Rasisme Radikalisme Premanisme Dan Konflik Di Kalimantan
WELCOME BLOGGER FROG GOZILLA
Terima kasih pada anda para pembaca yang sudah mau melungkan waktu berharga anda hanya untuk membaca tulisan saya
Pendahuluan
Gambar Redaksi Jurnalis dan Repoter Kantor Berita Kanada Banjarmasin Avril Fans Fende
Tulisan ini saya bisa pertanggung jawabkan ke benaran nya, dan tulisan ini di tulis di bantu oleh kawan-kawan Avril fans Fender redaksi repoter dan Jurnalis kantor berita Canada Banjarmasin serta Perpustakan Arsip Dokumen Pemerintah Daerah Tabalong.
Tulisan ini di tulis dari pembelajaran langsung di lokasi, mewawancarai tokoh dan organisasi yang terkait hal ini, serta dari buku-buku tex peningalan sejarah Kesultanan Banjarmasin yang di sebut orang kalimantan dengan nama Hikayat Kesultanan Banjarmasin. Tulisan ini membahas secara singkat tetang salah satu sumber konflik masyarakat, ya itu rasisme, Radikalisme dan premanisme, dan pembahasan rasisme, radikalisme, dan premanisme di tulisan ini hanya di fokuskan membahas masalah rasime, radikalisme, dan premanisme di Kalimantan, dan kusus nya Kalsel dan Kalteng, karena pristiwa konflik rasisme, radilkalisme dan premanisme ini seringkali terjadi di kedua daerah ini, dan tulisan ini ada bertujuan untuk membantu kawan-kawan, organisasi masyarakat, para tokoh-tokoh masyarakat, dan lembaga pemerintah untuk mengatasi hal ini, dan menciptakan damai di Kalimantan tercinta ini.
Dan tulisan ini juga sengaja merahasikan nama tokoh-tokoh masyarakat, dan organisasi masyarakat, serta lembaga pemerintah yang di wawancarai kru redaksi repoter jurnalis kantor berita Canada Banjarmasin Aceh Avril fans Fender, karena hal tersebut sudah perjanjian setelah pihak terkait membaca ulang tes tulisan ini sebelum di terbitkan, baik menjadi buku dan artikel di Internet. Dan tulisan ini juga tidak merahasikan nama tokoh-tokoh masyarakat, dan organisasi masyarakat, serta lembaga pemerintah yang tidak minta rahasikan nama nya sebelum penerbita tulisan ini di lakukan.
Tulisan ini di tulis dengan bahasa melayu banjar yang tercampur dengan bahasa Indonesia, karena saya kurang pasif berbahasa Indonesia, tapi pasif berbahasa melayu banjar, dan tulisan ini memakai kalimat kata kasar, karena begitulah bahasa melayu banjar, jadi mohon kebijakan nya jika ada kekeliruan kata kalimat dalan tulisan ini.
Rasisme Radikalisme Premanisme Dan Konflik Di Kalimantan
A. Penjelasan Rasime Konflik dan Premanisme
Gambar Avril fans Fender Banjarmasin dalam diskusi bersama Tokoh-tokoh Masyarakat, Organisasi Masyarakata dan Lembaga Pemerintah
Sebelum panjang lebar membahas Rasisme Radikalisme dan Premanisme di Kalimantan, ada baik nya saya jelaskan dulu yang dimasukan Rasisme Radikalime dan Premanisme yang di maksut dalam tulisan ini, meski anda sudah tahu maksut arti kata tersebut, ini di jelaskan untuk menghindari akan kesalaha pahaman yang berbahaya, karena Rasisme selalu di kaitkan dengan Suku Budaya dan tradisi dan lain nya, sedangkan radikalisme selalu di kaitkan dengan kekerasan kelompok agama, dan premanisme di kaitkan dengan aksi seorang pemberani dan pembuat unar yang ada di tengah masyarakat, namun sebenar nya arti kata tersebut lebih luas lagi, tidak hanya di maksut seperti itu, Karena kata Rasisme, Radikalisme dan Premanisme bisa di pakai untuk mewakili banyak maksut, singkat zamak, jadi kira nya pambaca tidak salah paham dalam menelah tulisan ini.
Dan hal penting yang ada harus ketahui juga sebelum anda membaca tulisan ini lebih dalam, maka anda harus tahu dengan nama dayak dan banjar bagi paham orang di Kalimantan, karena di sini lah kerap kali terjadi kekeliruan, yang di maksutkan nama Dayak adalah nama untuk menyebut seluruh golongan penduduk Kalimantan yang tidak berbahasa melayu, dan Indonesia, juga tinggal di pedalaman tidak beragama, dan sedangkan banjar adalah nama seluruh golongan penduduk Kalimantan yang bicara bahasa melayu dan Indonesia, dan beragama Islam, juga tinggal di perkotaan dan terdidik, bahkan jika dayak masuk Islam maka mereka mengklaim diri mereka adalah banjar. jadi kata banjar dan dayak mengadung zamak dan mewakili seluruh kelompok 2 penduduk tertua Kalimantan.
Perlu di akui juga memang benar juga Rasisme, Radikalisme dan premanisme ini adalah salah satu biayang keladi konflik perang umat manusia ini secara alami bukan berdasarkan muatan politik, seperti yang kita lihat dalam pristiwa sejarah kelam dulu, contoh banyak perang terjadi yang dikaitkan salah satuh pemicu perang tersebut adalah rasisme dan radikalisme, seperti perang kelompok suku, perang bedasarkan warna kulit, perang budaya tradisi dan sebagai nya, yang akhir nya di pirkirakan menjadi cikal bakal nya lahir nya Demokrasi, puralime dan leberalisme dalam banyak catatan sejarah, dan tidak sedikit nama tokoh yang di sebutkan mengenai hal ini, hingga zaman moderen ini, banyak ahli masih berpadangan seperti zaman sejarah, memandang rasisme, radikalisme adalah biyang keladi salah satu sumber konflik masyarakat akibat budaya yang berbeda, dan jawaban untuk menyelesaikan nya adalah Demokrasi, puralisme dan leberalisme, namun pada kanyatan nya tidak, bahkan Demokrasi, Puralisme dan Lebaralisme yang digadangkan banyak pihak Eropa tersebut malah jadi bomerang sendiri, bahkan menjadi salah satu sumber konflik tersebut, dengan banyak alasan, seperti demokrasi dan puralisme menghapus budaya dan tradisi, menghapus salah satu golongan dan menjadi golongan tersebut menjadi golongan nya, ini bukan kebebesan malainkan penyeragaman, dan di zaman moderen ini banyak perang di Timor Tengah berdasarkan alasan ini, karena mereka tidak benar paham Rasisme, radikalisme dan Premanisme yang sebanar nya yang bisa di salah gunakan pihak-pihak yang tidak bertangung jawab untuk kepetingan nya, dan rasisme adalah provokasi yang apuh di masyarakat bahkan di zaman moderen ini, bukan hal baru di dunia ini jika ada salah satu kolompok ingin melakukan sebuah perang pasti akan melakukan provokasi rasisme dan radikalisme kelompok untuk dukungan, pada hal perang yang ingin di buat bukan kepentingan kelompok tersebut, melaikan hanya kepetingan beberapa orang di kelompok itu. Dan perlu di katahui masalah rasisme, radikalisme dan premanisme masih terjadi juga pada zaman moderen ini, dan malah menjadi beranak lagi, menjadi rasisme radikalisme dan premanisme ini untuk di salah gunakan demi kepentingan poltitik. Rasisme radikalisme dan premanisme yang tanpak sekali zaman moderen yang pelaku nya adalah Amerika Serikat, karena mereka berusaha mengamerikan orang yang bukan Amerika, dengan cara Puralisme dan demokrasi, jadi puralisme dan demokrasi adalah rasisme baru ya itu pemaksan terhadap persamaan dan menghapus golangan lain. Demokrasi dan Puralisme yang sejati adalah tidak menghapus golongan, tapi para golongan tersebut saling menghormati antara satu dengan yang lain nya, tidak memaksakan orang ikut dia, dan seorang yang fanatik terhadap budaya dan tradisi jangan di angap selalu rasisme, karena konflik rasisme radikalisme dan premanisme banyak alasan mendasari nya terjadi, dan kebanyakan rasisme terjadi pada kalangan yang kurang pendidikan, terpingirkan oleh kelompok lain dan kepentingan kekuasan.
Rasisme Radikalisme Premanisme Dan Konflik Di Kalimantan
B. Konflik Rasisme Radikalisme dan Premanisme di Kalimantan
Gambar Avril fans Fender Banjarmasin berdiskusi bersama dewan adat banjar dayak beserta wakil pemerintah daerah di Kantor berita Canada Banjarmasin
Berawal dari sebuah kejadian konflik rasisme dayak banjar VS Madura yang begitu mengerikan terjadi pada tahun 2000 lalu di Kalimantan baru ada kepedulian dari banyak orang mengenai penanganan rasisme di Kalimantan ini, karena baru tahun 2000 lah orang-orang banyak tahu tentang konflik rasisme radikalisme dan premanisme di Kalimantan, bahkan dunia Internasional mengetahui hal ini, karena pada tahun 2000 banyak media-media yang sudah maju, dan cepat dalam menyampaikan berita nya, meski media-media waktu itu di batasi dan di acam dalam milihat pembatain tersebu, perampasan kamera pun terjadi, bahkan ada wartawan yang di bunuh akibat terlalu berani meliput pembatain tersebut, namun yang harus anda tahu, pembatain tersebut bukanlah pembatain rasisme yang pertama terjadi di kalimantan dan mengerikan, tapi pembantain rasisme tahun 2000 itu hanya yang pertama di muat di media luas, karena di kalimantan kusus nya Kalsel dan Kalteng kebiasan rasisme, radikalisme dan premanisme itu adalah hal biasa terjadi, bukan hal baru jika seorang banjar berkelahi di sebuah pasar akibat rasisme ini di Kalimantan, dan bukan tidak ada upaya dari pemerintah menangani hal ini sebelum tahun 2000, upaya pemerintah ada tapi hanya saja tidak berhasil dan tidak di pedulikan bahkan pemerintah yang coba menangani nya malah di serang mereka, bahkan setelah tahun 2000 pemerintah dan lembaga masyarakat coba menangani secara benar, namun juga masih nihil di dapatkan, ini karena rasisme itu sudah mendarah daging di Kalimantan, dan masalah yang di hadapi setelah tahun 2003 oleh pemerintah tetang rasisme ini menjadi 2, ya itu rasisme yang alami bukan bermuatan politik, dan rasime buatan yang bermauatan politik oleh pihak yang tidak bertangung jawab, dan banyak nya menjamur organisasi masyarakata yang rasisme, radikal dan premanisme sebut saja seperti Persatuan Dayak Kalteng Banjar, dan mereka ini juga bisa di gunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertangung jawab untuk memulai sebuah kecauan besar di Kalimantan. Dan ada 3 konflik rasisme dan radikal paling fenomenal terjadi sepanjang sejarah Kalimantan Selatan dan Tengah, pertama Dayak VS Banjar, di mulai dari sebelum nya berdiri Kesultanan Banjarmasin, berahir sementara setelah datang nya Belanda, ke 2 Konflik dayak Banjar VS eknik Cina hingga puncak nya tahun 1967, 3 Konflik rasisme Dayak, banjar VS Jawa dan Madura, di perkirakan di mulai dari ivansi Majapahit, dan mulai memucak pada Orde Baru dan mereda pada tahun 2000-2001 setelah pembatain Exstrim, dan perlu di garis bawahi konflik belum berahir, karena konflik kecil dayak, banjar VS Jawa masih berlaku hingga sekarang ini, dan hampir semua wilayah Kalsel dan Kalteng ini, dan untuk mengetahui lebih jelas nya, dan asal nya, maka kita perlu kembali ke Sejarah Kalimantan ini, serta mengenal jauh dan dalam lagi Masyarakatat nya, dan pihak kelompok mana saja yang harus paling bertangun jawab atas hal ini.
Rasisme Radikalisme Premanisme Dan Konflik Di Kalimantan
C Sejarah Panjang Konflik Rasisme Radikalisme dan Premanisme di Kalimanta Dan Benang Merah Nya Mendasari Konflik Tersebut
Tidak ada orang-orang yang benar-benar tahu mengenai sejarah Kalimantan secara ditaeil sebelum bediri nya Kesultanan Banjarmasin, karena minim nya peninggal sejarah, seperti situs sejarah, bekas kerajaan, dan lain nya, dan sejarah tertua yang bisa di benarkan dalam mengambarkan tentang Sejarah Penduduk Kalimantan adalah peninggalan kerajaan Kutai Kartanegara dengan Raja bernama Mulawarman yang berlokasi di Kalimantan Timor Tengarong, namun setelah runtuh nya Kerajaan Tersebut maka kaburlah sejarah Kalimantan ini, paling sejarah yang bisa di ambil dalam menelah Kalimantan ini dari Tex peninggalan Kerajaan Melayu di Utara Kalimantan, seperti Brunai, Sabah dan Malasyia, itu pun juga kurang Jelas, tapi masih bisa di buat untuk rujukan rintisan penulisan sejarah Kalimantan, dan perdebatan panjang yang belum berahir hinga sekarang ini, baik di kalangan ahli sejarah dan masyarakat Kalimantan Sendiri, perdebatan tersebut adalah siapakah orang dan kelompok mana yang benar-benar berhak atas Kalimantan ini? singkat nya siapa penduduk Pribumi Asli Kalimantan ini, karena hampir di semua tex sejarah Kalimantan menyatakan hampir semua kelompok suku Kalimantan ini adalah pendatang dari luar Kalimantan, termaksuk suku dayak yang di gadang-gadangkan orang yang paling berhak atas bumi Kalimantan ini, dan disini lah awal mula konflik rasisme terjadi, menurut penilitian yang di lakukan selama 8 tahun oleh Mahasiwa Univesitas Lambung Makurat Banjarmasin, menurut terjemahan tex sejarah kerajaan Melayu di utara Kalimantan yang mana orang melayu datang ke Kalimantan belakangan dari Suku Dayak Tersebut, yang masih sempat berentaraksi dengan Suku dayak sebelum mereka suku dayak lupa dari mana mereka berasal, Suku Dayak adalah keturunan dari orang Monggol dan Cina, yang bermingrasi akibat perang besar terjadi, baik atara Cina atau Monggol, tapi daerah yang di katahui dari mana Suku dayak di daerah Asia tersebut adalah daerah Yuan, Yuan di Monggol atau Yuan di Cina kurang jelas di katahui, tapi begitulah isi tex sejarah Kerajan Melayu Burunai mengambarkan nya, tapi yang anda harus pahami jangan langsung di angab benar, karena ini hanya dugan saja, karena tim penerjemah tex sejarah, yang menerjemahkan peningalan kerajaan Burnai, bisa saja salah terjemahkan, dan sekarang masih di lakukan tinjauan ulang penerjemahan oleh Avril fans Fender Malasyia hingga sekarang tahun 2017, dan cuma kita dalam tulisan ini tidak membahas sejarah detail Kalimantan dan Suku, cuma hanya mencari benang merah awal konflik rasisme radikal dan premanisme yang panjang di kalimantan ini, dan dari sini lah awal nya. Suku Dayak adalah suku tertua penghuni Kalimantan ini, dan Suku dayak yang di lihat dan temui sekarang ini sangat banyak kelompok nya, begitu bahasa nya, tapi mereka tetap satu moyang yang sama asal nya, karena orang dayak hidup nonmade atau berpindah-pidah lokasi nya, serta mengumpulkan makanan maka mereka terpecah belah dengan banyak kelompok, dan mengembangkan budaya nya sendiri tanpa terkaikan persamaan bahasa, dan kelompok yang terpecah-pecah ini lah pada akhir nya melakukan perang suadara sesama dayak sendiri, dan disini lah budaya rasisme radikalisme suku dayak berawal, setiap kelompok mereka merasa paling berhak atas semua totorial yang ada, dan mereka sangat fanatik buta terhadap keyakinan mistik kegaipan mereka, tunduk dan patuh terhadap pemimpin kolompok mereka, dan ke egenan berkawan suku dayak terhadap orang yang di luar kelompok mereka, meski orang tersebut saudara dayak mereka sendiri, hanya karena berbeda pemimpin kolompok suku saja, dan akibat hal ini juga maka benturan dengan orang melayu terjadi, dan konflik panjang terjadi, jadi inilah benang merah rasisme suku dayak dari zaman sejarah hingga sekarang ini, bahkan anda masih bisa melihat keeganan suku dayak berkawan dengan orang non kelompok nya hingga saat ini, bahkan mereka menolak pendidikan dan hidup seperti orang kebanyakan saat ini, mereka lebih memilih hidup nonmade di hutan ketimbang hidup dengan gemerlap nya kota metropolitan Kalimantan, dan rasisme suku dayak berbeda dengan rasisme kelompok suku banjar melayu. Dan ada satu hal lagi yang menjadi perdebatan panjang atara sejarawan dan masyarakata Kalimantan, ya itu masalah kerajan Nansarunai yang didirikan suku dayak dan hancur akibat Ivasi Majapahit, dan inilah awal kebencian dan rasisme suku dayak terhadap kaum jawa, ada sebagian membatah tetang kerajaan Nansarunai tersebut, karena minim nya bukti mengenai hal tersebut, akibat melihat kedudayan suku dayak yang kurang maju tersebut, yang menimbulkan pertanyan ahli sejarah, bagaimana bisa sebuah kelompok yang nonmade dan menolak berkawan dengan orang di luar kelompok nya serta minim nya pengembangan teknolongi membangun sebuah kerajaan, tapi apa pun pendapat yang terjadi sekarang ini mengenani nansarunai kurang penting di bahas di tulisan ini, karena pembahasan di tulisan ini mengenani benang merah sejarah rasisme, radikalisme dan premanisme di Kalimantan. Dan di pesisir Sungai Barito orang-orang Melayu Sumatera seperti Aceh, Palembang, Zambi dan Minangkabau mulai mendirikan kampung, yang biasa di sebut dengan nama mungkim bahasa Melayu, dan kampung ini di kenal suku Dayak dengan nama Oloh Masih, dan kampung ini kelat akan menjadi sebuah negara Islam Kalimantan, atau di kenal dengan Kesultanan Banjarmasin, dan disinilah awal mula penyebaran orang melayu dan mereka juga mulai mendominasi Kalimantan, dan mengerogoti Kekuasan Majapahit yang ada di Kalimantan, dan perlu di katahui di Kampung Oloh Masih tersebut sudah ada penduduk Muslim, mereka orang-orang Aceh, dan ini awal benturan Agama Suku Dayak dengan orang melayu Muslim Fanatik di pesisir Sungai Barito, dan menimbulkan Radikalisme yang begitu mengeliat sekali, yang mampu menyapu bersi orang-orang yang ada di pesisir Sungai Barito, dan orang melayu ini juga sangat berwatak keras sekali, dan mereka menyebarkan diri ke daerah-daerah yang sekarang ini menjadi bagian dari Kasel, Kaltim dan sebagian Kalteng, Sebelum Kesultanan Banjarmasin berdiri, Perang Rasisme kelompok melayu VS Dayak Bakumpai pecah, dan hingga meletus nya di berbagai Daerah, hingga mendorong para suku dayak semakin masuk ke pedalaman Kalimantan, Perlu di garis bawahi, Orang Melayu Sumatera ini yang tingal di Kalimantan kusus nya di Daerah Kalsel saat ini, mereka hanya ada 2 keyakinan, kalau tidak muslim maka mereka tidak beragama, dan menolak melakukan ritual-ritual semacan yang di lakukan suku dayak tersebut, meski mereka mengaku Hindu, tapi mereka bukan hindu, mereka adalah para Pedagang dan petani yang sibuk bekerja dan bekerja, maka dari itu benturan tak terelakan, mereka Masyarakat Melayu jauh lebih maju dari Suku Dayak, dan hingga pra Islam datang, ya itu berdiri nya Kesultanan Banjarmasin. Dan perlu di pahami mereka masyarakat Melayu juga sama dengan Dayak, mereka menyebar ke mana-mana dan pada akhir nya membangun kampung sendiri-sendiri, seperti dayak yang membangun kelompok suku masing-masing, dan pada akhir nya mempunyai dealek bahasa berbeda-beda, namun mereka melayu tetap punya satu moyang yang sama, meski lahir di lokasi yang berbeda, dan orang melayu yang merasa paling berkuasa ini jugalah yang pada akhir nya menimbulkan Premanisme di Kalimantan, terlebih mereka yang tinggal di Kandangan, Barabai, dan Rantau, Sifat bertarung sebagai laki-laki dan kebiasa membawa senjata tajam ini di bawa kemana saja mereka pergi, dan mereka akan merampas ke kuasan pada tanggan siapa saja dan di mana saja, terlebih lagi Kesultanan Banjarmasin berdiri, mereka Melayu yang menolak percaya hal mistik itu dengan mudah sekali menerima Islam, dan Islam adalah agama mereka, dan sampai mati akan mereka Bela, jangan berharap mendirikan sebuah gereja di perkampungan Orang melayu tersebut, Sakingkuat nya mereka dan dibantu banyak dari berbagai kesultanan seperti Demak ini mampu menguasai hampir sepertiga Kalimantan, bahkan jika saja Belanda dan Inggris tidak datang ke Kalimantan Orang-oran Melayu ini akan menguasai Kalimantan, dan Jelas nya mereka akan mengabungkan kerajaan mereka dengan Kerajaan Melayu yang sudah ada di Utara Kalimantan, seperti Kesultanan Sulu Sabah Federasi, Brunai dan Malasyia, maka dari itu Dayak banyak bergabung dengan Belanda, untuk menghalau rencana Tersebut, dan hal ini mendorong Dayak masuk Islam dan ikut orang Melayu, yang pada akhir nya budaya Melayu di adopsi suku dayak dan di modifikasi oleh mereka sediamikan rupa hingga menimbulkan kebudayan baru, mereka dayak yang masuk Islam berhenti hidup nonmade, mereka membangun rumah, berkebun karet, berternak dan bertani padi dan menglaim diri mereka sebagai orang banjar, dan berbahasa melayu, jadi saya kira anda paham dan mengerti sudah dari mana benang merah nya Rasisme, Radikalisme dan Premanisme yang ada di Kalimantan ini, dan mengapa dua Kelompok besar penghuni Kalimantan ini bermusuhan dengan Jawa, dan sangat rasisme sekali, baik banjar dengan premanisme nya atau dayak dengan rasisme nya. Dan untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita masih perlu berjalan dengan mesin waktu kembali ke perjalanan sejarah 2 kelompok besar penghuni Kalimantan. Pertentangan Rasisme kaum Banjar dan Dayak terhadap jawa sebenar nya sudah ada jauh dari sebelum Kesultanan Banjarmasin ada, alasan dayak karena mereka mengahacurkan Nansarunai, sedangkan Banjar masalah area Totorial dan pekerjaan mereka, tapi Rasisme zaman sejarah tersebut berbeda dengan sekarang ini, Karena Banjar ini rasisme pada kelompok Jawa tidak terlalu kuat, karena hanya mengikuti waktu keadaan yang berjalan, cuma penyakit nya kaum banjar ini Premanisme dan Radikal sekali, suka berkelahi, kadang tak peduli siapa atau di mana banjar ini suka berkelahi, mungkin gambaran pas nya mereka ini sama kelompok suku Arab, yang suka perang, meski juga perang dengan suadar mereka sendiri, dan perlu di katahui, perang kelompok banjar ini perang moderen, berbeda dengan suku dayak yang perang nya mengikuti budaya tradisi, seperti perang berburu kepala yang di kenal dengan nama Mayau, perang ini adalah sebuah perang atara suku dayak, bisa di katakan ini adalah faktor-faktor rasisme kelompok, karena ini lah yang menjauhkan mereka dari sesama mereka, karena rasa tidak percaya, yang singkat nya sama-sama pihak mengira kawanya adalah mayau yang akan memotong kapala mereka, dan yang paling memerangi terhadap kelompok Jawa adalah dayak ini, jarang ada Dayak berkawan Jawa kecuali di zaman moderen ini. Hingga datang nya Belanda, dan zaman Belanda Dayak rasisme terhada kaum Enik Cina, Cina yang berkawan Melayu tersebut, umum nya mereka ini pedagang, dan kaum Cina ini biasa minta perlindungan dengan Kesultanan Banjarmasin, dan disini kelihatan rasisme Banjar, jika Cina tersebut Muslim maka iyakan akan melindungi dari serangan dayak, jika tidak mereka tidak akan melindungi nya, justru bisa membantu dayak menyerang nya, dan juga kebanyakan Perang Kesultanan Banjarmasin VS Belanda di dasari faktor Agama dan radikalisme, dan juga dapat pengakuan Belanda, Melayu Pejuang Mujahidin di garis depan yang tak takut mati, karena mati masuk Surga, hingga usai nya zaman Belanda, dan zaman Jepang di Mulai, disini mulal nya mulai pertetangan Banjar atas dominasi Jawa, dan mereka sudah mulai akrap dengan Dayak, karena Dayak saat itu sudah 60% muslim, meski jawa muslim, tapi jawa kebanyakan jadi utusan Belanda dari Batavia, hingga Zaman kemerdekan datang, Sokarno naik Jadi Presiden Indonesia Pertama, dan disinilah ke kacauan yang di mulai, sembenar kekacauan tersebut datang dari Sumatera, pertama Aceh, lalu Jawa Barat, kisru Negara Islam Indonesia, hingga minimbulkan rasisme yang radikal terhadap kaum jawa oleh banjar, dan sedangkan para dayak melakukan penyerangan terhadap Enik Cina di berbagai lokasi. Dan hingga Ibu Hajar mengumpulkan pasukan yang terdiri orang-orang yang setia pada Kesultanan Banjarmasin perang untuk mendirikan negara Islam Kalimantan, ini benar-benar awal mula kebencian terhada enik Jawa, terlebih di Aceh perang dengan pemerintah Indonesia makin mengila, di Sulawesi Kahar Muzakar memimpin para Bugis membebaskan Makasar, Jawa Barat Kartosoiryo masih perang dengan pasukan Siliwangi, meski Batalion Seluah Jantan Aceh di kirim menumpas pemberontakan Republik Maluku, pimpinan Hasan Saleh, tapi Batalion ini pada akhir nya yang nomor 1 melawan pemerintah Indonesia, Hingga Ibu Hajar di tangkap dan di hukum mati. Namun juga pengaruh gayang Malasyia di Kalimantan sangat besar, Gayang Malasyia adalah satu Faktor pemicu rasisme dan radikalisme kaum Melayu Kalimantan terhadap Jawa, Sokarno di angap ingin melanjutkan Ligitimasih Majapahit, dan penjajahan terhadap kaum melayu akan terjadi, di Utara Kalimantan didirikan sebuah Organisasi oleh orang melayu untuk melawan ini, dan organisasi pertama bernama Persatuan Tanah Melayu Kalimantan dan Sumatera, dan untuk mendapakan senjata Organisasi ini pada akhir menjalin hungungan dengan Inggris, dan melihat hal ini dayak muslim pun juga membentu Organisasi nya, dan ini benar-benar rasisme terhadap Jawa yang di agap mereka Majapahit, hingga berahir nya Perang di Aceh, dan Gayang Malasyia. Pada tahun 1967 kembali meletus perang Rasisme suku dayak, dan dari hal ini Organisasi memimpin pengusiran Eknik Cina tersebut dari Kalimantan, paling juga Cina minta perlindungan para Sultan Malasyia, dan Burunai, hingga datang nya zaman Orde Baru. Perlu di akui, pada awal tahun 1970 perdamain atar kelompok mulai terjadi, Tapi hanya di Aceh konflik masih terjadi, masalah Tengku Markam penyumbang emas untuk pendirian Monas Jakarta, dan pembebesan lahan di Sumatera, Orde Baru menjarah Industri Tengku Markam, dan rasisme yang mulai hilang di hati kaum melayu mulai memanas lagi, di Sumatera mulai beredar kabar, Majapahit kembali ingin berkuasa atas tanah Melayu, hingga kebijakan Presiden Soharto Transmigarasi Orang jawa, dan ini adalah awal baru pemicu nya konflik rasisme panjang terhadap kaum Jawa di Kalimantan, atas penyerangan GAM berdahulu, dan ini adalah kebijakan Presiden Soharto paling bodoh yang pernah ada, iya mingirim orang jawa ke Sumatera, Kalimantan dan Papua untuk di bunuh, karena Tranimigrasi di angap perampasan tanah, Presiden Soharto membagi Tanah orang Aceh, Tanah orang Mingkabau, Tanah Orang Papua, Tanah Orang Banjar, Tanah Orang Dayak, ke Orang Jawa untuk di keruk menjadi lahan pertanian. Dan yang mana saat itu GAM sedang mendirikan pasukan nya, Di Banjarmasin orang-orang yang setia terhadap kesultanan Banjarmasin memberikan Sumbangan untuk GAM membeli senjata nya, bahkan Organisasi-organisasi Melayu dayak mengirimkan orang nya menjadi Prajurit GAM Aceh, pertama Masalah Industri tuduhan Hasan Tiro, lalu berlanjut Jawa ingin berkuasa, karena atas kematian suadara di akibatkan dokter enik Jawa, dan GAM menyerang Tranmigrasi orang jawa di Aceh, untuk mengembalikan tanah orang Aceh yang di rampas Orde Baru, orang Minangkabau milihat hal ini lantas ikut juga menyerang Trangmigarsi Orang jawa di Sumatera Barat, dan pada akhir nya Dayak dan Banjar juga ikut menyerang Tranmingrasi orang Jawa di Kalimantan, hingga meluas ke Papua, dan dari sini pemerintah daerah mulai membentuk Tim, namun tim gagal akibat banyak nya persekongkolan Batalion Sumatera Kalimantan, meski di Kalimantan Konflik sangat terlalu parah, namun akibat nya konflik rasisme ini sangat melekat sekali di masyarakat, sesekali penyerangan terjadi kaum Jawa dengan banyak alasan, kadang pemerintah daerah tutup mata dan teliga mengenai hal ini, di pasar-pasar Banjarmasin dan Palangkaraya, Jawa jadi gunjingan mereka, dan para pemuda Preman akan memukuli nya, dan atas hal ini para Pendunduk Kalimantan dari saat itu mengelari konflik ini dengan gelar Samudra Pasai VS Majapahit. Penyerangan belum berahir, dan pembentukan Organisasi baru terus berlanjut, dan penyerangan Tranmigrasi di pesisir sungai Barito pun di lancarkan, dari Tatas, Marabahan, Palingkau hingga tanah dusun dayak, serangan berbentuk kelompok kecil, kadang berbentuk kelompok Preman yang merampas tanah Jawa tersebut, pembunuhan yang akan di tinggal pesan segera angkat kaki di bumi kami pun di sebarkan, untuk menakuti para jawa di Tranmigrasi, sebagian ada yang pulang, dan sebagian ngotot bahkan menentang, dan malang mereka pada akhir nya terbunuh oleh para mayau dayak banjar, hingga upaya dari Organisasi Banjar Dayak dengan Evakuasi paksa, mereka memulang paksakan Jawa di tranmigrasi tanah dusun secara paksa, dan ini mulai dari tahun 1983 berahir pada tahun 1985, atas perjanjian Aceh Sumatera, dan kembali lagi pada tahun 1988, dan Puncak nya pada tahun 1997, Karena dari tahun 1997 ini Soharto sudah kehilangan banyak kekuasan nya, dan iya sudah mulai tidak bisa lagi mengedalikan Daerah. Dan pembantain ini berlaku 1 bulan setegah, berahir dengan perjanjian yang disebut perjanjian minangkabau oleh Kelompok Rahasia tersebut, dan Damai mulai tercipta, tanah mulai di kembalikan, dan hanya sebagian saja dalam perjanjian tersebut di berikan pada kaum Jawa yang taat terhadap baik dayak atau Kesultanan Banjarmasin Aceh. Perdamain yang tercipta tersebut tidak berlangsung lama, Di Jakarta tahun 1999, orang ribut mengulikan Presiden Soharto, di Kalimanta para organisasi rahasi melayu mengalang rapat besar, banyak dugaan orang saat itu para GAM akan melakukan kudeta besar, bahkan menyerang Jakarta. Dan sebenar nya pertemuan Organisasi tersebut adalah untuk membatalkan perjanjian damai dengan kelompok Majapahit di Kalimantan kusus nya di bagian Kalteng, Petemuan demi pertemuan di adakan di Banjarmasin, dari Organisasi rahasia tersebut, hingga melibatkan Panglima Kumbang dari Kesultanan Kutai, Raja Landak Pontianak, Persatuan Dayak Manyan, keharingan, dan Rumpun Melayu, dan Negera Federasi Sumatera, pertemuan juga di adakan di Sumatera Barat, di Thailand, terakhir di Serawak Malasyia. jelas apa isi pertemuan tersebut, tapi setelah pertemuan tersebutlah pecah nya konflik di mulai dari Sambas, pertaman Kelompok Jawa di bantai di Sambas, tapi entah mengapa menjadi Madura juga jadi sasaran tembak mereka. Dan alasan awal terlibat nya Madura ini, dan peralihat sasaran yang asal nya pembantain Jawa, maka beralih ke madura ini, akibat terjadi nya pertengkaran atara 3 kelompok anak muda di Pelabuhan Sampit Kalteng, 3 Kelompok tersebut Dayak, Banjar dan Madura itu sendiri, cuma alasan ini tidak di tangapi, yang banyak angapan orang alasan sebenar nya iya lah kelompok banjar dan dayak di Sampit atas diktrit dewan adat di Sumatera tidak terima dengan dominasi kaum Madura yang menguasai Pelabuhan sampit tersebut, hanya dalam waktu 2 hari pembantain tersebut terjadi hampir di seluruh kota Sampit, dan atas berita Cepat, maka Wartawan pun berdatangan untuk meliput, namun Batalion melarang dengan alasan keselamatan, Batalion dan Polisi disini sekongkol dengan organisasi Rahasia, mereka melakukan pembiaran, dan menahan waartawan yang akan milipun, hanya dalam 1 minggu pembantain meluas hingga Palangkaraya. Di Banjarmasin di kantor Negara Federasi Sumatera Industri Musik, dan Ormas Sumatera, Truk kosong berangkat, Truk itu ternyata ke pedalaman menyemput para Pasukan Dayak untuk di berangkatkan ke Kuala Kapuas, dan kapal milik Ormas Sumatera dari Banjarmasin membawa masa dayak ke Pelabuhan Kuala Kapuas, pembantain pun terjadi di pesisir Sungai Kapuas Tersebut, dan Pembantain ini berlangsung 4 bulan, dan meluas separu Kalimantan, hanya di daerah totorial Kesultanan Banjarmasin, dan Kutai saja tidak di berlakukan pembantai tersebut, dari kuala Kapuas Pembantain sampai perbatasan kota Banjarmasin, ya itu KM 14 Anjir Muara, ini di sebabkan perjanjian atas bantuan Ulama Islam Martapura, agar pembantain tidak boleh masuk daerah Totorial Kesultanan Banjarmasin, dan atas permintaan Pemerintah Jakarta melalui pemerintah daerah Banjarmasin, kuam Ulama di minta melakukan Evakuasi terhadap kolompok jawa dan Madura, dan pihak Ulama Martapura pun melakukan Evakuasi dan menjalin perjanjian dengan dewan adat untuk menghentikan pembantain tersebut, dan dewan adat pun setuju, dengan janji pihak pemerintah dan kaum Ulama secepat nya melakukan evakuasi tersebut, dan tidak boleh madura ada di bumi kekuasan mereka untuk alasan apa pun, hingga berakhir nya evakuasi tersebut, Pembantain pun berakhir, namun bukan berdamai tapi Madura ludes dari tanah totorial mereka, dan Jawa siap-siap angkat kaki juga dari perbatasan Banjarmasin.
Saya kira kita di tulisan ini tidak perlu membahas pembantain exstra keji tersebut secara mendetail, karena nanti bisa terjadi hal yang tidak di inginkan saja, akibat dendam sejarah di antara pihak yang terlibat, dan cukup jadi gambaran saja bagi yang tidak menyasikan nya, dan konflik tersebut hanya memakan waktu 4 bulan, tidak panjang seperti yang terdahulu, Korban yang jatuh pun tidak terlalu jauh berbeda dari yang terdahulu, kota sepi selama 7 bulan penuh, hanya sebentar saja dari konflik terdahulu, yang bisa memakan waktu panjang bahkan tahunan, sekolah di liburkan, dan Industri di minta pemerintah daerah tutup sementara, hanya PLN dan PDAM saja yang berjalan. Konflik ini adalah pelajaran penting bagi kita semua nya, untuk menjaga agar hal yang tidak di ingginkan ini, tidak terjadi lagi di kemudian hari, dan bagai mana cara nya kawan-kawan dayak di pedalaman dan banjar pedalamam tidak lagi rasisme, radikalisme dan premanisme, jika hanya salah satu orang yang bersalah, tidak usah menuduh semua kelompok nya bersalah, dan penting bagi pemerintah untuk memberikan pendidikan dan Intergrasi di Pedalaman Kalimantan ini, konflik belum berakhir masih berlanjut, organisasi baru di bangun baru lagi, dan sekarang konflik FPI VS Dayak menjadi pelajaran penting juga, karena Organisasi rasisme ini bisa di kendalikan orang-orang yang tidak bertangung jawab untuk mengacaukan Kalimantan. Dan kita berlanjut membahas Radikalisme, Rasisme dan Premanisme pembawa konflik di zaman moderen ini, yang di mulai dari tahun 2003 sampai sekarang ini di Kalimantan.
Rasisme Radikalisme Premanisme Dan Konflik Di Kalimantan
D. Rasisme Radikalisme Premanisme Di Kalimantan Di Zaman Moderen
Gambar Dewan Adat Kalimantan bersama Avril fans Fender Banjarmasin Berdiskusi mencari upaya untuk menangkal rasisme, di Kantor Berita Kanada Banjarmasin.
Setelah negosiasi atara pihak pemerintah daerah dengan dewan adat melayu dan dayak, yang di wakili ulama Islam Martapura ini tercapai, dan mereka semua sepakat untuk menangkap para pelaku nya, yang di tuduhkan provokasi bersifat kriminal dan penhasutan, karena konflik rasisme ini yang di katakan di dewan adat tersebut menerusi konflik lama tersebut, yaitu Samudara Pasai VS Majapahit, tapi hanya saja di manfaat kan para mafia Banjar tersebut untuk melakukan penjarahan harta, yang mana Madura atau bukan, mereka akan menuduh nya Madura, dan membabi buta merampas harta korban tersebut, dan dari tersangka yang di tangkap ada 48 orang, hanya 18 orang saja dari kelompok organisasi rasisme, dan sedangkan sisasa para mafia preman banjar tersebut.
Tapi banyak yang organisasi pembela HAM kecewa saat itu, mereka menilai pemerintah daerah dan pusat tidak sunguh-sunguh mengurusi konflik rasisme tersebut, bahkan saking kecewa nya mereka ini, menuduhkan penangkapan 48 orang yang di tuduhkan pelaku tersebut adalah hanya sebuah rekayasa dan dusta saja, untuk menipu banyak orang, karena tersangaka nya yang sebenar nya adalah semua orang yang berpengaruh di Kalimantan dan Sumatera tersebut, dan alasan pemerintah Jakarta yang mengangap konflik tersebut konflik kecil, dan pemerintah Jakarta tidak perlu terlalu jauh mengurusi nya, karena pemerintah daerah pun sudah cukup, namun para pembela HAM tersebut membantah pernyatan pemerintah Jakarta tersebut, akibat berlawanan dengan kenyatan yang terjadi di Kalimantan, dan pembelaan terhadap wartawan yang terbunuh saat meliput pembantain tersebut, dan lebih parah nya lagi baik dewan adat dan pemerintah menutup kasus ini, dan menyatakan semua organisasi rasisme dan radikal banjar tersebut sudah di buburkan pemerintah daerah, dan setelah pernyatan tersebut juga, tidak ada lagi kabar mengenai konflik tersebut, dan pemerintah Daerah melarang siapa saja mengungkit hal tersebut, dengan alasan bisa memulai konflik yang libeh parah lagi, karena apa pun yang terjadi Perjanjian damai atara Samudara Pasai dengan Majapahit tersebut tidak pernah ada, yang ada hanya gencatan senjata saja, dan mereka merubah gaya perang nya saja, dan bisa di katakan Samudara Pasai VS Majapahit perang dingin.
Namun meski begitu juga konflik rasisme tahun 2000 tersebut juga mendatakan berkah bagi Kalimantan, karena konflik tahun 2000 tersebut di sebarkan media-media berita ke seluruh penjuru dunia ini, dan masyarakat Internasional mengetahui nya. Dan memang perlu di akui juga Konflik rasisme dan premanisme tahun 2000 tersebut bukan lah konflik yang begitu besar terjadi, tapi yang perlu di garis bawahi adalah dampak yang di bawa nya, pertama mengubah alur konflik menjadi moderenisasi, ke dua banyak membentuk nya organisasi pembela HAM di Kalimantan ini, dan melakukan perlawanan nya terhadap kolompok rasisme yang sangat radikalisme. Dan salah satu kelompok organisasi pertama yang didirkan pada tahun 2001 oleh mahasiwa universitas lambung mangkurat Banjarmasin yang bergerak melaku penyelidikan terhadap kasus ini, dan mencari penyebab nya, serta jalan keluar nya, dan organisasi ini akhir nya mendapat banyak serangan dari pihak yang tidak di katahui siapa pelaku penyerangan tersebut, dan ujung nya yang ada Organisasi ini yang membuat konflik baru, dan bertikai sengit dengan kelompok Organisasi Radikalisme dan rasisme dayak, bahkan mereka ini saling serang satu dengan yang lain nya, dayak dan banjar menuduh organisasi HAM buatan mahasiwa banjar tersebut telah berhianat dengan suadara sendiri, dan berpihak pada musuh ya itu kelompok Majapahit, hingga Organisasi HAM tersebut terpaksa bubar pada bulan November tahun 2001. Dan setelah bubar nya Organasi tersebut juga, maka pada ahkir tahun 2001 mulai lagi para banjar dan dayak melanjutkan konflik rasisme tersebut, dan kaum Majapahit pun mulai di serang lagi dengan banyak alasan nya, dan pelaku yang paling banyak melakukan serangan nya adalah kelompok Banjar, yang mana kelompok ini adalah aliran garis keras dan premanisme yang di bentuk di Kadangan dan Barabai Banjarmasin, dan kelompok ini juga terlibat 8 kasus pembunuhan terhadap kaum Majapahit yang melawan mereka akibat di lakukan nya pemulangan paksa oleh kelompok radikal Kadangan tersebut, dan kelompok ini juga membuat kericuhan di terminal Induk pal 6 Banjarmasin, mereka mengeroyok kaum Majapahit dan memulangkan mereka secara paksa, dan kasus ini berbulan-bulan tidak ada tangapan serius dari berbagai pihak, baik pemerintah dan lembaga-lembaga yang berwenang mengurusi hal ini.
Dan kelompok garis keras Kadangan ini juga, yang waktu itu menghidukan kembali perang rasisme terhadaf kau Majapahit yang ada di Kalimantan ini, dan kelompok ini juga lah yang mendahului menyerang Industri-Industri Kalimanta, yang kusus nya daerah Kalsel dan Kalteng, dan penyerangan tersebut mereka mengevakuasi kaum Majapahit yang bekerja di Industri, dan memulangkan paksakan kelompok Majapahit, dan pekerja di Industri buruh nya akan di gantikan mereka tenaga buruh kerja daerah, atau lokal, dan mereka mengering semua penganguran Banjar dan Palangkaraya untuk di perkerjakan untuk Industri di Kalimantan, dan melarang keras Industri tersebut untuk memperkarjakan kaum Majapahit dengan alasan apa pun, dengan acaman mereka akan menuntup paksa Industri tersebut, dan sekali lagi pemerintah daerah diam saja, dan seolah tidak melihat dan mendengar apa yang terjadi, bahkan laporan pun tak di gubris nya, bahkan Kelompok Majapahit yang bekerja menjadi pegawai pemerintah di Kalimantan, baik dari TNI nya, Polisi hingga DPRD nya tidak bisa menolong saudara Majapahit nya sendiri, bahkan mereka kadang lebih memilih menghindari saja, karena mungkin mereka takut konflik membesar, bahkan bisa mengiring pemerintah kedalam jurang konflik tersebut, dan buntut panjang nya bisa terjadi kembali pemberontkan di Banjarmasin kusus nya dulu. Dan puncak nya konflik kelompok rasisme garis keras Kadangan ini terjadi pada tanggal 23 Maret 2002, yang mana Kelompok ini menyatakan perang besar dengan kolonialisme Majapahit di Kalimantan, kusus nya di Banjarmasin dan Kabupatern yang masuk totorial Kalsel, bahkan konflik tersebut kembali menelan korban jiwa, dan melihat hal tersebut, maka Pemerintah daerah mulai melakukan pengerakan nya untuk membendung nya, dan hal yang di kawatirkan nya adalah, karena ada opini yang beredar, kelompok keras ini akan menyerang kubu pemerintah yang kaum Majapahit, dan memulangkan nya secara paksa, dan seluruh jabatan kaum Majapahit di pemerintah Kalimantan akan di ambil alih putra daerah.
Dan atas ke kawatiran pemerintah tersebut, maka pada Tanggal 28 Maret 2002 mengalang pertemuan dengan dewan adat banjar, dayak, sumatera dan Aceh, dan di kumpulkan nya juga berbagai tokoh masyarakat yang berpengaruh banjar. Dan pertemuan tersebut membuat kesepakatan bersama untuk memangil kelompok Kadangan garis keras rasisme tersebut untuk melakukan perudingan sebelum jatuh korban lebih banyak lagi, dan semua sepakat, untusan pun di kirim ke markas kelompok Kadangan tersebut, dan pada tanggal 3 April 2002 pertemuan berlangsung, yang mana pertemuan tersebut menyatakan pemerintah Jakarta mengabulkan permintan Kelompok tesebut, ya itu Industri di Kalimantan harus mendahulukan putra daerah, dan jabatan penting di Banjarmasin akan di pengengan putra daerah, dan kelompok kadangan tersebut pun setuju, dan perjanjian damai pun di tanda tangan ni mereka, namun sama saja dengan yang terdahulu, damai tidak pernah ada, yang ada genjatan senjata antara Majapaghit vs Samudara Pasai Aceh.
Dan konflik rasisme dan radikalisme terjadi lagi di Kalteng dan Kalsel, dan sekarang giliran Batalion Kalteng dan Kalsel yang melibatkan Batalion Sumatera, melakukan konflik, yang mana asalal nya terjadi pada acara menjelang 17 Agustus 2002, yang mana banyak sekali sepanduk dan gambar pahlawan Majapahit, sepeti Jendral Sudirman, A Yani, dan lain nya, yang membuat geram prajurit Batalion tersebut, akibat asas merasa tidak di hargai, seolah kelompok Majapahit saja yang berjuang untuk memerdekan Indonesia, dan tidak tanggung Batalion ini melepaskan umbul-umbul dan sepanduk bergambar pahlawan Majapahit tersebut, lalu mengenjak-ijak nya lalu di bakar nya, dan sepanduk dan umbu-umbul pun di ganti baru mereka, dengan gambar pahlawan daerah, seperti Pangeran Antasari, Hasan Bastri, Pangeran Haji Muhammad Noor dan yang lain nya, dan konflik rasisme Batalion ini juga pada akhir nya merubah lagi alur konflik Majapahit dan Samudara Pasai Aceh ini, dan merevolusi nya menjadi baru, yang mana konflik radikalisme tersebut sudah mulai terlihat sudah, bahwa akan kehadiran pemberontakan dan penuntutan Otonomi daerah, karena semakin hari semakin merengan nya pemerintah daerah dan pusat, dan terlihat nya ke egoisan pemerintah Jakarta tersebut, dan apa pun yang di lakukan Batalion tersebut, pemerintah tidak bersuara, karena pemerintah sudah paham setuasi nya, apa bila bersuara Batalion ini punya senjata, dan meski pun prajurit Batalion ini tidak semua melakukan hal tersebut, namun kekacauan akan parah akan terjadi, bahkan bisa menjatuhkan korban, hingga pemberontakan terjadi di Kalimantan, bahkan di atara kubu Batalion sendiri juga kacau, akibat bisa bertikai nya kelompok Majapahit yang di tugaskan di Kalimantan dengan kelompok Batalion putra daerah Kalimantan, namun untung nya juga kubu Majapahit yang ada di Batalion Kalimantan memilih mengalah atau tak peduli, karena mungkin saja mereka tahu, bencana buruk akan datang.
Puncak rasisme dan radikal Batalion Kalimantan terjadi pada tanggal 4 November 2002, yang mana Batalion Kalimantan ini tidak mau pemimpin Batalion mereka adalah kaum Majapahit, dan yang berhak jadi pemimpin Batalion Kalimantan adalah putra daerah Kalimantan bukan kaum Majapahit tersebut, dan mereka pun mulai menebarkan kata-kata, kita putra Kalimantan harus menjadi raja di rumah nya sendiri, dan kaum Majapahit tersebut tidak berhak menjadi raja di rumah kita Kalimantan ini, dan kita bukan budak mereka, dan kata ini sekaligus banyak menghidupkan kembali Gayang Malasyia, yang mana Majapahit VS Melayu tersbut di Kalimantan, dan meski Batalion tidak berurasi keliling kota, tapi Kerecuhan masyarakat mulai memanas, bahkan serengan di Kolonia Majapahit di pesisir sungai barito pun terjadi, dan di Bontok Kalteng serengan di Tranmigrasi orang Majapahit terjadi, dan para dayak bontok menuduh kaum Majapahit merampas tanah mereka, dan pembunuhan pun terjadi, dan tanah rampasan kembali ke tangan pemilik shah nya, ya itu kelompok dayak serunai muslim tersebut, dan banyak serengan lain nya yang di rahasikan dan di sembunyikan, media di larang mempublikasikan nya, dengan alasan pemerintah daerah akan terjadi perang dahsyat nanti nya. Pertikan di area kota Banjarmasin pun mulai terjadi, Saya sudah katakan di atas tadi, bahwa melayu Banjar ini adalah Premanisme dan sangat radikal suka berkelahi, dan bukan pemandanga baru di Banjarmasin, ada orang berkelahi hingga main bunuh di tengah orang banyak, dan pada fase tersebut pembunuhan terhadap kaum Majapahit di Kota Banjarmasin mulai meningkat, dalam 1 bulan polisi akan menemukan 1 atau 2 mayat kaum Majapahit yang terbunuh, dan pengerjaran pelaku pun di lakukan, namun nihil, kasus tak pernah terungkap pasti, karena juga polisi tidak inggin memperparah konflik rasisme tersebut, jadi polisi akan memberikan pernyata pada media, bahwa ini pembunuhan murni, bukan konflik antar kelompok, baik suku agama dan lain nya, tapi juga pembaca koran dan penonton TV di Kalimantan sudah tahu bahwa korban tersebut adalah hasil dari pertikian kelompok suku, dan orang-orang tidak peduli, bahkan mereka mendukung nya.
Dan melihat hal tersebut, para aktivis HAM di Asean yang berkantor di Serawak Malasyia, coba terjun untuk menangulangi konflik rasisme, radikal dan premanisme di Kalimantan, dan tepat pada tanggal 15 Januari 2003 Aktivis HAM Asean mendirikan kantor nya di Banjarmasin, dan mulai beroperasi pada tanggal 1 April 2003, dan mereka mulai dari mengundang mahasiwa Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin untuk membentuk Tim, penangulangan Rasisme, Feodalisme, Fasisme, Komunisme, Radikalisme dan Premanisme, dan pada hari itu mereka semua sepakat, dan Tim di berikan nama Alternativ Rock Melayu, karena kebanyakan angota Aktivis ini adalah para musisi Rock Kalimantan, dan organisasi ini di danai dari seponsor, serta bantaun pemerintah daerah. Tugas awal Tim ini melakukan penelitian lapangan langsung, dan penelitian lapangan ini butuh waktu sekurang-kurang nya 10 bulan, dan di hitung memakan dana hampir 2 milyar rupiah, karena Kalimantan ini bukan pulau yang kecil dan mudah di kelilingi. Dan perlu di garis bawahi Kelompok Organisasi Alternativ Rock Melayu ini, adalah kelompok yang kuat dan palingigih dalam menangulangi konflik rasisme tersebut, dan di masa depan nanti, atau atau mulai tahun 2009-2010 kelompok ini bergabung dengan Avril fans Fender Banjarmasin, dan membukar kasus rasisme tersebut.
Pada tanggal 20 Mie 2003, Alternativ Rock memulai penelitian mencari sebab, dan jalan keluar konflik rasisme, dari kota Banjarmasin dan berlanjut ke Palangkaraya tersebut, mereka berjalan kaki, dan mempelajari semua masyarakat yang mereka temukan, dan apa saja yang di bicarakan masyarakat tentang konflik rasisme tersebut, dan hanya dalam waktu 2 minggu saja mereka sudah menemukan lebih dari 50 masalah pemicu konflik rasisme tersebut, dan bahkan di atara kedua pihak yang berseteru hampir kedua nya salah, baik banjar, dayak dan Majapahit nya sendiri, karena kasus kolonia, yang mendominasi lahan pekerjan.
Dan kita tinggal sebentar tim Alternativ Rock dengan penelitian nya. Pada tanggal 12 Juli 2003 Di bagian utara Banjarmasin, Kabupaten Tabalong, pecah konflik atara Dayak, banjar VS Majapahit, ini adalah sekali lagi kesalahan pemerintah, Pemrintah Pusat Jakarta membuat Tranmingrasi di Jaro dan Muara Uya di Tabalong, dan mengirim orang kaum Majapahit kesana, hasil nya konflik, memang konflik nya tidak memakan Korban jiwa, tapi fatal nya adalah Pertamina dan PT Adaro Tabalong yang tidak tahu menahu ini akhir nya di libatkan dalam gejolak rasisme tersebut, dan PT Adaro dan Pertamina, di minta masyarakat Tabalong untuk memulangkan para pekerja dari golongan Majapahit, masyarakat Tabalong mengacam akan menyerang Pertamina dan PT Adaro jika tidak mengabulkan ke ingginan mereka tersebut. Dan pada akhir nya PT Adaro pun mengabulkan permintaan rakyat Tabalong tersebut, dan ini menandai Konflik Rasisme Radikalisme dan Premanisme yang panjang terjadi di Tabalong hingga tahun 2017 sekarang ini.
Dan pada tanggal 21 Febuari 2004 Tim Alternanti Rock pulang ke Banjarmasin dari penelitian dan mengukap kasus rasisme dan radikalisme Kalimantan, dan mereka pulang tidak dengan tanggan kosong, tapi mereka membawa pulang banyak data dan bukti yang dapat menjadi rujukan untuk menangani konflik radikalisme dan rasisme ini, namun sayang nya mereka tidak bisa langsung menarakap nya penangulangan, karena data harus di pelajari dahulu untuk menentukan langkah berikut nya, dan semantara itu konflik terus berlangsung, tapi konflik tidak besar, dan pertikayan perorangan saja, hingga sampai tanggal 25 Oktober 2004 baru konflik kecil tersebut mulai mendingin, dan rasa tentaram nya kolonia Majapahit di Kalimantan pada saat itu. Dan pada tanggal 2 Januari 2005 kawan-kawan Alternati Rock dengan beberapa lembaga masyarakat dan pemerintah daerah Banjarmasin menerbitkan sestem pendidikan untuk sekolah-sekolah untuk menangulangi Rasisme, radikalisme dan Premanisme. Dan pada tanggal 7 Maret 2005 Alternativ Rock mulai melakukan misi penyebuhan rasismem, feodalisme, Premanisme, di daerah paling radikal di Provinsi Banjarmasin ya itu Kandangan, dan Barabai, dan ini bukan hal mudah, karena semua orang yang tingal di Kalimantan di area ini sering terjadi pembunuhan, dan perang antar preman. Dan Tanggal 1 Mei 2005 Alternativ Rock mulai melakukan penumpasan rasisme di Pedalaman Kalimantan, dan mereka menyasar di lokasi suku dayak paling radikal di Kalimantan, dan hal ini mengudang konflik, Karena Suku Dayak menolak pendidikan, dan fanatik dengan Hal gaip, dan meski mendapat pengusiran, tapi semangat Alternativ Rock tidak pernah kendor melawan Dayak yang sangat rasis dan engan berkawan, dan menutup diri tersebut, dan bisa di katakan juga misi untuk menmoderenisasikan suku gagal dalam tahap pertama tersebut, dan yang ada Alternativ Rock desarang para Dayak tersebut.
Dan pada tanggal 15 April 2006 Di Banjarmasim, sebuah kelompok baru muncul dengan tiba-tiba, dan mereka melakukan survie perpustakan di Provinsi Banjarmasin dan terus ke Palangkaraya, kelompok ini menarik semua buku yang mengangukan pahlawan Majapahit, dan atas hal ini yang mana para kelompok rasisme yang sudah mulai tenang maka menjadi aktiv kembali, dan memulai pertemuan baru lagi, dan dari kelompok baru ini maka alur konflik berubah kembali menjadi konflik rasisme moderen, dan yang pada akhir nya menyeret pemerintah daerah dalam jurang konflik tersebut, bahkan Kelompok ini mengancam akan melakukan pemberontakan, dan disini sudah mulai nampak, kasus rasisme radikal ini melakukan perlawan terhadap pemerintah Jakarta yang di angap embah nya Majapahit tersebut, dan sedangkan di Kalteng dewan adat mulai membentuk pasukan Dayak, dan pembentukan ini juga melibatkan pemerintah daerah, salah satu nya Gubernor Kalteng, bahkan pada fese ini hubungan dayak dan banjar mulai merengang, apa lagi setela terjadi nya peristiwa pembubaran perjudian dayak oleh pemerintah Banjarmasi di Tabalong, yang memanbah parah nya lagi, campur tangan Industri, mereka Industri membayar kelompok preman Banjar untuk menghadapi aksi dayak, kusus nya terjadi di Tabalong, preman banjar yang berani ini akhir nya menyarang para dayak, bahkan mengejar mereka sampai pedalaman, dan atas aksi ini maka mencekamlah Tabalong, karena kwatir akan terjadi aksi penyerangan Banjar dan dayak tersebut, tapi aneh nya lagi, PT Adaro yang membayar preman tersebut, setelah mereka kembali mengejar para dayak, malah balik menyerang PT Adaro, dan mengevakuasi para kolonia Majapahit, dan hal ini pemerintah terpaksa mengabulkan nya permintan mereka, karena jika tidak kekacaun panjang akan terjadi, dan ini sekali lagi merubaa alur konflik rasisme ini, dan para organisasi ini bisa di bayar untuk menyulut serengan oleh pihak yang tidak bertangung jawab, bahkan pemerintah daerah bisa memakai mereka ini untuk melakukan sebuah kepentingan, meski begitu juga konflik rasisme yang tidak bermuatan politik masih menempati nomor 1 di Kalimantan, kusus nya suku dayak tersebut.
Pada tanggal 2 Januari 2007, Tim Alternativ Rock di Banjarmasin menyatakan misi yang mereka buat telah gagal menangulangi rasisme tersebut, dan mereka kata nya akan menyusun ulang rencana baru untuk hal ini. Sedangkan pada tanggal 18 Febuari 2007, Kesultanan Banjarmasin Aceh, mengadakan pertemuan dengan dewan adat, dan disini awal nya menyeret kasus rasisme mejadi awal pemberontakan dingin terhadap pemerintah Jakarta, bahkan ini mengawali dari berbagai tuduhan untuk pemerintah Jakarta, dan dalam pertemuan tersebut, para elet dayak meminta para elit banjar, agar segera bergabung melakukan serengan, bahkan di Banjarmasin sudah mulai beredar lagi kabar miring Majapahit terus yang menjadi presiden Indonesia, dan mungkin adalah salah satu sebab Pemerintah Jakarta tersebut hanya membangun Pulau Jawa dan Jakarta saja, dan atas hal ini beberapa kelompok mencoba membentuk partai baru, untuk menandingi para elit Majapahit di Jakarta, dan misi utama dalam pertemuan mereka sepakat untuk memajukan kaum Melayu lagi menjadi Presiden Indonesia, dan isu dari zaman Orde Baru di hidupkan kembali, yang mana mereka ingin memindahkan Ibu Kota Indonesia ke Kalimantan, dan sebagian daerah Kalimantan menyatakan ke ingginan nya bergabung dengan Malasyia, karena di pandang nya sesama bangsa Melayu, sedangkat pemerintah Jakarta tidak lain di padang mereka Menerusi penjajahan Majapahit tersebu. Pada tanggal 27 November 2007 Alternati Rock dengan banyak lembaga masyarakata, sepakat meluncurkan misi baru tersebut, dan kata mereka memulai nya pada awal tahun 2008 nanti, karena sekarang masih menangani masalah dana untuk menjalakan semua rencana, dan membujuk PT Semen Padang untuk membantu pendanaan nya. Di akhir tahun 2007 ini tepat nya pada tanggal 10 desembar 2007 di Balipapan Kaltim dayak Kutai melakukan konflik rasisme, mereka meminta Banjar dan dayak Kalteng membantu mereka mengusir para Bugis di Kaltim tersebut, dan ini sebenar nya masalah lama, namun bangkit kembali, dan pada akhir nya, kaum Bugis mengirim para ulama untuk jadi juru runding mereka, agar dayak kutai membatalan aksi perang berdarah tersebut, dan para bugis minta maaf atas ketidak sopan nya mereka pada tuan rumah, dan atas hal tersebut dayak kutai menerima damai nya para bugis tersebut.
Dan pada tanggal 4 Januari 2008, Alternativ Rock memulai misi nya kembali, dan misi ini di fokus dahulu di daerah Provinsi Banjarmasin, dan misi memakai cara baru, untuk menangulai rasisme dan premanisme garis keras di Provinsi Banjarmasin, yang mana di titk beratkan pada orang Kadangan dan Barabai yang feodalisme garis karas tersebut, Alternativ Rock coba menyadarkan orang Para Preman Kandangan jangan membawa nama daerah Kadangan dan suku jika berbuat jahat, karena merugikan orang Kadangan, karena Kandangan ini sudah di cap wilayah paling merosot dan tingkat tinggi pembunuhan terjadi dari seluruh daerah Provinsi Banjarmasin, hingga pada akhir nya Alternati Rock berkonflik dengan masa Kandangan, akibat Alternativ Rock yang coba membuang paham gaib orang Kadangan Tersebut, yang biasa nya masalah debus dan yang lain, dan pada tanggal 8 Juni 2008 Alternativ Rock mundur dari Kandangan, dan Berbalik arah ke Rantau untuk melakukan misi Penangulangan Rasis me Tersebut. Dan di daerah Bontok Kerusuhan di Kolonia Majapahit terjadi pada tanggal 20 September 2008, dan berlanjut serengan ke Tranmigrasi Kolonia Majapahit, dan kerusuhan mulai mendingin di Bontok pada tanggal 28 September 2008. Dan mulai tanggal 5 Maret 2009 Di Tabalong, Dinas Tenaga kerja sudah mulai deserang masyarakat Tabalong, mereka rakyat Tabalong tidak setuju dengan kolonia Majapahit tersebut, dan orasi mereka meminta pembuatan kebijakan dari Dinas Tenaga Kerja, tentang pembatasan kolonia Majapahit untuk bekerja di Tabalong, dan mendahulukan putra daerah untuk mengisisi pos penting di berbagai Industri di Tabalong sendiri, dan sengketa ini adalah sengketa rasisme yang bisa di katakan sengkata panjang di Tabalong, belum lagi masalah penyerangan banjar terhap perkebunan kareta yang ke banykan orang Majapahit tersebut. Dan setelah dingin nya konflik di Tabalong, juga mendinginkan konflik di daerah lain nya, dan hanya terjadi konflik rasisme kecil di sepanjang tahun 2009 ini, paling juga kiru rezim SBY dan Partai Demokrat Tersebut.
Dan pada awal tahun 2010 di Palangkaraya, terjadi keruhsuhan baru, tentang masalah sengketa tanah, hingaa pada ujung nya FPI Jakarta terlibat, dan ini sangat radikal sekali, dan yang pada inti nya FPI dan masa dayak benar-benar sudah menyatakan perang, ini tidak lebih dari persekongkolan, konflik agama yang di tutupi, Teras Narang Gubernur Kalteng tersebut punya peranan penting dalam kasus ini, dan semua perang yang di sulutkan dayak atas nama suku dan lain nya adalah serangan bermuatan politik atara pemerintah Teras Narang dengan FPI, yang mana masa dayak Takut dengan FPI Islam akan tersebar jauh di area kristen Palangkaraya, dan pencekalan masa FPI di bandara Palangkaraya atas restu pemerintah Daerah, bahkan pembakaran panggung maulit milik FPI di Palangkaraya, bahkan kasus ini tidak kelar juga, meski pemerintah Jakarta ikut campur. Dan rasa nya kita tidak terlalu penting membahas kasus Radikalisme antara dayak VS FPI, karena hanya bisa menimbulkan provokasi saja nanti, dan ini hanya sebagai gambaran ke boborokan yang tidak boleh terjadi lagi di kemuadian hari, dan pengharapan nya, suku dayak mau menirima pendidikan skuler, agar dayak pedalaman tidak bisa di bodohi, dengan isu rasisme yang pada akhir kelompok dayak non pendidikan ini akan melakukan penyerangan membabi buta, dan upaya kawan-kawan Alternativ Rock membangun sekolah-sekolah di pedalaman Kalteng untuk suku dayak akan terus di kerjakan, meski kawan-kawan Alternativ Rock di serang dan tidak di pedulikan, bahkan Alternativ Rock di tuduh Perusak Budaya dan Tradisi akibat membawa misi moderenisasi dari Banjarmasin.
Tanggal 17 Desember 2010 Tim Alternativ Rock, dan Lembaga Pembela HAM Asean Serawak Malasyia mengadakan rapat, dan mencari jalan keluar atas hal ini, mereka sudah bertahun-tahun berusaha menghalau paham rasisme, bahkan pencekalan teori Charles Darwin Sosial yang merusak tersebut, namun juga masih gagal, bahkan sekarang mereka sudah kekurangan dana, dan dalam rapat tersebut tumbuhlah ide cerdas angota, yang mana iya mengusulkan Alternativ Rock harus meminta Bantuan pada Organisasi paling berpengaruh di Tanah Melayu ya itu Avril fans Fender Banjarmasin, dan pada hari Alternativ Rock sepakat melibatkan Avril Fans Fender Banjarmasin. Pada tanggal 20 Januari 2011 Alternativ Rock mendatangi Markas Besar Avril fans Fender Banjarmasin, Kantor Berita Kanada Banjarmasin Industri Media. Kedatangan Alternativ Rock pun disambut Avril fans Fender, dan tidak panjang lebar, Alternativ Rock mengatakan tujuan datang ke markas Avril fans Fender itu, ya itu minta batuan dan kerja sama untuk menghalau paham rasisme dan yang lain nya, dan yang pada inti nya tujuan merusak, dan tanpa banyak kata Avril fans Fender Banjarmasin setuju, dan Avril fans Fender juga mengikutkan Ormas Sumatera dalam hal ini, dan Alternativ Rock menyarahkan komando sepenuh nya pada Avril fans Fender Banjarmasin, meski begitu Avril fans Fender tidak bisa langsung beroperasi, karena perlu mempelajari nya dahulu dan persiapa pembentukan tim untuk membantu Alternativ Rock, dan Avril fans Fender pun minta waktu 4 bulan untuk melakukan persiapa nya, dan meminta Alternativ Rock untuk melajutkan sementara apa yang sudah mereka lakukan, dan Avril fans fender juga memberikan sedikit dana untuk Alternativ Rock agar operasi penagulangan rasisme tersebut tetap berjalan.
Pada tahun 2011 ini pihak Melayu benar-benar merancanakan pengajuan calon presiden Indonesia tahun 2014, yang mana mereka memintah hak dari pemerintah Indoensia, agar kaum melayu juga di ikutkan dalam pencalonan Presiden, dan menyuarakan Indonesia bukan milik kaum Jawa saja, meski hal ini tidak gubris, namun dampak nya pada masyarakat daerah sangat besar, banyak suku pada akhir terpanguruh atas hal ini, dan sedangkan pemerintah Kalteng pada Fase ini menyalah gunakan paham rasisme terhadap suku dayak, dan mereka para elit dayak menjajah suadara nya sendiri, dan tidak memberikan pendidikan terhadap saudara dayak nya sendiri, namu juga Pemerintah Kalteng mulai waspada karena Avril fans Fender Banjarmasin sudah masuk lingkaran penumpasan rasisme, dan mereka sudah tahu, Kelompok Avril fans Fender kelompok berpengaruh yang di dukung banyak orang Penting. Pada Tanggal 5 Oktober 2013 Avril fans Fender Banjarmasin mengudang dewan adat Kalimantan ke Kantor Berita Kanada Banjarmasin untuk membahas masalah Rasisme tersebut, dan menanyakan pada pembasar dayak mengapa kelompok mereka sangat tertutup dan anti pendidikan, memang Avril fans Fender tidak mendapakan jawaban memuaskan dari mereka, namun hal ini punya dampak penting terhadap dewan adat Kalimantan, dan Avril fans Fender tahu dewan adat tidak menyukai mereka. Dan pada tanggal 23 Oktober 2011 Avril Fans Fender Banjarmasin mengadakan konser Rock Endergrons di halaman Kantor Berita TVRI Banjarmasin, konser ini bertujuan mengumpulkan pemuda Banjarmasin dan Sikitar nya dan memberikan penjelasan tentang buruk nya sifat Rasisme tersebut, dan pada konser itu juga Avril fans Fender menyatakan perang terhadap pendukung Charles Darwin Teori Evolusi yang menyesakat dan menimbulkan rasisme radikal dan sebagai nya. Tanggal 11 Oktober 2013 Avril fans Fender Banjarmasin mingirim Tim nya ke Kandangan dan Barabai, yang di tugaskan untuk menghacurkan Rasisme dan Pengatasnama suku jika bertikai dan sebagai nya. Tanggal 3 November 2013 Avril fans Fender Banjarmasin melalui markas Jakarta, menuduh Pemerintah Indoensia rasisme dan kepentingan Jawa dan Jakarta merampas harta daerah, dan pernyatan yang di lontarkan ini menjadi bola panas di daerah, dan berujung perlawan pada elit daerah terhadap pemerintah Jakarta. Tanggal 25 November Avril fans Fender Banjarmasin mengirim untusan ke Turky Usmanani untuk menemui Harun Yahya seorang anti Darwinisme Sosial paham paling merusak, yang menarakan hukum rimba pada dunia manusia tersebut, dan pengiriman utusan berhasil, Harun Yahya mingirim Tim nya ke Banjamasin untuk membatu Avril Fans Fendera Banjaramasin.
Alternativ Rock pada 1 Desember 2013 menyatakan pembangunan sekolah di pedalaman Kalteng, yang mana Sekolah ini di bangun untuk suku dayak, dengan melibatkan banyak pihak, Pemerintah Daerah dan Industri untuk meminta dana nya, Alternativ Rock menyatakan pada awal tahun 2014 sekolah di pedalaman kalteng sudah dapat di operasikan dan membuka pebndaftaran untuk siswa baru, dan sekolah ini gratis, karena di danai oleh beberapa Industri dan bantuan Pemerintah Daerah, dan guru yang mengjar sekolah ini, guru yang di tugaskan langsung oleh Dinas Pendidikan Palangkaraya. Pada tanggal 16 Desember 2013 Avril fans Fender dan Batalion 1008 Tabalong berhasil membokar kejahatan Komperasi Industri Batu Bara di Tabalong, yang mana persaingan Industri yang berlaku curang, Industri membayar Elit Dayak untuk membuat demontrasi dan Kerusuhan untuk menghacurkan lawan Industri nya, dan atas hal ini Avril fans Fender di berikan pengharga pemerintah provinsi Banjarmasin, dan Tanggal 28 Desember 2013 Avril fans Fender Banjarmasin bersama Alternativ Rock dan Organisasi Asean peduli HAM, mengadakan rapat untuk melakukan tindakan rencanan untuk tahun 2014 yang sekarang ini di hadapan mata sudah untuk di jalani, dan dalam rapat tersebut juga Avril fans Fender menghitung keberhasilan nya dalam menupas rasisme dan premanisme, dan ternyata menurut data, Avril fans Fender berhasil 12% saja menumpas radikalisme dan rasisme, dan 12% persen ini adalah angka yang menajutkan, karena hanya Avril fans Fender yang mampu mencapai angka 12% tersebut, karena pembaca bukan hal mudah untuk menumpas rasisme, radikal, premanisme dan feodalisme yang mendarah daging tersebut, dan dalam pembicaran dalam rapat juga, Avril fans Fender Banjarmasin pada tahun 2014 ini akan melakukan operasi baru untuk menupas rasisme di Kalimantan, dan Avril fans Fender memfokus kan operasi tersebut pada wilayah Kadangan dan Barabai yang sangat radikal tersebut.
Dan perlu di akui Avril fans fender bagaikan buah semalakama, yang terlibat banyak dalam permasalah Kalimantan dan Sumatera, kadang Avril fans Fender ini membingukan banyak orang, karena mereka dengan cepat sekali berubah, hari ini di bela nya, besok mereka bisa berbalik ke pada orang yang di bela nya, dan bahkan Avril fans Fender ini juga membela kelompok garis keras yang rasisme dan radikal dalam perlawanan menghadapi pemerintah Jakarta. Dan pada tanggal 3 Januari 2014 Avril fans Fender, Alternativ Rock, Ormas Sumatera, Batalion 1008, Asean Peduli HAM, dan Persekutuan tanah melayu mengadakan pertemuan, dan pertemuan tersebut adalah untuk membentuk Tim baru mereka untuk mengembang misi yang berat, ya itu untuk menumpas radikalisme, rasisme, dan premanisme di Kadangan dan Barabai, yang mana daerah ini adalah daerah paling Texsas di Provinsi Banjarmasin, dan tujuan utama mereka adalah untuk menumpas sakte-sakte perguruan debus Kadangan, dan memoderenisasi nya, dan menghilangkal feodalisme nya. Dan sedangkan Tim yang lain Alternativ Rock di tugaskan untuk menumpas paham radikal, dan premanisme di perkotan Banjarmasin, dan hari itu semua sepakat, dan tim ini juga di dalam tugas nya di Kawal oleh angota TNI Batalion 1008 Tabalong, untuk memastikan keselamatan angota tim yang akan menghadapi para preman sadis Kandangan, dan dalam pertemuan tersebut Tim akan mulai melakukan Operasi di mulai Tanggal 12 Januari 2014.
Dan pada tanggal 8 Januari 2014, para PNS Sebenua enam, dan Organisasi Pembela Daerah mengadakan pertemuan diskusi di Kantor berita Kanada Banjarmasin yang membahas masalah kolonia Majapahit, mereka sepakat untuk menuntut Pemerintah Jakarta, untuk menarik semua PNS yang dari golongan Majapahit yang mengisi pos penting dalam pemerintah di daerah Banjarmasin, dan dengan terang-terang mereka menyatakan mereka tidak mau di pimpin oleh kaum Majapahit di rumah nya sendiri, dan kami sebagai tuan rumah, harus nya kaum Majapahir menghormati Tuan Rumah, bukan malah membuat kolonialisme di Banjarmasin, dan kami bukan budak di rumah nya sendiri, kami raja di rumah kami sendiri, dan siapa saja yang tidak setuju, silahkan angkat kaki dari rumah kami, sebelum kami mengusir nya secara paksa, dan atas pernyatan ini, maka panaslah suasana di Banjarmasin, dukungan pun mengalir pada mereka semua nya, dan ini lah yang memulai konflik rasisme di tubuh pemerintah Kalimantan, dan ini adalah sengketa panjang sekali, dan ini juga bagai bom waktu yang akan meledak jika tidak di tangani pemerintah Jakarta, dan ujung yang paling di kawatirkan adalah akan terjadi pemberontakan di Banjarmasin, dan jika di Banjarmasin terjadi pemberontakan otomatis daerah lain seperti, Kaltim-Kalteng dan Kalbar akan melakukan hal yang sama dengan suadara setanah air nya, bahkan mereka bisa membentuk negara Kalimantan, atau bergabung Malasyia.
Alternativ Rock dan Tim nya pun beroperasi di kota-kota Provinsi Banjarmasin, bahkan beroperasi sampai kota-kota provinsi Palangkaraya, mereka mulai dari melakukan pengeledahan di Perpustakan, baik perpustakan swasta atau milik pemerintah, mereka mencari buku Teori Evolusi Charles Darwin yang merusak paham dan moral manusia, akibat itu adalah pemahaman binatang yang coba di tarapkan pada manusia, dan mereka juga mencari buku yang serupa dengan buku Darwin yang merusak paham orang, dan menjadikan nya rasisme saja, dan pengeledahan ini juga tidak bisa di tolak pihak perpustakan, karena Alternativ Rock datang bersama Batalion 1008 yang bersenjata lengkap, dan pada pengeledahan perpustakan ini, mereka menyita lebih dari 200 buku yang membahas panjang lebar sifat binatang Teori Evolusi tersebut. Dan setelah mereka melakukan pengeledahan Perpustakan maka mereka mengeledah semua toko-toko buku yang ada, dan mereka minyita lebih dari 500 buku yang menyesatkan, dan semua buku di bakar mereka di halaman kantor Berita Kanada Banjarmasin. Dan sedangkan Tim kedua Alternativ Rock, yang terjur ke Kadangan dan Barabai, angota nya yang terjunkan ada 120 orang, termasuk sudah Angota Batalion 1008, Polres Kadangan dan Barabai, dan yang mana Tim ini merajia seluruh polusuk Kabupaten Kandangan Dan Barabai, dan mereka mendatangi semua Sakte-sakte atau perguruan ilmu gaib, debus dan yang lain, mereka juga merazia lokasi-lokasi para orang berlatih silat di sana, mereka juga mendatangi para tokoh-tokoh penting preman Kadangan dan Barabai, dan hasil nya mereka membubarkan 4 Sakte perguruan Ilmu Gaib, dan menangkap pelaku, lalu di kirim ke Kantor Berita Kanada untuk di tanya oleh Avril fans Fender dan pemerintah daerah Banjarmasin, dan razia ini juga mendapat perlawan sengit dari para premanisme yang sangat radikal, bahkan TNI dan Polisi sempat mengeluarkan tembakan peringatan.
Dan setelah sampai nya para guru sakte Kadangan yang dikirim Tim Alternativ Rock bersama Batalion 1008 ke Kantor Berita Kanada Banjarmasin, Avril fans Fender langsung mengintrorgasi nya, menanyai nya apa saja yang di ajarkan mereka, hingga membuat banyak pemuda Kandangan dan Berabai menjadi rasisme dan radikal sekali suka berkelahi dan bunuh, bunuh dan membunuh, mereka mejawab nya, adalah Ilmu debus, dan lain nya, dan bela diri, dan penyembab rasisme tersebut adalah sudah dari dulu, bukan kami yang mengajari nya, dan kami terima tuduhan bahwa kami menjadikan mereka radikal dan premanisme, tapi kami tidak pernah mengajari mereka menjadi rasisme kata guru sakte tersebut, dan setelah memberikan pernyataam tersebut, Avril fans Fender mengajak nya bekerja sama, dan jika di tolak, maka guru tadi akan mereka masukan penjara Banjarmasin, dan di kota, para Tim merazia perkumpulan pemuda, mereka mencari para pendukung teori Evolusi, dan akan membubarkan nya, dan angota nya akan di tangkap, dan akan di beri pemahaman baru agar tidak lagi rasisme.
Tanggal 16 Febuari 2014, Ormas Sumatera memimpin pasukan Dayak dan Masyarakat Saradang Kabupaten Tabalong menyerang PT Conht semen Cina, dan ini adalah menerusi konflik Rasisme VS Cina, mereka meminta Bupati Tabalong memulangkan semua orang Cina yang bekerja di PT Conht, karena mereka juga mengangap Cina merampas Tanah mereka di Tabalong, Dan sedangkan Tim Alternativ Rock yang di kirim ke Kalteng untuk melakukan penumpasan rasisme terlibat konflik dengan elit dayak, bahkan campurtangan Teras Narang, Alternativ Rock di tuduh membela FPI, dan percoban menghapus budaya dan tradisi suku dayak, namun apa pun yang di lakukan elet dayak Alternativ Rock yang di komando Avril fans Fender tersebut tidak mundur, bahkan menetang nya, hanya dalam waktu 8 Jam Avril fans Fender di Banjarmasin, mengirim Tim bantuan angota yang berkuatan 80 angota Avril Fans Fender yang di kawal TNI dan Polisi, dan pembangunan Perpustakan dan Intalasi komputer untuk akses Internet yang di danai Industri Semen Padang, Peteronan Malasyia, Iran Musik Rock Industri dan Telkomsel Indonesia, berlanjut, dan ini adalah upaya moderenisasi suku dayak, namun tidak menghapus budaya tradisi mereka, hanya untuk menghilankan rasisme nya saja, dan jika dayak sudah belajar mereka tidak akan di bodohi pihak yang tidak bertangung jawa, penghasutan dan Provokasi rasisme, dan salah satu contoh, FPI vs Dayak adalah suatu konflik rasisme dan radikal yang bermuatan politik, untuk adu domba dan yang lain nya.
14 Juni 2014 Kembali terjadi serengan pasukan Dayak ke Kerengpange Kalteng di lokse kolonia Majaphit, pasukan menuntup tambang emas tersebut, dan memulang paksakan kompok majapahit tersebut, dan serangan ini pada akhir menarik perhatian Avril fans Fender Banjarmasin, dan pada tanggal 23 Juni 2014 Avril fans Fender membentuk Tim nya, dari angota Fender Telecaster Sumatera, yang bertujuan menyelidik konflik rasisme tersebut, karena Avril fans Fender curiga bahwa kejadian tersebut adalah perampasan lahan yang mengatasnama suku, dan provokasi rasisme, dan Tim ini yang akan banyak sekali nanti membokar kasus pengatas nama suku dan adat di Kalimantan. Dan 3 Agustus 2014 seluruh Mahasiwa Kalimantan yang tergabung dalam organisasi persatuan mahasiwa tanah melayu Kalimantan Sumatera, mengadakan pertemuan di Kantor berita Kanada Banjarmasin, dalam angenda penuntutan ke pada pemerintah, kusus nya dinas pendidikan, yang mana mereka inggin mencabut Teori Evolusi di kurikulum pendidikan, karena paham ini merusak, yang hanya menjdikan orang rasisme, dan pemerintah daerah kusus nya dinas pendidikan daerah setuju, tapi kata nya kami akan kompirmasikan dulu dengan pusat, dan kami akan perjuangkan permintaan kalian, dan jika pemerintah Jakarta tidak mau, kita yang ada disini sepakat kita akan cabut kurikulum ini dengan paksa, dan ini demi kebaikan generasi kedepan kita, hanya orang aneh saja yang memuja Teori Evolusi tersebut, yang mana menjadikan manusia binatang, dan menuntun orang menjadi binatang, baik bermoral dan yang lain, dan mebenarkan hukum rima tersebut, dan kita tahu Nazi Jerman melakukan penguasan dan penjajah dalam perang dunia akibat dari pengaruh Teori Evolusi ini, langsung atau tidak langsung, jadi kita semua disini sudah sepakat, dan sekarang hanya menungu waktu nya saja lagi kata juru bicara dinas Pendidikan Provinsi Banjaramasin dan Kaltim.
Tanggal 17 November 2014, Kantor Alternativ Rock di Kabupaten Kadangan dan Barabai di serang masa Premanisme, dan kelompok rasisme, dan menuntut agar Alternativ Rock angkat kaki dari Kandangan, namun penyerangan tidak lama, karena Batalion dan Polres Kadangan dengan cepat datang, dan menangkap para pelaku nya, dan para pelaku juga langsung di kirim ke Banjarmasin, karena jika tidak masa akan terus menuntut minta bebaskan kawan mereka. Ada yang perlu anda tahu pembaca, jika anda bukan orang Kalimantan, atau anda tidak pernah ke Kabupaten Kadangan. Kabupaten Kadangan dan Barabai adalah wilayah yang radikal dan tinggi tingkat pembunuhan nya, dan tugas Alternativ Rock disini bukan hal mudah, karena di Kadangan sebagain dari orang nya sangat feodalime, premanisme, radikal, rasisme, dan percaya mitos-mitos, mereka memang muslim, tapi sebenar nya mereka tidak sadar bahwa sudah melangar ajaran Islam itu sendiri, dengan menyekutukan tuhan, percaya dengan mitos, memang masih fanatik suku dayak dalam hal kegaiban ini, namun Kadangan sangat radikal sekali, sudah jadi kebiasan para pemuda Kandangan dan barabai, tidak pisah senjata tajam di badan mereka, bicara kasar, dan selalu bicara masalah kajian, atau ilmu debus yang hanya hayalan tersebut, mereka bukan orang ragu melakukan pembunuhan, mereka gladiaotor, mereka akan menyerang dan merampas kekuasa, di terminal dan pelabuhan, dan mereka akan selalu mengagukan nama Kadangan, dan seolah Kadangan itu adalah sebuah lokasi yang melahirkan orang-orang berani di Kalimantan, dan kemana pun mereka pergi keluar Kadangan, maka mereka akan bicara Kadangan pada kelompok lain, dan yang pada akhir menyulut perkelahian, karena mengapa mereka melakukan hal yang rasisme semacam itu, dan ini lah tugas Alternati Rock untuk menangani dengan macam upaya di lakukan.
Dan tanggal 15 Desember 2014, Tim Fender Telecaster Sumatera berhasil memecahkan kasus, yang mana sudah anda baca di atas tadi, masalah suku dayak membubarkan kolonialisme Majapahit di Kerengpange tambang emas, ternyata konflik tersebut adalak konflik rasisme bermuatan politik, dan ternyata ada bangsawan yang membayar organisasi dayak tersebut melakukan penyerangan, agar menguasai Tambang Emas Tersebut, dan pada hari itu Polda Palangkan melakukan penangkapan nya, dan hari itu juga Organisasi Dayak tersebut di bubarkan, dan ketua nya di penjarakan, dan atas hal ini Avril fans Fender Banjarmasin, sekali lagi mendapat penghargan dari pemerintah Provinsi Banjarmasin atas perestasi nya dalam membukar kasus tersebut, meski mereka belum berhasil menyelesaikan kasus rasisme tersebut, namun mereka sudah dapat memukul kasus rasisme tersebut 33% saja, dan atas apa yang mereka lakukan pun aksi premamnisme di kota berkurang, dan konflik yang biasa nya terjadi hanya berseleng beberapa minggu saja, sekarang tidak lagi sudah, dan hal ini kata sultan banjar, masalah rasisme ini hanya ada di daerah luar kota saja lagi, dan pasti nya Kabupaten dan pedalaman, dan Avril fans Fender di fokus kana untuk melakukan operasi tersebut.
Tanggal 4 Januari 2015, Di kantor berita Kanada Banjarmasin, Pemerintah Daerah Provinsi Banjarmasin, Kaltim, dan Kalbar, kususnya dinas pendidikan nya, bersama persatuan mahasiwa Kalimantan, menyatakan pada Avril fans Fender dengan Alternativ Rock Tim, bahwa dengan resmi kurikulum teori Evolusi di cabut dan di baung jauh, dan ini tanpa persetujuan pemerintah Jakarta, tapi kami nekat melakukan nya untuk kebaikan generasi kalimantan yang bagus, bukan mengulangi sejarah konflik rasisme ini lagi, dan secara resmi tahun ajaran 2015 ini bersih dari teori Evolusi. Dan hal ini di sambut gembira oleh kawan-kawan semua nya, dan Frons Islam Asean dan Islam Foundation India, memberikan penghargan pada pemerintah Daerah Kalimantas, atas laporan Malasyia. Dan pada tanggal 8 Januari 2015 dengan resmi lembaga pendidikan yang di bangun bersama, atas bantaun Industri di pedalaman Kalteng mulai di operasikan, Petronas Malasyia pun tak henti nya memberikan pasukan solar gratis untuk menghidupkan generator listrik untuk menghidukan Komputer, dan Telkomsel Indoensia mengratsikan akses Internet, dan di lembaga ini lah kawan-kawan mengajari suku dayak pedalaman bergaul, berbahasa melayu banjar, membaca dan berhitung, di sini juga kawan-kawan mengajari suku dayak pedalaman mengoperasikan komputer dan mengenalkan Internet, dan meski hanya ada beberapa orang dayak saja yang mau datang dan belajara di lembaga tersebut, tapi lebih baik dari pada tidak sama sekali, dan hal ini akan merubah mereka sedikit demi sedikit, dan kemajuan akan terjadi nanti, dan mereka akan tidak mudah terprokasi dengan isu rasisme oleh pihak yang tidak bertangung jawab.
Tanggal 23 Maret 2015 Kesultanan Banjarmasin Aceh dan pemerintah provinsi Banjarmasin mengelar pertemuan dengan, Fender Telecaster Avril Lavigne Theran Persian Iran Musik Rock Endergrons Industri, Arista Record Avril Lavigne Kanada Musik Industri, dan Malasyia Industri Musik, di Kantor Berita Kanada Banjarmasin, dalam agenda meminta bantuan Industri musik agar membantu Avril fans Fender Banjarmasin mendirikan panggung dan studio musik rock di Kandangan dan Barabai, dan mengadakan konser musik rock setiap malam minggu, tujuan nya untuk mengumpulkan pemuda Kadangan dan Barabai, dan lewat media musik Rock ini pendidikan akan diberikan peda mereka, dan penjelesan agar mereka tidak lagi radikal, dan premanisme, karena hanya media ini yang bisa mengumpulkan mereka pemuda Kandangan dan Barabai, dan tidak banyak bicara Industri musik langsung setuju, dan pembangunan akan di mula pada tanggal 1 mei 2015, dan di selesai pada bulan desember 2015 nanti. Tanggal 11 April 2015 para PNS Banjarmasin mengadakan mogok kerja, dan berorasi memintan Jabatan yang patas untuk mereka, dan memulangkan kaum Majapahit yang memengang jabatan tinggi di Banjarmasin. Ini adalah kelanjutan koflik kemarin, yang mana mereka masyarakat banjar ingin jadi raja di rumah sendiri, dan atas orasi ini mereka dapat dukungan dari Kesultanan Banjarmasin Aceh, yang pada akhir mengelar pertemuan bersama pada tanggal 12 April 2015 di Kantor berita Kanada Banjarmasin, yang mana mereka membuat kesepakatan bersama, bahwa kesultanan Banjarmasin dan Aceh akan membantu mereka menekan pemerintah Jakarta, yang mana ini di angap Kesultanan Banjarmasin Aceh, bukanlah tindakan rasisme, karena tidak sepantas nya kaum Majapahit memimpin tuan rumah pada hal mereka hanya tamu, dan jabatan penting di pemerintah Banjarmasin harus di pengang oleh orang banjar jua, dan atas hal ini, Batalion pun ikut bergabung, Polda juga ikut, dan hampir semua lembaga pemerintah daerah setuju hal ini, terlebih lagi mendapat sambutan rakyat banjar yang begitu hangat, dan mereka siap membela pemerintah mereka melawan pemerintah Jakarta.
Namun walau begitu juga yang terjadi, tidak ada tangapan apa pun yang terjadi di pemerintah pusat mereka hanya meng iyakan saja, atas permintaan tersebut, tapi nyata nya hal ini jadi seketa berulang kali terjadi, dan kasus ini hanya belum memakan korban saja lagi, tapi dalam kesaharian membicarakan hal ini. 26 Agustus 2015 Persatuan buruh Kalimantan di Banjarmasin bergabung dengan kelompok organisasi Rasisme, yang di kenal berpengaruh dengan semangat Nasionalisme Daerah nya, dan memulai konflik baru baik dengan Industri atau Pun pemerintah, pembelan kelompok ini terhadap buruh kerja dan penganguran lokal perlu di beri penghargan, namun hanya saja kelompok ini radikal sekali. Dan pada tanggal 28 Agustus 2015 Kelompok ini menyerang PLTU Tabalong bersama Ormas Sumatera nya Tim milik Avril Fans Fender, yang mana serangan ini adalah atas ketidak pedulian pemerintah mengurus hal ini, baik daerah dan pusat, dan puncak nya kelompok ini memulangkan paksa kaum Majapahit di Tabalong, dan atas kejadian ini, maka serengan kelompok lokal di Tabalong menyala, dan serangan walau kecil namun beruntun, hingga merubah kembali alur konflik, dan memasukan berbagai masalah, dan puncak nya PT Conth Cina paling parah mendapatkan serangan kelompok ini dengan kelompok lokal Tabalong sendiri, dan mereka ini mampu mengurangi penganguran sebesar 5 %, Karena dari Agustus 2015 hingga Oktober 2015 konflik baru mereda, dengan turun tangan nya Dinas Tenaga Kerja Provinsi Banjarmasin. Dan sedangkan di Kalteng daerah Barsel Organisasi Dayak dan masyarakat Barsel juga melakukan pembubaran kolonia Majapahit di daerah mereka, baik itu dari sengketa perkebunan sawit sendiri, konflik dan masalah rasisme yang bercampur aduk di daerah ini benar-benar mengaburkan mata, apakah konflik ini bermuatan politik dan konporasi persaingan Industri tidak bisa di tebak, namu ini adalah ciri has dari banyak kelompok organisasi Dayak di tanah dusun, maka dari itu Avril fans Fender Banjarmasin banyak mingirim tim nya kesana, namun hanya saja belum berhasil jelas mengungkap apa yang terjadi di sana.
Perudingan atara dewan adat, dengan persatuan Tanah Melayu yang sudah lama juga di permasalah lagi, baik masalah tuduhan yang sudah lama di nyatakan oleh mereka sendiri, tuduhan yang berbunyi Presiden Indonesia yang selalu di kuasai kaum Majapahit, dan ini adalah salah satu sebab mengapa pemerintah pusat Jakarta tidak membangun daerah, dan hanya terus membangun Jakarta, dan atas pernyatan ini yang di nyatakan di Papua, hasil nya TNI dan OPM Papua kontak senjata selama 4 bulan lama nya, meski pemelihat presiden sudah belalu dan Jokowi naik tahta, namun banyak kalangan organisasi rasisme tidak rela akan naik nya Jokowi tersebut, yang mana mereka katakan Majapahit lagi dan lagi, dan mereka juga menyalahkan akan lemah nya Kesultanan Aceh yang di gadangkan mereka tersebut dapat memasukan colan non Majapahit dan yang menghadapi pemilihan presiden 2014 lalu. Dan pada tanggal 2 Desember 2015, Dewan adat Kalimantan dengan persatuan tanah melayu di Balikpapan menyatakan misi di lanjutkan, dan kali ini harus berhasil, bahkan kata pernyataan mereka yang popoler di kutipkan selalu oleh orang, Melayu menang Islam Jaya, bergabung dengan kami jika ingin Kalimantan maju dan berjaya, Orang Kalimantan harus menjadi raja di rumah nya sendiri, dan tidak sepantas nya tamu di Kalimantan tidak menghormati tuan rumah nya, apa lagi berbuat lancang dan ingin berkuasa merebut Kalimantan, tamu macam ini harus di tumpas dan di usir dari Kalimantan. Bahkan secara tidak langsung pernyatan tersebut menjadi semboyan orang Kalimantan, meski juga tidak pernah persatuan tanah melayu dan dewan adat menyatakan resmi atau mengakui itu adala semboyan, dan nyatanya juga mereka ini selalu mengunakan kalimat tesebut, dan kalimat tersebut juga banyak terpampang di sudut-sudut kota Kalimantan, dan juga di markas kaum nasinalisme dan rasisme, dan biasa nya di satukan dengan bendera Kesultanan Banjarmasin Aceh dan bendera simbol GAM dengan semboyan nya, pilihan nya hanya hidup mulia atau mati terhormat di medan perang. Desember 2015 ini juga maka di mulai lah misi baru Avril fans Fender dengan pemerintah daerah yang menumpas radikalisme, rasisme dan Premanisme di Kadangan dan Barabai, Kota paling Radikal dan Premanisme Provinsi Banjarmasin, dan peresmian pangung baru Avril fans Fender musik Industri pun di resmikan dalam acara Tahun baru 2016, dan hal ini di sambut baik kaum muda Kandangan dan Barabai. Dan pada tanggal 6 Januari beberapa kelompok menuduh pemerintah daerah Kalteng Membentuk tentara rahasia, yang mengunakan asa rasisme suku dayak untuk kepentingan politik kekuasan, dan pengunan masa dayak yang tidak tahu menahu apa yang terjadi, dan masalah panas juga di hidupkan mereka lagi yang mana kisru agama, dan akibat nya suasana menjadi keruh, bahkan banyak yang terpengaruh atas hal ini, dan salah satu orang yang paling di sorot lagi atas kisru tersebut atara lain Teras Narang, dan banyak lagi petinggi kelompok dayak tersebut. 10 Januari 2016 banyak media-media berita di Banjarmasin memberikan kabar, masalah pasai dan Majapahit di masyarakat di ambil alih pemerintah daerah atas dikrit presiden Jokowi, dan tidak boleh main bubarkan kolonia majapahit, dan semua harus lapor ke pemerintah, dan biarkan pemerintah yang melakukan pembubaran tersebut dengan sarat kolonia Majapahit bersalah, namun setelah di tanyakan pada pemerintah daerah, pemerintah menolak, dan menuduh media mengada-ada, isu buat gaduh dan sebagai nya, dan tambah pernyataan pemerintah, yang kata sudah dari dulu mengurus hal tersebut, namun di atara kedua nya tidak pernah bisa berdamai, dan konflik rasisme tersebut tak ada ujung nya juga pangkala nya, pemerintah hanya terus menjadi kambing hitam nya, perilaku pengekecut kelompok rasisme terpengaruh teori evolusi tidak bertangun jawab sama sekali.
Perlu di akui juga, meski rasisme masih saja melekat di Masyarakat melayu Kalsel dan dayak Kalteng ini, namun jatuh nya korban jiwa berkurang, atau bisa di katakan hampir tidak pernah ada lagi di hitung dari tahun 2014, paling juga pembubaran, dan pemulangan paksa saja lagi yang terjadi, tapi ada hal yang penting juga perlu di katuhi, ya itu hasil pengamatan lokasi langsung oleh Tim Alternativ Rock bersama Tim Organisasi pembela HAM Asean serawak Malasyia, yang di lakukan dari tahun 2010 sampai 2016 ini, yang mana rasisme timbul tersebut atas asa ingin penguasa kaum Majapahit di Kalimantan, dengan bukti kebanyakan konflik terjadi akibat perebutan lahan, tanah, dan pekerjaan. Tidak ada model konflik yang terjadi dengan dasar rasisme semata yang terjadi dari tahun 2008 hingga sekarang 2016, dan paling juga ada penyalah gunaan masa masa dan kelompok rasisme yang radikal oleh pihak yang tidak bertangung jawab dengan banyak cara dan alasan, dan kebodohan pemerintah yang membuat kebijakan tranmigrasi yang di agap merampas Tanah, dan juga dalam pengamatan selama ini, di dalam kolonia Majapahit biasa mereka membawa kawan-kawan nya, dan juga bersipat rasisme pada banjar dan dayak, dalam hal nya pekerjaan, mereka selalu membual kolonia baru, pertama hanya 1, dan setelah beberapa waaktu kolonia akan terjadi, jadi kadang pembela HAM tidak bisa terlalu menuduhkan hal rasisme terhadap pelaku penyerangan kolonia Majapahit, jadi ini perlu ada ketahui pembaca, ini bukan pembelan terhadap banjar dan dayak tapi ini kenyatan sebuah pengamatan Tim Wartawan Kantor Berita Kanada Banjarmasin.
Di Awal tahun 2016 ini juga masih tepat nya tanggal 23 Januari Alternativ Rock bersama Batalion lagi-lagi membubarkan sakte-sakte di Kadangan dan Barabai, mungkin tercatat ada 6 sakte-sakte yang di bubarkan paksa, karena sakte-sakte ini lah yang menjadikan pemuda Kandangan dan Barabai sangat radikal, mereka mengajarkan ilmu debus dan yang lain nya, dan hal ini juga yang membuat tinggin nya aka kriminal perampokan dan pembunuhan terjadi di Kadangan dan Barabai, sebenar nya setelah di usus secara panjang lebar para guru-guru ini sakte-sakte ini tidak lah benar kebal senjata tajam dan lain nya, bahkan di katakan bisa menghilang, karena saat di tes oleh tim Batalion di tembak di kaki mereka ternyata luka juga, dan hanya penipuan saja yang inggin uang dengan menjual zimat-zimat dan yang lain nya, bahkan hal ini yang membuat geram para ulama Islam Martapura, karena mereka menjual ayat suci Al-Qur'an dengan bentuk zimat-zimat dan yang lain nya, dan secara tegas pemerintah Daerah menguluarkan peraturan daerah Kandangan Barabai, di larang nya pendirian Sakte-sakte yang pada akhir nya meradikal dan kriminalisasi, dan penumpasan pun akan di perbesar operasi nya, bahkan sampai tanah dayak melayu Loksado, telaga naga, Pandan, Pudak dan Biratyang Barabai, semua nya di lakukan Tim Alternativ Rock bersama Batalion dan Polres Kadangan dan Barabai. Dan tidak hanya itu, konser Rock Avril fans Fender Banjarmasin sudah di mulai, dan mereka sudah mulai menarik pemuda Kadangan dari radikalisme, premanisme dan rasisme meski pun hanya 4% saja kala itu, tapi walau begitu patu di hargai, karena tercatat dalam sejarah Kalimantan hanya kelompok Alternativ Rock Tim dan Avril fans Fender Banjarmasin paling gigih dan berani dalam menupas Radikalisme hingga ke pelosok pedalaman Kadangan dan Barabai yang sudah di kenal orang daerah paling Texsas Provinsi Banjarmasin. Tanggal 20 Maret 2016 terjadi konferasi pemerintah daerah dan pemerintah pusat, kusus nya dari kubu dinas tenaga kerja, yang mana membahas konflik Majapahit VS Samudara Pasai yang sangat panjang tersebut, dan sepakat mengambil alih kasus ini dari organisasi-organisasi masyarakata Kalimantan, yang mana pemerintah mengeluarkan peraturan akan pembatasan buruh kerja kaum Majapahit di Kalimantan, karena tercatat sudah bahwa hal ini selalu membawa konflik panjang masyarakat. Dan pada tanggal 25 Maret 2016 Bupati Tabalong Sultan Anang yang di dukung Ormas Sumatera meminta PT Conth memulangkan buruh kerja Cina, dan mengantikan dengan buruh lokal daerah. Dan hal ini di sambut masyarakat Kalimantan dengan sangat baik dan atusias sekali.
Sedangkan di tanah dayak masih terjadi kisru rasisme dengan banyak kelompok-kelompok yang serupa, meski konflik berdarah sudah dapat di kontrol oleh pihak yang berwenang dengan hal ini salah satu nya pemerintah. Dan pada 3 Juni 2016 Avril fans Fender dan Alternativ Rock Tim dengan dukungan pemerintah Banjarmasin mengirim lebih banyak lagi tim ke tanah dayak untuk menyelidik kasus rasisme, penguasa totorial dan lain nya, Tim pendidikan juga di tambahkan, dan meski banya yang menolak lembanga pendidikan moderenisasi Avril fans Fender Banjarmasin di tanah dayak, yang mana lembaga ini memerangi akan banyak mitos-mitos suku dayak, dan tidak melakukan penghapusan pada mitos-mitos itu sendiri, dan lembaga menjadikan mitos-mitos tersebut sebagai budaya dan tradisi yang harus di lestarikan bukan untuk di tuhankan dan bergantung penuh secara membabi buta terhadap mitos-mitos tersebut, paling parah lagi lembaga ini di tuduh dengan melakukan penyebaran agama, dan yang lain nya, namun kelompok mana saja yang memerangi lembaga pendidikan Avril fans Fender di tanah dayak dapat di tumpas oleh Batalion dan polres secara sukses, bahkan membuat jera para pelaku nya. Dan pada tanggal 15 Juli 2015 Avril fans Fender dan Alternativ Rock mendirikan Studio dan Panggung musik Rock di Tanah dayak pedalam, dan pendirian pangung yang banykan di seponsori oleh Industri ini bertujuan sama dengan yang ada di Kadangan dan Barabai, ya itu untuk mengumpulkan pemuda dayak, dan mendidikan mereka, dan di perdiksikan pada tahun 2017 akan selesai pembangunan nya.
Dan menjelang upacara kemerdekan Indonesia bulan agustus, pemerintah daerah sudah sepakat bersama untuk menghidari konflik rasisme Batalion Kalimantan, maka mereka mengeluarkan kebijakan yang mana dalam acara penjelangaran 17 agustus 2016, semua gambar poster pahlawan yang akan di pampang di spanduk dan baliho akan bergambar pahlawan daerah Kalimantan, seperti Pangeran Antasari, dan lain nya, agar juga daerah merasa di hargai pemerintah Jakarta, dan sesua dugaan pada acara 17 agustus 2016 terhindar konflik batalion di daerah Kalimantan dan sambutan masyarakat menghangat karena merasa di libatkan dalam perjuangan kemerdekan Indonesia 1945. Tepat pada tanggal 6 September 2016 Pemerintah Daerah Banjarmasin bersama Kesultanan Banjarmasin Aceh, mengundang dewan adat Kalimantan, yang mana pertemuan tersebut untuk menjalin kerja sama bersama dalam membangun Kalimantan, dan tujuan utama nya untuk membangun dewan adat yang baru bersama, hal ini di lakukan untuk menumpas penyalah gunaan kejahatan atas nama suku, agama, budaya, tradisi, dan daerah, dan dalam pertemuan ini dewan adat menangapi nya dingin, namun kata sultan tidak papa, tapi paling tidak dewan adat sudah mengetahui niat baik pemerintah, dan sultan juga mengatakan pertemuan akan di lanjutkan lagi nanti, dan akan terus di lakukan hingga terjalin kesepakatan dan persaudaran bersama.
Pada Tanggal 18 September 2016 Polres Tabalong dengan Batalion kembali membubarkan perjudian atas nama adat dan suku di Tabalong, dan menangkap pelaku nya Mafia Barabai dan Banjarmasin, yang mana bekerja sama dengan tokoh adat dayak menyalah gunakan budaya dan tradisi, dan apa pun yang di lakukan premanisem tidak bisa lagi melakukan perlawanan nya, penjara adalah tempat mereka, meski operasi ini menjadi tidak di terima oleh kalangan dayak, tapi pemerintah Tabalong tetap pada apa yang sudah di putuskan bersama di Banjarmasin. Persatuan buruh Kalimantan besama organisasi rasisme dan nasinalisme pada tanggal 2 Oktober 2016 kembali berdemostrasi di Banjarmasin, menuntut janji pemerintah, yang pasti dinas tenaga kerja dan trimigrasi, yang mana dinas tidak terlalu menangani kolonia Majapahit, dan kolonia Majapait masih saja memgang pos penting baik di Industri dan pemerintah Banjarmasin sendiri, memang demosntrasi 2 Oktober tersebut tidak di gubris pemerintah, hasil 3 Okrtober 2016 Ormas Sumatera bersama pasukan dayak datang dengan banyak masa membantu Persatuan buruh Kalimantan, kericuhan pecah saat di mana masa merazia kolonia Majapahit, dan di Tabalong PT Adaro kembali di serang, dan di paksa untuk memulangkan koklonia majapahit, dan hal ini memakan korban loka-luka akibat adu fisik antara masa, dan preman bayar PT Adaro, dan puncak nya Batalion membatu Ormas Sumatera menerobos kantor PT Adaro, dan pemerintah dan PT Adaro terpaksa mengevakuasi kelompok Majapahit, dan berjanji memulangkan mereka, serta memberikan pekarjaan pada putra daerah. Kisru razia Pasukan Dayak tidak terhenti di PT Adaro, dan menerusi ke Pertamina, pada tangga 7 Oktober 2016 Tim Topographi Pertamina kembali di bubarkan dan di pulang paksakan, pemblogkadean pun terjadi, dan Pertamina terpaksa mengevakuasi buruh kerja majapahit mereka, dan berjanji mempekerjakan putra daerah Tabalong.
Tanggal 5 November 2016 Pertemuan pemerintah daerah Banjarmasin, Kesultanan Banjarmasin dengan dewan adat yang kedua kembali di selengarakan, dan pertemuan ini masih dalam agenda yang sama, dan pertemuan tyang kedua ini sukses, karena semua pihak sepakat dalam persaudaraan, karena juga dewan adat sudah mengerti denga apa tujuan pemerintah dan kesultanan, yang mana untuk mencengah hal rasisme kesukuan, agama, budaya, tradisi dan daerah, dan mereka semua sepakat sudah, akan menumpas siapa saja yang menyalah gunakan, nama suku, budaya, tradisi, agama, dan daerah dalam berbuat jahat kriminal melangar hukum, mencemarkan nama baik, Dan pemerintah Banjarmasin bersama Kesultanan Banjarmasin sepakat akan membangun kantor dewan adat di Banjarmasin, yang tujuan nya untuk menjaga budaya tradisi tidak hilang, menjaga sejarah tidak hilang, namun tidak menuhankan budaya dan tradisi tapi melastarikan nya, dan kantor dewan adat juga akan di fungsikan sebagai musium bersama, dan tempat pendidikan sangar tarian-tarian adat Kalimantan, baik yang bercorak Islam atau non Islam, dan pembangunan akan di lakukan dari bulan desember 2016, diprediksikan pada pertengahan tahun 2017 akan selesai, dan dalam pertemuan ini Kesultanan Banjarmasin, pemerintah dan dewan adat membentuk tim baru untuk menangani penyelah gunanan budaya dan tradisi, yang melibatkan Batalion dan Polda.
17 Desember 2016 Avril fans fender, di tanah dayak berhasil membongkar kasus kejahatan atas nama adat, budaya dan tradisi suku dayak, yang di gunakan oleh pihak yang tidak bertangung jawab yang melibatkan Industri perkebunan, dan dominasi daerah totorial Industri Kalteng, dan penangkap oleh Polres ini akhir berlanjut pengejaran mafia lahan yang melibatkan pemerintah daerah Kalteng sendiri, yang mana mereka membentuk pasukan dayak pedalaman yang tidak tahu menahu hal yang ini, atas provokasi rasisme, untuk penciptan konflik, ini kepentingan politik atas kekuasan lahan dan tanah yang luas di Kalteng. Hal penting ke pengurusan kasus ini simpang siur akibat ada tokoh penting yang akan terseret ke penjara, meski Avril fans Fender di serang di tanah dayak atas hal ini, namun mereka tidak mundur, dan di Banjarmasin tim kembali di kirim, dan tim baru dari Aceh dan Balikpapan di terjun kan untuk melakukan perklawanan terhadap kelompok preman radikal bayaran. Dan sedangkan di kandangan dan Barabai tim dengan singit melakukan penunpasan sakte-sakte radikal yang mengajarkan ilmu gaip tersebut, bahkan Tim Alternativ Rock dengan Polres Kandangan memberlakukan Jam Malam, dan patroli pelosok pada malam hari, pembubaran perkompulan anak muda yang bersifat radikal di malam hari di bubarkan polres, dan dalam patralio setiap malam Polres Kandangan sangat banyak menangkap pemuda yang membawa senjata tajam dan mabuk berat. Dan pada tanggal 22 desember 2016 dinas pendidikan Kandangan menyatakan akan menerbitkan sesytem pendidikan baru 2017 untuk membendung rasisme dan radikal di Kandangan, razia akan ajaran Teori Evolusi Darwin yang merusak akan di tarakan pada tahun 2017 di sekolah dan perpustakan Kandangan.
Dan pada tanggal 5 Januari 2017 di Kalteng, dinas pendidikan bersama lembaga lain nya melakukan razia di sekolah-sekolah kalteng, untuk memastikan tidak ada ajaran darwinisme sosial yang mersusak kalangan dayak, perpustakan dan toko buku juga tidak luput dari razia tersebut, dan mereka minyita buku hampir 159 buku ajaran Teori Evolusi yang merusak dan menjadikan orang rasisme tersebut, buku pun di bakar bersama oleh lembaga dan dinas pendidikan.
Tanggal 8 Januari 2017 Tim Avril fans Fender Banjarmasin mengadakan pertemuan untuk mengumpulkan catatan data mereka yang di teliti dari awal tahun 2016 sampai awal 2017, yang mana masalah rasisme, radikalisme dan premanisme di Kalimantan ini. Data tersebut menyatakan, kasus rasisme, radikalisme dan premanisme sudah bisa di katakan dapat di kendalikan, meski kadang bisa pecah konflik serangan, namun jatuh korban jiwa sudah dapat dikatakan tidak ada lagi, paling cuma luka-laka saja, dan belum ada kesuguhan pemerintah daerah apa lagi pusat masalah kolonia majapahit yang sudah jelas mendatangkan konflik masyarakat saja, dan bom waktu yang di kwatirkan akan pecah, akan terjadi nya pemberontkan oleh kelompok rasisme yang bergabung kaum separatis, apa lagi pemerintah daerah bergabung dengan mereka, bukan tidak mungkin Banjarmasin bisa keluar NKRI. melihat gelagat yang akan terjadi pada tahun 2017 ini, karena semakin hari para PNS di Banjarmasin membicarakan dominasi Jabatan penting di pemerintah daerah oleh kaum Majapahit, meski tidak terlalu terlihat, tapi nyata nya mereka bersaing untuk saling menjatuhkan, belum lagi kaum PNS Daerah banyak mendapatkan dukungan berbagai pihak.
Dan pada awal 2017 ini tim Avril fans Fender menyatakan hanya mampu menupas rasisme, radikalisme dan premanisme di Kalimantan ini hanya 67% saja, dan menyatakan akan membuat misi baru pada tahun 2017 ini untuk benar-benar menumpas nya sampai 100%, dan rasisme di masyarakat pada tahun 2017 ini sudah tidak seradikal dulu lagi, dan tidak ada nya belum pernyatan damai dengan kaum Majapahit, seluruh upaya yang di tempuh tidak pernah berhasil mendamaikan nya, dan perjuangan lebih keras di tanah dayak akan di lakukan lagi 2017, agar suku dayak pedalaman tidak bisa lagi di salah gunakan oleh pihak yang tidak bertangung jawab dengan provokasi rasisme, dan dewan adat sekarang juga sudah turun tangan ke tanah dayak untuk melakukan penyadaran para dayak, dan semuga meraka berhasil di tahun 2017 ini.
Sampai disini dulu tulisan ini, dan kita akan lanjutkan nanti, karena tulisan baru dari awal 2017 masih dalam penyusunan Jurnalis Repoter dan Repoter Avril Fans Fender Banjarmasin.
Dan mungkin sekian dulu imformasi yang saya bisa berikan pada anda para pembaca. Dan kita bertemu lagi di lain epesodi tulisa saya yang baru nanti.
Terima kasih telah membaca nya semoga berguna untuk anda.
Mohon maaf bila ada kekeliruan dalam tulisan saya di atas.
FROG GOZILLA
Ketua Organisasi Alternativ Rock Numetal Comnty Tato88 Tanjung Tabalong yang bergerak memajukan pendidikan di Banjarmasin Aceh dan Indonesia.
Organisasi ini juga sangat aktiv di industri musik Rock Endergrond,
Dan berjuang untuk membangun perintahan ustmaniyah yang baru,
Simbol Organisasi
Avril Lavigne





