan masalah nya juga adalah, tentang penyelangaran
budaya Islam pada saat Ramadhan tiba, di mana pemerintah Provinsi yang
bersangkutan melakukan nya alakadar nya saja, bisa di katangan kegiatan itu di
lakukan hanya semata memenuhi supaya di padang tidak lalai, dan kebanyakan
penyelangaran itu yang melakukan nya hanya ormas-ormas Islam swasta atau partai
politik Islam, di tambah bangsawa Islam pendana nya, kebanyak donator dari Aceh
dan Sumatera Barat saja, padahal mereka mengunang pemerintah untuk hadir,
pemerintah tidak hadir, kusus nya Teras Narang tersebut, sebenar kami tidak
mengharapkan bantuan dana, tapi kami mengharakan silaturahmi antara sesama,
baik muslim dan non muslim, seperti dahulu pada era Kesultanan Banjarmasin, di
mana pada waktu bulan Ramadhan, orang berkumpul makan bersama, tidak peduli
kaya atau miskin, setelah sholat taraweh tiba, orang beicara bersama dan sangat
akrap sekali, dan itu semua nya lenyap pasca Gusti Muhmmad Saman gugur berjuang
melawan Belanda. Jadi jelas nya sudah terlihat dari masalah nya, dengat
pernyatan ini, masalah adalah penyelengaran budaya dan tradisi Islam pada bulan
Ramadhan, dan masalah pemarzinalan, dan keriduan terhadap pemimpin muslim. Dan
kejadian terbaru di Tabalong 2013, juga penuntutang pembangunan Islamik Center
terhadap pemerintah dan PT Adaro yang menangani masalah Haji, karena repot
pergi ke Banjarmasin dari Tabalong, dan Tabalong Amuntai adalah Jemah terbanyak sudah dari era Kesultanan Banjarmasin.
Dan baru
pada awal tahun 2014 lah Pemerintah Daerah dan Kesultanan Banjarmasin, dapat
mengambil tindakan nya, yang pertama mengadakan diskusi di Sumatera untuk
menangani masalah ini, yang mana era ini di mulai nya pemerintah baru
Indonesia, Rezim Jokowi, memang Presiden Jokowi belum berkujung ke Banjarmasin
saat itu, namun Kesultanan Banjarmasin dalam diskusi meminta PT Adaro untuk
membangun mesjid di simpang Wara, agar terjadi kesejatran masyarakat, karena
nanti bisa hal fatal terjadi, masyarakat bisa membrontak, dan pertmintan ini di
Kabulkan PT Adaro, dan langsung di awasi Bupati Baru Tabalong Anang, pengerjan
Islamic Senter juga di Lakukan di Tabalong, dan mengadakan fistival budaya dan
tradisi oleh pemerintah Tabalong, dan akhir mendingin lah Tabalong, namun tidak
untuk berhenti karena masalah kerja pada bulan puasa belum lagi di tangani, dan
masalah luar Kalsel juga masih memanas, memang pembicara itu selalu di adakan,
namun tidak semudah itu melakukan nya. Hingga pertemuan yang ke 2 di Banda Aceh,
Kesultanan Banjarmasin, meminta Industri di Tabalong agar menghormati bulan
Ramadhan di Tabalong agar tidak terjadi masalah serius nanti nya, dan
memberikan cuti pada para pengawai, namun dalam perundingan yang di setujui
adalah, PT Adaro akan mengurangi Jam kerja pada bulan puasa, tapi tidak bisa
berhenti bekerja 1 bulan penuh karena bangkrut, dan dari berbuka PT Adaro
istirahat beroperasi, bagi pegawai nya yang mau berbuka puasa di rumah juga
silahkan, berbuka di PT Adaro juga silahkan, dan silahkan juga menunaikan
shalat magrip nya dan Tarawih nya, dan setelah Shalat Tarawih PT Adaro akan
beroperasi lagi seperti biasa, dan Istirahat lagi pada saat saur dan shalat
subuh. Dan hal ini berhasil total, orang yang shalat Tarawih tidak lagi
tergangu suara brisik mesin PT Adaro, dan pegawai nya juga bisa melaksanakan
kegiatan ibadah nya sebagai Muslim, tuntutan juga dari Sultan, agar PT Adaro
berzajat Fitrah pada akhir bulan Ramadhan atau hari raya Idul Fitri, juga di
kabulkan, dan hal ini juga di awasi langsung oleh Bupati Anang, dan pengawai di
beri cuti kerja 5 hari seluruh untuk mudik lebaran, hasil nya kedamain tercipta
di masyarakat Tabalong, dan ini sebab nya Anang di Tabalong di pertahankan. Dan
masalah di line Kalsel sudah berakhir, hanya saja lagi masalah luar Kalsel yang
mendesak Kesultanan Banjarmasin untuk melakukan nya.
Dan
Kesultanan Banjarmasin pada 2014 juga meminta kelompok dayak di Kalteng untuk
bersabar dulu, karena Sultan sedang berniogosiasi dengan Jokowi masalah ini,
dan menyampaikan apa masalah pada DPR dan Jokowi, agar tidak terjadi maslah
besar nanti nya di semua pihak, namun pada saat ini Batalion Omas Sumatera
Tabalong dan Kandangan, bertidak berani, mereka bekerja sama dengan Militer
Malasyia di perbatasan Kalimantan Barat untuk mengali ulang kuburan-kuburan
Prajurit Kesultanan Banjarmasin yang gugur dalam perjuangan mempertahan
Kalimantan, namun juga bukan saja kuburan pihak Banjar Kalimantan di bongkar
nya, tapi semua nya, yang berbendera Indonesia, dan membawa kerangka nya ke
Banjarmasin untuk di makamkan di tempat yang layak atas jasa nya mempertahankan
Kalimantan, dan sebagian TNI Jawa di Banjarmasin, membawa kerangka prajurit DI
dan TII yang gugur di perbatasan ke Jawa lagi untuk di makamkan di tempat yang
pantas atas jasa nya. Dan sebalik nya Militer Malasyia juga membungkar kuburan
prajurit nya, dan membawa nya ke Malasyia untuk di makamkan, dan Batalion Ormas
Sumatera bersama Industri memberikan santunan uang bagi keluargan para pejuang
yang gugur, dan hal ini terjadi pada bulan puasa tahun 2014 lalu, dan kejadian
semacam ini tidak terjadi 1 sekali saja, namun berungkali, dan ini termasuk
dari wasiat dari bapak Tentara Kalimantan Hasan Basri Kadangan bumi Antaludin,
dan ini di ampuni pemerintah, karena bermaksut baik, dan jelas nya sudah umum
bagi TNI pada bulan puasa di Banjarmasin untuk bersama membersihkan makam para
pahlawan, dan kebiasan ini adalah budaya dan tradisi bikinan Kesultanan
Banjarmasin. Dan terlibat nya Batalion dan Polisi pada kegiatan bulan puasa
sudah umum di Banjarmasin, yang jelas bukan saja TNI dan Polisi mengamankan
orang beribadah tapi juga ikut bersama-sama dengan masyarakat, bahkan kalau
pimpinan Batalion Induk Munawarman Banjarbaru jadi iman sholat di Banjarmasin
pada bulan puasa itu juga umum saja, dan ini lah kerinduan umat muslim yang
berada luar Banjarmasin.
Namun
pada akhir tahun 2014, Rezim Jokowi yang berdiskusi dengan Kesultanan
Banjarmasin, yang di katakana akan memenuhi tuntutan penulisan sejarah daerah
Nusantara ini, dan akan di masukan dalam kurikulum pendidikan Indonesia, dan
wajid bagi daerah Nusantara semua untuk meneliti sejarah daerah nya, dan
memberikan nya pada generasi agar tahu, dan hal ini menjadi sorotan masyarakat
Kalimantan, karena baru saja ada presiden Indonesia samacam ini, Jokowi orang
nya, yang kebanyakan pemerintah Jakarta tidak penduli masalah ini, dan Jokowi
juga tidak memaksakan puralisme yang di tentang masyarakat Kalimantan, yang di
lakukan rezim SBY, karena puralisme bukan demokrasi antar golongan, melainkan
untuk menjadikan golongan berbeda jadi satu golongan yang di angap merugikan
golongan yang di musnahkan, dan pilihkasih terhadap golongan yang di pilih itu,
dan demokrasi golongan sejati adalah dengan cara adalah semua golongan saling
menghormati dan tidak saling ejek, dan bersama-sama hidup dan membangun Negara
Indonesia ini, maka Jokowi di Aceh di terima, dan Jelas nya Jokowi memberikan
pengurangan jam kerja PNS pada bulan puasa untuk Sumatera dan Kalimantan, meski
pun Banjarmasin dan Aceh sudah melakukan ini dari dulu sudah, tapi bagian lain
belum dapat ini, PNS bisa beribadah pada bulan puasa tersebut. Dan pada Selasa 3 Maret 2015, Persatuan dayak Kristen
Protestan yang di wakili oleh Gereja Sinta Kuala Kapuas, dan Persatuan Kristen
Katolik yang di wakili Gereja Santa Matius Kuala Kapuas bersama kuam muslim
Kuala Kapuas berangkat bersama ke makam Gusti Muhammad Seman, dan membersihkan
nya makam nya, untuk memberikan penghormatan pada perjuangan nya untuk
menghalau penjajah Belanda di Kalimantan, dan hal ini membuat Pemerintah
Kalteng terpukul malu, karena masyarakat nya menghargai perjuangan Gusti
Muhammad Saman mempertahan kan Kalimantan, dan karena ini lah ada nya kepedulian
pemerintah Kalteng, dan mulai membukan pintu perdamain dengan Muslim dayak hulu
Kalteng, dan pada mei 2015 Pemerintah daerah Kuala Kapuas, juga menyatakan diri
untuk mendukung penyelangaran budaya dan Tradisi Islam, yang di serahkan pada
Mesjid Almukaram JL Tambung Bunggai Kuala Kapuas, dan sudah sejak awal
didirikan nya mesjid Almukaram itu sebagai Studi pendidikan Islam dan kegiatan
nya, dan ini di sepekati bersama Gereja, dan begitu juga untuk kaum Kristen
Kapuas, karena setelah turun nya bupati Badarudin, Dayak Kapuas Muslim merasa
pemerintah memarzinalkan Islam.
Dan juga
upaya-upaya pemerintah untuk memenuhi semua penuntutan masyarakat Kalimantan
mengenai budaya dan tradisi Islam Kalimantan, untuk seluruh wilayah Kalimantan
hingga saat ini, dan pemerintah Jokowi yang menekankan Pemerintah daerah juga
selalu melibatkan diri pada masyarakat, dan jelas hormati budaya dan tradisi
daerah tersebut, agar kesejatran tercipta di daerah, dan masalah nya juga Dayak
Muslim Kalteng ingin bergabung di pemerintah Kalsel, dan masih cari jalan keluar
nya hingga saat ini, Kesultanan Banjarmasin pun bingung harus berbuat apa,
karena salah langkah bisa terjadi masalah luar biasa, dan jelas nya Kesultanan
Banjarmasin mengerti bentul atas kerinduan kaum muslim luar banjar pada
pemerintah Kesultanan Banjar Kono sebagai pijakan pelindung mereka, dan tempat
mereka mengadukan masalah, dan juga masalah pengankatan kerangkan Gusti
Muhammad Seman, untuk di bawa ke Istana Banjarmasin, dan di makamkan di dekat
ayahanda tercinta nya ya itu Pangeran Antasari. Dan masalah lain juga yang
berhasil di tangani adalah Jokowi memberikan gelar Pahlawan untuk penjuang
daerah, seperti Haji Buyasin, Panglima Dayak Muslim, Temengung Antaludin dan
Dhemang Lheman, maka dari itu di mualai tahun 2016 anda melihat sendiri Balelho
dan Spanduk yang di pasang, gambar nya Pangeran Antasari, Hasan Basry, dan
Panglima Dayak Muslim Kalteng dan Kutai. Dan berlaku nya kebijakan pemerintah
rezim Jokowi pada 2016 di Kalimantan dan Sumatera mengenai panitia mesjid dan
lain nya, dalam penyelangaran budaya dan tradisi muslim tersebut, dan
memberikan tugas pada ulama untuk mendidik nya dengan baik, dan menekan
radikalisme. Dan hal yang paling untuk anda ketahui adalah, mereka Muslim
Kalimantan mengadupsi budaya dan tradisi Islam banjar, bukan karena budaya dan
tradisi Islam banjar paling bagus di Kalimantan, tapi mereka memilih nya karena
Budaya dan Tradisi Banjarmasin Melayu adalah yang paling kental Unsur Agama
Islam dari yang lain, yang kebanykan terpengaruh Hindu Bhuda, dan percaya akan
mitos dan lain nya, dan perlu di pahami Budaya dan Tradisi Islam Melayu Banjar
adalah Budaya Islam murni yang di balut bungkus Melayu, Dayak dan Jawa, jadi
hanya corak nya saja, namun semua berpengang teguh pada Islam murni, meski
pedapat Ali Pahsa Islam banjar tidak murni, Namun Hanya Islam banjar di
Kalimantan yang paling mendekati Islam Timor Tengah dari pada yang lain nya,
dan sekali lagi saya tegaskan, orang di Kalimantan memilih budaya dan tradisi
Islam Banjar, bukan karena Budaya dan tradisi masyarakat Banjar itu bagus, tapi
yang di pilih orang itu adalah kemurnian ajaran Islam itu sendiri, bukan yang
di tiru Budaya kebiasa Masyarakat banjar di luar pengaruh Islam, dan gaya
Budaya dan Tradisi masyarakat Banjar yang bukan Islam tidak pernah di tiru
orang, dan begitu juga dalam hal pendidikan hingga perdagang nya, yang di tiru
itu adalah pangaruh Islam nya itu, dan memang hampir semua Budaya dan Tradisi
Banjar itu adalah Islam semua, sangat jarang sekali ada budaya dan tradisi
Banjar tidak terpengaruh Islam. Dan Islam itulah yang menjadikan masyarakat
banjar moderen 2017 ini hampir keseluruhan, dan membentuk masyarakat
Banjarmasin sangat moderen sekali saat ini, yang lebih menitik beratkan
pendidikan Agama 100%, dan Pendidikan Ilmu Pengetahuan moderen teknologi 100%,
dan memintingkan kedua nya, bukan berharap pada mitos-mitos, perdukunan dan
banyak lagi praktik ilmu gaip yang tak pernah terbukti kebenaran nya.
Bulan Suci Ramadhan Di Banjarmasin Dan
Revolusi Budaya Tradisi Dan Adat Islam Banjarmasin
B. Bulan
Suci Ramadhan Di Banjarmasin Dan Budaya Tradisi dan Adat Islam Moderen
Masyarakat Banjar
Gambar
Kesultanan Banjarmasin dan Para Ulama Martapura Sebagai Penyelangara Kegiatan
Islam Kalsel.
Saya
yakin anda pembaca sudah memahami apa yang di paparkan di atas tadi, mengenai
bagai mana dasar benang merah nya pembentukan budaya dan tradisi masyarakat
Banjarmasin moderen ini, dan dari mana asal nya. Dan tidak bisa di pungkiri
lagi sudah Budaya dan Tradisi masyarakat banjar ini lebih menjurus sama dengan
Budaya dan Tradisi orang Sumatera, dan jika di lihat sekilas sama budaya dan
tradisi masyarakat Banjar moderen ini, yang bisa menekan pengaruh budaya dan
tradisi Jawa nya, karena sudah di Jelaskan di Atas tadi, bahwa Budaya dan
Tradisi Islam di banjar adalah Budaya campuran, Jawa, Dayak dan Melayu, namun
dalam perjalanan waktu Budaya jawa makin menghilang, dan lebih menunjulkan unsur
melayu nya secagaris besar, dan yang membendakan nya dari budaya Sumatera
adalah ada unsur dayak nya, ini lah hal yang membedakan nya dari budaya Aceh
dan Sumatera Barat, namun sesytem Islam nya sama dengan Aceh, begitu juga
padangan masyarakat nya. Dan dengan tegas nya, budaya dan tradisi masyarakat
banjar sekarang ini adalah murni bikinan Kesultanan Banjarmasin yang menyatukan
2 unsur Budaya yang kuat, dayak dan Melayu, yang secara perlahan menegelamkan unsur
Jawa nya, dan menjadi kebudaya banjar sendiri, dan sudah di katakana budaya
orang banjar sebelum Kesultanan Banjar berdiri adalah budaya dan Tradisi
pinjaman dari Jawa saja.
Dan
seluruh Budaya dan Tradisi masyarakat Banjarmasin hingga sekarang ini selalu
berunsur Islam kuat sekali. Dan orang banjar di Kalimantan adalah orang paling
kuat dalam memengang teguh warisan nenek moyang nya, Budaya dan Tradisi Islam
banjar paling kuat bertahan, dan di mana saja orang banjar ini berdiam di luar
Banjar, tidak akan merubah budaya dan tradisi nya, mereka tetap pada tabiat
nya, justru biasa nya sebalik nya, orang non banjar bergaul dengan banjar,
lambat laun pasti akan sedikit banyak nya terpangaruh budaya banjar ini, dan
itu sudah di butikan secara dengan penilitian selama 7 tahun oleh mahasiwa
Universitas Lambung Mangkurat dan Avril fans Fender atas perminta Sultan Khairul
Saleh. Dan kelompok suku banjar adalah penduduk mayoritas Kalimantan, dan hal
ini menurut data badan statistic seluruh provinsi Kalimantan tahun 2013 yang di
kumpulkan oleh Avril fans Fender, sebenar nya yang menjadikan mayoritas suku
banjar mendominasi Kalimantan, bukan karena jumblah orang banjar itu banyak
sekali, tapi ada proses yang di sebut ahli sejarah Kalimantan Revolusi Budaya
dan Tradisi, ya itu Dayak berubah jadi melayu Banjar apa bila menganut agama
Islam, dan Proses ini mulai berjalan dari berdiri nya Kesultanan Banjarmasin 26
September 1526 M, sampai sekarang ini.
Dan perlu
di pahami adalah arti kata suku banjar, dalam padangan moderen dan kono pada
masyarakat Kalimantan, pada zaman kono arti kata suku banjar adalah yang di
maksutkan suku dayak untuk menamai atau memangil orang melayu yang ada di
pesisir sungai barito, dengan nama kampong yang di namai oleh suku dayak Oloh
masih, dan arti itu adalah tungal bukan zamak pada zaman kono atau sebelum
Kesultanan Banjar berdiri, dan waktu berjalan maksut kata suku banjar itu pun
berubah, yang mana pada abad 17-18 suku banjar sudah berate ganda bukan tugal
lagi di masyarakat Kalimantan, yang mana untuk menandai orang melayu beragama
Islam, bahkan orang melayu Brunai dan Sabah juga sudah di pandang kelompok Jawa
dan Dayak adalah orang banjar, singkat nya adalah untuk mengelari orang melayu
muslim, yang tidak harus lahir di Banjarmasin, dan proses ini terus berjalan
seiring waktu, secara cepat dayak Bakumpai dan dayak Ngaju juga berubah jadi
Banjar, dan selalu mengklaim diri bahwa orang banjar, tidak mau lagi mengaku
dayak bakumpai jika dayak ini masuk Islam, dan daerah mereka ini adalah
Marabahan, dan menurut data yang ada pada tahun 2013, sudah jarang di temukan
orang dayak bakumpai dan ngaju menganut agama non Islam, dan bisa di katakana
Dayak Bakumpai dan ngaju Muslim kesulurahan kaya orang Aceh dan Minangkabau
Sumatera, dan hanya dayak manyan saja lagi yang kelihatan dalam data ada
beragama non Islam, dan dayak keharingan di Kalteng saja juga yang terlihat
menganut ajaran Kristen yang di bawa pendeta Jerman dari Banjarmasin ke
Pedalaman Kalimantan atas dukungan penjajah Belanda, yang ingin mengadu dayak
dan melayu tersebut agar hancur kedua nya, atau secara umum hal ini di katakan
masyarakat Kalimantan adalah politik pecah belah penjajah Belanda.
Dan arti
kata banjar maksut orang dayak adalah arti nya Melayu, yang bergeser menjadi
muslim, kata banjar berubah arti dalam proses revolusi budaya dayak, banjar
bukan suku lagi melainkan agama, ya itu muslim, jadi pada pase abad 18-19
banjar arti nya muslim bagi dayak, bahkan sampai sekarang ini, jarang sekali
orang dayak mengatakan kelompok orang muslim itu adalah kelompok muslim, tapi
pasti di katakana mereka kelompok banjar, FPI yang berkonflik dengan Teras
Narang, tidak di sebut dayak kelompok Muslim, tapi di katakana mereka kelompok
banjar, dan ini kata umum sudah di Kalimantan. Yang pada inti nya dalam ke
hidupan moderen di Kalimantan, suku banjar bukan untuk menamai orang lahir di
Banjarmasin, tapi untuk memangil orang muslim yang bicara nya tidak memakai
dealek tutur dayak, tapi berbahasa melayu dan bahasa Indonesia murni, dan
revolusi budaya ini di ketahui berlangsung semasa Orde Baru nya pak Harto, di
mana pemerintah Jakarta juga dalam melakukan tugas nya sebagai dinas terkait di
daerah, seperti dinas catatan sipil masalah KTP, juga ikut dayak, yang mana
jika orang muslim memakai bahasa melayu dan bahasa Indonesia pasti di bulakan
nya orang banjar, padahal bukan orang banjar, di ktp nya tertulis lahir di
Sambas, namun suku nya yang di tulis bukan suku dayak Okdanum tapi banjar, dan
itu juga berdasakan kemaun nya, mereka mengatakan banjar, arti nya muslim
Kalimantan dalam paham orang Kalimantan yang kusus nya dayak, jadi anda pembaca
yang bukan orang yang tingal di Kalimantan Harus tahu hal ini, dan jadi orang
banjar yang mendominasi Kalimantan itu bukan karena orang banjar itu banyak
orang nya, namun ini tranpormasi revolusi budaya orang di Kalimantan, dan klaim
muslim Kalimantan yang mengatakan diri mereka Banjar, dan muslim dayak jika di
lihat sekilas sama sekali tidak dayak, tapi banjar, pakain nya, teologi nya,
gaya nya kesukana nya, hobi nya, jenis profesi nya, rumah nya dan atribut nya
semua budaya Islam Banjar melayu. Dalam kehidupan moderen 2017 ini di
Kalimantan, suku banjar itu adalah eknis multi demesi sudah bukan tungal lagi,
orang jawa yang merantau ke Kalimantan, 1 atau 2 bulan menetap, maka pasti
sudah akan terpangaruh budaya banjar apa bila orang jawa itu muslim, fanatic
atau tidak nya orang jawa tersebut, dan itu berlaku pada suku perantau mana di
Kalimantan, kecuali iya di luar wilayah NKRI, Polda Provinsi daerah Kalimantan,
dalam mengolongkan tersangka criminal, jika iya muslim dan bicara berbahasa
melayu atau Indonesia, pasti di katakana kelompok banjar dan itu umum sudah,
dan hal itu tidak membuat suku bajar atau orang asli lahir di Banjarmasin
marah, karena hal ini hal umum terjadi, Corak mesjid di Kalimantan juga corak
Banjar, makanan tradisi muslim di Kalimantan adalah makanan banjar, semacam
soto, itik panggang, Katupat kadangan, wadai untuk, wadai cincin, iwak haruan
masak habang dan sebagai nya yang edintik melayu dayak bagian Selatan tersebut,
beras dan padi nya juga sama, gaya nya bertani juga, dan itu hal umum, jika
anda tidak percaya, coba pergi ke warung kopi, pasti anda akan menemukan menu
ini di manapun area Kalimantan. Dan anda jangan salah paham terhadap itu, atau
mengangap Kesultanan Banjarmasin melakukan penjajahan dan Islamisasi pada suku
dayak Kalimantan, seperti banyak pedandapat yang beredar pada masa Orde Lama,
yang mengambarkan mengapa orang di Kalimantan mengklaim diri mereka banjar,
karena Kesultanan Banjarmasin dulu berkuasa penuh, dan jika orang banjar muslim
akan di perlakukan bagus, sedangkan yang lain akan di perlakukan kasar, jadi
agar tidak terjadi tindakan Kesultanan Banjarmasin jadi orang mengaku orang
banjar, beragama muslim untuk melindungi mereka, ini adalah suatu klaim sejarah
yang tidak benar, dan mengapa 70% orang di Kalimantan memakai bahasa melayu banjar
dan Indonesia jika iya muslim, adalah hasil pemaksan bahasa oleh Kesultanan
Banjarmasin, itu klaim salah, hal itu sudah kami jelaskan di atas tadi, jadi
saya tegaskan lagi yang di maksut orang banjar itu dalam dunia moderen ini
adalah untuk menyebut orang muslim berbahasa melayu dan Inodnesia, tanpa melihat
latar belakang asal nya dari mana iya lahir, mukin bagi orang jawa baru di
Kalimantan arti kata orang melayu merejuk pada orang lahir di Banjarmasin, itu
salah.
Dan saya
kira anda pembaca sudah paham dengan yang di maksut orang banjar, dan kehidupan
multi eknis banjar ini. Dan saya tekankan lagi kebanyakan orang di Kalimantan
mengikuti budaya dan tradisi Masyarakat Banjar itu bukan karena budaya dan
tradisi nya paling bagus, tapi yang di ambil orang itu adalah unsur Islam nya
yang sangat kenal itu, dan perlu di ketahui juga hampir seluruh budaya dan
dradisi yang lahir di banjar baik yang kono maupun baru sangat kenral nuansa
Islam, dan pergeseran budaya dan tradisi yang terjadi kadang di katakana pengamat
banjar hanya pada bungus nya saja, tapi dalam arti nya tetap saja Islam melayu
campur dayak. Di tahun 2017 ini atau zaman moderen ini di dunia kerap sekali
perang budaya terjadi, yang terutama barat dengan budaya yang unsur Inggris,
dan maju teknologi telekomonikasi tidak bisa menghindari hal ini terjadi pada
zaman ini, mungkin di timor tengah masih bisa mempertahankan nya, namun lain
wilayah banyak yang pudar, contoh nya di Indonesia ini. Budaya dan tradisi
Nusantra sudah terlihat dengan nyata terkikis, dari berbagai lini, politik,
ekonomi, militer dan social, lihat saja Jakarta dan Pulau Jawa yang sangat
terpengaruh hal ini, bahkan Islam nya juga terkikis sedikit, dan moderenisasi
yang begitu menghantui para budayawan Jawa saat ini, yang seperti di katakan
Oleh Sojewo Tejo di Metro Tv. Namun walau begitu perang Budaya yang bengitu
gempar hanya sedikit saja mempergaruhi Banjar dan Aceh, dan di banjar dan Aceh
moderenisasi yang terjadi tanpa mengikis Budaya dan tradisi Islam itu, dan
justru sebalik nya memajukan kembali Islam sendiri. Dan hal ini sudah di buktikan
dengan penelitian oleh tim Avril Fans Fender dari 16 Maret 2015 sampai 1
September 2016 lalu, hampir tidak ada yang berubah di kota Banjarmasin, contoh
mudah saja pada bangunan rumah Masyarakat, pada tahun 2017 ini kayu masih
menjadi bahan baku utama membuat rumah, di samping semen, meski pemerintah
memberlakukan larangan dan penekenan pemakain bahan baku kayu tersebut karena
hutan gundul, dan hanya jelas terlihat hanya bangunan kantor pemerintah dan
kantor orang pendatang dan Industri lokas saja yang beton, namum Rumah
Masyarakat tetap saja kayu, dengan ukiran melayu dayak dengan nuansa Islam
kental sekali, meski yang memiliki rumah bukan orang fanatic dengan Islam.
Budaya dan tradisi Islam tentang pernikahan juga di banjar tidak terpangaruh,
tetap saja sama dengan yang dahulu, Partai politik juga sama, karena tidak
mungkin terpilih jika tidak berunsur Islam, makanan nya, dan semua tetap saja,
hanya mentode proses pembuatan nya saja yang agag berubah moderen dengan mesin,
namun bentuk dan struktur tetap saja. Bukan karena tidak ada rumah makan asing
di Banjarmasin, missal sepeti KFC, ada banyak, namun makanan pokok nya
masyarakat tidak terpengaruh dengan itu, dan itu dapat di buktikan dengan
mudah, lihat saja acara perkawinan dan selamatan orang di banjar, makanan nya
sudah pasti ada soto dan masak habang haruan, dan yang lain hanya pelengkap
saja, namun pada dasar nya, soto banjar dan masak habang tetap yang utama. Jadi
ini membuktikan bahwa budaya dan tradisi masyarakat banjar ini sangat kuat
sekali, dan di tambah lagi keberedan Kesultanan Banjarmasin yang menjaga agar
tidak keluar jalur nya. Dalam pendidikan moderen di tahun 2017, moderenisasi
justru mendorong budaya dan tradisi Islam makin maju saja, dengan bukti nya, di
bagun nya Industri pembuatan Al-Qur’an digital, dan bagunan mesjid dan sekolah
Islam berbasis teknologi, orang di Facebook dan Twitter di Banjarmasin, setiap
kali waktu azan sampai ada yang mengengatkan nya, dan hal paling penting lagi
yang terjadi dalam Revolusi Budaya dan Tradisi Islam Banjarmasin tahun 2017,
yang belakangan di katakana mahasiwa Universitas Islam Indonesia, atau mereka
mengelari nya, Revolusi Islam 3, mengapa demikian, jawaban nya adalah,
Moderenisasi mendukung agama Islam memerangi praktik perdukunan, unsur gaip,
zimat, dan mitos-mitos yang jelas sudah tidak bisa di pertanggung jawabkan
kebenaran nya. Dan maka dari itu tadi di atas sudah di tuliskan bahwa, pengamat
Islam banjar mengatakan zaman moderen ini terbalik yang terjadi di masyarakat,
yang mana unsur gaip timbul, seharus nya unsur gaip itu sudah berlaku zaman
kono. Dan kejadia ini, atau masyarakat banjar terpengaruh hal gaip ini terjadi
ketika Belanda mulai menguasai Banjarmasin, atau Istana Kesultanan Banjarmasin
100% di kuasasi Belanda, dan masyarakat para pembesar Istanan melarikan diri
kepedalama, dan disini terjadi pergesaran Budaya dan Tradisi Islam Banjar, yang
terpengaruh dayak kuat, karena di Kalimantan Secara umum sudah di ketahui,
Tiologi masalah kegaipan itu adalah budaya dan tradisi orang dayak, dan
pengaruh dayak ini lah yang secara garis besar menghapus unsur Jawa Demak yang
ada pada Budaya dan Tradisi Islam Banjar, yang menjadi budaya banjar itu sendiri
karena Muslim. Dan kejadian ini terjadi awal Perang Pangeran Antasari dari
Muning Rantau, dan paling parah pada Gusti Muhammad Seman, dan yang paling
terpengaruh adalah orang Kadangan, Amuntai, dan Rantau, yang bisa menghalakan
kajian yang di haramkan Islam, seperti debus dan lain nya, silat-silat orang
dayak yang di bungkus dengan bungkus Islam, yang di gunakan untuk menyakinkan
prajuri mereka melawan Belanda, dan sekarang hal ini masih terlihat pada
pahuluan Banjarmasin 2017. Dan moderenisasi tahun 2017 ini justru memukul
mundur itu di masyarakat, yang jelas sangat mengutungkan bagi Islam, dan
kesadaran masyarakat, bahwa pendidikan itu penting, dan Kesultanan Banjarmasin
menekankan 100% pendidikan agama, dan 100% pendidikan Skuler, yang kedua nya
sangat penting, pendidikan Agama untuk moral dan akhirat, dan pendidikan skuler
untuk membantu aktivitas manusia dan lain dalam menjalani kesaharian, dan dari
Banjarmasin hal ini mengalir cepat sekali ke wilayah Kalimantan, dan ini sebab
nya mengapa daerah luar Kalsel ingin bergabung, karena pemerintah Skuler di
sana kurang menangani masalah masyarakat, di Tanah Dayak kusus nya Kalteng
pendidikan sangat tertingal sekali, meski di kota Palangkaraya terlihat
pasiltas pendidikan berdasakan standar, namun tidak mencapai wilayah pedalaman,
dan kurang nya peranan masyarakat nya, dan justru sebalik nya, masyarakat lebih
banyak menolak, mungkin jika anda pembaca orang Kalimanan, anda tahu maksut
kami ini, masyarakat menolak pendidikan tersebut, dan perbedaan pemikiran, sedangkan
di Banjarmasin, Moderenisasi yang membatah gaip tersebut jadi senjata muslim
untuk menghancurkan kesesatan umat, dan mereka bahu-membahu menyerang semua
line kesesatan Islam percaya gaip mitos yang tidak pernah di ajarkan Islam dan
Al-Qur’an, teruma di Kadangan, Amuntai, dan Rantau. Penjahat zaman modere di
banjar, ingin merampok tidak bicara masalah kajian dalam bahasa banjar untuk
menyebut Ilmu hitam macam debus dan yang lain nya, tapi mereka memcari AK-47
Mavrix, Maknum dan senjata api lain nya, dan di Banjar, orang sudah melik
Komputer dan Phonsel pintar, Internet hampir menjadi Budaya dalam kesaharian,
dan masalah ini sudah sampai jauh ke pelosok pedalaman, di Kadangan jauh di
penggunangan meratus, perbatasan Kalsel, atara Kalteng dan Kaltim dayak Muslim
sudah mengunakan Phonsel Pintar, dan Komputer, dan dengan dorongan Kesultanan
Banjarmasin yang kuat lah untuk membujuk Telkomsel mendirikan menara nya di
pengununangan meratus yang sangat jauh tersebut, dan akses pendidikan dari
pengunungan Meratus ke Sentral pendidikan Islam Martapura pun menjadi dekat,
Al-Qur’an digital, Dayak Muslim di penggunang meratus benar-benar melepaskan
budaya mistik tersebut. Dan penelitian Avril fans Fender membuktikan, 75%
masyarakat banjar melik computer dan ponshel pintar, maka dari itu Indusatri
Japang sangat besar bercongkang di Banjarmasin, dan Islam banyak di kembangkan
lewat Teknologi, dakwah dan sebagai nya. banyak di daerah lain Pesantren kurang
di mintati, tapi di Martapura Pesantren sangat besar dan mengah sekali, dengan
ribuat siswa dari berbagai penjuru Kalimantan, dan yang Jelas, Islam nya budaya
dan tradisi nya sangat kuat sekali melekat pada masyarakat banjar, meski di
zaman Moderen ini, pengaruh dari luar tidak mampu melunturkan nya, dan justru
sebalik nya.
Namun
walau begitu juga, tidak lah semua hal sempurna, dan yang sempurna 100% hanya
milik tuhan, karena 2017 ini juga sedikit pergeseran Budaya dan Tradisi Islam
Banjarmasin. Hal tersebut adalah kebersamaan dan gotong royong nya masyarakat,
karena dampak Taknologi, dan kesibukan persaingan kerja Industri yang kian
hari, kian membesar, meski pun pada hari besar Islam selain hari raya, dan
bulan Ramadhan, seperti bubur asuara, perkawinan masih rakat mupakat, gotong
royong dalam memasak makanan, tapi biasa tenda menyewa saja lagi, dan hanya
menungu hari penting Islam saja lagi bisa bersama dan gotong royong, tidak lagi
setiap hari layak nya dulu, yang mana orang di banjar semua nya berkeluarga dan
sangat akrap sekali, pos atau gardu pasti penuh kalau malam waktu zaman dulu,
warung kopi juga penuh tempat orang bicara, dan bicara pasti tidak jauh materi
dari teoligi Islam, mafia mabuk di pasar lama dan terminal pal 6, juga hal umum
bicara hal teologi Islam tersebut. Namun pada bulan Ramadhan di banjar sangat
meriah sekali, hanya sedikit saja yang berubah dari mereka, ya itu bungkus nya
saja, atau kadang kala orang kaya banjar mengunakan kentring untuk membukan
banyak orang puasa, tidak lagi memasak bersama seperti dulu lagi, dan orang
kaya banjar akan membayar orang pada bulan Ramadhan untuk membenahi mesjid dan
pasiltas umum lain nya, sholat saja bersama, namun aktivitas bersama orang
banjar membayar orang, tapi walau begitu semua budaya dan tradisi Islam banjar
pada bulan Ramadhan tidak berkurang sedikit pun, mereka tetap saja libur 1
bulan, paling toko-toko saja lagi yang buka, dan kadang itu pun membayar orang
untuk berjualan, dan para petani karet banjar pada bulan Ramadhan moderen juga
membayar orang untuk mengurus kebun nya, dan banyak peluang pekerja pada bulan
Ramadhan di banjar, dan pihak pemerintah masih tetap tidak berubah, mereka
masih mengurangi jam kerja mereka, namun sebetul nya mereka ingin libur, Cuma
kata sultan jika libur siapa yang mengurus rakyat, jadi hanya jam kerja mereka
di kurangi, begitu juga Industri berkurang aktivitas nya pada bulan Ramadhan,
budaya dan tradisi Saur Kesultanan Banjarmasin yang tidak pernah luntur, mereka
mengadakan arakan untuk membangunkan orang makan saur, dan berbagi nasi bungkus
bersama, dan dulu mereka jalan kaki atau gerobak yang tarik sapi untuk membawa
makanan, sekarang mereka memakai mobil dan motor, dan mampu mencapai kawasan
yang jauh, bahkan biasa nya mereka ke tepian kota dan masuk desa berbagi makan
untuk saur, yang semua dana nya di sokong bangsawan banjar, dan ada sedikit
perubaha disini, ya itu waktu berbuka puasa, zaman moderen jasa ketring di
gunakan bangsawan banjar untuk mengirim makanan kemana-mana, desa panti asuhan
dan lembaga semacam nya, tidak lagi memasak bersama, namun ke untung nya adalah,
banyak tempat yang mampu di berikan makanan, sedangkan dulu hanya satu tempat
saja, Jasa Ketring siap melakukan nya dengan asal di bayar, hal ini pada bulan
Ramadhan bagi bangsawan banjar bukan masalah, mereka mampu membayar nya dengan
patukangan. Budaya dan tradisi Kesultanan Banjarmasin pada bulan Rahmadhan yang
tidak terkikis waktu, baik dari sitiap malam bulan puasa setelah tarawih
pengajian bersama di lakukan, dan harus tamat membaca Al-Qur’an selama 1 bulan,
malam Al-Qur’an di turukan atau malam laitul kadar, semua nya meriah, bahkan
bergadang nya orang malam bulan Ramadhan ini adalah hal umum di banjar, yang
pada inti sangat banyak sekali kegiatan yang di lakukan masyarakat, yang hampir
tidak berkesudahan kecuali habis bulan Ramadhan maka aktivitas kembali normal
seperti biasa nya. Arakan pawai pada bulan puasa di banjar seperti tidak
berkesudahan, dan malam puncak nya adalah malam hari raya dengan takbiran
akbar, dan berbagi zakat fitrah dan juga zakat uang, yang di lakukan
bersama-sama, mesjid dan sebagai nya. Dakwah agama pada bulan Ramadhan moderen
di Banjarmasin 2017 ini, ulama yang ceramah model seperti Dokter Zakir Naik
tersebut, unsur Ilmu pengetahuan dan agama di satukan nya oleh mereka, yang
sudah pasti yang meminta nya Kesultanan Banjarmasin, ceramah bukan saja mendidik
orang secara agama agar bermoral dan berahlak, tapi juga mendidik orang agar
tahu Teknologi Saints, model Kecepatan cahaya, dan banyak teori lain nya di
bawa dalam Ceramah, hingga pembatah Darwinesme, dan sangat mengnegelamkan
sekali masalah gaip, dan penyekutuan tuhan dan sebagai nya, menekankan
berjuang, berusaha dan berdoa jika ingi kaya dan sukses, dakwah moderen ini
juga menbuat perhatian di kalangan muda, yang mana mereka mulai tertarik, dan
model bungkus-bukus muda tema ceramah yang begitu bagus nya di rancang, dan ini
jawaban nya pesantren di banjar tidak pernah mati, karena Budaya Islam
masyarakat yang kuat, dan juga tidak menolak unsur ilmu pengetahuan, dan
menjadi kelompok masyarakat yang terbuka atas kelompok lain, contoh terbuka
dengan kelompok Jawa, lihat saja dayak, bisa kah mereka berkawan dengan Jawa,
kadang bisa ada cekcok berujung perkelahian, apa lagi Madura, yang jelas hal
berlwanan mengenai mistik, dan selalu tidak jauh dengan masalah mistik gaip
tersebut, sedangkan jawa orang moderen.
Pada
bulan puasa juga tradisi Kesultanan Banjarmasin yang tidak luntur di Zaman
moderen ini adalah, pengadan pembelajaran tambahan bagi anak-anak dan pemuda,
baik pelajaran agama maupun ilmu pengetahuan, biasa hal ini di lakukan pada
waktu sore hari menyelang berbuka puasa, dan setelah berbuka puasa bersama,
shalat berjamah, dan istruhat menunggu sholat Isa dan Tarawih. Kadang juga
budaya belajar tambahan ini bisa di mulai dari siang hari, untuk mengisi waktu
agar pemuda dan anak-anak tidak keluyuran selagi menjalankan Ibadah puasa nya.
Larangan berdagang makanan juga masih berlaku, pemerintah akan membuka pasar
Ramadhan di pusat-pusat daerah yang menjual bermacam-macam makanan Budaya dan
Tradisi Islam banjar, di tambah juga dengan makanan moderen biasa nya, namun
tetap pada dasar, makanan khas banjar yang di suguhkan pedagang, dan kadang
makanan ini hanya di buat untuk bulan puasa saja, dan di lain hari tidak lagi,
seperti wadai basumap, bingka kantang, bingka tapai, bingka barandam, amparat
tatak, wadai lapis dan banyak lagi, maka dari para ahli sejarah makanan
tradisional jawa mengatakan hal ini atau menamai nya dengan makanan musiman
saja, karena hanya ada pada bulan puasa, dan ini alasan mengapa pasar Ramadhan
selalu ramai, karena orang sudah menunggu ini salama 1 tahun penuh, bahkan
banyak wisatawan datang hanya untuk memakan musiman ini, dan jelas nya, anda
tidak akan menemukan makanan ini selain bulan puasa, kecuali anda membuat
sendiri, dan membuat nya bukan hal gampang, butuh proses panjang sekali dan
tenaga, maka nya kadang juga susah mencari bahan baku nya, karena bahan baku
nya juga bisa di dapat dari panen 1 tahun sekali ya itu bulan puasa, ini lah
unik nya, yang tidak ada di wilayah lain, dan kebanyakan bahan pembuatan nya,
hanya bisa di dapat di hulu Banjar, seperti Kadangan, Amuntai, dan Barabai.
Makanan Khas ini juga bukan makanan yang berkelas pada zaman kono, missal nya
makanan ini hanya di makan para raja saja, tapi orang semua memakan nya, tidak
peduli kaya atau miskin status nya, dan jelas dalam hikayat banjar, Kesultanan
Banjar malah membagi makanan ini pada bulan puasa saat itu. Bukan hanya itu
saja lagi budaya dan tradisi islam banjar ini yang masih untuh, tapi budaya dan
tradisi Islam dalam permainan hiburan juga, dan di mainkan tua muda, seperti
membuat laduman paring (petasan) yang di bunyikan biasa malam hari, dan juga
untuk arakan saur juga di gunakan biasa nya, dan di tambah dengan audio moderen
dalam arakan ini, tanglung dan sebagai, yang sampai detik ini masih di lakukan
orang, namun menurut Prof Liang Liji ahli sejarah Cina, budaya ini adalah
modepikasi Kesultanan Banjarmasin kono, yang mana budaya ini biasa orang Cina
melakukan permainan petasan di hari besar mereka, tapi kata Prof Liang Liji,
Modipikasi Kesultanan Banjarmasin ini tidak lagi ini di angap Budaya Cina tapi
banjar itu sendiri. Dan Budaya lain nya juga adalah budaya meletakan obor di
depan rumah malam bulan puasa pada hari 17 malam puasa, dan pemandangan umum
sudah orang bergadang pada mala mini sampai malam 21 Ramadhan, anak-anak ikut
bergadang juga hal umum di Banjar pada waktu ini.
Gambar
Pasar Rahmadhan di Banjarmasin tahun 2017
Dan
budaya dan tradisi lain nya juga adalah yang masih di lakukan orang di bulan
Puasa ini di Banjarmasin, namun kebanyakan pihak penyelegara budaya ini adalah
anak muda, Budaya tersebut adalah music dan Teater yang di adakan di lapangan
terbukan, bahkan di pasar Ramadhan, yang pungsi nya adalah juga adalah agar
orang tertarik pasar wadai itu, dan juga menghibur orang banyak, yang biasa di
lakukabn dari Jam 2 siang, Istrihat pada Sholat Asar dan lanjut sampai Jam 5
sore, ada jua kadang di mulai langsung habis Sholat Asar, music ini juga
bertujuan untuk mengbulkan dana sumbangan untuk membenahi pasilatas umum, dan
bantuan untuk kaum miskin, kadang ada lelang wadai juga, yang semua uang nya
untuk di sumbangan bagi kepentingan umum bersama, dan zaman moderen music sudah
memakai Instromen gitar listrik dan drum, kadang lagu nya tidak meski bertema
agama, namun juga music Pop dan Rock pada zaman ini, yang di mulai pergesaran
budaya ini di mulai tahun 2005 lalu, yang penting music nya sopan dan bermolar,
begitu juga Fashion nya, namun kadang ada juga kelompok Band Rock Radikal, yang
biasa pelaku nya adalah gerombolan Anak Punk tersebut, yang membawa lagu keras
dan menyinggung pemerintah dan Politik, tapi juga tujuan yang di anakan sama,
mengalang dana, dan sama sekali tidak larang music ini, namun juga tempat di
area tersendiri oleh Kelompok, seperti dalam goor dan lain nya, Polisi ikut
bekerjasama dalam hal ini, polisi duduk mengawasi nya, jadi kadang orang
pendatang di Banjar kaget melihat aksi ini, namun nanti akan terbiasa, dan saya
tegaskan lagi pada anda, Masyarakat Banjar adalaj orang yang mencintai Islam,
namun mereka bukan lah orang fanatic, dalam mengamalkan ajaran Islam itu, namun
juga mereka ini semua nya siap membela Islam ini sampai mati jika di perlukan,
tidak ada kelompok muslim di Kalimantan, yang ikut Ke Palestina mengirim
bantuan kecualia Pihak Banjar dan Aceh, melalui Iran dan Turky, orang Turky di
banjar adalah umum, dan tidak di angap turis atau pendatang, begitu juga Arab,
Iran, dan juga Palestinan, Kampung Arab tersendiri juga ada kampong Turky dan
Iran juga ada tersendiri juga, belum ada di temuai mereka ini memilik visa
tingal, dan ini berlangsung dari zaman Kesultanan Banjarmasin berdiri, yang
mula nya kelompok ini adalah pedagang, orang Turky Ottoman juga punya jasa
untuk Kesultanan Banjarmasin, ya itu bantuan persenjatan dan latihan militer,
dan maka nya ada nama wilayah bagian Martapura bernama Istambul.
Gambar Konser Musik Rock di Pasar Wadai Banjarmasin
Pada
bulan puasa, kebanyakan orang pendatang di banjar mengira ada peraturan busanan
di tegakan, baik pada laki-laki dan kusus nya Perempuan harus berhijap, namun
nyata nya tidak ada, orang bebas saja di banjar, yang penting sopan dan
bermoral, bahkan kadang perempuan berdandan ala Rocker Avril Lavigne di bulan
puasa juga biasa di banjar, perempuan ala Avril Lavigne pergi ke Mesjid untuk
Tarawih juga biasa, jadi tidak ada batasan di Banjar, selama itu masuk akan,
dan bermoral. Budaya dan Tradisi Islam ala kesultanan Banjar, juga di bulan
Puasa ini ada nya masih lomba jukung di sungai, yang mana ini juga mengalang
sumbangan untuk kaum miskin dan perbaikan mesjid, dan banyak lagi tambahan
Budaya dan Tradisi baru yang di lahirkan orang banjar dan pemuda dalam mengisi
bulan puasa, yang semua tujuan kadang hampir semua pengalangan dana, bahkan
lain wilayah lain cara nya, namun tujuan sama.
Gubernor
Jendral Belanda Andresen yang di kirim residen Batavia, 1896 M untuk perang
melawan Muhammad Seman anak Pangeran Antarasi di Banjar, mengatakan, belum ada
di mana pun kami menemukan masyarakat Islam macam ini, kecuali hanya di Aceh
dan Banjar orang Muslim ini, orang barat yang datang baik untuk berdagang dan
sebagai nya bingung melihat hal ini pada bulan puasa atau tidak, mereka Banjar
orang Muslim yang tidak fanatic dengan ajaran agama Islam itu, mereka juga
banyak mengabaikan kewajiban sebagai muslim seperti Shalat 5 Waktu, namun aneh
nya mereka akan membela Islam itu sampai titik darah penghabisan, dan jangan
mengejek agama Islam di hadapat kelompok banjar, karena sudah pasti berurusan
dengan mereka, parah mereka berani mati, jadi ini Aneh, bahkan orang, muslim
yang fanatic dalam ajaran Islam dan tidak tertinggal sholat 5 waktu nya pun
tempat lain tidak terlalu berani melakukan apa yang kelompok Aceh dan Banjar
lakukan tersebut, bahkan Perang yang terjadi antara kami bisa di katakana
perang Sabil oleh Pangeran Antasari, Temengung Surapati, Dheman Lehmhan,
Temnengun Antaludin, Haji Buyasin, Sultan Mangkabumi Hidayat Tulah, Sultan
Kuning, Aling Tambai Makah, Penghulu Rahsit, Wangkang, Ali Akbar, Muhammad Noor
Mabu’un Tabalong, Hasan Basri, Ratu Jaleha, Gusti Muhammad Saman, Panglima
Batur, dan banyak tokoh lain nya, menerikan Allah Huakbar di medan Perang,
kalimat Sahadat, dan ayat Suci Al-Qur’an, dan umum kelompok Banjar mengelari
orang barat adalah Kafir, mereka menyebut semua orang barat Kafir, darah nya
halal, dan semboyan nya Melayu Menang Islam jaya, Pangeran Antasari dan
Temengung Surapati dengan Semboyan Haram manyarah waja sampai ke punting, ini
Aneh kata Andrensen. Namun apa pun tangapan orang, mau bagai mana lagi, kalau
memang demikian kejadian nya, dan berlangsung hingga sekarang ini 2017.
Tidak
bermasksut mengulang kalimat, namun di Banjar dan tutorial nya, tidak ada orang
kelaparan pada hari raya Idul Fitri, semua orang berbagi makanan, setelah
sholat orang berkumpul baik di mesjid, rumah keluar, tempat umum, dan saling
bersalam-salaman minta maaf dan sebagai, dan berpelukan, tidak ada lagi beda
nya kaya atau miskin, dan setelah mereka pergi berzarah ke makam orang tua nya,
suadara, kerabat, teman sahabat, pahlawan, ulama Gusti dan Sebagai nya, dan
hari raya ini resmi biasa belaku 4 haro atau 5 hari bagi yang normal nya,
sedangkan yang lain biasa 7 hari pasti, namun untuk terjadi aktivitas normal
nya biasa nya 2 minnggu, yang di peratauan kebali ke rantau nya masing-masing,
toko dan lain buka seperti biasa, sekolah dan kantor pemerintah.
Dan hari
raya Idul Adha atau di kenal hari raya korban di Banjar, juga masih memakai
Budaya nya buatan Kesultanan Banjarmasin yang di moderenkan mereka, yang mana
bangsawan dan pemerintah sama mendanai membeli sapi korban, Organisasi, Partai
Politik, sampai dengan Industri juga ikut membeli sapi untuk di sumbangkan, dan
ada juga yang mengalang Arisan, yang di kumpulkan uang selama 1 tahun untuk
kelompok Ekonomi masyarakat Kelas menengah agar juga dapat membeli sapi
tersebut, dan rupa-rupa cara nya mereka agar dapat membeli sapi itu, mengalang
dana, konser music dan lain nya, dan sangat perlu di hargai untuk masyarakat
kelas ekonomi menenagah ini usaha untuk membeli sapi atau naik haji, mengunakan
cara arisan, yang setiap tahun nya kena bisa 2 atau 4 orang, dean jelas jika
tidak melakukan arisan ini kelompok ini tidak bisa membeli sapi dan naik haji
sudah, sebenar Islam tidak menujuk kelompok ini melakukan nya, namun Islam
menunjung bangsawan dan pemerintah untuk melakukan, Bank-Bank Swasta atau BUMN
juga ikut dalam pemodalan ini. Maka nya di seluruh Totorial banjar serentak
melakukan nya, tidak ada satu kampong pun tidak melakukan ini, semua daging nya
di bagikan kepada orang miskin, bahkan di penjara pun melakukan ini, dan sampai
1 minggu penuh para napi makan daging.
Dan
itulah sudah masyarakat Banjar, dari zaman kono hingga sekarang ini masih kuat
budaya dan Trdisi nya ini, dan tak terpengaruh banyak dengan hal ini, apa lagi
saat ini 2017, pendidikan di Banjar mendidik mereka agar menjaga budaya dan
tradisi ini. Dan budaya dan tradisi banjar yang kami tulis ini adalah budaya
dan tradisi Banjar yang umum sudah di kataui banyak orang, baik di Kalimantan
atau luar Daerah, dan ini juga hasil penelusuran 7 tahun lama nya, masih banyak
lagi budaya dan Tradisi yang tidak resmi yang belum tercantung dalam tulisan
ini, maksut saya tidak resmi bukan budaya dan tradisi banjar yang berlawanan
dengan Islam itu sendiri, tapi budaya masyarakat banjar hulu sendiri, yang
bukan buatan Kesultanan Banjarmasin, arti nya di kembangan daerah itu sendiri,
seprti di benua 6 dan bagian dari Kalteng, dan belum termasuk budaya dan
tradisi banjar yang hilang pudan, di pingirkan dengan banyak alasan pun belum
tercantukan dalam tulisan ini, jadi perlu di katahui, ada juga budaya dan
tradisi banjar yang hilang, pudar, atau di angap bertentangan dengan moral
litas Islam itu sendiri, dan dalam hikayat Banjar sangat banyak sekali macam
budaya dan tradisi yang belum bisa kami kaji dan pelajaran, dan kapan itu mulai
di rilis, dan kapan itu di hilangkan dari masyarakat, dan kebanyakn budaya dan
tradisi yang tidak di lakukan biasa, budaya tersebut terpengaruh dayak dengan
mistik nya, atau secara kasar nya, cerita Donggeng, mitos, mitologi dan lain
nya, ada pun pengaruh mistik Jawa jua, dan pada 2017 ini juga Kesultanan
Banjarmasin melakukan penghapusan Budaya dan Tradisi mengenai Juriat, karena
bertetangan dengan ajaran Islam, yang mana orang percaya para raja Banjar itu
tidak benar-benar mati, melaikan hanya pindah alam saja, dan kadang bisa datang
memantu mereka dalam kesusahan, dan kadang bisa memberikan sebuah kelompok
mandat, yang mana Budaya ini bisa mendatangkan pemberontakan di masyarakat,
sebab jika ada kelompok yang merasa kurang puas dengan pemimpin nya, maka dalil
mandat para raja banjar kono di gunakan untuk provokasi, contoh nya adalah,
seseorang akan mengaku di datangi misalnya Sultan Suriansyah raja banjar itu
baik dengan cara bermimpi atau cara tanpa sengaja di daerah keramat, dan
memberikan nya mandate untuk mengembang misi, dan Mandat ini mengagap kelompok
harus melakukan pembersihan dengan cara perang atau konflik, kadang segel-segel
raja banjar di ambil untuk sebuah bukti mandat pada banyak orang, dan Budaya
ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam, dan menyekutukan Tuhan sudah,
mengangap orang yang sudah mati kembali lagi ke dunia, atau bisa juga mengangap
pasukan Dhemang Lhemhan akan membantu berperang, dan kebiasan ini biasa nya
yang banyak terdapat pada kelompok Dayak, baik yang muslim, dan juga lebih
parah lagi Non Muslim, dalam Budaya dayak Juriat ini di namai Mayau, perburuan
Kepala, atau permintan atau pemberian mandate dari pemimpin mereka yang sudah
lama meninggal dunia, budaya ini exstrim sekali, dan biadap, pembunuhan keji
terjadi tanpa pandang bulu, seolah semua bukan lagi manusia, tapi Iblis dan
binatang semua nya. Dan beberapa budaya dan tradisi banjar yang di hilangkan
juga adala Budaya pemujan senjata pusaka seperti Kris, Tombak dan lain, dan ini
biasa kelompok Yang melakukan dalam hal umum adalah kelompok Jawa, kelompok banjar
meniru nya juga, Budaya ini bertentangan dengan Islam, karena penyekutuan Tuhan
secara terang-terangan. Dan pada tahun 2017 ini Kesultanan Banjarmasin dengan
focus sekali untuk menghentikan budaya dan tradisi banjar yang memuja kuburan,
seperti kuburan Arsad Al- Banjari, Nafis, Datu Sangul dan para raja Banjar
tersebut, yang jelas tanpak sekali di Palampain, Tapin dan Tabalong Amuntai,
ini adalah penyekutuan tuhan secara terang-terangan, sebenar nya Kesultanan
Banjarmasin ingin menindak nya dengan tegas, namun mereka berunding dulu dengan
para pembesar masyarakat dan Pemerintah Jakarta, dan kusus nya depertemen
Agama, dan tidak akan bertidak keras, karena bisa terjadi pemberontkan nanti
nya, jadi ini perlu di pahami, dan ini hanya sebagain dari budaya dan tradisi
yang di angap kesultanan Banjarmasin yang menyimpang, dan ini yang harus di
tanggani terlibeh dahulu, dan masih ada juga budaya dan tradisi banjar yang
menyimpang tidak tercantung dalam tulisan ini, karena sebelum penulisan di
lakukan kami harus dengan cermat mempelajari agar tidak terjadi salah paham dan
fitnah berujung petaka besar.
Dan perlu
di ketahui juga hasil sutvei dinas sipil banjar dan statistic, dalam penrlitian
dari tahun 2002 lalu sampai 2015 lalu, membulatkan data mutlak, bahwa tidak ada
orang banjar asli atau yang lahir di banjar asli menganut agama non Islam, dan
jelas nya orang Pribumi Banjar dan hulu sungai adalah muslim semua nya,
termasuk juga dayak bakumpai di Marabahan, dan hanya orang pendatang saja di
banjar yang menganut agama Katolik, Kristen, dan lain nya, dan Dayak manyan dan
Keharingan biasa nya yang mengnut Kristen dan katolek. Dan bukan tidak ada
gereja di Banjar, Gereja ada namun kadang jauh dari Istanan Banjar dan
Martapura, dan kuburan pihak Kristen juga ada di Banjarbaru, dan kelompok Jawa
atau orang luar Kalimantan saja yang beragama Kristen, Batak atau orang dari
Sulawesi, kadang Gereja di Banjar hanya di pandang orang bahwa symbol agar
orang tidak mengangap Kesultanan Banjarmasin anti non Islam, namun apa pun
terjadi demikian lah yang terjadi, dan begitu juga orang yang berada di daerah
DAS, Sungai Barito hulu Kalteng, masyarakat Muslim, dan sangat banjar sekali,
dan hanya dayak manyan saja yang Bergama Kristen, namun dalam catatan Statistik
daerah DAS, dayak Manyan pun juga banyak muslim nya dari pada Kristen, dan dari
100% kelompok Manyan hanya ada 20 % yang menganut Kristen, 30 % agama nenek
moyang/anenisme, dan sisa nya muslim, dan dari untuk seluruh Pulau Kalimantan
dari 2002 sampai 2015, masyarakat Kalimantan 80% muslim, dan mayoritas nya di golongkan
kelompok banjar baik oleh pemerintah daerah atau pemerintah Pusat, bahkan
sampai Serawak Malasyia, Brunai dan Sabah Federasi Malasyia, Mayoritas Muslim
perbatasan ini di golongkan kelompok Banjar, dan kami sudah menjekesakan di
atas tadi yang di masksut kelompok banjar di Kalimantan, ya itu Melayu Muslim,
atau orang tidak bicara dengan tutur dialek Jawa dan dayak, dan tidak harus
lahir di banjar atau Kalsel.
Kesimpulan
nya, hampir semua daerah Kalimantan ini, orang Muslim mengunakan Budaya dan
Tradisi Kesultanan Banjarmasin, baik dari bangunan mesjid nya, Rumah nya, dan
perlu di ketahui juga, rumah adat banjar sebenar banyak bentuk nya di
masyarakat, bukan saja Rumah bubungan tinggi Rumah Adat Banjar tersebut, dan
Rumah Bubungan Tinggi itu hanya di jadikan pemerintah symbol untuk mewakili
rumah orang muslim banjar, dan bertepatan juga Rumah Bubungan Tinggi adalah
rumah nya para raja dan bangsawan, dan di masyarakat banyak versi nya, dan
cirri utama nya adalah bagunan rumah Kayu, ukiran Melayu dayak kental Islam,
untuk semua rumah orang banjar, jarang rumah kelompok banjar ini Benton, dan
Rumah orang di pesisir sungai adalah Rumah adat Banjar, begitu juga batang atau
pelbuhan kecil di sungai untuk tambatan jukung, dan di seluruh kampong atau
mukim kelompok Banjar di daerah lain cirri nya pasti ada sebuah Mesjid, di mana
kelompok ini tinggal pasti membangun mesjid, atau setidak nya langgar atau
surau untuk shalat, dan yang membangun tidak meski orang fanatic, kelompok
banjar tidak peduli, meski di tanah bukan totoriol Islam, pasti akan membangun
Mesjid, ini cirri banjar atau Aceh.
Masyarakat
banjar, baik di luar banjar atau di dalam banjar sendiri sebenar nya tidak
menolak budaya dan tradisi mana pun, contoh nya barat, atau tidak menolak
kelompok mana pun yang datang ke banjar atau tutorial mereka, asal kan
bermoral, dan budaya dan tradisi orang juga banyak dipakai di banjar, terlibeh
barat dengan music nya, kelompok banjar akan memakai budaya orang atau mimijam
nya jika budaya tersebut tidak terpengaruh unsur agama non Islam, atau budaya
dan tradisi masyarakat biasa layak yang non agama, kelompok banjar akan menolak
budaya dan tradisi luar mana saja yang masuk wilayah mereka apa bila budaya dan
tradisi itu terpengaruh agama. Dan kelompok banjar ini sangat kuat sekali
dengan Budaya dan Trdisi Islam nya, dan tidak di harus orang yang lahir di
banjar, atau dalam kawasan banjar, dayak muslim di luar banjar juga sangat kuat
memengan budaya dan tradisi Islam banjar, dan kelompok orang muslim mana pun
yang sudah terpengaruh budaya dan tradisi banjar, jarang sekali bisa melepaskan
nya, orang jawa yang sudah terpengaruh budaya Banjar, 80% tidak akan bisa lagi
lepas dari nya, meski mereka pulang ke Jawa, dan kadang memilih menetap di
Kalimantan saja lagi engan pulang, karena sudah terbiasa hidup dengan kelompok
banjar ini, bahasa jawa akan luntur, budaya jawa akan luntur sepenuh nya, dan
bagi kalangan sumatera pun begitu juga, namun Sumatera dan Banjar tidak jauh
berbeda melayu Islam nya, kecualai batak saja, dan semua hal ini dapat di
buktikan, dan kami sudah meneliti nya selama 7 tahun lama nya, dan begitu kuat
nya Budaya dan Trdisi Banjar ini. Dan masalah Kelompok Muslim di hulu sungai
Barito atau daerah DAS, yang ingin mengabungkan daerah nya dengan Kesultanan Banjarmasin
tauh 2017 ini belum menemukan jalan keluar nya, ada pun mereka ingin membentuk
Provinsi baru, seperti yang terjadi di Kalimantan Timor, Kelompok Muslim Sulu
dan Kutai ingin keluar dari tototial Kaltim, dan membentuk Provinsi Kalimantan
Utara, wialayah ini termasuk Tarakan, dan hal ini di kabulkan pemerintah
Jakarta, karena juga pemerintah Kaltim tidak bisa menangani daerah mereka yang
terlalu luas, begitu juga Kalteng, karena wialayah yang teralu luas pemerintah
tidak bisa mengelola nya daerah dengan benar dan adil, dan hal ini terjadi do
daerah DAS, Pemerintah Jakarta dan Kesultanan Banjarmasin bisa mengabulkan nya,
namum mereka memikirkan akibat nya, bisa bentrok dengan pemerintah Kalteng
nanti nya, maka dari usulan pembentukan Provinsi baru pun di adakan dalam
perudingan bersama, dan sampai sekarang ini Jokowi, DPR, dan MPR Jakarta masih
mengadakan perudingan, dan belum ada tanda-tanda masalah ini akan selesai
dengan cepat, dan Kelompok Muslil Dayak DAS, sudah menujuk kota yang akan di
jadikan ibu kota Provinsi baru, ya itu Muara Teweh. Dan begitulah yang terjadi
di masyarakat Kalimantan 2017 ini, dan bukan bermaksut untuk mengakukan atau
membuat propaganda, atau terlalu banga Tapi Banjarmasin dari 26 September 1526
M sampai 2017 ini masih memainkan peranan penting untuk daerah Kalimantan,
Kusus nya Perdagang, Industri, Pendidikan, Agama, Budaya dan Trdisi,
Perdagangan Internasional, Kebijakan Pemerintah Jakarta, Konflik, daerah Acuan,
Pertanian, Perikakanan, Ternak Intik, Sawah, Karet, Tambang Minyak dan Batu
bara PT Adaro, Serta Teater. Hiburan, komendi Musik Dangdut Melayu, Rock,
Alternativ Rock, Punk Metal, dan satu-satu nya Industri music paling besar di
Kalimantan hanya ada di Banjarmasin, penyewaan panggung music, Promotor music
Internasinal dan Lokal, Pembuatan Film, Video Clip, band Go Jakarta
Banjarmasin, Raja, MR X, Remot Control Album Arogansi, Avril Fans Fender Band
Rock Endergrons, Likin Park Fans Petronas Malasyia, Inter Mezo. Punk Metal Tabalong, Fender Telecaster Pembuatan Gitar Industri, Ottoman 1453 Fetih Rock Band, Relegion Band Banjarbaru, Amuntai Rock, Borneo Metal, Dayak Of Rock, Melayu Rock Band, Aceh Band, GMA Band, Pawer Metal. Cacan, Jujun Tralala, Ola
Ramlan, dan banyak lagi Industri hiburan banjar, miski ini wilayah Islam,
diskotik besar, HBI, Hotel Internasional Banjarmasin, olahraga nya, Barito
Putra, Rece, Trail, Reli, Industri Fashion nya, Industri Teknologi nya,
Percetakan dan Media TV nya, Duta TV, Banjar TV, Amuntai TV, Tabalong tv,
Barabai TV, Kadangan TV, Tatakan Tapin TV, Kota Baru TV, Batu Locin TV, TVRI
Banjarmasin, Kijang TV, Kanada TV, dan Aceh TV. Koran Banjarmasin Pos, Radar
Banjar, Mentro Banjar, Metro Tabalong, dan juga Perpustakan Terlengkap kajian
sejarah Kalimantan, Musium Terlengkap Kalimantan, Pembuatan Kurikulum
pendidikan Islam, Tentara persenjata terlengkap, baik udara, laut dan darat,
pembuatan Mubel terbesar Kalimantan, tambang Permata Tersebesar. Dan selangkah
lebih maju mengenai Teknologi dan pendidikan Kalimantan. Jadi itu lah mengenai
Banjarmasin dan Kalimantan untuk sekarang ini, dan kami masih mengumpulkan data
untuk penulisan selanjut nya.
Dan mungkin sekian dulu imformasi yang saya bisa
berikan pada anda para pembaca. Dan kita bertemu lagi di lain epesodi tulisa
saya yang baru nanti.
Terima kasih telah membaca nya semoga berguna untuk
anda.
Mohon maaf bila ada kekeliruan dalam tulisan saya di
atas.
FROG GOZILLA
Ketua Organisasi Alternativ Rock Numetal Comnty Tato88
Tanjung Tabalong yang bergerak memajukan pendidikan di Banjarmasin Aceh dan
Indonesia.
Organisasi ini juga sangat aktiv di industri musik
Rock Endergrond,
Dan berjuang untuk membangun perintahan ustmaniyah
yang baru,
Simbol Organisasi
Avril Lavigne















Tidak ada komentar:
Posting Komentar