Translate

Senin, 24 April 2017

Rencanan Pemindahan Ibu Kota Indonesia Ke Kalimantan



Rencanan Pemindahan Ibu Kota Indonesia Ke Kalimantan 


WELCOME BLOGGER FROG GOZILLA
Terima kasih pada anda para pembaca yang sudah mau melungkan waktu berharga anda hanya untuk membaca tulisan saya


Pendahuluan

Gambar Avril fans fender Reporter Redaksi Jurnalis Kantor berita Kanada Banjarmasin

Tulisan ini saya bisa pertangung jawabkan ke benaran nya, dan tulisan ini di tulis juga di bantu oleh kawan-kawan Avril fans fender Banjarmasin, dan beberapa tokoh narasumber baik dari tokoh masyarakat, kelompok Ormas serta pemerintah daerah, di tambah dari hasil penelusuran langsung di lapangan.
Tulisan ini membahas masalah lama yang terjadi di Indonesia, ya itu masalah memindah Ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan yang penuh dengan pro dan kontrak secara mendalam singkat padat dan berisi. Dan tulisan ini juga sengaja merahasiakan beberapa nama tokoh dan ormas yang terlibat diskusi ini, karena sudah perjanjian dalam hal ini setelah seksama memabaca tulisan ini sebelum di terbitkan baik menjadi buku atau artikel di Internet. Dan tulisan ini juga tidak merahasikan nama tokoh dan ormas yang tidak meminta kami untuk merahasikan nama mereka.
Tulisan ini sudah di terbitkan menjadi buku, dan di dalam blogger adalah inti sari nya saja yang di tuliskan, dan di larang keras mengcopy dan mencatak ulang tulisan ini tanpa izin tertulis dari Avril fans fender Banjarmasin, dan pelangaran pengcopyan maka bisa di jerat hukuman pinan sesua hukum yang berlaku oleh pemerintah Republik Indonesia.
Dan tulisan ini di tulis mengunakan bahasa melayu banjar yang tercampur bahasa Indonesia murni, karena saya kurang pasif berbicara bahasa Indonesia murni, tapi saya pasif berbahasa melayu banjar. Dan tulisan ini memakai kata kalimat kasar dalam penulisan nya, karena begitulah tutur dialek bahasa melayu banjar, jadi mohon kebjiakan anda pembaca jika ada kekiliruan dalam tulisan ini.

Rencanan Pemindahan Ibu Kota Indonesia Ke Kalimantan 

Gambar Diskusi Avril fans Fender bersama para tokoh narasumber di Kantor berita Kanada Banjarmasin.

Rencana pemindahan Ibu Kota Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan bukan lah suatau rencanan baru pemerintah yang dari dulu sudah tidak pernah terwujud, yang hanya menimbulkan pro dan kontrak kelompok saja, Rencanan pemindah ibu kota ini sudah di mulai dari zaman Orde Lama rezim Sokarno Presiden pertama Indonesia, dan selalu di turuskan warisan masalah ini dari rezim ke rezim hingga rezim Jokowi ini. Namun hanya ada beberapa rezim pemerintah saja yang loyal membahas masalah ini, ya itu Rezim Sokarno, Rezim Pak Harto, Rezmi Megawati, dan yang terakhir adalah rezim Jokowi ini, sedangkan yang lain tidak terlalu loyal terhadap masalah ini. Dan perlu di ketahui juga, Kalimantan bukan lah salah satu daerah tujuan yang akan di jadikan Ibu kota Indonesia ini, Cuma hanya saja tujuan pindah ke Kalimantan adalah yang paling minor terjadi denga beberapa alasan yang mendukung nya. Namun juga dari zaman sejarah ingin memindahkan ibu kota ini alasan nya juga selalu berevolusi hingga zaman moderen ini dan lebih jelas maka kita akan kembali membuka sejarah, agar tahu benang merah nya berawal dari mana.
Sudah di ketahui luas Indonesia adalah suatu Negara yang didirikan dari banyak kelompok suku dan budaya dan tradisi yang meliputi nya, dan Indonesia adalah Negara muda juga, karena didirikan 17 agustus 1945 yang lalu, dan itu pun daerah nya tidak seutuh sekarang ini, terjadi persatuan untuk mendirikan nya Indonesia ini dari banyak kelompok ini berlaskan dasar musuh yang sama di hadapi, ya itu penjajah eropa yang meliputi Nusantara ini seperti Belanda, Inggris dan Portugis, dan dasar nya lagi adalah agama Islam, dan ini lah komposisi pembentuk dasar Republik Indonesia, dan setelah merdeka nya Indonesia pada 17 Agustus tahun 1945 ini, tidak di duga sebelum nya akan terjadi perpecahan persatuan tersebut, yang di akibatkan dari rasa ketidak adilan oleh sesama mereka pejuang pendiri Negara republic Indonesia itu sendiri, dan di campuri tangan Asing juga akibat masih ada nya sisa feodalisme.
Seperti buku yang di tulis oleh penulis banjar yang bernama Sarif Maulanan tahun 1964 yang di cetak di Martapura, dia menulis bahwa saya tidak menyangka apa yang terjadi di Indonesia, Negara Indonesia mengalami apa yang di alami Islam dalam masa sejarah lalu, yang mana setelah di tinggal nya oleh Bagida Rasululanh Muhammad, maka Islam yang kuat pecah bahkan beraliran, namun walau begitu mereka masih bisa mempertahankan nya, dan itu lah yang terjadi sekarang ini, yang di awali oleh DI dan TII. Yang mana kelompok ini merasa paling berhak atas ligitimasih tersebut, yang mendorong DI dan TII angkat senjata, serta menuduhkan Kafir, ingkar janji dan segala nya, dan asal anda tahu saja pembanca, Konflik yang di mulai DI dan TII ini sampai sekarang belum lah selesai, melainkan hanya mendingin dan memanas, dan Kelompok DI dan TII ini juga awal dari awal nya daerah-daerah untuk keluar dari Negara kesatuan Indonesia, meski daerah tersebu bukan pengikut kelompok DI dan TII tersebut, namun DI dan TII adalah awal semua perpecahan, bukan Kelompok PKI Pemicu nya, seperti banyak para pengamat mengatakan dalam perjalanan sejarah Indonesia ini, dan kisru DI dan TII ini lah yang mendasari ada pembentukan rencana pemerintah Indonesia untuk memindah ibu kota Indonesia ini, itu di lakukan untuk meredam pemberontkan DI dan TII yang menuntut hak nya pada pemerintah Indonesia, yang mana konflik ini memakan banyak sekali korban jiwa, kontak senjata yang di pimpin Ibu Hajar meletus di Banjarmasin, setelah meletus nya kontak senjata di Aceh dan Sumatera saat itu. Memang saat itu perlu di akui juga pemicu pecah nya konflik tersebut adalah di edintikan kisru agama, yang mana baik Ibnu Hajar, Kahar Muzakar, Tuanku Daut, dan Kartosowiryo, yang menagihi janji apa bila Indonesia merdeka, maka Negara akan menjadi Negara Islam, seperti negera yang banyak terbentuk di asia tengara kala itu, contoh Brunai darusalam, dan memang sudah janji awal memang begitu, tapi perubahan rencana yang di katakana adalah sebuah penghianatan pada agama Islam itu terjadi, akiba Pemerintah Orde Lama saat itu memikirkan bahwa tidak semua kelompok yang tinggal di daerah tutorial Indonesia adalah muslim, jadi mereka tidak jadi membetuk Negara berlandaskan Islam, namum perlu di Ketahui, walau tidak jadi membentuk Negara Islam itu sendiri, tapi hampir 80% Hukum undang-undang dan peraturan pemerintah Indonesia tersebut berdasakan pandangan Islam itu sendiri, karena tidak dapat di pungkiri mereka adalah orang Islam, tapi setela semua pemberontkan dapat di padamkan di daerah Indonesia ini, tidak lama kemudian muncul lagi pemberontakan baru, yang mana kelompok ini mereka yang juga mantan TII dan DI tersebut, yang mana dengan tegas dalam buku yang di tulis oleh Yahya Surkati, yang berjudul Pemberontokan seri 2 Indonesia terbit tahun 1992 di Palembang menyatakan, Pemberontakan kedua ini yang merubah rencana nya, ya itu menghilang kan asas agama, dan menunjolkan Otonomi daerah, yang mana ini di mulai dari Aceh, dan ini juga di tegas oleh Yahya Surkati yang melahirkan rencana pemindahan ibu Kota tersebut, yang mana banyak orang terpicu oleh pidato Hasan Saleh pejuang Aceh yang asal nya membela Indonesia, justru setelah padam nya DI dan TII iya adalah orang kedua yang melakukan perlawan terhadap pemerintah Indonesia, akibat peleburan provinsi Aceh menjadi kabupaten ikut dengan Sumatera Utara kala itu, yang mana iya menutut dan mengatakan bahwa pemerintah Indonesia harus memberikan otonomi daerah untuk Aceh yang Istimewa dari yang lain nya, karena Aceh adalah daerah modal perjuangan, pemerintah Menolak nya, namun masalah berlanjut, yang mana Hasan Saleh mengatakan Pemerintah memberikan hak Istimewa ke pada Yogyakarta, meski kita tahu peranan Yogyakarta dalam perjuangan Indonesia, dan ini adalah suatu bentuk ketidak adilan pemerintah sendiri, Aceh juga berhak atas itu, dan bukan hanya kelompok Jawa saja yang melakukan perjuangan yang memerdekan Indonesia tapi melayu juga, dan yang lain nya, dan penting di ketahui, ini adalah awal mula nya konflik Jawa VS Melayu yang di kodekan dengan perang Majapahit dengan Samudara Pasai, kata tersebut memebalak mata dan menyungingkan teliga yang mendegar nya, yang mana kelompok yang berada di luar pulau jawa dan Jakarta mulai berangapan bahwa pemerintah Indonesia adalah kepentingan Jawa dan Jakarta, dan hal ini masih belangsung hingga sekarang ini pembaca. Dan masalah itu maka terjadi kembali perang antar kelompok, meski saat itu Aceh di berikan hak Otonomi daerah tersebut, dan itu juga yang harus semeski yang terjadi untuk menghargai perjuangan yang lain nya, agar menjaga persatuan dan kesatuan pada daerah-daerah luar Pulau Jawa, dan Hasal Saleh adalah yang memulai era penuntutan otonomi daerah-daerah secara besar, yang berujung Timor-Timor melakukan persekutuan dengan Portugis kembali, dan terbentuk nya OPM Papua, dan banyak kelompok lain nya, Kedamaian di serambi mekah tidak berlangsung lama, karena Pemberontkan kembali terjadi, dan di lakukan kelompok yang sama, ya itu mantan DI dan TII kembali, yang mana ini awal GAM Aceh lahir kedunia ini, dan ini juga didasari oleh rasa ketidak adilan yang juga rasisme, perang pasai dan majapahit berlanjut, pindah ibu kota kembali di bicarakan, yang mana pihak majapahi atau pasai sendiri sama mengklaim diri paling berhak, yang pada akhir melibatkan kisru Industri, yang berujung pembantain kaum jawa di bumi melayu, melaus sampai ke Kalimantan, yang mana kelompok membantai suku Jawa, yang kembali di ulang oleh GAM Aceh, meski Otonomi daerah itu di berikan, dan memang perlu di akui alasan semua nya terjadi bukan lah di picu oleh kisru masalah pindah Ibu Kota, Cuma ini hanya menampakan benang merah nya saja, Karena setelah pembantain tersebut Orde Baru kembali melobi masalah pindah Ibu kota ke Palangkaraya Kalimantan, yang menjadikan opini baru di masyarakat daerah, yang juga sama merasa berhak atas hal tersebut, seperti yang di catat oleh Angriani wartawan Banjarmasin, alasan Orde Baru rencanan pemindahan Ibu Kota itu di lakukan agar terjalin persatuan yang sangat kuat, dan kelompok-kelompok akan marasa adil, namun juga nyata pemerintah Orde Baru tidak pernah benar-benar serius dalam hal tersebut, yang justru bukan nya membaik, tapi malah sebalik menjadi buruk pro dan kontrak, dan opini-opini yang tidak beralasan juga kembali memicu masyarakat, yang mengagap itu hanya lah sebuah kebohongan kelompok jawa, mereka takan mungkin melakukan nya, mereka hanya peduli pada diri mereka sendiri saja. Tapi juga perlu saya kata pada anda, kita sekarang bukan membahas masalah konflik tersebut, dan saya segaja mentidak adakan banyak hal sejarah, ya itu masalah konflik pembantain rahasia di Kalimantan dan Sumatera, dan puncak nya tahun 2000 lalu, yang berkaitan masalah ini, karena membicarakan masalah pembantain itu hanya akan jadi provokasi saja, dan sejarah ini hanya untuk mengambarkan pada anda benang merah nya saja, agar jelas saja di pahami.
Pada antara tahun 1999-2000 di bagian timor dan barat Indonesia sedang terjadi darurat militer, OPM Papua membabi buta kontak senjata untuk memerdekan diri nya, melihat timor-timor berhasil, meski begitu pemerintah bertidak keras dalam operasi militer di Aceh dan di Papua tersebut, dan sedangkan di daerah Kalimantan setelah pembantai tersebut, kelompok-kelompok yang saya tidak perlu sebutkan nama nya ini, yang mana kelompok ini juga adalah yang berkaitan erat dengan tubuh pemerintah sendiri, yang gencar nya membicarakan pemindahan Ibu Kota tersebut, banyak diskusi di lakukan untuk mengetahui apa yang akan terjadi apa bila ibu kota di pindahkan, yang mana mereka sudah tahu pihak Jawa tidak akan mau ibu kota pindah ke Kalimantan, kelompok Sumatera juga pasti iku terjun, pihak Sulawesi juga pasti iku, karena semua nya merasa berhak dalam klaim hal ini, maka dari itu Pemerintah Jakarta rezim Megawati kembali membukan masalah warisan itu, untuk menekan pro dan kontrak yang terjadi, karena angapan di Kalimantan sendiri, mereka merasa di perlakukan kaya anak kecil yang lagi menangis di kasih permen berhenti menangis nya, mereka merasa di dustai pemerintah, pemerintah hanya memancing-mancing Kalimantan saja, namun tidak pernah serius mengurus nya, meski pada akhir nya rezim Megawati mengatakan, bahwa menurut Kajian Kalimantan belum siap untuk ini, dan belum juga melengkapi sarat untuk menjadi Ibu Kota, karena untuk meredam Banjarmasin yang juga merasa berhak menjadi Ibu Kota Indonesia tersebut, sedangkan di lain pihak di Surabaya menetang pemerintah untuk memindahkan ibu kota ke Kalimantan, Surabaya juga berhak ata itu, perdebatan panjang masalah ini seolah tidak pernah habis nya, namun saya setuju dengan apa yang di katakana Seniman Banjar, HJ Anang Suriyansyah, pemerintah Jakarta ingin memindah ibu kota hanya bohong dan tambah masalah saja, sedangkan mereka menangani masalah otonomi daerah saja tidak mampu, bagai mana mereka memindah ibu kota, bahkan ini bukan uang yang sedikit untuk melakukan nya, sedangkan Indonesia di landan krisi ekonomi panjang.
Ada hal penting juga yang terjadi di Kalimantan, yang mana Banjarmasin mulai mendingin dari line konflik yang mengklaim banjar lebih berhak dari Palangka, karena para sesepuh nya Kalimantan melakukan diskusi bersama untuk menjalin persatuan dan dukungan pihak masyarakat luas, mereka ini mengangap sereuis pemerintah Jakarta dalam rencana pemindahan ibu kota tersebut, yang mana kelompok sepakat di mana saja daerah yang di kehendaki pemerintah Jakarta untuk jadi ibu kota akan di dukung bersama, karena lebih baik hal tersebut dari pada pemerintah selalu berpusat di Jakarta saja, yang memarzinalkan Kalimantan dan yang lain nya, dengan berpindah nya ibu kota Ke Kalimantan daerah mana saja, otomatis semua nya dengan sendiri nya akan berkembang. Dan belakangan kelompok UDB dan Industri juga ikut dengan Kelompok ini, yang mana Kelompok UDB dan Industri dari dulu sudah ingin menjadikan Banjarmasin GO Internasional, dan banyak alasan lain, dan dari sini lah kelompok mulai melakukan usaha untuk mencukupi apa yang kurang di pandang oleh pemerintah Jakarta, dan memerangi batu sandungan yang menghalangi Pemerintah Jakarta untuk memindahkan ibu kota ke Kalimantan tersebut.
Dan juga dalam waktu tidak lama Kelompok sesepuh Sumatera, atau persatuan tanah melayu tersebut setuju juga dengan kelompok banjar dan dayak, meski dulu ada sedikit hal yang tidak menyenagkan mengenai hal ini, namu seperti yang di katakana Kelompok Sumatera ini lebih baik, karena sudah umum di Katahui bahwa orang Sumatera punya kekerabatan dengan Kalimantan, yang jelas budaya dan tradisi yang tidak jauh berbeda, asas melayu dan Islam adalah utama, berbeda dengan kaum jawa, dan Sumatera lebih medukung pindah ke Kalimantan, meski waktu itu ada 2 Kelompok di Sumatera yang belum bersuara setuju, ya itu kelompok Aceh dan Medan, dan belum ada nya pembicara juga antara kelompok Kalimantan dengan Sulawesi dan Papua, apa pendapat mereka, namun jangan bertanya pada pihak Jawa, jelas sudah menolak nya, tapi menurut kelompok Kalimantan, Kelompok Sulawesi dan Papua pasti berpandangan bahwa ini lebi baik dari berpusat di Jakarta saja, dan jarak Sulawesi dengan Kalimantan juga tidak terlalu Jauh, mereka cepat ke Kalimantan melalui Kaltim dan Banjarmasin dari pada ke Pulau Jawa, tapi kadang juga yang menjadi sebuah bola panas mengenai hal ini, tidak ada nya keseriusan pemerintah sendiri dalam masalah ini, yang selalu memancing emosi kelompok ini, bahkan pada rezim SBY, masalah ini bisa di katakana tengelam, maka dari itu kelompok UDB bergabung dengan kelompok ini, yang mana UDB ingin menjadikan Banjarmasin dan daerah lain nya menjadi GO Internasional, yang mana masalah ini juga di picu banyak nya Industri tumbuh yang sangat menyulitkan mereka dalam berurusan dengan pemerintah yang harus bolak-balik Jakarta Kalimantan saat itu, bahkan PT Palindo 3 di Banjarmasin sempat ke semprot mereka ini dalam perdagang Internasional. Secara garis besar masyarakat daerah memandang SBY tidak lebih dari Perampok semata, yang suka safari laur negeri yang menghaburkan uang Negara, sedankan rakyat mendirita ekonomi nya, dan daerah minim pembangunan, dan perlu di ketahui, angapan pemerintah Jakarta perampok yang melakukan kepentingan pulau jawa tersebut sudah ada dari dulu semenjak pidato nya hasan saleh tersebut.
Sejak rezim SBY yang memerintah Indonesia, Kalimantan mengalami pergolakan parah yang banyak di rahasikan pemerintah dari sorotan media untuk mencegah konflik masyarakat, yang mana zaman rezim ini sangat minim pembangunan di Kalimantan, yang berujung perlawanan masa, yang sebenar di awali dari rusak nya jalanan di Kalimantan, yang meluas masalah nya menjadi sebuah penuntutan otonomi membabi buta, kericuhan yang di mulai di rantau terjadi memakan korban jiwa, nah perhatian kelompok sesepuh Kalimantan terfokus masalah ini, yang mengurangi focus nya di masalah pemindahan ibu kota tersebut, meski kadang di adakan nya pertemuan kelompok untuk mendiskusi nya, dan Kelompok OPM Papua dan Sulawesi juga sudah mereka ajak berdiskusi hanya saja tidak ada jawaban pasti mereka setuju jika pemerintah Jakarta memindahkan ibu kota tersebut ke Kalimantan, tapi yang menguras pikiran adalah koflik di Kalimantan, kian hari kian besar, yang pada puncak nya terjadi pada tahun 2011, yang di mulai dari Tabalong dan meluas ke daerah Kalimantan yang lain, yang mana kelompok benar-benar menghabisi rezim SBY dan komplotan nya untuk selama nya, menghajar mengulingkan bupati Tabalong dari kursi nya, dan penuntutan pada PT Adaro dan Pertamina tentang pembangunan, walau begitu perjuangan kelompok sesepuh Kalimantan tidak berhenti untuk memperjuangkan ke inginan mereka tersebut untuk memindah ibu kota Indonesia ke Kalimantan, dan masalah mulai meningin ini tiba-tiba saja kembali di hidupkan rezim Jokowi ini, yang mulai beredar pada April 2017 ini, yang mana di beritakan di banyak media bahwa Jokowi serius dalam memindah ibu kota ke Kalimantan, dan seolah ini adalah hal mudah yang tidak akan menjadi pro dan kontrak antar kelompok saja.
Dan saya sebagai salah seorang penduduk Kalimantan sebenar sangatlah senang dengan hal ini, dan terima kasih saya ucapkan pada presiden Jokowi, namun saja saya tahu ini, ini bukanlah hal yang serius oleh Jokowi, ini semacam isu saja, atau pengalihan perhatian pemerintah saja untuk masyarakat, mungkin ini menjadi semangat baru bagi kelompok sesepuh Kalimantan tersebut, tapi ini juga adalah sebuah duri dalam daging yang begitu menyakitkan apa bila presiden jokowi salah dalam melangkah, karena jelas sudah kelompok sesepuh Kalimantan sangat berharap hal ini, yang bisa berakibat kekecewa mendalam pada mereka semua nya, karena kelompok sesepuh Kalimantan itu terus berusaha melengkapi sarat yang di canangkan dan publikasikan pemerintah, memang alasan yang sangat mendukung sakali dari Jokowi untuk memindahkan ibu kota tersebut, yang mana untuk menghidari pro dan kontrak kelompok yang juga merasa berhak dalam klaim ini, yang mana alasan nya sebagai berikut ini; alasan pemerintah memilih Kalimantan atau Palangkaraya adalah, wilayah ini adalah wilayah aman, aman dari bencana alam, gempa bumi, banjir dan longsor, dan  palangka juga tidak memiliki gunung api yang membahayakan, palangka juga tidak padat penduduk nya seperti kebanyakan kota Kalimantan lain contoh seperti Banjar atau Balikpapan, dan palangka juga jauh dengan konflik seperti kota lain di Kalimantan, seperti banjar yang sangar rawan konflik, dan alasan pemerintah juga dalam mimindah ibu kota ini, Jakarta di rasa sudah sangat padat sekali penduduk nya, pembangunan yang tidak terencanakan dengan baik, tidak sesuai dengan kemajuan yang terjadi, dan Kalimantan juga pas berada di tengah-tengah Negara Indonesia itu sendiri, dan perlu di akui tidak ada nya alasan Jokowi dalam rencanan ini mengenai klaim berhak daerah seperti dahulu nya memicu pro dan kontrak terjadi, tapi jokowi tidak melakukan sebuah diskusi pembicara dengan kelompok Papua, Sumatera dan Sulawesi untuk mempertanykan apakah pedapat mereka, karena sudah jelas ini bukan hal yang serius, hanya sebuah hal main-main saja, kita sudah belajar dari semua rencana Jokowi tersebut, yang jelas di OKI dan KTT Negara Islam untuk membantu Palestina, sampai sekarang juga tidak membantu Palestina tersebut.
Dalam semua forum diskusi oleh beberapa ormas di Banjarmasin baru-baru ini yang serius membahas hal ini, yang mana mereka menekankan pada kelompok sesepuh Kalimantan agar tidak terjebak dengan rencanan pemindahan ibu kota oleh rezim jokowi yang berakibat mengecewakan tersebut, agap saja rencana jokowi tersebut adalah sebuah omong kosong belaka saja, atau katakana saja mencari sensasi, perlu saya akui forum tersebut sangat baik sekali, karena mereka mencegah akan konflik yang akan datang yang begitu mungkin di lakukan oleh kelompok sesepuh tersebut akibat kecewa. Dan mereka mengatakan dalam diskusi tersebut, Jokowi presiden yang kebanyakan rencana yang pada akhir nya terbengkalai, bukan kita tidak menghargai nya, namun kita melihat sendiri hal ini, masalah Jalanan lintas provinsi yang rusak yang berujung konflik di Kalimantan Jokowi tidak bisa mengurus nya, hingga masalah Industri dan yang lain nya, masalah rusak nya pasilitas olahraga juga tidak bisa diselesaikan, ini bukan selalu melempar masalah pada pemerintah Jakarta, dan memang ini adalah sebuah tugas mereka sebagai pusat dari pemerintah itu sendiri, karena pemerintah daerah hanya menirima perintah dari mereka dan memberikan laporan keadan public daerah pada pemerintah Jakarta agar pemerintah Jakarta dapat mengambil langkah nya dalam bertidak, dan memberikan kebijakan pas apa untuk daerah tersebut, hal ini nyata terlihat di tabalong, masalah konflik PT Conth dengan masyarakat yang sampai saat ini belum juga menemukan titik damai sedikit pun, bukan karena pemerintah daerah tidak bertidak, namun semua kekuasan ada pada pemerintah Jakarta. Dan rencanan pembangunan kareta api Kalimantan, yang juga sampai saat ini belum ada kejelasan kapan akan di lakukan, masalah pembangunan badara Samsudinoor Banjarmasin, juga sama tidak jelas nya, dan bukan masalah pembangunan di Kalimantan saja, di Sumatera, Sulawesi dan Papua yang semua juga tidak jelas, tidak ada tanda-tanda itu akan di lakukan, hanya obral janji saja, yang jelas mereka hanya membangunan Jakarta dan pulau jawa, dan perlu di katahui, dalam forum seorang ketua ormas menegaskan pada semua nya yang ada dalam forum tersebut, saya menjamin pada akhir nya masalah memindah ibu kota presiden Jokowi ini akan sama dengan pedahulu nya, yang akan mengatakan Palangkaraya belum siap untuk menirima nya, ini omong kosong belaka, mending tidak usaha merencanakan hal otopia ini, yang berujung hilang nya kepercaya public ke pada presiden sendiri, dan diskusi pun di hentikan mereka saat itu, namun saya setuju dengan mereka semua nya.
Dan 2 hari setelah diskusi forum kemarin, maka di banjar kembali lagi di lakukan dan melibatkan kelompok pemerintah daerah, yang mana diskusi ini di lakukan untuk menghidari hal buruk terjadi di kemudian hari yang menyangkut rencana jokowi untuk memindahkan ibu kota ke Kalimantan tersebut. Dalam diskusi di tekankan pada pihak media masa, supaya jangan terlalu berlebihan memberitakan hal ini, kalau perlu di akhiri nya sudah memberitakan hal ini, karena ini omong kosong yang berdampak panjang nanti nya, ini adalah sebuah kecerobohan presiden Jokowi, dan yang mana pihak pemerintah daerah yang mendengar ini langsung pada diskusi bersama tersebut langsung angkat bicara dan menegaskan, bahwa pemerintah daerah setuju hal tersebut, dan kami secara langsung meminta media berhenti meberitakan ini yang bukan suatu yang akan terwujut dalam masa depan nanti, kita menghidari opini public yang akan terbentuk selanjut nya, yang sudah dapat di duga akan terjadi sebuah pengharapan masyarakat tentang hal ini, jadi ada baik ini di berhentikan sudah, dan buatlah berita yang tidak merujuk pada panampakan akan sebuah kebodohan yang menejol tersebut, jadi kami tegaskas sekali lagi pada media dari sekarang jangan lagi membom public dengan hal yang tidak mungkin terjadi itu, atau jangan membodohi public lagi, sudah cukup kebodohan yang di buat tersebut. Dan tidak lama kemudian diskusi tersebut di akhiri, karena di angap omong kosong belaka dan buang-buang waktu saja, karena hal tersebut ada hal yang sangat jauh dari kenyatan, masih banyak masalah penting dan medesak untuk di selesaikan secapat mungkin, dan mungkin media ada baik nya menyoreut hal lain, yang jelas dan pasti bukan nirwana.
Kesimpulan terakhir diskusi yang di lakukan pihak avril fans fender dengan kelompok-kelompok tokoh masyarakat dan ormas juga sepakat, tidak membicara hal bodoh ini terlalu jauh, masih banyak hal lain yang lebih penting untuk di kedepankan agar masyarakat tahu, karena juga avril fans fender juga setuju, dengan semua nya, Cuma dalam diskusi di sesalkan sekali oleh mereka Presiden Jokowi berbuat hal ini, mengapa suka sekali memancing-mancing public saja yang mempermalukan diri sendiri saja, ada baik nya hal ini tidak di lakukan, sebenar nya kelompok sesepuh sebelum berita bodoh ini di layangkan sudah dingin dan berpikir, bukan masalah ibu kota mau di daerah mana saja tidak masalah, tapi yang penting keadilan pembangunan dan pemberian otonomi daerah lah yang penting, karena sia-sia juga kalua ibo kota di pindah ke Kalimantan tapi sifat menjajah pemerintah Jakarta tidak juga berubah, yang sarat kepentingan kelompok golongan saja, mau  di Surabaya pun juga bukan masalah ibu kota tersebut, jadi dengan kebodohan tadi maka kelompok yang sudah dingin menjadi panas kembali, tapi kami mendoakan supaya jangan terjadi hal buruk, dan sadar lah mereka dari kebodohan presiden Jokowi ini, dan saya katakana pada mereka, semua rencana pemindahan tersebut jangan di harap, karena tidak akan terjadi, karena ini bukan hal mudah untuk di lakukan, meski persetujuan keluar juga, bukan biaya yang murah untuk melakukan nya, semua perlu waktu panjang, dan tidak bisa tewujud dalam jangka waktu jabatan Jokowi ini, kecuali jabatan nya di perpanjang, banyak sarana yang perlu di bangun di palangkaraya agar bisa menjadi ibu kota Indonesia ini. Dan saya katakana saya tidak mengatakan Rencana Jokowi ini salah, dan bagus Jokowi, dan karena juga nanti di masa depan Ibu Kota di prediksi pindah, karena sekarang saja sudah kelihat Jakarta berbahaya bisa tengelam, namun masalah utama nya, Rencana pemindahan Ibu kota ini di publikasikan di waktu yang tidak tepat, dan melihat ke adaan perpolitikan serta ekonomi Indonesia sedang carut marut juga, dan jokowi jelas tidak punya kemampuan 100% melakukan nya, jadi jangan memancing opini public yang berujung pengharapan dan akhir nya kecewa mendalam dan ini bisa menjadi biayang keladi konflik, dan hidup nya gerakan separatis daerah saja, dan juga menghidari ke salah pahaman public luas terhadap rencana ini, dan kami berharap pada pemerintah Jakarta public kasikan rencana pembangunan yang pasti bisa di pertanggu jawabkan bukan otopia dan nirwana semata, mungkin dulu rencana pemindah ibo kota oleh rezim orde lama beralasan agar tidak di angap pro golongan dan daerah tertentu, dan lain nya. Dan ada baik nya pemerintah sekarang ini kusus nya DPR dan Jokowi, jangan menampakan pada public luas yang menujukan ke berpihakan mereka pada pulau Jawa, dan menganak emas kan nya, seperti selama ini, karena ini unsur pemecah belah bangsa saja. Dan buktikan rencana yang sudah di buat itu agar masyarakat percaya dan tidak merasa di bohongi pemerintah.

Dan mungkin sekian dulu imformasi yang saya bisa berikan pada anda para pembaca. Dan kita bertemu lagi di lain epesodi tulisa saya yang baru nanti.
Terima kasih telah membaca nya semoga berguna untuk anda.
Mohon maaf bila ada kekeliruan dalam tulisan saya di atas.

FROG GOZILLA
Ketua Organisasi Alternativ Rock Numetal Comnty Tato88 Tanjung Tabalong yang bergerak memajukan pendidikan di Banjarmasin Aceh dan Indonesia.
Organisasi ini juga sangat aktiv di industri musik Rock Endergrond,
Dan berjuang untuk membangun perintahan ustmaniyah yang baru, 

Simbol Organisasi

Avril Lavigne