Translate

Senin, 05 Juni 2017

Bulan Suci Ramadhan Di Banjarmasin Dan Revolusi Budaya Tradisi Dan Adat Islam Banjarmasin


Bulan Suci Ramadhan Di Banjarmasin Dan Revolusi Budaya Tradisi Dan Adat Islam Banjarmasin  


WELCOME BLOGGER FROG GOZILLA
Terima kasih pada anda para pembaca yang sudah mau meluangkan waktu berharga anda hanya untuk membaca tulisan saya

Pendahuluan  

 Gambar Avril fans fender Reporter Editorial Redaksi Jurnalis Kantor Berita Kanda Banjarmasin

Tulisan ini saya bisa pertangung jawabkan kebenaran nya, dan tulisan ini di tulis juga di bantu oleh kawan-kawan Avril fans fender Banjarmasin, dan tulisan ini juga dari hasil dari diskusi bersama bersama tokoh-tokoh sesepuh Tanah Melayu, pemerintah dan ormas-ormas, dan juga di hasilkan  dari penelusuran lapangan langsung.
Tulisan ini membahas dan memaparkan tentang Revolusi budaya, tradisi dan adat Islam Banjarmasin, dan bagai mana bulan suci Rahmadhan atau bulan puasa di Tanah Melayu, kegiatan apa saja yang di lakukan masyarakat, serta budaya dan Tradisi Islam Melayu dari zaman kono hinga zaman moderen ini secara singkat dan jelas. namun dalam tulisan ini hanya untuk di Fokus kan memampatkan Revolusi budaya, tradisi dan Islam banjar, dan Bulan Ramadhan di tanah melayu Banjarmasin saja, sedankan yang lain nya untuk memperlengkap tulisan ini agar jelas dan dapat di pahami maksut nya dengan mudah.
Tulisan ini juga sengaja merahasikan nama-nama Tokoh masyarakat, pemerintah dan ormas-ormas yang terlibat dalam penulisan ini, karena sudah perjanjian bersama setelah membaca ulang tex tulisan ini sebelum di terbitkan baik menjadi buku dan artikel di Internet. Dan tulisan ini juga tidak merahasikan nama tokoh masyarakat, pemerintah, dan ormas-ormas yang tidak meminta kami untuk merahasikan nama nya. Dan di larang keras mencopy dan mencetak ulang tulisan ini tanpa izin tertulis Avril fans Fender Banjarmasin Kantor Berita Kanada Banjarmasin Industri Tv berita dan Musik Rock. Dan pelangaran cetak ulang akan di jerat hukuman yang berlaku oleh pemerintah Indonesia dan Malasyia.
Tulisan ini di tulis dengan bahasa melayu banjar yang tercampur dengan bahasa Indonesia murni, karena saya kurang pasif bicara bahasa Indonesia murni, namun pasif bicara bahasa melayu banjar, dan tulisan ini di tulis dengan kata kalimat kata kasar, karena bengitulah tutur dealek bahasa melayu Banjar hulu, jadi mohon kebejikan anda pembaca jika ada kekeliruan dalam tulisan ini.

Bulan Suci Ramadhan Di Banjarmasin Dan Revolusi Budaya Tradisi Dan Adat Islam Banjarmasin  

A.   Sejarah Islam Masuk Tanah Melayu Banjarmasin Dan Revolusi Budaya Dan Tradisi Banjarmasin

Gambar Diskusi bersama Avril Fans Fender Banjarmasin di Kantor Berita Kanada Banjarmasin

Tidak jelas rasa nya membicara masyarakat banjar dan budaya Islam moderen nya, tanpa mengetahui dulu sejarah bagai mana Islam ini masuk Banjar, yang menjadikan Masyarakat Banjarmasin moderen ini. Dan sudah tentu banyak orang yang tidak tahu bagai mana sejarah pulau Kalimantan ini secara 100% bahkan mereka orang banjar itu sendiri, namun bukan karena tidak bisa di usut tuntas tentang sejarah pulau Kalimantan ini, hal demikian terjadi tersebut di Karenakan akibat minim nya sekolah di Indonesia ini membuat pelajaran sejarah untuk seluruh Nusantara ini, sekolah hanya memberikan materi pendidikan sejarah berasas Jawa Majapahit saja, jarang sekali membuat materi pendidikan sejarah Indonesia ini yang tidak berasas Majapahit. Pemerintah hanya menekankan banyak kebijakan hanya untuk Jakarta dan Pulau jawa saja tidak yang lain, bahkan Pemerintah yang bertanggung jawab atas masalah ini juga tidak bertanggung jawab, mereka hanya membuat penelitian peninggal sejarah untuk Jawa saja bukan yang lain, karena mereka semua memang orang Jawa, dan jelas belum ada Presiden Indonesia yang non jawa.
Namun belakangan ini atau pada rezim Jokowi ini, pemerintah sudah mulai memperhatikan nya, akibat tekanan yang di berikan masyarakat daerah Nusantara, dan kajian-kajian tentang sejarah daerah nusantara pun mulai di lakukan. Dan penelitian-penelitian yang di lakukan oleh Mahasiwa Universitas Lambung Mangkurat di mulai pada tahun 2010 lalu, atas perminta Sultan Khairul Saleh Banjarmasin. Yang mana penelitian ini di danai seponsor, Industri dan sedikit bantuan pemerintah Indonesia. Namun tahun 2012 lalu penelitian sejarah di Banjarmasin di serehkan pada Avril fans Fender oleh Sultan Khairul Saleh sendiri, dan sampai sekarang ini. Dan dalam perjalanan penelitian selama tujuh tahun, dari mahasiwa universitas Lambung Mangkurat sampai pada Avril fans Fender Banjarmasin banyak sekali menemukan bukti peninggalan sejarah Kalimantan ini, yang mana Avril fans Fender menemukan arca-arca kono, mulai dari daerah Rantau, Kandangan, Amuntai, Tabalong, Balangan, Kaltim sampai Brunai daru salam, yang mana arca ini masih memakai tulisan malayu kono, dan hampir separu lebih dari arca atau prasasti sejarah yang belum di terjemahkan tulisan nya, dan kebanyakan dari arca sejaraha yang sangat sulit di terjemahkan adala arca sejarah yang bertahun dari 200 M sampai pada tahun 1596, itu pun kalau benar Avril Fans Fender bersama kawan dari malasyia dan Pak. Prof Liang Liji, yang meneliti sejarah hubungan Cina dengan Kalimanta, ini menyatakan tahun tersebut Tapi jelas nya arca atau piring Cina Kono dan patung yang di temukan tersebut adalah Jelas sekali benda tua sekali.

 Sultan Temengung Afdileng Borneo Banjarmasin abad 19-20

Dan banyak sekali forum perdebatan ahli sejarah, baik ahli sejarah Indonesia sendiri atau luar negeri, ahli sejarah non Islam atau ahli sejarah Islam itu sendiri, kadangkala perdebatan tersebut memimcu konflik antar kubu mereka sendiri, yang mana mereka menelah awal Islam di Bagian Selatan Kalimantan. Yang mana kebanyakan kelompok berpedapat adalah Islam di selatan Kalimantan adalah dari dirikan nya Kesultanan Banjarmasin tahun 24 September 1526 lalu, dan juga Walisongo dengan Demak, dan teori lain nya dari pedagang muslim Arab, Aceh, dan Parsi. Namun perlu di katahui bahwa di bagian Utara Kalimantan Orang Melayu sudah menganut agama Islam, sebelum berdiri nya Kesultanan Banjarmasin, atau pada abad 12, namum terbatas sekali, Karena juga banyak Kerajan Melayu baik Sumatera dan Kalimantan perang dengan Majapahit, dan bagian selatan Kalimantan yang di kuasai Siriwijaya di rampas Majapahit, namun Majapahit tidak menguasai bagian Kalimantan Utara yang di Kuasai Brunai, dan Majapahit menyerang kerajaan suku dayak Nansarunai, dan mendirikan nya Negara Diva pada tahun 1362 M Oleh Suryanata, kerajaan Hindu Budha di Amuntai, atas perkawinan Putri Junjung buih dengan Raden Arya Majapahit, dan Bhuda dan Hindu adalah agama Negara Diva Tersebut, dan hal tersebut selalu mendorong pembenaran Islam masuk banjar akibat didirikan nya Kesultanan Banjarmasin atas bantuan Demak Jawa tersebut. Tapi setelah di lakukan penelitian lebih dalam dengan banyak biaya ini Bahwa Islam masuk Banjarmasin bukan Karena Kesultanan Banjarmasin, tapi kelompok orang Islam sudah ada sebelum Kesultanan Banjarmasin didirikan pada tahun 1526 M 24 September. namun mereka terbatasi Oleh Negara Daha, dan menurut sejarahwan Suku Dayak Kapuas, di pesisir Sungai Barito Kelompok Muslim yang ada pada zaman Negara Daha 1448-1526 M,  bukan pedagang, melainkan petani dan sudah menetap di sana, namun tidak di ke tahui dari mana mereka berasal, karena sangat terbatasi, namun dugaan sementara mereka muslim yang berasal dari utara Kalimantan Brunai, karena terlihat dari corak budaya dan tradisi Islam nya tersebut, sangat sama dengan Brunai, dan sebagian lagi dari Sumatera dan Malaka, kelompok muslim dari Sumatera ini yang di gadangkan para ahli sejarah, adalah yang mendiami Kuin atau sekarang Banjarmasin, dan klaim lain ahli sejarah banjar yang mengatakan kelompok muslim Sumatera itu adalah kelompok yang mendiami Oloh Masih bahasa dayak untuk menyebut Banjarmasin, dan mereka ini lah yang di angap pengekut Patih Masih pimpinan kampung oloh masih, namun kebanyakan ahli sejarah menolak Klaim tersebut, namun setelah di adakan nya forum diskusi Kesultanan Banjarmasin dengan sesepuh tua Kalimantan Sumatera, yang mana diskusi ini di adakan untuk menghentikan semua perdebatan dan ketidak samaan pendapat tentang kapan Islam masuk banjar tersebut, yang di lakukan pada 14 Desember 2013, yang memutuskan dengan hasil temuan dan penelitian Kelompok Avril fans fender, Islam sudah ada di bagian selatan Kalimantan Sebelum Kesultanan Banjarmasin didirikan, namun tidak tahu kapan dan tahun berapa dan kelompok suku mana yang membawa Islam ke Banjarmasin. Kesultanan Banjarmasin tidak membawa Islam ke Banjarmasin, tapi Kesultanan Banjarmasin adalah pemerintah resmi Kalimantan bagian selatan adalah kerajan Islam pertama didirikan di bagian Selatan Kalimantan, dan setelah masuk Islam nya Pangeran Samudra pada tanggal 24 September tahun 1526, dan di beri gelar Sultan Surianshah. Dan Sultan Suriasyah menetapkan Islam sebagai teologi resmi Negara, dari sejak itulah berkembang nya Islam di bagian selatan Kalimantan. Dan tegas nya adalah tidak dapat di katahui dengan pasti kapan dan oleh siapa Islam masuk Banjarmasin, dan tidak bermaksut mengulang Kalimat, Kesultanan Banjarmasin adalah pemerintah resmi pertama yang berasas Islam di bagian selatan Kalimantan setelah menaklukan Negara Daha 1526 M, di hulu sungai Barito, dan pemerintah resmi pertama yang benar-benar mengembangkan ajara Islam terhadap masyarakat Dayak Kalimantan, Brunai memang sebuah pemerintah Islam kuat di utara Kalimantan, namun tidak mampu menyebarkan Islam di Tanah dayak Kalteng. Seperti yang di katakan ahli sejarah Cina Prof Liang Liji, andai saja Belanda tidak datang ke Kalimantan, untuk menjajah Kalimantan, maka seluruh masyarakat Kalimantan akan menjadi muslim, karena perkembangan Islam terhalangi oleh perang Kesultanan Banjarmasin dengan Belanda dan Inggris. Dan sejarah Kalimantan setelah berdirinya kesultanan Banjarmasin, sejarah yang bisa di pertangung jawabkan kebenaran nya, karena setelah Kesultanan Banjarmasin didirikan masyakat melayu banjar sudah mulai menulis dan membaca, meski memakai tulisan Arab dengan kata Kaliman bahasa melayu banjar kono, maka dari itu sejarah mulai di tulis para elit Istana Kesultanan Banjarmasin, dan semua dokumen Sejarah Kalimantan sejak berdiri nya Kesultanan Banjarmasin di beri nama Hikayat Banjar, dan semua nya pristiwa sejarah di tuliskan di dalam hikaya banjar tersebut, meski kadang unsur gaip mitos mitologi di  gambarkan dalam penulisan hikayat Banjar oleh penulis Istanan Banjarmasin tersebut, namun perlu di pahami hikayat Banjar adalah sumber utama dari sumber lain nya, dari semua kajian penulisan sejarah Kalimantan di lakukan, yang semua dapat di pertangun jawab kebenaran nya, dan dari hikayat Banjar tersebutlah para ahli sejarah menemukan banyak situs sejarah di Kalimantan, karena daerah mana yang tercantung dalam Hikayat banjar tersebut, para ahli sejarah melakukan penelitian di daerah yang disebut dalam Hikayat Banjar tersebut, penilitian di lakukan untuk memastikan kebenaran nya, dan semua situs yang tercantung dalam hikayat banjar tersebut di temukan para ahli sejarah, seperti makam-makam tua dan sebagai nya, jadi inti nya Hikayat Banjar adalah dokumen Sejarah yang utama, yang menjadi kajian tokoh sejarah Kalimantan di samping juga yang lain nya.
Dan kami tegaskan lagi pada anda, Kesultanan Banjarmasin tidak memasukan Islam ke banjar pertama, tapi kesultanan Banjarmasin adalah pemerintah Islam pertama yang ada di selatan Kalimantan, dan Kesultanan Banjarmasin adalah pemerintah pertama yang menyuburkan perkembangan Islam ini. Dan setelah didirikan nya Kesultanan Banjarmasin, Islam hampir saja membunuh semua Budaya dan Tradisi Kalimantan yang berasas Hindu Bhuda atau anenisme, yang mana Kesultanan Banjarmasin pada zaman nya selalu menegakan pembantahan terhadap unsur gaip, dan menghancurkan praktik sihir, yang pada akhir nya mendorong masyarakat berusaha, berjuang dan berdoa, bukan berharap pada berhala atau masalah gaip lain nya. Perkembangan Sekolah berbasis Islam pun di bangun, dan pemendahan pelabuhan perdagang dari Marabahan ke Banjarmasin, menjadikan Banjarmasin sentral perdagangan paling maju di Kalimantan, dan banyak para pedagang asing yang datang, dan turut berjasa dalam perjuangan Kesultanan Banjarmasin. Dan tidak begitu lama Kesultanan Banjarmasin didirikan, maka dengan cepat nya Revolusi Budaya dan Tradisi berubah drastic, yang mana Islam adalah menjadi acuan pembentukan Budaya banjar tersebut, yang mana Budaya Banjar ini adalah sebuah budaya gabungan antara melayu, dayak dan Jawa, yang menjadikan budaya banjar sendiri, karena sebelum Kesultanan Banjarmasin didirikan, Budaya yang berkembang di Kalimantan adalah budaya Jawa, bisa di katakana Budaya pijaman oleh masyarakat di banjar, hanya dayak saja yang memakai budaya ciptan nya sendiri, namun setelah Kesultanan Banjarmasin berdiri masyarakat Banjar tidak lagi memijam budaya orang lain, melainkan sudah punya Budaya dan tradisi sendiri, yang semua nya berbasis pada Islam, Kesultanan Banjarmasin juga mengembangkan Budaya arsiktur Rumah mereka, yang mana arsik tektur Rumah budaya Banjar ukiran sangat Melayu berbasis Islam sekali, yang mana Rumah banjar disebut dengan Rumah bubungan tinggi. Perubahan Budaya dari pakain masyarakat banjar juga berubah, yang mana Budaya pakaian zaman Kesultanan Banjarmasin adalah budaya pakain melayu yang juga berbasis Islam, yang menekankan moralitas pada pakian mereka tersebut, karena Islam melarang pakain yang memperlihakan aurat, bahkan bagunan mesjid yang mulai mengacu pada Demak juga perlahan berubah menjadi masjid yang menjadi kembangan Kesultanan Banjarmasin sendiri. Namun ada satu hal yang paling sulit hilang nya, yang selalu menjadi konflik masyarakat Banjar tersebut, masih ada nya pengaruh unsur Hindu Bhuda, yang kadang kala menyesatkan Islam itu sendiri, dan ini selalu di perangi elet Kesultanan Banjarmasin, dengan mengembangkan pendidikan Islam.

Gambar Rumah Adat Banjarmasin. Yang di beri nama Rumah bubungan tinggi. Rumah adat ini terpangaruh Melayu Islam, Dayak, dan Jawa, yang melahirkan arsiktiktor Budaya dan Tradisi Rumah orang Banjar sendiri.

Gambar pakain adat Banjarmasin, Murni Melayu Banjar Islam.

Gambar Mesjid Kembangan Arsektitor Kesultanan Banjarmasin Sendiri, yang melepaskan pengaruh Demak Jawa, dan lebih kental Dayak dan Melayu Sumatera, menjadikan ini Mesjid Banjar sendiri.

Dan orang paling berjasa mengembangkan Budaya dan Tradisi Islam di kesultanan Banjarmasin yang di ketahui secara umum oleh banyak orang, adalah Muhammad Arsad Al-Banjari, dan di mungkinkan ada tokoh lain selain Arsad, Cuma belum di temukan saja, mungkin penelitian sejarah di masa akan datang bisa menemukan tokoh baru yang sejajar dengan Arsad. Dan  yang mana beliau Arsad ini dulu di kirim sekolah ke Mesir Arab dan Suriah oleh Kesultanan Banjarmasin, dan setelah pulang ke Banjarmasin beliau mendirikan studi pembelajaran Islam, dan mengarang buku terkenal mengenai budaya dan tradisi Islam Kalimantan, dengan nama buku nya adalah Kitap Sabilal Muhtadin, dan kitap ini lah yang menjadi banyak acuan pembentukan Budaya dan Tradisi Islam Banjarmasin, dan orang berjasa lain adalah Muhammad Nafis, yang juga melanjutkan pengembangan Islam yang menulis buku Burdah, yang mana 2 kitap ini menjadi sandaran teologi Islam Banjar tersebut, dan jelas nya 2 orang tersebut adalah orang banyak berjasa dalam perkembangan budaya dan Tradisi Islam Kalimantan, meski kadang ada budaya yang di kembangakan berlawanan dengan Islam itu sendiri, doktrin masalah Haul orang mati adalah salah satu nya, dan doktrin yang lain lagi, yang mana hal tersebut tidak terdapat dalan Hadis dan Al-Qur’an. Klaim mereka Islam Banjar mereka adalah Suni, Sunah Asli waljamah, dan mengadopsi mahzhat Imam Safi, Imam Hanapi, dan Al Gazali, tapi menurut ahli Sejarah Timor tengah yang melakukan penelitian Islam Kalimantan yang bernama Ali Pasha yang penelitian di lakukan dari tahun 1999 lalu sampai pada tahun 2004 menyatakan Islam suni di Banjar tidak sama dengan Islam suni di Timor Tengah, dan Islam Suni banjar adalah Islam suni banjar itu sendiri, karena banyak budaya Islam yang berubah, kadang bisa menghalakan sebuah budaya terlarang, budaya sejaian tersebut, yang kadang kubur bisa menjadi berhala nya kelompok banjar ini, bahkan kuburan Muhammad Arsat Al- Banjari dan Nafis di jadikan berhala, yang jelas terlihat di Palampain Martapura Banjarmasin, banyak orang datang miminta permohonan, dan penjualan zimat serta ayat suci Al-Qur’an itu sendiri.
Kesultanan Banjarmasin dari pulang nya Arsat Al-bajari dari belajar di Timor tengah, menjadi pusat studi dan pembelajar Islam Kalimantan, dan hampir semua budaya dan tradisi Islam yang ada di Pulau Kalimantan adalah budaya Kesultanan Banjarmasin, semua orang di Kalimantan datang belajar agama Islam ke Martapura, dan di Martapura berdiri sebuah Pesantren paling besar di Kalimantan, mulai sejak didirikan oleh Muhammad Arsad hingga sekarang, dan selalu melahirkan ulama Islam tingkat Internasional, contoh ulama Islam Kesultanan Banjarmasin yang moderen adalah Guru Ijai atau guru Sekumpul, dan nama lahir nya K.H Muhammad Zaini bin Adul Ghani,  yang semua orang Islam menuruti ajaran beliua ini, dan Kesultanan Banjarmasin juga bukan saja pusat studi Islam Kalimantan, namun Kesultanan Banjarmasin adalah benteng utama dan paling kuat orang Islam Kalimantan, orang muslim mana saja yang lari ke Banjarmasin dan meminta perlindungan maka pemerintah akan melindungi nya, bahkan meski kadang muslim salah, tetap di bela nya Kesultanan Banjarmasin sampai titik darah penghabisa, dan semua orang yang tingal di Kalimantan tahu, jangan pernah menghina agama Islam di hadapan orang Banjar kalau tidak ingin berurusan dengan mereka, meski orang Banjar bukan orang yang fanatic dengan agama islam itu sendiri, atau mengamalkan ajaran Islam dengan benar, tapi kecintan masyarakat Banjar terhadap Islam tidak bisa di pungkiri lagi, layak nya orang Aceh dan Sumatera barat yang sangat mencintai Islam, dan semua gaya hidup nya dan cara nya adalah Islam. Dan budaya dan tradisi masyarakat banjar yang berubah dengan cepat pasca didirikan nya Kesultanan Banjarmasin, budaya dan tradisi kuliner nya, semua tradisi makan berubah yang pemicu perubahan tersebut, dengan di adakan nya seleksi halal dan haram nya Kesultanan Banjarmasin, dari makanan pokok sampai makanan pelengkap nya berubah, kue dan semua jelas nya, yang kadang kala juga ada budaya kuliner yang lahir baru, yang mana budaya kuliner ini hanya di adakan 1 tahun sekali, pada bulan puasa saja, yang mana setiap santap suar dan berbuka puasa, dan tidak ada masyaraka yang kelaparan pada bulan puasa di Kalimantan pada zaman Kesultanan Banjarmasin, karena semua orang pada saur dan berbuka puasa membagikan makanan kepada siapa pun, kaya dan miskim semua duduk di meja yang sama dan memakan makan yang sama, dan menjelang Hari Idul Fitri masyarakat banjar membagikan baju dan celanan pada siapa pun, dan orang hari raya Idul firi zaman dulu memakai baju yang sama, dan sholat bersama, dan ini jelas budaya dan tradisi baru buatan kesultanan Banjarmasin. Budaya selamatan juga di adakan, orang secara bergilaran di sebuah kampong menyelangarakan ini, dan berbagi makanan bersama setelah pengajian bersama. Dan budaya dan tradisi yang berubah Pasca kesultanan Banjarmasin didirikan, ya itu pada Budaya Dan Tradisi seni hiburan music, teater dan lain nya, yang semua berbasis Islam, pada budaya seni sebelum Kesultanan Banjarmasin didirikan, adalah termasuk budaya seni Exstrim suku dayak, namun Kesultanan Banjarmasin berdiri berubahlah budaya tersebut. Budaya dan Tradisi music di masyarakat Banjar menjelma menjadi budaya music agama, begitu juga dengan teater nya, yang semua berasas Islam, lirik lagu berasas islam dialok teater juga berasas Islam, yang mana Budaya ini di kenal zaman moderen ini Madihin, dan Hapshi kasidah dan sebagai nya, semua berasas Islam.
Revolusi budaya dan tradisi pasca berdiri nya Kesultanan Banjarmasin, yang mana para Sultan menyurukan pada masyarakat, mengadakan parade arakan setiap malam bulan puasa, yang mana arak-arakan ini bertujuan membangukan orang untuk santap saur, dan kadang mereka berbagi makanan bersama, makan di pingir jalan dan sebagai nya, kebersama yang sangat akrap sekali, dan bulan puasa adalah bulan yang sangat di rindukan orang di Kalimantan zaman dulu, kemeriahan yang tidak ada tandingan nya, semua orang di banjar libur bekerja 1 bulan penuh, semua melakukan pesta agama, pesta yang benar meriah sekali, orang gotong royong memperbaiki mesjid, jalan dan lain nya, yang semua Budaya dan Tradisi ini adalah buatan Kesultanan Banjarmasin.
Kelahiran budaya dan tradisi Islam banjar baru, yang kadang di angap ulama menyimpang, ya itu budaya korban hari raya Idul Adha, yang mana masyarakat Banjar secara bergiliran membeli sapi korban, yang cara pengorbanan nya terpengaruh Dayak, yang mana tidak ada budaya Idul Adha Islam macam tersebut, mereka membendaki sapi itu sebelum di sebelih, dan teologi gaip lain nya, yang terpengaruh dayak. Revolusi Budaya dan tradisi yang terjadi pasca didirikan nya Kesultanan Banjarmasin, dulu bangsawan banjar di beri gelar Pangeran, atau gelar kehormatan masyarakat kaya adalah Pangeran, dan orang bergelar Pangeran tidak harus orang Istana, atau keturunan resmi para Raja, gelar Pangeran adalah gelar bagi para orang kaya atau berpengaruh, tapi setelah Kesultanan Banjarmasin berdiri, gelar Pangeran di masyatakat berubah menjadi gelar Haji, dan sedangkan gelar Pangeran hanya untuk kalangan Istana saja, atau keturunan para raja saja, bukan orang kaya menurut masyarakat banjar orang yang belum pergi naik haji tersebut, dan mereka mengatakan orang kaya meski orang itu tidak benar kaya kalau iya pernah naik haji orang kaya nama nya, bukan orang hebat kaya dan berani jika orang tersebut belum naik Haji. Dan perlu di Ketahui pada abad 17-18 Banjarmasin menjadi orang terbanyak naik Haji, meski sambil perang melawan Belanda, mereka pergi naik Haji dengan Kapal Layar Aceh, karena semua jemaah Haji di Kalimantan sebelum berangkat ke mekah, mereka akan singah dulu ke Aceh, maka dari itu Aceh di berikan gelar Serambi mekah.
Revolusi masyarakat Kalimantan pasca berdiri nya Kesultanan Banjarmasin, yang mana revolusi ini adalah Revolusi yang menatukan banyak kelompok Enis Kalimantan, baik dari kalangan Melayu atau Jawa, dan jelas nya adalah berdamai nya kelompok melayu dengan Jawa, pasca perang Majapahit VS Sriwijaya dan Samudara Pasai Aceh, dan dalam buku sejarah di nyatakan perang paling besar yang terjadi di Asia Tengara yang pernah terjadi yang di ketahui secara umum oleh banyak orang saat ini, adalah Perang Majapahit VS Sriwijaya Sumatera, Samudra Pasai dan Brunai Daru Salam, perebutan tutorial yang tak pernah berkesudahan tersebut, namun Setalah Islam masuk Nusantara semua mulai berdamai, alasan utama perdamain ini adalah sama nya agama yang di anut nya mereka Islam, Islam mengangap semua orang muslim itu bersaudara hukum  nya wajib membantu saudara muslim lain yang sedang kesusahan, dan persatuan perang melawan Belanda dan Inggris baik di Kalimantan  atau Jawa juga beralasan ini, dan dirikan nya Negara Indonesia dan Malasyia juga alasan nya ini, jelas dan singkat Islam menyatukan mereka semua nya dalam seluruh perjuangan yang di lakukan berbagai kelompok, meski kadang budaya dan tradisi Islam tidak sama di antara 1 dan yang lain nya, bahkan kadang bisa berkonflik, namun moral litas yang di bentuk Islam tidak menjadikan perang saudara muslim Asia Tengara, seperti perang Melayu VS Jawa atau di kenal orang luas, Sumudra Pasai VS Majapahit. Harun Yahya ahli sejarah Turky Usmani dan Prof Dr Haiti penulis buku Histori Of The Arab berkujung ke Banjarmasin pada 17 Maret 2005 pasca perdamain Aceh dengan pemerintah Jakarta mengatakan, tidak ada agama lain selain Islam yang bisa mendamaikan 2 suku terbesar di Asia tengara Jawa dan Melayu selain Islam, tiada teologi lain selain teologi Islam yang menyadarkan kelompok Jawa dan melayu ini, dan mereka bersatu padu menyebarkan Islam, yang di pimpin 5 Kekuatan besar, Demak Bintara, Mataram, Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh dan Kesultanan Banjarmasin, bahkan mereka berniat menaklukan kerajan Phlipina yang ada di laut Utara Kalimantan. Dan hanya Kesultanan Banjarmasin pada zaman Sejarah yang membukan pintu untuk kelompok Jawa di Kalimantan pasca runtuh nya Negara Diva, yang mana Negara Diva basis perlindungan orang Jawa pasca runtuh nya Majapahit, dendam kelompok Dayak dan Brunai melayu terhadap Jawa tidak bisa di bendung lagi, akibat Majapahit mengempur kerajan dayak Nansarunai. Kesultanan Banjarmasin membuka pintu untuk semua orang luar Kalimantan, dan hal ini lah yang membaut Banjarmasin menjadi wilayah paling maju dan moderen dari zaman sejarah hingga sekarang ini.
Dan Revolusi social masyarakat yang besar terjadi hanya pada zaman Kesultanan Banjarmasin berdiri, memang sebelum Kesultanan Banjarmasin berdiri sudah terjadi fenomena revolusi social masyarakat Kalimantan, Cuma yang paling besar dan bersejarah revolusi Sosial masyarakat yang terjadi iyalah pada zaman Kesultanan Banjarmasin. Revolusi social yang terjadi ini akibat agama Islam dan pelancung yang datang ke Banjarmasin. Banjarmasin pada zaman Kesultanan Banjarmasin menjadi sebuah multik Eknik, dan satu-satu nya Daerah Kalimantan yang multi eknik, karena pada zaman Kono Dayak menolak enik lain, sedangkan Kesultanan Banjarmasin Tidak, yang penting mereka tunduk pada adat istiadat Banjar tersebut, dan paling di tekankan harus tunduk pada Islam, maka dari itu juga banyak pendatang terkejut melihat fenomena ini, yang mana orang luar Kalimantan memandang Kesultanan Banjarmasin displin Islam keras, namun sebenar nya tidak, Cuma keras hanya pada masyarakat banjar saja, tidak untuk pendatang selama iya tunduk dengan ajaran Islam itu Sendiri. Revolusi Sosial yang paling penting terjadi pada era Kesultanan Banjarmasin, atau pada abad 18-19 lalu adalah, sadar nya masyarakat tentang Pendidikan Teknologi, dan bagai mana penting nya Teknologi untuk pertahanan Negara, namun hal ini juga tidak membuang Islam, dan hasil nya Skuler kawin dengan Islam, yang membentuk Masyarakat banjar sekarang ini, dan banyak orang banjar pada zaman itu pergi keluar Kalimantan untuk belajar. Dan hal ini di nilai ahli sejarah, adalah terpengaruh Muhammad Arsad Al- Banjari tersebut untuk menuntut Ilmu, dan pernyatan ini menjadi sebuah perdebatan pajang antara ahli sejarah di Banjarmasin, namun ada lagi pedapat lain, mengangap Revolusi Sosial, atau orang banjar menyebut dengan kata Revolusi Islam Banjarmasin 2, yang di galang untuk memusnahkan teologi Dayak unsur Gaip dan menganti nya dengan unsur skuler, di akibat perang dengan Belanda, yang mana Belanda yang perang dengan senjata Moderen, sedangkan Prajurit Kesultanan Banjarmasin hanya memakai golok dan tameng saja, dan hal ini menyadarkan penting nya Teknologi untuk Negara, maka terjadi lah pergi untuk belajar ke negeri orang, memang pendapat ini terlihat agak kebenaran nya secara garis besar, namun jika di pelajari dengan cermat bukan Karena ini, karena sudah mulai didirikan Kesultanan Banjarmasin yang sudah membantah hal gaip itu. Dan menurut kajian ahli sejarah Banjarmasin yang bernama Anang Ardiashah, Revolusi itu sebenar terjadi akibat persaingan perdagan yang besar di Banjarmasin, dan pengaruh pendatang yang datang Ke Banjarmasin membawa skil untuk bersaing, baik secara Industri, dagang dan buruh kerja Industri, yang mana juga masyarakat banjar malu dengan pendatang yang cerdik, sedangkan mereka terkekang kebodohan, dan jelas nya pada abad 18-19 Banyak industri berdiri di Banjarmasin, baik yang luar negeri dan dalam negeri sendiri, yang membutuhkan tenaga kerja berpendidikan tinggi, dan juga terpangaruh nya masyarakat banjar dengan Turky Usmani dan Iran Persia, yang mengembangkan teknologi, meski paham Islam banjar berlawanan dengan Iran Persia itu sendiri, namun mereka secara jujur salut dengan Iran Persia yang mengembangkan Teknologi. Revolusi Sosial pada abad 18-19 ini juga dengan cepat mengubah Banjarmasin, meski Belanda zaman ini menyatakan Kesultanan Banjarmasin di Hapuskan, namun di dalam dada dan pikiran orang Banjar tidak runtuh Cuma pindah Istanan Saja, ke pedalam Kalimantan, dan Kesultanan berubah menjadi Pegustian, dan pengustian ini di pimpin oleh Anak Pangeran Antasari yang bernama Gusti Muhammad Seman, orang ini memipin suku dayak muslim perang melawan Belanda, hingga beliau gugur pada tahun 1905 lalu di Kalteng, Belanda mengagap ini kejatuhan Kalimantan sepenuh nya, maka Belanda memecah daerah Totorial Kesultanan Banjarmasin dengan sandi Afdeling Borneo, dan menjadikan Banjarmasin basis sentral pemerintah Belanda yang mengantikan Kesultanan Banjarmasin, namun angapan ini salah, nyata Kesultanan Banjarmasin terus ada hingga detik ini, mereka hanya kehilangan Istana saja, dan hal ini juga memicu kembali Revolusi Sosial masyarakat Kalimantan, yang membentuk budaya dan tradisi baru menguatkan penting nya pendidikan, maka dari itu pada fase ini banyak di bangun perkompulan social, dan pendirian banyak sekolah tinggi di Banjarmasin, dan era ini era Jepang di Kalimantan, dan Jepang berkawan dengan Kesultanan Banjarmasin untuk menghadapi Belanda, meski Jepang Kejam nya. Dan jelas nya adalah apa pun yang terjadi di Banjarmasin, tidak sedikit pun mengikis paham Islam nya, justru malah memoderenisasi nya, yang mana Pesantren juga mengajukan pada siswa menulis huruf latin dan sebagai nya, dan sekarang Pesantren Martapura pada era ini sudah mengadakan Sesytem pendidikan digital Komputer.
Hal yang paling penting juga mengenai Revolusi Sosial Budaya Kesultanan Banjarmasin adalah, zaman dulu abad 18-19 Pemerintah bukan saja pemimpin Politik dan masyarakat, tapi pemerintah juga pemimpin Agama Islam, sholat Jum’at dulu di banjar langsung di pimpin Sultan Banjar, atau aparator pemerintah, di desa-desa Kalimantan penghulu, atau pemerintah Kecamatan Kesultanan banjar, juga melakukan hal yang sama, kepala desa langsung memimpin agama, sholat berjamah dan seluruh kegiatan lain nya, mesjid atau langgar adalah tempat orang bermusyawarah untuk kepentingan bersama, dan banyak lagi fungsi mesjid di masyarakat Kalimantan. Singkat nya pemerintah bukan saja memerintah politik sipil militer, namun juga imam Islam. Kesultanan Banjarmasin langsung turun ke masyarakat dalam kegiatan, besar atau kecil kegiatan tersebut, selamatan atau sukuran pada masyarakat aparat kesultanan Banjarmasin tidak pernah Absen, mereka memasak makan bersama, bahkan pernikan, tidak peduli maskin atau kaya, kesultanan Banjarmasin langsung ikut terjun ke masyarakat luas, gotong royong mengadakan pesta yang semua berbasis Islam. Kegiatan Remaja Mesjid juga di adakan, yang fungsi nya untuk mengajari anak-anak mengaji Al-Qur’an, dan ini wajid di laksanakan, remaja mesjid pada bulan Ramadhan memasak bersama untuk bersantap saur dan berbuka puasa bersama, dan kegiatan ini juga langsung di pimpin Kesultanan Banjarmasin, tidak peduli kaya atau miskin semua nya sama di hadapan tuhan, semua orang berbagi makanan di mesjid di jalan tempat lain nya, zakat dan sebagai nya, para petani setiap musim panen akan memberikan 10% hasil penenya untuk mesjid, agar kegiatan terus belangsung. Dan banya hal penting lain nya lagi.
Terserah apa pun tanggapan anda pembaca, percaya atau tidak anda, saya tidak bermaksut mengucilkan yang lain nya, atau mengangukan Kesultanan Banjarmasin, karena jika anda belajaran sejarah Kalimantan dengan benar, maka anda akan mengetahui hal ini, dan lilihatlah di perpustakan buku-buku sejarah tentang Kalimantan di sana, lihat dari mana sumber yang di ambil untuk mengambarkan Kalimantan zaman kono, sudah pasti hikayat banjar, Tex Sejarah Brunai dan Solu, dan Kesultanan Kutai Kartanegara. Tapi yang paling lengkap pasti hikaya Banjar dengan perecian yang mudah di pahami walau agak kedengaran dongen, dan sejarah paling lengkap di tulis untuk sejarah daerah Kalimantan, hanya sejarah Banjarmasin. Dan saya tegaskan lagi ini bukan untuk mengangukan Banjarmasin tapi ini kenyatan terjadi, dari zaman didirikan nya Kesultanan Banjarmasin, Banjarmasin menjadi sebuah daerah yang amat penting bagi Kalimantan ini, dan peranan penting bagi penduduk Kalimantan, dan peranan penting utama adalah perdagang dan studik pendidikan, di mana pun orang Tinggal di Kalimantan, mereka ingin mengejar pendidikan, maka sudah pasti ke banjar, baik ingin pendidikan skuler atau pendidikan agama Islam, dan hampir seluruh Industri yang ada di Kalimantan berkantor Induk di Banjarmasin, dan moderenisasi social juga terjadi banjar dan dalam waktu begitu singkat menyebar kewilayah lain. Hal penting yang perlu di ketahui, kalau anda pendatang luar Kalimantan yang melihat orang muslim di Kalimantan, orang akan menyebut nya suku banjar meski orang itu bukan banjar, hanya dayak yang muslim berganti budaya nya, orang jawa di Kalimantan, membulakan semua orang muslim yang tingal di Kalimantan, yang berbicara non dialek tutur dayak maka iya akan di bulat dalam suku Banjar, meski iya bukan Banjar, orang muslim Balikpapan dan Samarinda hingga sambas juga orang banjar, padahal mereka dayak kutai yang muslim memakan bahasa banjar, orang dayak di Kalteng juga sama, bahkan orang jawa yang lama menetap di Kalimantan akan berubah menjadi banjar, semua budaya dan tradisi menjadi Banjar, dan juga orang Jepang yang tertingal di Kalimantan pasca perang dunia 2 sekarang mereka menjadi orang Banjar, dan ini sudah membuktikan betapa kuat nya Budaya dan Tradisi Islam Banjarmasin mencengram orang Kalimantan. Dan jelas juga jika anda pelancong datang ke Kalimantan, maka anda bertanya pada orang, dengan kalimat, kamu orang mana, iya menjawab pasti saya orang banjar, padahal iya lahir di Balikpapan, namun Balikpapan sendiri juga memakai budaya banjar. Sebelum Indonesia Merdeka, bahasa resmi yang di pakai di Kalimantan adalah bahasa Melayu Banjar dan melayu Brunai, karena bahasa melayu ini mudah di mengerti orang mana saja, bahasa melayu ini juga adalah ibu dari banyak bahasa yang ada di Kalimantan dan Sumatera, bahkan bahasa Indonesia murni juga adalah turunan Bahasa Melayu. Dan Sultan Suriansyah dengan resmi menentapkan bahasa melayu ini untuk semua penduduk Kalimantan. Singkat kata ini adalah membuktikan kuat nya budaya adat Istiadat Banjar ini, dalam kurun 4 abad budaya banjar ini hampir membunuh semua budaya yang ada di Kalimantan ini. Dan tidak dapat di pungkiri lagi, Banjarmasin adalah daerah Acuan daerah lain di Kalimantan, semua berawal dari Banjar, mengalir ke pedalam Kalimantan, semua kebijakan pemerintah Jakarta juga di gantukan pada Daerah Banjarmasin, dan sejati nya adalah Banjarmasin adalah suatu Negara berdaulat Sebelum Indonesia didirikan, dan kejatuhan banjar di mulai pada tahun 1905, dan banjar tidak bisa lagi merebut daerah tutorial nya sama sekali, dan kekosongan pemimpin di Banjarmasin mendorong para tokoh banjar untuk bergabung Indonesia, dan ini berujung pemberontkan Ibnu Hajar. Alasan paling kuat mengapa Ibnu Hajar memberontak adalah dengan di caplok nya daerah Banjarmasin oleh Sokarno, dan memisahkan pemerintah dari agama, dan ini bertolak belakang dengan budaya dan tradisi di Banjarmasin, yang saya sudah di paparkan di atas tadi, dan kecerobohan juga di lakukan kembali oleh Orde Lama, mereka melebur Provinsi Aceh menjadi Kabupanten yang ikut dalam tutorial Sumatera Utara, dan ini adalah memicu perang Suadara pertama terjadi, yang Jelas DI dan TII bergabung di bawah Komando Kawarsirto, Daut Aceh, Kahar Muzakar Sulawesi, Ibnu Hajar Banjarmasin. Dan ahli sejarah Banjarmasin mengatakan fenomena ini dengan Revolusi Sosial masyarakat Kalimantan baru, karena terjadi pergesar budaya dan tradisi begitu drastic sekali, dan alasan umum yang di ketahui orang mengapa Ibnu Hajar Memberontak, padahal iya pertama setuju dengan bergabung dengan Indonesia? Adalah Pertama Sokarno menjanjikan kepada setiap tokoh masyarakat terkemuka, jika Indonesia menang maka Indonesia ini akan jadi Negara Islam Indonesia, maka saat ini di dendangkan Sokarno, para Panglima Islam bergabung, namun ujung nya Indonesia berdiri bukan menjadi Negara Islam justru memisahkan Agama, hal ini di angap Ibnu Hajar penghiantan terhadap TII dan DI, namun itu masih membuat nya tidak memberontak, dan hal yang paling mendasar nya dan utama adalah, Pemerintah Orde lama melebur daerah Totorial Kesultanan Banjarmasin, mejadi Kalimantan Tengah dan Timor, dan sabah Federasi bebas, Samas juga di bebaskan, hal ini lah yang memicu pemberontakan tersebut, meski pemerontkan ini gagal, dan Ibnu Hajar di hukum mati, tapi justru sengketa nya ini tidak pernah berakhir, dan semua masalah pemberontakan di Kalimantan hal yang mendasari nya adalah ini, dan semua kelompok Separatis Kalimantan juga masih mempermasalahkan hal ini. Saya sudah katakana ini masalah budaya dan tradisi orang Kalimantan, kusus nya muslim, pemerintah tidak bisa dipisahkan dari agama Islam, meski kelompok muslim banjar ini bukan orang fanatic, tapi setiap sendi kehidupan nya adalah Islam, dengan di pisah nya agama dari pemerintah, mesjid tidak lagi berguna sebagai wadah masyarakat bermusyarah, dan tidak ada lagi yang menyokong kegiatan Agama. Kelompok dayak sangat mendukung hal ini, karena mereka akan berhenti berurusan dengan Kesultanan Banjarmasin, dan sekali lagi saya tegaskan, berdiri nya Indonesia ini kembali merevolusi Budaya dan tradisi masyarakat banjar, dan untuk meredam pemberontakan pemerintah memberikan daerah tutorial Islam, ya itu Martapura, namun hal itu tidak membuat masyarakat puas, rasa berat di hati mereka masih ada, dan kerap sekali perencanan pemberontakan terjadi di Kalimantan, jika anda orang Kalimantan, anda tahu berapa kali sudah masyarakat Kalimantan yang di motori Banjar melakukan pemberontakan, media Koran dan Tv hanya merahasikan nya saja atas permintan pemerintah Jakarta, agar daerah lain tidak melakukan hal yang sama, karena juga jika kabar menyebar luas, ujung nanti daerah melakukan perlawanan. Dan sampai detik ini juga masih banyak kelompok Separatis di Kalimantan, mereka hanya menungu waktu nya saja, karena belum ada alasan kuat untuk melakukan, andai saja saat Kairul Saleh bupati banjar itu tidak di beri izin untuk memugar publikasi pada masyarakat, atau meminta pengakuan pemerintahJakarta bahwa Kesultanan tidak musnah, melainkan vakum dan kehilangan Istanan saja pasca perang melawan Belanda saja, dan sekarang kembali Kesultanan Banjarmasin tahun 2010, namun kembali bukan untuk berkuasa di Kalimantan, tapi untuk menjaga budaya dan tradisi Islam Banjar dan budaya lain nya tidak hilang di makan waktu, dan tidak bersifat Monarki (memirintah secara keturunan) atau Feodalisme, maka dengan pasti kelompok seperatis akan melakukan pemberontakan, meski Kairul Saleh tidak meminta nya pada kelompok Separatis, karena ini hanya menjadi alasan mereka saja untuk memberontak pada pemerintah Jakarta. Dan jelas nya juga memang ini yang di inginkan oleh masyarakat Kalimantan Selatan, dan itu alasan nya mereka mendukung nya. Dan masalah ini juga masyarakat Kalimantan Selatan mengatakan Yogyakarta boleh bergaya kesultanan Yogyakarta oleh Hamengkobhon, bahkan sifat nya Monarki Feodalisme, masa Kesultanan Banjarmasin tidak boleh, dan tidak dapat pengakuan nya akan perjuangan nya yang mempertahankan Kalimantan dari jajahan belanda, ini jelas pemerintah tidak adil dan pilih kasih, mungkin ini lah penyebab nya Aceh memberontak. Dan jelas nya lagi bagi masyrakat banjar, Bupati atau Gubernur yang menjabat pasti di panggil mereka sultan, dan angapan masyarakat banjar Moderen ini yang di maksut dengan Kesultanan Banjarmasin adalah maksut nya adalah pemerintah tingkat 2 Republik Indonesia, atau pemerintah daerah, jadi semua orang di dinas itu di angap pegawai kesultanan Banjarmasin, TNI dan Polisi di angap prajurit kesultanan Banjarmasin, maka dari itu budaya dan tradisi Islam banjar begitu kuat nya dan lestari.
Waktu berjalan, meski daerah tutorial Kesultanan Banjarmasin di pecah oleh Orde Lama, namun masih tidak menghilangkan ligitimasih nya, Banjarmasin sebagai central Perdagangan dan Studi belajar Kalimantan. Dan hal penting lain nya dalam pergesaran budaya ini, angota DPRD serta Bupati atau Gubernor Banjar, masih mengimami Sholat masyarakat, baik Sholat Jum’at dan seterus nya, dan ini juga meredam pemberontakan, karena tidak ada sama sekali alasan untuk melakukan nya, pemerintah juga masih mengepalai badan-badan agama dan budaya tradisi adat banjar, kegiatan-kegiatan masyarakat masih terus berjalan. Dan saya tegaskan lagi, Kesultanan Banjarmasin memang pemerintah Islam, namun masyarakat banjar bukan orang fanatic dalam mengamalkan ajaran Islam itu sendiri, mereka sangat mencinta Islam dan takan membiarkan Islam di hina, dan pada zaman Orde Baru Banjarmasin terus berkembang, baik dari seni budaya dan tradisi nya, teater music dan yang lain juga berkembang, pembentukan Band-Band Rock terjadi Banjarmasin, music Rock tidak di larang di Banjarmasin meski pemerintah banjar pemerintah Islam, film juga tidak di larang, Pakain wanita, wanita juga sudah dari dulu tidak harus berhijap pada era kesultanan Banjarmasin, dan jelas nya lagi Banjarmasin berkembangan dengan pesat dari daerah lain Kalimantan, Banjarmasin banyak melahirkan artis berbakat, band Rock Berbakat yang go Internasional bersaing dengan Jakarta, contoh Band Rock Banjarmasin Power Metal, meski Pawer Metal didirikan nya di Surabaya, namun personel nya dari Banjarmasin, music melayu berkembang menjadi music dangdut Melayu dan Islam juga semakin moderen saja di Banjarmasin. Dan pada Fase ini Islam di pimpin oleh Guru Ijai, atau guru Sekumpol Martapura, beliau juga mengembangkan ajaran Islam moderen, dan beliau juga sandaran umat Islam Kalimantan, ribuan orang luar daerah Banjar datang untuk belajar Islam pada beliau, Bupati dan Gubernur juga yang di lantik juga menghadap beliua, bahkan konflik yang terjadi di Kalteng atara dayak dan Banjar beliau juga orang yang mendamaikan nya, orang ini adalah paling di hormati di Kalimantan, dan tidak ada satu pun orang membantah apa yang beliua katakana untuk kepentingan bersama, dan Banjarmasin tetap menjadi benting pertahanan Islam Kalimantan, dan beliua juga memisahkan daerah Martapura dengan Banjarmasin Totorial, yang mana pusat Islam di Martapura, dan Banjarmasin adalah wilayah bebas, maka dari itu Diskotik pun ada Di Banjarmasin, dan diskotik Banjarmasin juga diskotik paling besar di Kalimantan, tidak ada diskotik mana pun mampu mengalahkan HBI ini, Cuma untuk hal ini di bentuk juga badan Islam untuk mengawasi nya, dan Diskotik libur pada hari penting Islam, Hari Jum’at, bulan puasa harus libur 1 bulan penuh. Maka nya kadang orang heran melihat Banjar ini, masyarakat Muslim skuler, dan cinta Islam meski mereka membangkan ajaran Islam itu sendiri. Dan sudah di ketahui secara umum dari era Kesultanan Banjarmasin, selama pandatang dari luar Kalimantan, Industri imigran dan lain tunduk dengan Islam, dan menaati anturan yang di buat kelompok Islam, maka pemerintah tidak akan mengangu gugat nya.

Gambar Guru Ijai, Guru Sekumpul dan nama Lahir K.H Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani

Namun juga pada era ini terjadi berbagai pristiwa penting yang juga menetukan banjar, demontrasi dan kerusahan benar-benar terjadi, ada nya kolompok yang masih belum terima terhadat pemecahan wilayah tutorial Kesultanan Banjarmasin, dan katakana lah nya pemingiran nya budaya dan tradisi Banjar, kadang kala aksi ini bisa rasisme, yang menuduh kalangan jawa, namun pemerintah daerah masih bisa meredam nya, sangat sulit sekali melepas budaya dan tradisi Kesultanan Banjarmasin. Puncak kerusuhan terjadi pada tahun 1998 lalu, dan kerusahan ini di sebut dengan Jum’at berdarah atau Jum’at kelabu, kebencian atas pemerintah Jakarta yang tidak menghargai Islam, partai pro nasionalis konvoi tidak tahu orang sholat Jum’at mereka malah membabi buta di jalanan, dan jelas saja kelompok Islam menyerang nya. Dan kerusahan pada tahun 2000 juga di Kalteng di pengaruhi oleh kelompok Banjar, Madura VS Dayak, namun banyak muslim Madura lari ke Banjar, dayak tidak berani mengejar nya, bahkan Guru Ijai kembali turun untuk mendamaikan nya, andai saja guru Ijai tidak turun saat itu, kerusahan ini akan membesar, dan bisar berujung banjar muslim vs Dayak, yang juga sebernar nya Banjar muslim juga membantu Dayak, ini di dukung Kelompok banjar untuk membuat Kekacuan untuk melakukan pemberontakan, tapi sukur saja Guru ijai mampu mendamaikan nya, dan menjaga kelompok supaya jangan memberontak, guru Ijai juga membuat kegiatan-kegiatan agama seperti Kesultanan Banjarmasin, untuk menahan kerinduan nya masyarakat terhadap jati diri mereka sendiri. Dari tahun 2000 Pemerintah coba terus untuk melakuakn pembenahan terhadap Kelompok Banjar, namun tidak ada perubahan tetap saja mereka masih merindukan Kesultanan Banjarmasin pemimpin mereka, berbagai masalah melanda masyarakat banjar, pro dan kontrak terus meliputi perjalanan mereka. Sebenar nya apa yang terjadi sudah hampir menyerupai Kesultanan Banjarmasin, Ligitimasih banjar tidak hilang, Banjar masih Sentral, dan pintu gerbang perdagang bagian Selatan Kalimantan, banjar masih terus menjadi acuan daerah lain, dan Banjar masih menjadi studi pendidikan, sentral Islam Kalimantan, jadi masalah ini kadang kala menjadi pertanyan banyak orang yang melihat fenomenan ini, apa yang sebenar yang mereka inginkan, hanya mereka yang tahu.
Dan pada tahun 2003 di banjar, ada sebuah kelompok di buat lagi oleh para pemuda banjar, yang mana kelompok ini misi nya adalah untuk membebaskan lagi Islam yang mulai keluar Jalur, dan mereka memprotes pemerintah, mengapa pemerintah berdiam melihat orang menjadikan Kuburan Muhammad Arsad Al-Banjari dan Nafis berhala, dan penjualan ayat suci Al-Qur’an di lakukan, ini tidak lebih seperti pristiwa sejarah yang terjadi di Mekah Arab Suadi, yang menjual air zam-zam tersebut, dan kelompok ini hampir saja membuat konflik jika saja tidak di tangani oleh pemerintah, dan dengan cepat juga pemerintah mengadakan larangan terhadap penuhanan pada kuburan, bahkan di Tapin Rantau kuburan Datu Sangul juga di jadikan berhala nya mereka tersebut. Dan ini juga kembali terjadi pengesaran budaya dan tradisi adat Islam banjar tersebut, meski guru Ijai masih Hidup. Para pengamat Agama dan tokoh budaya banjar mengatakan terhadap fenomena ini terbalik sekali, karena pada zaman moderen ini masyarakat banjar terpengaruh unsur gaip lagi, seharus zaman dulu bukan sekarang kata pengamat, kris atau senjata bisa di angung kan mereka, tapi pergesaran Budaya ini tidak berlangsung lama, dengan sigap Guru Ijai membendung kesesatan tersebut, dengan cara memberikan paham mendidikan dengan Jelas sekali yang di terapkan di sekolah, dan gerakan pergesaran budaya ini banyak terjadi di daerah hulu banjar, atau benua 6.
Dan di mulai dari tahun 2004, di Banjarmasin mulai terjadi gesekan-gesekan pemerintah daerah dengan pemerintah pusat, yang mana ini masalah peraturan umum yang di buat pemerintah Jakarta, yang di angap menyimpang, karena sudah jadi budaya di Banjarmasin, mereka ini libur 1 bulan penuh bekerja, dan bulan puasa adalah bulan yang sangat di tunggu-tunggu masyarakat Kalimantan, bulan puasa yang sangat meriah dengan banyak pesta tersebut, orang-orang di banjar pada bulan puasa ini libur bukan saja untuk melakukan Ibadah, namun juga ada alasan lain nya lagi, dan Bulan Puasa pulang nya para perantau banjar ke Banjar lagi, dan mereka sangat akrap sekali, mereka banyak melakukan kegiatan bersama, yang juga kegiatan tersebut tidak semua nya agama Islam, Cuma kegiatan yang ada pada bulan puasa di Tanah Melayu 70% berunsur Islam, dan sisa nya kegiatan lain nya. Hal ini juga terkadang memicu konflik lagi, banyak Industri luar Kalimantan yang beroperasi di Banjarmasin, yang kadang kala mereka bergiatan pada bulan puasa, yang ujung membuat tergangu nya masyarakat, mereka yang bekerja di Industri juga tidak di berikan libur oleh Industri di mana mereka bekerja, dan ujung demontrasi terjadi di mulai dari Tabalong, daerah paling utara Banjarmasin, PT Adaro menjadi sasaran mereka, pengawai PT Adaro meminta Cuti 1 bulan penuh, pada bulan puasa, dan menganti peraturan lama dengan yang baru, yang mana PT Adaro memberikan cuti kerja 3 bulan sekali, dengan rentang waktu libur 2 minggu lama nya, dan mereka meminta Cuti 3 bulan sekali itu di bulat kan saja, menjadi libur panjang selama bulan puasa, perlu di pahami PT Adaro berati tidak beroperasi karena tidak ada pegawai yang kerja, demontrans ini begitu cepat menyebar hingga sampai ke Banjarmasin, dan pemerintah pun mendukung hal ini, karena mereka memang ingin begeni, harus nya pemerintah Jakarta memahami ini.
Kota Banjarmasin moderen ini juga di datangi banyak pelancung baru, dan kaum dagang baru, yang berujung masalah, karena mereka pendatang berjualan makanan pada bulan puasa, dan pemerintah membiarkan nya, dan pemerintah tidak membereskan nya seperti yang sereng di lakukan, sudah umum di Banjar, di larang berdagang makanan pada bulan puasa, kecuali pasar ramadhan yang di awasi oleh pemerintrah, dan di larang berdagang makanan dan semacam nya di depan mesjid pada siang atau malam hari, karena bisa mengangu orang banyak nanti nya, dan harus nya Pemerintah menertipkan penjualan miras pada bulan puasa ini, dan akibat ini timbul angapan mungkin pemerintah yang duduk bukan orang banjar, karena tidak tahu dengan budaya dan tradisi nya sendiri.
Dan pada tanggal 20 Agustus tahun 2005 masyarakat muslim Kalimantan di guncang dengan hebat nya, dengan kabar bahwa Guru Ijai meninggal dunia umur 63 Tahun. Dan setelah kabar tersiar, aktivitas beberapa kota di Kalimantan terhenti Total, toko-toko tutup, tidak ada orang berjualan, murit sekolah di pulangkan semua nya, kantor pemerintah juga tutup, dan jalan begitu padat sekali, semua orang tua muda, Islam Kristen dan kelompok dayak pun juga ikut berduyun menuju Martapura untuk melihat Guru Ijai untuk terakhir kali nya, banyak orang tidak bisa menahan tangis nya, Bupati, Gubernor dan angota DPRD pun semua melawat kesana. Dan ini adalah sebuah fenomena luar biasa, baru kali ini terjadi dalam sejarah Kalimantan, seorang ulama Islam meninggal banyak orang berduyun datang mengantar ke kuburan, tangisan terdengar kemana-mana, dan kejadian terjadi selama 7 hari, dan aktivitas semua berhenti Total. Orang penting yang meninggal di Banjar masih tidak seperti ini kejadian nya, Bupati meninggal, aktivitas masyarakat terus berjalan, Gubernur meninggal juga tidak terjadi semacam ini, jelas begitu besar nya pengaruh dan charisma nya Guru Ijai ini. Selamatan di mana-mana di adakan sampai 100 hari, di Balikpapan, Samarinda, Pontianak, Palangkaraya, Muara Teweh, Puruk Cahu, Pangkalanbun, semua nya melakukan selamat dan mendoakan Guru Ijai, bahkan sampai sekarang ini kuburan nya ada orang terus mendoakan nya. Kepergian guru Ijai benar-benar memukul orang Islam di Kalimantan, mereka semua kehilangan pemimpin hebat mereka, namun Guru Ijai sangat banyak sekali mewariskan Ilmu pendidikan Islam pada murit nya, dan kitap-kitap yang di tulis oleh Guru Ijai, dan sampai sekarang ini belum ada 1 orang pun yang mampu mengantikan posisi nya sebagai pemimpin orang Islam Kalimantan, dan orang terus berharap tuhan akan mengerimkan lagi pemimpin seperti itu hadir di tengah-tengah orang Kalimantan.

Gambar orang berduyun mengantar Guru Ijai ke tempat peristirahatan yang tenang, 5 Agustus tahun 2005

Tapi tampak terlihat dalam 2 tahun sepeningalan Guru Ijai belum ada perubahan pada masyarakat, karena banyak orang yang memprediksikan, bahwa Islam akan terkikis di masyarakat banjar, karena tidak ada lagi orang yang memimpin, dan sampai pada bulan puasa pun juga masih tidak ada tampak perubahan pada masyarakat banjar dan lain nya, kegiatan terus berjalan saja, pemerintah juga tidak apsen dalam sholat berjamah di mesjid bersama masyarakat, dan selalu memberikan masyarakat pengarahan, namun perlu di pahami dan di katahui, dari sejak di pisahkan nya agama dengan pemerintah, mesjid hampir kehilangan pungsi nya, ya itu tempat masyarakat berkumpul dan bermusyawarah, yang membawa pada akibat rakyat tidak terlalu bisa bersuara lagi untuk memberikan saran terhadap pemerintah, mesjid hanya jadi tempat Ibadah saja lagi, bahkan mesjid sangat besar di bangun di Tanah Melayu tapi minim kegiatan nya. Dan pada akhir nya mulai muncul tanda-tanda pada tahun 2010 yang tampak sedikit terlihat ada nya Revolusi Budaya dan Tradisi Islam Banjar ini, meski Islam sangat kuat di hati masyarakat, perubahan yang tampak itu sebenar bukan karena di tinggalkan guru Ijai semata, namun ada hal lain jua mendasari nya, dan tanggapan oleh para sesepuh banjar yang melihat perubahan ini mereka mulai mencoba menangani nya, agar budaya dan tradisi Islam banjar tidak menghilang nanti nya, maka dari itu sesepuh Banjar berencana untuk mempublikasikan nya secara luas bahwa Kesultana Banjarmasin masih ada untuk masyarkat yang luar area Banjarmasin, karena hanya orang yang tinggal di kota banjar saja yang tahu bahwa Kesultanan Banjarmasin itu masih ada tidak runtuh, dengan cara meminta pengakuan pemerintah Jakarta, seperti yang sudah saya kata kan di atas tadi, dan Sultan Khairul Saleh yang memimpin nya, meski kadang kecurigan pemerintah Jakarta ada, dan pemerintah Jakarta sangat mencengankan mereka, karena mereka takut hal ini bisa memimcu masyarakat banjar ingin keluar NKRI, dari tahun 2010 itu juga Sultan Khairul Saleh mengkapanyekan Sejarah Banjar Budaya dan Tradisi pada masyarakat agar hal ini terus terjaga. Dan juga mengalakan penulisan Sejarah Banjar untuk jadi bahan materi pendidikan di Banjarmasin, karena pendidikan sejarah tentang daerah sunguh sangat kurang sekali, memang ini terlihat tanda berhasil nya dalam mengintergrasi nya masyarakat banjar kembali. Dan hal paling umum yang di ketahui tentang publikasi keberadan Kesultanan Banjarmasin itu untuk masyarakat yang jauh dari Banjarmasin, untuk mengurangi rasa ketidak adilan pemerintah Jakarta di hati penduduk Kalimantan, yang di angap mereka pemerintah Jakarta hanya membangun Jakarta dan Pulau jawa saja, tidak untuk yang lain nya. Dan juga untuk meredam banyak kelompok separatis yang bercongkang di Kalimantan, yang mana kelompok ini adalah Kelompok pendukung Ibnu Hajar, dan sebagian dari mereka adalah kelompok dayak muslim Loksado Kandangan benua Antaludin, yang mana kelompok ini tergabung dengan militer resmi Pemerintah Indonesia, alias Batalion TNI, yang terutama Batalion Kadangan dan Batalion 1008 Tabalong, yang selalu mengatakan pemerintah Jakarta tidak menghargai perjuangan Kesultanan Banjarmasin untuk Indonesia, seperti jasa Gusti Muhammad Seman Anak Pangeran Antasari, Penghulu Dayak Muslim Kalteng Temengung Surapati, Temengungu Antaludin, Sultan Kuning, Aleng Tambai Makah, Pangeran Antasari, Sultan Hidayatulah, Haji Buyasin, Penghulu Rasit, Temenggung Jalil, Palinglima Batur, Dhemang Lheman, Wangkang, Ali Akbar, Hasan Basryi, dan banyak lagi yang lain nya lagi. Dan bukan hal baru di Kalimantan, kusus nya Kalimantan Selatan, Batalion pada 17 Agustus hari kemerdekan Indonesia, mereka menurunkan sepanduku-sepanduk, baleho dan atribut lain nya, yang mengambarkan pahlawan kemerdekan Indonesia yang tokoh Majapahit, seperti Jendral Sudirman contoh nya, seolah golongan Majapahit saja yang berjasa untuk Indonesia ini tidak lagi ada yang lain nya, bahkan Pahlawan Daerah di tanah kelahiranya, pemerintah memasang baleho pahlawan Majapahit, itu justru menanbah kebencian masyarakat atan nenek moyang mereka yang berjuang di daerah mereka, sedangkan Pahlawan Majapahit sendiri tidak terlibat dalam perang tersebut, seperti perang Muning di Rantau oleh Sultan Kuning dan Antasari, Perang Balangan, Perang Tatas, Perang Tabalong dan lain nya, dan mengapa baleho yang bergambar Pahlawan Majapahit yang tidak terlibat perang mempertahankan daerah itu di pasang di daerah itu, harus nya baleho dan sepanduk yang di pasang bergambar pahlawan orang yang mempertahan kan daerah tersebut, itu baru benar, dan alasan ini lah sesepuh Banjar mempublikasikan Kesultanan Banjarmasin secara luas, tentang pengakuan Pemerintah Jakarta, agar terjadi kesejatran bersama, dan menghilangkan rasa tidak adil tentang hanya Yogyakarta saja yang boleh, dan untuk jelas nya lagi untuk menyatukan Muslim Kalimantan semua nya, dan bersama membangun dan menjaga Budaya dan Tradisi bersama agar tidak hilang baik di makan zaman, waktu serta ke adaan dunia yang maju, serta doktrin budaya dan tradisi kelompok, klaim dan lain nya, dan juga untuk menghentikan dugaan kekawatiran Islam akan terkikis akibat Guru Ijai meningal dunia, pada para pengamat Banjar itu sendiri.
Dari kabar yang tersiar keluar Banjarmasin atau Kalsel oleh media TV atau koran mengenai kampanye keberadan Kesultanan Banjarmasin ini, sangat banyak dampak positip nya yang terjadi, terutama pada daerah bagian Kalteng dan Kaltim, orang dayak muslim yang tidak sependapat dengan pemerintah Jakarta menjadi berkurang, karena orang dayak muslim Kalteng adalah orang yang berjuang bersama Gusti Muhammad Seman Anak Pangeran Antasari melawan penjajah Belanda, dan Kelompok dayak ini saat Muhammad Seman Meninggal sebagian melarikan diri jauh masuk pedalaman Kalimantan Tengah, dan menetap di dalam hutan tersebut, bahkan tidak sadar lagi bahwa Belanda sudah tidak ada lagi di Banjarmasin, dan dengan Kampanye yang di sebarkan ke mana-mana ini baik media dan lain nya lagi, membuat kelompok dayak ini keluar dari Hutan dan tepat pada tanggal 12 oktober hari Kamis tahun 2011, dari kapal salah seorang pedangan Alalak Banjarmasin, yang mana kapal dagang ini berdagang ke hulu sungai Barito Kalteng, dan Kapal ini lah yang di tumpangi oleh para dayak untuk membutikan Kabar tersiar, mereka melabukan jangkar nya di Pasar Terapung Banjarmasin, dan bergegas ke halaman Mesjid Sabilah Muhthadin, untuk bertemu Sultan Khairul Saleh, dari sejak itu lah Dayak muslim yang bersembunyi di Hutan Kalimantan keluar dari hutan, dan hutan di mana mereka tinggal pun di kembangkan pembangunan nya, dan pemerintah Kesultanan Banjarmasin dengan Resmi memberikan pembangunan generator listrik untuk 4 kampung, mendirikan mesjid dan sekolah. Dan hal lain nya lagi adalah, setelah kabar ini keluar Kalimantan Selatan, beberapa Kelompok separatis Kalimantan, baik, Kateng, Kaltim, Kaltar, Kalbar, hingga Sabah Malasyia, keluar dan pergi ke Banjarmasin, dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi, dan hanya sebagian kecil kelompok separatis Kalimantan saja lagi yang masih belum berdamai dengan pemerintah Jakarta. Dan dari sejak itu pemimpin dayak muslim Kalteng, duduk beruding di Banjarmasin, yang mana mereka mengajukan tuntutan, untuk mengebangkan kembali Budaya dan Tradisi Islam Kalimantan, yang wilayah jauh dari Banjar, yang di angap dayak, mereka yang sudah pudar adat istiadat nya, jadi perlu di ada kan kembali intergrasi dari pihak Kesultanan Banjarmasin, namun Sultan tidak melakukan pengembangan langsung, tapi mengadakan pembelajaran lokasi, untuk mengentahui apa yang harus di Lakukan. Sedangkan rapat Kesultanan Banjarmasin tahun 2012, yang membentuk kembali tim untuk penyelangaran remaja mesjid Kalimantan, karena ini yang banyak di keluhkan masyarakat, yang merasa mesjid hanya menjadi tempat ibadah saja lagi, tidak seperti dulu tempat musyawarah. Dan pada tanggal 5 April 2013, Masyarakat Tabalong mengrim perwakilan ke Banjarmasin, untuk mengurus konflik Industri pada bulan puasa dengan masyarakat Tabalong, dan juga permintaan resmi dari masyarakat supaya PT Adaro membangun mesjid di KM 63 Jambantan Layang Simpang Wara, agar masyarakat setepat dan pegawai PT Adaro, bisa melakukan ibadah nya. Dalam menangapi hal ini, Kesultanan Banjarmasin pun berdiskusi dengan banyak para tokoh terkemukan Kalimantan, untuk bagai mana cara mengambil tidakan yang tepat, di samping mengirim untusan ke Jakarta untuk melaporkan nya.
Dan pada hari selasa 4 Juni 2013, kelompok dayak muslim bagian Bontok, Puruk Cahu, Muara Teweh sampai Kaltim dan Sambas, mengeluhkan mengenai makam Gusti Sultan Muhammad Saman, sultan terakhir yang memrintah Kesultanan Banjarmasin di pedalam Kalimantan Tengah dan Kaltim pasca perang dengan Belanda, yang tidak terurus sama sekali, kuburan nya penuh dengan rumpu tebal, nisan nya dari kayu ulin hampir hancur, dan sebenar nya pemerintah Provinsi Kalteng tahu ini Cuma membiyarkan nya, bahkan Kesultanan Banjarmasin pun juga di tuduh kelompok ini telah lalai melakukan kewajiban nya, Muhammad Seman adalah Anak Pangeran Antasari. Dan setelah kabar ini merebak, Kelompok TNI Kadangan dan Batalion 1008, yang kebanyak mereka di kenal di masyarakat dengan nama Ormas Sumatera, yang angota nya adalah kebanyak Dayak Loksado pendukung Ibnu Hajar ini pun bergabung melakukan penuntutan ini, dan ini adalah hal paling memanas yang terjadi sepanjang perjalanan masyarakat Kalimantan, yang berujung pada pengulingan rezim SBY yang begitu dahsyat, di Tabalong Bupati Rahman Ramshi di gulingkan kelompok ini, dan Pristiwa ini di kenal masyarakat luar Banjar dengan nama Revolusi Islam 3, dampak tersiar nya kabar Keberadan Kesultanan Banjarmasin itu, yang paling lebih parah nya adalah, daerah Kalteng sebagian ingin bergabung dengan Pemerintah Provinsi Banjarmasin, karena mereka mengangap Gubernor Teras Narang, telah memingirkan Budaya dan Tradisi Islam Kalimantan, dan banyak lagi Konflik yang di timbolkan oleh masalah ini, terutama bentrokan masa FPI dengan pasukan dayak Pro Teras Narang, tuduhan pemerintah tidak menghormati bulan puasa di Kalteng, di mana orang makan di jalan semua nya, meroko dan lain nya lagi, razia masalah miras tidak di lakukan, dan sampai sekarang belum ada kepastian masalah ini, dan masalah ini di larang untuk di publikasikan, karena bisa memicu pemberontakan, dan tulisa ini memamaparkan masalah ini agar anda tahu jelas tetang terbentuk nya masyarakat muslim moderen Kalimantan ini 2017, dan latar belakang masalah nya, bukan bertujuan untuk memprokasi, semuga anda pembaca dengan bijak memahami nya.
Dan harus di ketahui adalah, masalah mengenai luntur nya Budaya dan Tradisi Islam itu, bukan masyarakat di kota Banjarmasin, tapi masyarakat muslim Kalimantan yang berada di garis perbatasan Kalteng Kaltim hingga jauh ke pedalaman, karena di kota Banjarmasin sudah di paparkan di atas tadi, tidak ada perubahan banyak mengenai Budaya dan Tradisi adat Islam, meski guru besar Islam Kalimantan meninggal dunia, Karena masyarakat Banjar sangat kuat, dan keberadan Kesultanan Banjarmasin selaku pemerintah daerah yang di katahui secara umum, arti nya mereka tahu bahwa Pemerintah Jakarta menghormati nya, tapi setelah di publikasikan nya, maka ini lah yang terjadi dampak nya. Kelompok yang di bentuk oleh Avril fans Fender untuk meniliti masalah ini di Masyarakat, mendapakan hasil memang yang terjadi benar, bukan rekayasa dayak Muslim dan lain nya, karena di luar Banjarmasin, Muslim mulai luntur sudah budaya dan tradisi, dan ada sebagian kelompok juga yang memarjinalkan nya, dan yang jelas nya lagi adalah, Kelompok Muslim di Kalimantan sejak dulu, sudah mengangap Kesultanan Banjarmasin itu adalah benteng mereka, dan masalah apa saja yang terjadi di antara mereka, pasti di adukan nya pada Kesultanan Banjarmasin untuk memutuskan nya, dan sejak gugur nya Gusti Muhammad Saman, 1905 bagi mereka yang jauh dari Banjarmasin merasa mereka sudah kehilangan benteng nya, dan dengan kabar ada nya keberadan nya, maka otomatis mereka sangat antusias besar, mengadukan masalah semua nya yang terjadi dari Gusti Sultan Muhammad Seman meninggal dunia, dan sampai masak kini. Dalam wawancara tahun 2013 oleh Avril fans Fender, yang mewawancarai suku dayak Kalteng, mereka mengatakan andai saja Kesultanan Brunai daru Salam itu bagian dari Indonesia, maka kami akan mengadukan masalah ini pada mereka Kesultanan Brunai, masalah ketidak adilan, dan hampir luntur nya budaya dan tradisi Islam pasca Muhammad Seman Mininggal dunia, dan sekarang kami sudah tahu Kesultanan Banjarmasin masih ada, Cuma hanya di rahasikan pemerintah untuk membendung dampak ini, dan kami meminta pada Kesultanan Banjarmasin mengambil tindakan nya, agar kesajatran pun terkendali, dan kembanykan masalah nya juga adalah, tentang penyelangaran budaya Islam pada saat Ramadhan tiba, di mana pemerintah Provinsi yang bersangkutan melakukan nya alakadar nya saja, bisa di katangan kegiatan itu di lakukan hanya semata memenuhi supaya di padang tidak lalai, dan kebanyakan penyelangaran itu yang melakukan nya hanya ormas-ormas Islam swasta atau partai politik Islam, di tambah bangsawa Islam pendana nya, kebanyak donator dari Aceh dan Sumatera Barat saja, padahal mereka mengunang pemerintah untuk hadir, pemerintah tidak hadir, kusus nya Teras Narang tersebut, sebenar kami tidak mengharapkan bantuan dana, tapi kami mengharakan silaturahmi antara sesama, baik muslim dan non muslim, seperti dahulu pada era Kesultanan Banjarmasin, di mana pada waktu bulan Ramadhan, orang berkumpul makan bersama, tidak peduli kaya atau miskin, setelah sholat taraweh tiba, orang beicara bersama dan sangat akrap sekali, dan itu semua nya lenyap pasca Gusti Muhmmad Saman gugur berjuang melawan Belanda. Jadi jelas nya sudah terlihat dari masalah nya, dengat pernyatan ini, masalah adalah penyelengaran budaya dan tradisi Islam pada bulan Ramadhan, dan masalah pemarzinalan, dan keriduan terhadap pemimpin muslim. Dan kejadian terbaru di Tabalong 2013, juga penuntutang pembangunan Islamik Center terhadap pemerintah dan PT Adaro yang menangani masalah Haji, karena repot pergi ke Banjarmasin dari Tabalong, dan Tabalong Amuntai adalah Jemah  terbanyak sudah dari era Kesultanan Banjarmasin.
Dan baru pada awal tahun 2014 lah Pemerintah Daerah dan Kesultanan Banjarmasin, dapat mengambil tindakan nya, yang pertama mengadakan diskusi di Sumatera untuk menangani masalah ini, yang mana era ini di mulai nya pemerintah baru Indonesia, Rezim Jokowi, memang Presiden Jokowi belum berkujung ke Banjarmasin saat itu, namun Kesultanan Banjarmasin dalam diskusi meminta PT Adaro untuk membangun mesjid di simpang Wara, agar terjadi kesejatran masyarakat, karena nanti bisa hal fatal terjadi, masyarakat bisa membrontak, dan pertmintan ini di Kabulkan PT Adaro, dan langsung di awasi Bupati Baru Tabalong Anang, pengerjan Islamic Senter juga di Lakukan di Tabalong, dan mengadakan fistival budaya dan tradisi oleh pemerintah Tabalong, dan akhir mendingin lah Tabalong, namun tidak untuk berhenti karena masalah kerja pada bulan puasa belum lagi di tangani, dan masalah luar Kalsel juga masih memanas, memang pembicara itu selalu di adakan, namun tidak semudah itu melakukan nya. Hingga pertemuan yang ke 2 di Banda Aceh, Kesultanan Banjarmasin, meminta Industri di Tabalong agar menghormati bulan Ramadhan di Tabalong agar tidak terjadi masalah serius nanti nya, dan memberikan cuti pada para pengawai, namun dalam perundingan yang di setujui adalah, PT Adaro akan mengurangi Jam kerja pada bulan puasa, tapi tidak bisa berhenti bekerja 1 bulan penuh karena bangkrut, dan dari berbuka PT Adaro istirahat beroperasi, bagi pegawai nya yang mau berbuka puasa di rumah juga silahkan, berbuka di PT Adaro juga silahkan, dan silahkan juga menunaikan shalat magrip nya dan Tarawih nya, dan setelah Shalat Tarawih PT Adaro akan beroperasi lagi seperti biasa, dan Istirahat lagi pada saat saur dan shalat subuh. Dan hal ini berhasil total, orang yang shalat Tarawih tidak lagi tergangu suara brisik mesin PT Adaro, dan pegawai nya juga bisa melaksanakan kegiatan ibadah nya sebagai Muslim, tuntutan juga dari Sultan, agar PT Adaro berzajat Fitrah pada akhir bulan Ramadhan atau hari raya Idul Fitri, juga di kabulkan, dan hal ini juga di awasi langsung oleh Bupati Anang, dan pengawai di beri cuti kerja 5 hari seluruh untuk mudik lebaran, hasil nya kedamain tercipta di masyarakat Tabalong, dan ini sebab nya Anang di Tabalong di pertahankan. Dan masalah di line Kalsel sudah berakhir, hanya saja lagi masalah luar Kalsel yang mendesak Kesultanan Banjarmasin untuk melakukan nya.
Dan Kesultanan Banjarmasin pada 2014 juga meminta kelompok dayak di Kalteng untuk bersabar dulu, karena Sultan sedang berniogosiasi dengan Jokowi masalah ini, dan menyampaikan apa masalah pada DPR dan Jokowi, agar tidak terjadi maslah besar nanti nya di semua pihak, namun pada saat ini Batalion Omas Sumatera Tabalong dan Kandangan, bertidak berani, mereka bekerja sama dengan Militer Malasyia di perbatasan Kalimantan Barat untuk mengali ulang kuburan-kuburan Prajurit Kesultanan Banjarmasin yang gugur dalam perjuangan mempertahan Kalimantan, namun juga bukan saja kuburan pihak Banjar Kalimantan di bongkar nya, tapi semua nya, yang berbendera Indonesia, dan membawa kerangka nya ke Banjarmasin untuk di makamkan di tempat yang layak atas jasa nya mempertahankan Kalimantan, dan sebagian TNI Jawa di Banjarmasin, membawa kerangka prajurit DI dan TII yang gugur di perbatasan ke Jawa lagi untuk di makamkan di tempat yang pantas atas jasa nya. Dan sebalik nya Militer Malasyia juga membungkar kuburan prajurit nya, dan membawa nya ke Malasyia untuk di makamkan, dan Batalion Ormas Sumatera bersama Industri memberikan santunan uang bagi keluargan para pejuang yang gugur, dan hal ini terjadi pada bulan puasa tahun 2014 lalu, dan kejadian semacam ini tidak terjadi 1 sekali saja, namun berungkali, dan ini termasuk dari wasiat dari bapak Tentara Kalimantan Hasan Basri Kadangan bumi Antaludin, dan ini di ampuni pemerintah, karena bermaksut baik, dan jelas nya sudah umum bagi TNI pada bulan puasa di Banjarmasin untuk bersama membersihkan makam para pahlawan, dan kebiasan ini adalah budaya dan tradisi bikinan Kesultanan Banjarmasin. Dan terlibat nya Batalion dan Polisi pada kegiatan bulan puasa sudah umum di Banjarmasin, yang jelas bukan saja TNI dan Polisi mengamankan orang beribadah tapi juga ikut bersama-sama dengan masyarakat, bahkan kalau pimpinan Batalion Induk Munawarman Banjarbaru jadi iman sholat di Banjarmasin pada bulan puasa itu juga umum saja, dan ini lah kerinduan umat muslim yang berada luar Banjarmasin.
Namun pada akhir tahun 2014, Rezim Jokowi yang berdiskusi dengan Kesultanan Banjarmasin, yang di katakana akan memenuhi tuntutan penulisan sejarah daerah Nusantara ini, dan akan di masukan dalam kurikulum pendidikan Indonesia, dan wajid bagi daerah Nusantara semua untuk meneliti sejarah daerah nya, dan memberikan nya pada generasi agar tahu, dan hal ini menjadi sorotan masyarakat Kalimantan, karena baru saja ada presiden Indonesia samacam ini, Jokowi orang nya, yang kebanyakan pemerintah Jakarta tidak penduli masalah ini, dan Jokowi juga tidak memaksakan puralisme yang di tentang masyarakat Kalimantan, yang di lakukan rezim SBY, karena puralisme bukan demokrasi antar golongan, melainkan untuk menjadikan golongan berbeda jadi satu golongan yang di angap merugikan golongan yang di musnahkan, dan pilihkasih terhadap golongan yang di pilih itu, dan demokrasi golongan sejati adalah dengan cara adalah semua golongan saling menghormati dan tidak saling ejek, dan bersama-sama hidup dan membangun Negara Indonesia ini, maka Jokowi di Aceh di terima, dan Jelas nya Jokowi memberikan pengurangan jam kerja PNS pada bulan puasa untuk Sumatera dan Kalimantan, meski pun Banjarmasin dan Aceh sudah melakukan ini dari dulu sudah, tapi bagian lain belum dapat ini, PNS bisa beribadah pada bulan puasa tersebut. Dan pada  Selasa 3 Maret 2015, Persatuan dayak Kristen Protestan yang di wakili oleh Gereja Sinta Kuala Kapuas, dan Persatuan Kristen Katolik yang di wakili Gereja Santa Matius Kuala Kapuas bersama kuam muslim Kuala Kapuas berangkat bersama ke makam Gusti Muhammad Seman, dan membersihkan nya makam nya, untuk memberikan penghormatan pada perjuangan nya untuk menghalau penjajah Belanda di Kalimantan, dan hal ini membuat Pemerintah Kalteng terpukul malu, karena masyarakat nya menghargai perjuangan Gusti Muhammad Saman mempertahan kan Kalimantan, dan karena ini lah ada nya kepedulian pemerintah Kalteng, dan mulai membukan pintu perdamain dengan Muslim dayak hulu Kalteng, dan pada mei 2015 Pemerintah daerah Kuala Kapuas, juga menyatakan diri untuk mendukung penyelangaran budaya dan Tradisi Islam, yang di serahkan pada Mesjid Almukaram JL Tambung Bunggai Kuala Kapuas, dan sudah sejak awal didirikan nya mesjid Almukaram itu sebagai Studi pendidikan Islam dan kegiatan nya, dan ini di sepekati bersama Gereja, dan begitu juga untuk kaum Kristen Kapuas, karena setelah turun nya bupati Badarudin, Dayak Kapuas Muslim merasa pemerintah memarzinalkan Islam.
Dan juga upaya-upaya pemerintah untuk memenuhi semua penuntutan masyarakat Kalimantan mengenai budaya dan tradisi Islam Kalimantan, untuk seluruh wilayah Kalimantan hingga saat ini, dan pemerintah Jokowi yang menekankan Pemerintah daerah juga selalu melibatkan diri pada masyarakat, dan jelas hormati budaya dan tradisi daerah tersebut, agar kesejatran tercipta di daerah, dan masalah nya juga Dayak Muslim Kalteng ingin bergabung di pemerintah Kalsel, dan masih cari jalan keluar nya hingga saat ini, Kesultanan Banjarmasin pun bingung harus berbuat apa, karena salah langkah bisa terjadi masalah luar biasa, dan jelas nya Kesultanan Banjarmasin mengerti bentul atas kerinduan kaum muslim luar banjar pada pemerintah Kesultanan Banjar Kono sebagai pijakan pelindung mereka, dan tempat mereka mengadukan masalah, dan juga masalah pengankatan kerangkan Gusti Muhammad Seman, untuk di bawa ke Istana Banjarmasin, dan di makamkan di dekat ayahanda tercinta nya ya itu Pangeran Antasari. Dan masalah lain juga yang berhasil di tangani adalah Jokowi memberikan gelar Pahlawan untuk penjuang daerah, seperti Haji Buyasin, Panglima Dayak Muslim, Temengung Antaludin dan Dhemang Lheman, maka dari itu di mualai tahun 2016 anda melihat sendiri Balelho dan Spanduk yang di pasang, gambar nya Pangeran Antasari, Hasan Basry, dan Panglima Dayak Muslim Kalteng dan Kutai. Dan berlaku nya kebijakan pemerintah rezim Jokowi pada 2016 di Kalimantan dan Sumatera mengenai panitia mesjid dan lain nya, dalam penyelangaran budaya dan tradisi muslim tersebut, dan memberikan tugas pada ulama untuk mendidik nya dengan baik, dan menekan radikalisme. Dan hal yang paling untuk anda ketahui adalah, mereka Muslim Kalimantan mengadupsi budaya dan tradisi Islam banjar, bukan karena budaya dan tradisi Islam banjar paling bagus di Kalimantan, tapi mereka memilih nya karena Budaya dan Tradisi Banjarmasin Melayu adalah yang paling kental Unsur Agama Islam dari yang lain, yang kebanykan terpengaruh Hindu Bhuda, dan percaya akan mitos dan lain nya, dan perlu di pahami Budaya dan Tradisi Islam Melayu Banjar adalah Budaya Islam murni yang di balut bungkus Melayu, Dayak dan Jawa, jadi hanya corak nya saja, namun semua berpengang teguh pada Islam murni, meski pedapat Ali Pahsa Islam banjar tidak murni, Namun Hanya Islam banjar di Kalimantan yang paling mendekati Islam Timor Tengah dari pada yang lain nya, dan sekali lagi saya tegaskan, orang di Kalimantan memilih budaya dan tradisi Islam Banjar, bukan karena Budaya dan tradisi masyarakat Banjar itu bagus, tapi yang di pilih orang itu adalah kemurnian ajaran Islam itu sendiri, bukan yang di tiru Budaya kebiasa Masyarakat banjar di luar pengaruh Islam, dan gaya Budaya dan Tradisi masyarakat Banjar yang bukan Islam tidak pernah di tiru orang, dan begitu juga dalam hal pendidikan hingga perdagang nya, yang di tiru itu adalah pangaruh Islam nya itu, dan memang hampir semua Budaya dan Tradisi Banjar itu adalah Islam semua, sangat jarang sekali ada budaya dan tradisi Banjar tidak terpengaruh Islam. Dan Islam itulah yang menjadikan masyarakat banjar moderen 2017 ini hampir keseluruhan, dan membentuk masyarakat Banjarmasin sangat moderen sekali saat ini, yang lebih menitik beratkan pendidikan Agama 100%, dan Pendidikan Ilmu Pengetahuan moderen teknologi 100%, dan memintingkan kedua nya, bukan berharap pada mitos-mitos, perdukunan dan banyak lagi praktik ilmu gaip yang tak pernah terbukti kebenaran nya.

Bulan Suci Ramadhan Di Banjarmasin Dan Revolusi Budaya Tradisi Dan Adat Islam Banjarmasin  

B. Bulan Suci Ramadhan Di Banjarmasin Dan Budaya Tradisi dan Adat Islam Moderen Masyarakat Banjar   

Gambar Kesultanan Banjarmasin dan Para Ulama Martapura Sebagai Penyelangara Kegiatan Islam Kalsel.

Saya yakin anda pembaca sudah memahami apa yang di paparkan di atas tadi, mengenai bagai mana dasar benang merah nya pembentukan budaya dan tradisi masyarakat Banjarmasin moderen ini, dan dari mana asal nya. Dan tidak bisa di pungkiri lagi sudah Budaya dan Tradisi masyarakat banjar ini lebih menjurus sama dengan Budaya dan Tradisi orang Sumatera, dan jika di lihat sekilas sama budaya dan tradisi masyarakat Banjar moderen ini, yang bisa menekan pengaruh budaya dan tradisi Jawa nya, karena sudah di Jelaskan di Atas tadi, bahwa Budaya dan Tradisi Islam di banjar adalah Budaya campuran, Jawa, Dayak dan Melayu, namun dalam perjalanan waktu Budaya jawa makin menghilang, dan lebih menunjulkan unsur melayu nya secagaris besar, dan yang membendakan nya dari budaya Sumatera adalah ada unsur dayak nya, ini lah hal yang membedakan nya dari budaya Aceh dan Sumatera Barat, namun sesytem Islam nya sama dengan Aceh, begitu juga padangan masyarakat nya. Dan dengan tegas nya, budaya dan tradisi masyarakat banjar sekarang ini adalah murni bikinan Kesultanan Banjarmasin yang menyatukan 2 unsur Budaya yang kuat, dayak dan Melayu, yang secara perlahan menegelamkan unsur Jawa nya, dan menjadi kebudaya banjar sendiri, dan sudah di katakana budaya orang banjar sebelum Kesultanan Banjar berdiri adalah budaya dan Tradisi pinjaman dari Jawa saja.
Dan seluruh Budaya dan Tradisi masyarakat Banjarmasin hingga sekarang ini selalu berunsur Islam kuat sekali. Dan orang banjar di Kalimantan adalah orang paling kuat dalam memengang teguh warisan nenek moyang nya, Budaya dan Tradisi Islam banjar paling kuat bertahan, dan di mana saja orang banjar ini berdiam di luar Banjar, tidak akan merubah budaya dan tradisi nya, mereka tetap pada tabiat nya, justru biasa nya sebalik nya, orang non banjar bergaul dengan banjar, lambat laun pasti akan sedikit banyak nya terpangaruh budaya banjar ini, dan itu sudah di butikan secara dengan penilitian selama 7 tahun oleh mahasiwa Universitas Lambung Mangkurat dan Avril fans Fender atas perminta Sultan Khairul Saleh. Dan kelompok suku banjar adalah penduduk mayoritas Kalimantan, dan hal ini menurut data badan statistic seluruh provinsi Kalimantan tahun 2013 yang di kumpulkan oleh Avril fans Fender, sebenar nya yang menjadikan mayoritas suku banjar mendominasi Kalimantan, bukan karena jumblah orang banjar itu banyak sekali, tapi ada proses yang di sebut ahli sejarah Kalimantan Revolusi Budaya dan Tradisi, ya itu Dayak berubah jadi melayu Banjar apa bila menganut agama Islam, dan Proses ini mulai berjalan dari berdiri nya Kesultanan Banjarmasin 26 September 1526 M, sampai sekarang ini.
Dan perlu di pahami adalah arti kata suku banjar, dalam padangan moderen dan kono pada masyarakat Kalimantan, pada zaman kono arti kata suku banjar adalah yang di maksutkan suku dayak untuk menamai atau memangil orang melayu yang ada di pesisir sungai barito, dengan nama kampong yang di namai oleh suku dayak Oloh masih, dan arti itu adalah tungal bukan zamak pada zaman kono atau sebelum Kesultanan Banjar berdiri, dan waktu berjalan maksut kata suku banjar itu pun berubah, yang mana pada abad 17-18 suku banjar sudah berate ganda bukan tugal lagi di masyarakat Kalimantan, yang mana untuk menandai orang melayu beragama Islam, bahkan orang melayu Brunai dan Sabah juga sudah di pandang kelompok Jawa dan Dayak adalah orang banjar, singkat nya adalah untuk mengelari orang melayu muslim, yang tidak harus lahir di Banjarmasin, dan proses ini terus berjalan seiring waktu, secara cepat dayak Bakumpai dan dayak Ngaju juga berubah jadi Banjar, dan selalu mengklaim diri bahwa orang banjar, tidak mau lagi mengaku dayak bakumpai jika dayak ini masuk Islam, dan daerah mereka ini adalah Marabahan, dan menurut data yang ada pada tahun 2013, sudah jarang di temukan orang dayak bakumpai dan ngaju menganut agama non Islam, dan bisa di katakana Dayak Bakumpai dan ngaju Muslim kesulurahan kaya orang Aceh dan Minangkabau Sumatera, dan hanya dayak manyan saja lagi yang kelihatan dalam data ada beragama non Islam, dan dayak keharingan di Kalteng saja juga yang terlihat menganut ajaran Kristen yang di bawa pendeta Jerman dari Banjarmasin ke Pedalaman Kalimantan atas dukungan penjajah Belanda, yang ingin mengadu dayak dan melayu tersebut agar hancur kedua nya, atau secara umum hal ini di katakan masyarakat Kalimantan adalah politik pecah belah penjajah Belanda.
Dan arti kata banjar maksut orang dayak adalah arti nya Melayu, yang bergeser menjadi muslim, kata banjar berubah arti dalam proses revolusi budaya dayak, banjar bukan suku lagi melainkan agama, ya itu muslim, jadi pada pase abad 18-19 banjar arti nya muslim bagi dayak, bahkan sampai sekarang ini, jarang sekali orang dayak mengatakan kelompok orang muslim itu adalah kelompok muslim, tapi pasti di katakana mereka kelompok banjar, FPI yang berkonflik dengan Teras Narang, tidak di sebut dayak kelompok Muslim, tapi di katakana mereka kelompok banjar, dan ini kata umum sudah di Kalimantan. Yang pada inti nya dalam ke hidupan moderen di Kalimantan, suku banjar bukan untuk menamai orang lahir di Banjarmasin, tapi untuk memangil orang muslim yang bicara nya tidak memakai dealek tutur dayak, tapi berbahasa melayu dan bahasa Indonesia murni, dan revolusi budaya ini di ketahui berlangsung semasa Orde Baru nya pak Harto, di mana pemerintah Jakarta juga dalam melakukan tugas nya sebagai dinas terkait di daerah, seperti dinas catatan sipil masalah KTP, juga ikut dayak, yang mana jika orang muslim memakai bahasa melayu dan bahasa Indonesia pasti di bulakan nya orang banjar, padahal bukan orang banjar, di ktp nya tertulis lahir di Sambas, namun suku nya yang di tulis bukan suku dayak Okdanum tapi banjar, dan itu juga berdasakan kemaun nya, mereka mengatakan banjar, arti nya muslim Kalimantan dalam paham orang Kalimantan yang kusus nya dayak, jadi anda pembaca yang bukan orang yang tingal di Kalimantan Harus tahu hal ini, dan jadi orang banjar yang mendominasi Kalimantan itu bukan karena orang banjar itu banyak orang nya, namun ini tranpormasi revolusi budaya orang di Kalimantan, dan klaim muslim Kalimantan yang mengatakan diri mereka Banjar, dan muslim dayak jika di lihat sekilas sama sekali tidak dayak, tapi banjar, pakain nya, teologi nya, gaya nya kesukana nya, hobi nya, jenis profesi nya, rumah nya dan atribut nya semua budaya Islam Banjar melayu. Dalam kehidupan moderen 2017 ini di Kalimantan, suku banjar itu adalah eknis multi demesi sudah bukan tungal lagi, orang jawa yang merantau ke Kalimantan, 1 atau 2 bulan menetap, maka pasti sudah akan terpangaruh budaya banjar apa bila orang jawa itu muslim, fanatic atau tidak nya orang jawa tersebut, dan itu berlaku pada suku perantau mana di Kalimantan, kecuali iya di luar wilayah NKRI, Polda Provinsi daerah Kalimantan, dalam mengolongkan tersangka criminal, jika iya muslim dan bicara berbahasa melayu atau Indonesia, pasti di katakana kelompok banjar dan itu umum sudah, dan hal itu tidak membuat suku bajar atau orang asli lahir di Banjarmasin marah, karena hal ini hal umum terjadi, Corak mesjid di Kalimantan juga corak Banjar, makanan tradisi muslim di Kalimantan adalah makanan banjar, semacam soto, itik panggang, Katupat kadangan, wadai untuk, wadai cincin, iwak haruan masak habang dan sebagai nya yang edintik melayu dayak bagian Selatan tersebut, beras dan padi nya juga sama, gaya nya bertani juga, dan itu hal umum, jika anda tidak percaya, coba pergi ke warung kopi, pasti anda akan menemukan menu ini di manapun area Kalimantan. Dan anda jangan salah paham terhadap itu, atau mengangap Kesultanan Banjarmasin melakukan penjajahan dan Islamisasi pada suku dayak Kalimantan, seperti banyak pedandapat yang beredar pada masa Orde Lama, yang mengambarkan mengapa orang di Kalimantan mengklaim diri mereka banjar, karena Kesultanan Banjarmasin dulu berkuasa penuh, dan jika orang banjar muslim akan di perlakukan bagus, sedangkan yang lain akan di perlakukan kasar, jadi agar tidak terjadi tindakan Kesultanan Banjarmasin jadi orang mengaku orang banjar, beragama muslim untuk melindungi mereka, ini adalah suatu klaim sejarah yang tidak benar, dan mengapa 70% orang di Kalimantan memakai bahasa melayu banjar dan Indonesia jika iya muslim, adalah hasil pemaksan bahasa oleh Kesultanan Banjarmasin, itu klaim salah, hal itu sudah kami jelaskan di atas tadi, jadi saya tegaskan lagi yang di maksut orang banjar itu dalam dunia moderen ini adalah untuk menyebut orang muslim berbahasa melayu dan Inodnesia, tanpa melihat latar belakang asal nya dari mana iya lahir, mukin bagi orang jawa baru di Kalimantan arti kata orang melayu merejuk pada orang lahir di Banjarmasin, itu salah.
Dan saya kira anda pembaca sudah paham dengan yang di maksut orang banjar, dan kehidupan multi eknis banjar ini. Dan saya tekankan lagi kebanyakan orang di Kalimantan mengikuti budaya dan tradisi Masyarakat Banjar itu bukan karena budaya dan tradisi nya paling bagus, tapi yang di ambil orang itu adalah unsur Islam nya yang sangat kenal itu, dan perlu di ketahui juga hampir seluruh budaya dan dradisi yang lahir di banjar baik yang kono maupun baru sangat kenral nuansa Islam, dan pergeseran budaya dan tradisi yang terjadi kadang di katakana pengamat banjar hanya pada bungus nya saja, tapi dalam arti nya tetap saja Islam melayu campur dayak. Di tahun 2017 ini atau zaman moderen ini di dunia kerap sekali perang budaya terjadi, yang terutama barat dengan budaya yang unsur Inggris, dan maju teknologi telekomonikasi tidak bisa menghindari hal ini terjadi pada zaman ini, mungkin di timor tengah masih bisa mempertahankan nya, namun lain wilayah banyak yang pudar, contoh nya di Indonesia ini. Budaya dan tradisi Nusantra sudah terlihat dengan nyata terkikis, dari berbagai lini, politik, ekonomi, militer dan social, lihat saja Jakarta dan Pulau Jawa yang sangat terpengaruh hal ini, bahkan Islam nya juga terkikis sedikit, dan moderenisasi yang begitu menghantui para budayawan Jawa saat ini, yang seperti di katakan Oleh Sojewo Tejo di Metro Tv. Namun walau begitu perang Budaya yang bengitu gempar hanya sedikit saja mempergaruhi Banjar dan Aceh, dan di banjar dan Aceh moderenisasi yang terjadi tanpa mengikis Budaya dan tradisi Islam itu, dan justru sebalik nya memajukan kembali Islam sendiri. Dan hal ini sudah di buktikan dengan penelitian oleh tim Avril Fans Fender dari 16 Maret 2015 sampai 1 September 2016 lalu, hampir tidak ada yang berubah di kota Banjarmasin, contoh mudah saja pada bangunan rumah Masyarakat, pada tahun 2017 ini kayu masih menjadi bahan baku utama membuat rumah, di samping semen, meski pemerintah memberlakukan larangan dan penekenan pemakain bahan baku kayu tersebut karena hutan gundul, dan hanya jelas terlihat hanya bangunan kantor pemerintah dan kantor orang pendatang dan Industri lokas saja yang beton, namum Rumah Masyarakat tetap saja kayu, dengan ukiran melayu dayak dengan nuansa Islam kental sekali, meski yang memiliki rumah bukan orang fanatic dengan Islam. Budaya dan tradisi Islam tentang pernikahan juga di banjar tidak terpangaruh, tetap saja sama dengan yang dahulu, Partai politik juga sama, karena tidak mungkin terpilih jika tidak berunsur Islam, makanan nya, dan semua tetap saja, hanya mentode proses pembuatan nya saja yang agag berubah moderen dengan mesin, namun bentuk dan struktur tetap saja. Bukan karena tidak ada rumah makan asing di Banjarmasin, missal sepeti KFC, ada banyak, namun makanan pokok nya masyarakat tidak terpengaruh dengan itu, dan itu dapat di buktikan dengan mudah, lihat saja acara perkawinan dan selamatan orang di banjar, makanan nya sudah pasti ada soto dan masak habang haruan, dan yang lain hanya pelengkap saja, namun pada dasar nya, soto banjar dan masak habang tetap yang utama. Jadi ini membuktikan bahwa budaya dan tradisi masyarakat banjar ini sangat kuat sekali, dan di tambah lagi keberedan Kesultanan Banjarmasin yang menjaga agar tidak keluar jalur nya. Dalam pendidikan moderen di tahun 2017, moderenisasi justru mendorong budaya dan tradisi Islam makin maju saja, dengan bukti nya, di bagun nya Industri pembuatan Al-Qur’an digital, dan bagunan mesjid dan sekolah Islam berbasis teknologi, orang di Facebook dan Twitter di Banjarmasin, setiap kali waktu azan sampai ada yang mengengatkan nya, dan hal paling penting lagi yang terjadi dalam Revolusi Budaya dan Tradisi Islam Banjarmasin tahun 2017, yang belakangan di katakana mahasiwa Universitas Islam Indonesia, atau mereka mengelari nya, Revolusi Islam 3, mengapa demikian, jawaban nya adalah, Moderenisasi mendukung agama Islam memerangi praktik perdukunan, unsur gaip, zimat, dan mitos-mitos yang jelas sudah tidak bisa di pertanggung jawabkan kebenaran nya. Dan maka dari itu tadi di atas sudah di tuliskan bahwa, pengamat Islam banjar mengatakan zaman moderen ini terbalik yang terjadi di masyarakat, yang mana unsur gaip timbul, seharus nya unsur gaip itu sudah berlaku zaman kono. Dan kejadia ini, atau masyarakat banjar terpengaruh hal gaip ini terjadi ketika Belanda mulai menguasai Banjarmasin, atau Istana Kesultanan Banjarmasin 100% di kuasasi Belanda, dan masyarakat para pembesar Istanan melarikan diri kepedalama, dan disini terjadi pergesaran Budaya dan Tradisi Islam Banjar, yang terpengaruh dayak kuat, karena di Kalimantan Secara umum sudah di ketahui, Tiologi masalah kegaipan itu adalah budaya dan tradisi orang dayak, dan pengaruh dayak ini lah yang secara garis besar menghapus unsur Jawa Demak yang ada pada Budaya dan Tradisi Islam Banjar, yang menjadi budaya banjar itu sendiri karena Muslim. Dan kejadian ini terjadi awal Perang Pangeran Antasari dari Muning Rantau, dan paling parah pada Gusti Muhammad Seman, dan yang paling terpengaruh adalah orang Kadangan, Amuntai, dan Rantau, yang bisa menghalakan kajian yang di haramkan Islam, seperti debus dan lain nya, silat-silat orang dayak yang di bungkus dengan bungkus Islam, yang di gunakan untuk menyakinkan prajuri mereka melawan Belanda, dan sekarang hal ini masih terlihat pada pahuluan Banjarmasin 2017. Dan moderenisasi tahun 2017 ini justru memukul mundur itu di masyarakat, yang jelas sangat mengutungkan bagi Islam, dan kesadaran masyarakat, bahwa pendidikan itu penting, dan Kesultanan Banjarmasin menekankan 100% pendidikan agama, dan 100% pendidikan Skuler, yang kedua nya sangat penting, pendidikan Agama untuk moral dan akhirat, dan pendidikan skuler untuk membantu aktivitas manusia dan lain dalam menjalani kesaharian, dan dari Banjarmasin hal ini mengalir cepat sekali ke wilayah Kalimantan, dan ini sebab nya mengapa daerah luar Kalsel ingin bergabung, karena pemerintah Skuler di sana kurang menangani masalah masyarakat, di Tanah Dayak kusus nya Kalteng pendidikan sangat tertingal sekali, meski di kota Palangkaraya terlihat pasiltas pendidikan berdasakan standar, namun tidak mencapai wilayah pedalaman, dan kurang nya peranan masyarakat nya, dan justru sebalik nya, masyarakat lebih banyak menolak, mungkin jika anda pembaca orang Kalimanan, anda tahu maksut kami ini, masyarakat menolak pendidikan tersebut, dan perbedaan pemikiran, sedangkan di Banjarmasin, Moderenisasi yang membatah gaip tersebut jadi senjata muslim untuk menghancurkan kesesatan umat, dan mereka bahu-membahu menyerang semua line kesesatan Islam percaya gaip mitos yang tidak pernah di ajarkan Islam dan Al-Qur’an, teruma di Kadangan, Amuntai, dan Rantau. Penjahat zaman modere di banjar, ingin merampok tidak bicara masalah kajian dalam bahasa banjar untuk menyebut Ilmu hitam macam debus dan yang lain nya, tapi mereka memcari AK-47 Mavrix, Maknum dan senjata api lain nya, dan di Banjar, orang sudah melik Komputer dan Phonsel pintar, Internet hampir menjadi Budaya dalam kesaharian, dan masalah ini sudah sampai jauh ke pelosok pedalaman, di Kadangan jauh di penggunangan meratus, perbatasan Kalsel, atara Kalteng dan Kaltim dayak Muslim sudah mengunakan Phonsel Pintar, dan Komputer, dan dengan dorongan Kesultanan Banjarmasin yang kuat lah untuk membujuk Telkomsel mendirikan menara nya di pengununangan meratus yang sangat jauh tersebut, dan akses pendidikan dari pengunungan Meratus ke Sentral pendidikan Islam Martapura pun menjadi dekat, Al-Qur’an digital, Dayak Muslim di penggunang meratus benar-benar melepaskan budaya mistik tersebut. Dan penelitian Avril fans Fender membuktikan, 75% masyarakat banjar melik computer dan ponshel pintar, maka dari itu Indusatri Japang sangat besar bercongkang di Banjarmasin, dan Islam banyak di kembangkan lewat Teknologi, dakwah dan sebagai nya. banyak di daerah lain Pesantren kurang di mintati, tapi di Martapura Pesantren sangat besar dan mengah sekali, dengan ribuat siswa dari berbagai penjuru Kalimantan, dan yang Jelas, Islam nya budaya dan tradisi nya sangat kuat sekali melekat pada masyarakat banjar, meski di zaman Moderen ini, pengaruh dari luar tidak mampu melunturkan nya, dan justru sebalik nya. 
Namun walau begitu juga, tidak lah semua hal sempurna, dan yang sempurna 100% hanya milik tuhan, karena 2017 ini juga sedikit pergeseran Budaya dan Tradisi Islam Banjarmasin. Hal tersebut adalah kebersamaan dan gotong royong nya masyarakat, karena dampak Taknologi, dan kesibukan persaingan kerja Industri yang kian hari, kian membesar, meski pun pada hari besar Islam selain hari raya, dan bulan Ramadhan, seperti bubur asuara, perkawinan masih rakat mupakat, gotong royong dalam memasak makanan, tapi biasa tenda menyewa saja lagi, dan hanya menungu hari penting Islam saja lagi bisa bersama dan gotong royong, tidak lagi setiap hari layak nya dulu, yang mana orang di banjar semua nya berkeluarga dan sangat akrap sekali, pos atau gardu pasti penuh kalau malam waktu zaman dulu, warung kopi juga penuh tempat orang bicara, dan bicara pasti tidak jauh materi dari teoligi Islam, mafia mabuk di pasar lama dan terminal pal 6, juga hal umum bicara hal teologi Islam tersebut. Namun pada bulan Ramadhan di banjar sangat meriah sekali, hanya sedikit saja yang berubah dari mereka, ya itu bungkus nya saja, atau kadang kala orang kaya banjar mengunakan kentring untuk membukan banyak orang puasa, tidak lagi memasak bersama seperti dulu lagi, dan orang kaya banjar akan membayar orang pada bulan Ramadhan untuk membenahi mesjid dan pasiltas umum lain nya, sholat saja bersama, namun aktivitas bersama orang banjar membayar orang, tapi walau begitu semua budaya dan tradisi Islam banjar pada bulan Ramadhan tidak berkurang sedikit pun, mereka tetap saja libur 1 bulan, paling toko-toko saja lagi yang buka, dan kadang itu pun membayar orang untuk berjualan, dan para petani karet banjar pada bulan Ramadhan moderen juga membayar orang untuk mengurus kebun nya, dan banyak peluang pekerja pada bulan Ramadhan di banjar, dan pihak pemerintah masih tetap tidak berubah, mereka masih mengurangi jam kerja mereka, namun sebetul nya mereka ingin libur, Cuma kata sultan jika libur siapa yang mengurus rakyat, jadi hanya jam kerja mereka di kurangi, begitu juga Industri berkurang aktivitas nya pada bulan Ramadhan, budaya dan tradisi Saur Kesultanan Banjarmasin yang tidak pernah luntur, mereka mengadakan arakan untuk membangunkan orang makan saur, dan berbagi nasi bungkus bersama, dan dulu mereka jalan kaki atau gerobak yang tarik sapi untuk membawa makanan, sekarang mereka memakai mobil dan motor, dan mampu mencapai kawasan yang jauh, bahkan biasa nya mereka ke tepian kota dan masuk desa berbagi makan untuk saur, yang semua dana nya di sokong bangsawan banjar, dan ada sedikit perubaha disini, ya itu waktu berbuka puasa, zaman moderen jasa ketring di gunakan bangsawan banjar untuk mengirim makanan kemana-mana, desa panti asuhan dan lembaga semacam nya, tidak lagi memasak bersama, namun ke untung nya adalah, banyak tempat yang mampu di berikan makanan, sedangkan dulu hanya satu tempat saja, Jasa Ketring siap melakukan nya dengan asal di bayar, hal ini pada bulan Ramadhan bagi bangsawan banjar bukan masalah, mereka mampu membayar nya dengan patukangan. Budaya dan tradisi Kesultanan Banjarmasin pada bulan Rahmadhan yang tidak terkikis waktu, baik dari sitiap malam bulan puasa setelah tarawih pengajian bersama di lakukan, dan harus tamat membaca Al-Qur’an selama 1 bulan, malam Al-Qur’an di turukan atau malam laitul kadar, semua nya meriah, bahkan bergadang nya orang malam bulan Ramadhan ini adalah hal umum di banjar, yang pada inti sangat banyak sekali kegiatan yang di lakukan masyarakat, yang hampir tidak berkesudahan kecuali habis bulan Ramadhan maka aktivitas kembali normal seperti biasa nya. Arakan pawai pada bulan puasa di banjar seperti tidak berkesudahan, dan malam puncak nya adalah malam hari raya dengan takbiran akbar, dan berbagi zakat fitrah dan juga zakat uang, yang di lakukan bersama-sama, mesjid dan sebagai nya. Dakwah agama pada bulan Ramadhan moderen di Banjarmasin 2017 ini, ulama yang ceramah model seperti Dokter Zakir Naik tersebut, unsur Ilmu pengetahuan dan agama di satukan nya oleh mereka, yang sudah pasti yang meminta nya Kesultanan Banjarmasin, ceramah bukan saja mendidik orang secara agama agar bermoral dan berahlak, tapi juga mendidik orang agar tahu Teknologi Saints, model Kecepatan cahaya, dan banyak teori lain nya di bawa dalam Ceramah, hingga pembatah Darwinesme, dan sangat mengnegelamkan sekali masalah gaip, dan penyekutuan tuhan dan sebagai nya, menekankan berjuang, berusaha dan berdoa jika ingi kaya dan sukses, dakwah moderen ini juga menbuat perhatian di kalangan muda, yang mana mereka mulai tertarik, dan model bungkus-bukus muda tema ceramah yang begitu bagus nya di rancang, dan ini jawaban nya pesantren di banjar tidak pernah mati, karena Budaya Islam masyarakat yang kuat, dan juga tidak menolak unsur ilmu pengetahuan, dan menjadi kelompok masyarakat yang terbuka atas kelompok lain, contoh terbuka dengan kelompok Jawa, lihat saja dayak, bisa kah mereka berkawan dengan Jawa, kadang bisa ada cekcok berujung perkelahian, apa lagi Madura, yang jelas hal berlwanan mengenai mistik, dan selalu tidak jauh dengan masalah mistik gaip tersebut, sedangkan jawa orang moderen.
Pada bulan puasa juga tradisi Kesultanan Banjarmasin yang tidak luntur di Zaman moderen ini adalah, pengadan pembelajaran tambahan bagi anak-anak dan pemuda, baik pelajaran agama maupun ilmu pengetahuan, biasa hal ini di lakukan pada waktu sore hari menyelang berbuka puasa, dan setelah berbuka puasa bersama, shalat berjamah, dan istruhat menunggu sholat Isa dan Tarawih. Kadang juga budaya belajar tambahan ini bisa di mulai dari siang hari, untuk mengisi waktu agar pemuda dan anak-anak tidak keluyuran selagi menjalankan Ibadah puasa nya. Larangan berdagang makanan juga masih berlaku, pemerintah akan membuka pasar Ramadhan di pusat-pusat daerah yang menjual bermacam-macam makanan Budaya dan Tradisi Islam banjar, di tambah juga dengan makanan moderen biasa nya, namun tetap pada dasar, makanan khas banjar yang di suguhkan pedagang, dan kadang makanan ini hanya di buat untuk bulan puasa saja, dan di lain hari tidak lagi, seperti wadai basumap, bingka kantang, bingka tapai, bingka barandam, amparat tatak, wadai lapis dan banyak lagi, maka dari para ahli sejarah makanan tradisional jawa mengatakan hal ini atau menamai nya dengan makanan musiman saja, karena hanya ada pada bulan puasa, dan ini alasan mengapa pasar Ramadhan selalu ramai, karena orang sudah menunggu ini salama 1 tahun penuh, bahkan banyak wisatawan datang hanya untuk memakan musiman ini, dan jelas nya, anda tidak akan menemukan makanan ini selain bulan puasa, kecuali anda membuat sendiri, dan membuat nya bukan hal gampang, butuh proses panjang sekali dan tenaga, maka nya kadang juga susah mencari bahan baku nya, karena bahan baku nya juga bisa di dapat dari panen 1 tahun sekali ya itu bulan puasa, ini lah unik nya, yang tidak ada di wilayah lain, dan kebanyakan bahan pembuatan nya, hanya bisa di dapat di hulu Banjar, seperti Kadangan, Amuntai, dan Barabai. Makanan Khas ini juga bukan makanan yang berkelas pada zaman kono, missal nya makanan ini hanya di makan para raja saja, tapi orang semua memakan nya, tidak peduli kaya atau miskin status nya, dan jelas dalam hikayat banjar, Kesultanan Banjar malah membagi makanan ini pada bulan puasa saat itu. Bukan hanya itu saja lagi budaya dan tradisi islam banjar ini yang masih untuh, tapi budaya dan tradisi Islam dalam permainan hiburan juga, dan di mainkan tua muda, seperti membuat laduman paring (petasan) yang di bunyikan biasa malam hari, dan juga untuk arakan saur juga di gunakan biasa nya, dan di tambah dengan audio moderen dalam arakan ini, tanglung dan sebagai, yang sampai detik ini masih di lakukan orang, namun menurut Prof Liang Liji ahli sejarah Cina, budaya ini adalah modepikasi Kesultanan Banjarmasin kono, yang mana budaya ini biasa orang Cina melakukan permainan petasan di hari besar mereka, tapi kata Prof Liang Liji, Modipikasi Kesultanan Banjarmasin ini tidak lagi ini di angap Budaya Cina tapi banjar itu sendiri. Dan Budaya lain nya juga adalah budaya meletakan obor di depan rumah malam bulan puasa pada hari 17 malam puasa, dan pemandangan umum sudah orang bergadang pada mala mini sampai malam 21 Ramadhan, anak-anak ikut bergadang juga hal umum di Banjar pada waktu ini.

Gambar Pasar Rahmadhan di Banjarmasin tahun 2017

Dan budaya dan tradisi lain nya juga adalah yang masih di lakukan orang di bulan Puasa ini di Banjarmasin, namun kebanyakan pihak penyelegara budaya ini adalah anak muda, Budaya tersebut adalah music dan Teater yang di adakan di lapangan terbukan, bahkan di pasar Ramadhan, yang pungsi nya adalah juga adalah agar orang tertarik pasar wadai itu, dan juga menghibur orang banyak, yang biasa di lakukabn dari Jam 2 siang, Istrihat pada Sholat Asar dan lanjut sampai Jam 5 sore, ada jua kadang di mulai langsung habis Sholat Asar, music ini juga bertujuan untuk mengbulkan dana sumbangan untuk membenahi pasilatas umum, dan bantuan untuk kaum miskin, kadang ada lelang wadai juga, yang semua uang nya untuk di sumbangan bagi kepentingan umum bersama, dan zaman moderen music sudah memakai Instromen gitar listrik dan drum, kadang lagu nya tidak meski bertema agama, namun juga music Pop dan Rock pada zaman ini, yang di mulai pergesaran budaya ini di mulai tahun 2005 lalu, yang penting music nya sopan dan bermolar, begitu juga Fashion nya, namun kadang ada juga kelompok Band Rock Radikal, yang biasa pelaku nya adalah gerombolan Anak Punk tersebut, yang membawa lagu keras dan menyinggung pemerintah dan Politik, tapi juga tujuan yang di anakan sama, mengalang dana, dan sama sekali tidak larang music ini, namun juga tempat di area tersendiri oleh Kelompok, seperti dalam goor dan lain nya, Polisi ikut bekerjasama dalam hal ini, polisi duduk mengawasi nya, jadi kadang orang pendatang di Banjar kaget melihat aksi ini, namun nanti akan terbiasa, dan saya tegaskan lagi pada anda, Masyarakat Banjar adalaj orang yang mencintai Islam, namun mereka bukan lah orang fanatic, dalam mengamalkan ajaran Islam itu, namun juga mereka ini semua nya siap membela Islam ini sampai mati jika di perlukan, tidak ada kelompok muslim di Kalimantan, yang ikut Ke Palestina mengirim bantuan kecualia Pihak Banjar dan Aceh, melalui Iran dan Turky, orang Turky di banjar adalah umum, dan tidak di angap turis atau pendatang, begitu juga Arab, Iran, dan juga Palestinan, Kampung Arab tersendiri juga ada kampong Turky dan Iran juga ada tersendiri juga, belum ada di temuai mereka ini memilik visa tingal, dan ini berlangsung dari zaman Kesultanan Banjarmasin berdiri, yang mula nya kelompok ini adalah pedagang, orang Turky Ottoman juga punya jasa untuk Kesultanan Banjarmasin, ya itu bantuan persenjatan dan latihan militer, dan maka nya ada nama wilayah bagian Martapura bernama Istambul.

Gambar Konser Musik Rock di Pasar Wadai Banjarmasin

Pada bulan puasa, kebanyakan orang pendatang di banjar mengira ada peraturan busanan di tegakan, baik pada laki-laki dan kusus nya Perempuan harus berhijap, namun nyata nya tidak ada, orang bebas saja di banjar, yang penting sopan dan bermoral, bahkan kadang perempuan berdandan ala Rocker Avril Lavigne di bulan puasa juga biasa di banjar, perempuan ala Avril Lavigne pergi ke Mesjid untuk Tarawih juga biasa, jadi tidak ada batasan di Banjar, selama itu masuk akan, dan bermoral. Budaya dan Tradisi Islam ala kesultanan Banjar, juga di bulan Puasa ini ada nya masih lomba jukung di sungai, yang mana ini juga mengalang sumbangan untuk kaum miskin dan perbaikan mesjid, dan banyak lagi tambahan Budaya dan Tradisi baru yang di lahirkan orang banjar dan pemuda dalam mengisi bulan puasa, yang semua tujuan kadang hampir semua pengalangan dana, bahkan lain wilayah lain cara nya, namun tujuan sama.
Gubernor Jendral Belanda Andresen yang di kirim residen Batavia, 1896 M untuk perang melawan Muhammad Seman anak Pangeran Antarasi di Banjar, mengatakan, belum ada di mana pun kami menemukan masyarakat Islam macam ini, kecuali hanya di Aceh dan Banjar orang Muslim ini, orang barat yang datang baik untuk berdagang dan sebagai nya bingung melihat hal ini pada bulan puasa atau tidak, mereka Banjar orang Muslim yang tidak fanatic dengan ajaran agama Islam itu, mereka juga banyak mengabaikan kewajiban sebagai muslim seperti Shalat 5 Waktu, namun aneh nya mereka akan membela Islam itu sampai titik darah penghabisan, dan jangan mengejek agama Islam di hadapat kelompok banjar, karena sudah pasti berurusan dengan mereka, parah mereka berani mati, jadi ini Aneh, bahkan orang, muslim yang fanatic dalam ajaran Islam dan tidak tertinggal sholat 5 waktu nya pun tempat lain tidak terlalu berani melakukan apa yang kelompok Aceh dan Banjar lakukan tersebut, bahkan Perang yang terjadi antara kami bisa di katakana perang Sabil oleh Pangeran Antasari, Temengung Surapati, Dheman Lehmhan, Temnengun Antaludin, Haji Buyasin, Sultan Mangkabumi Hidayat Tulah, Sultan Kuning, Aling Tambai Makah, Penghulu Rahsit, Wangkang, Ali Akbar, Muhammad Noor Mabu’un Tabalong, Hasan Basri, Ratu Jaleha, Gusti Muhammad Saman, Panglima Batur, dan banyak tokoh lain nya, menerikan Allah Huakbar di medan Perang, kalimat Sahadat, dan ayat Suci Al-Qur’an, dan umum kelompok Banjar mengelari orang barat adalah Kafir, mereka menyebut semua orang barat Kafir, darah nya halal, dan semboyan nya Melayu Menang Islam jaya, Pangeran Antasari dan Temengung Surapati dengan Semboyan Haram manyarah waja sampai ke punting, ini Aneh kata Andrensen. Namun apa pun tangapan orang, mau bagai mana lagi, kalau memang demikian kejadian nya, dan berlangsung hingga sekarang ini 2017.
Tidak bermasksut mengulang kalimat, namun di Banjar dan tutorial nya, tidak ada orang kelaparan pada hari raya Idul Fitri, semua orang berbagi makanan, setelah sholat orang berkumpul baik di mesjid, rumah keluar, tempat umum, dan saling bersalam-salaman minta maaf dan sebagai, dan berpelukan, tidak ada lagi beda nya kaya atau miskin, dan setelah mereka pergi berzarah ke makam orang tua nya, suadara, kerabat, teman sahabat, pahlawan, ulama Gusti dan Sebagai nya, dan hari raya ini resmi biasa belaku 4 haro atau 5 hari bagi yang normal nya, sedangkan yang lain biasa 7 hari pasti, namun untuk terjadi aktivitas normal nya biasa nya 2 minnggu, yang di peratauan kebali ke rantau nya masing-masing, toko dan lain buka seperti biasa, sekolah dan kantor pemerintah.
Dan hari raya Idul Adha atau di kenal hari raya korban di Banjar, juga masih memakai Budaya nya buatan Kesultanan Banjarmasin yang di moderenkan mereka, yang mana bangsawan dan pemerintah sama mendanai membeli sapi korban, Organisasi, Partai Politik, sampai dengan Industri juga ikut membeli sapi untuk di sumbangkan, dan ada juga yang mengalang Arisan, yang di kumpulkan uang selama 1 tahun untuk kelompok Ekonomi masyarakat Kelas menengah agar juga dapat membeli sapi tersebut, dan rupa-rupa cara nya mereka agar dapat membeli sapi itu, mengalang dana, konser music dan lain nya, dan sangat perlu di hargai untuk masyarakat kelas ekonomi menenagah ini usaha untuk membeli sapi atau naik haji, mengunakan cara arisan, yang setiap tahun nya kena bisa 2 atau 4 orang, dean jelas jika tidak melakukan arisan ini kelompok ini tidak bisa membeli sapi dan naik haji sudah, sebenar Islam tidak menujuk kelompok ini melakukan nya, namun Islam menunjung bangsawan dan pemerintah untuk melakukan, Bank-Bank Swasta atau BUMN juga ikut dalam pemodalan ini. Maka nya di seluruh Totorial banjar serentak melakukan nya, tidak ada satu kampong pun tidak melakukan ini, semua daging nya di bagikan kepada orang miskin, bahkan di penjara pun melakukan ini, dan sampai 1 minggu penuh para napi makan daging.
Dan itulah sudah masyarakat Banjar, dari zaman kono hingga sekarang ini masih kuat budaya dan Trdisi nya ini, dan tak terpengaruh banyak dengan hal ini, apa lagi saat ini 2017, pendidikan di Banjar mendidik mereka agar menjaga budaya dan tradisi ini. Dan budaya dan tradisi banjar yang kami tulis ini adalah budaya dan tradisi Banjar yang umum sudah di kataui banyak orang, baik di Kalimantan atau luar Daerah, dan ini juga hasil penelusuran 7 tahun lama nya, masih banyak lagi budaya dan Tradisi yang tidak resmi yang belum tercantung dalam tulisan ini, maksut saya tidak resmi bukan budaya dan tradisi banjar yang berlawanan dengan Islam itu sendiri, tapi budaya masyarakat banjar hulu sendiri, yang bukan buatan Kesultanan Banjarmasin, arti nya di kembangan daerah itu sendiri, seprti di benua 6 dan bagian dari Kalteng, dan belum termasuk budaya dan tradisi banjar yang hilang pudan, di pingirkan dengan banyak alasan pun belum tercantukan dalam tulisan ini, jadi perlu di katahui, ada juga budaya dan tradisi banjar yang hilang, pudar, atau di angap bertentangan dengan moral litas Islam itu sendiri, dan dalam hikayat Banjar sangat banyak sekali macam budaya dan tradisi yang belum bisa kami kaji dan pelajaran, dan kapan itu mulai di rilis, dan kapan itu di hilangkan dari masyarakat, dan kebanyakn budaya dan tradisi yang tidak di lakukan biasa, budaya tersebut terpengaruh dayak dengan mistik nya, atau secara kasar nya, cerita Donggeng, mitos, mitologi dan lain nya, ada pun pengaruh mistik Jawa jua, dan pada 2017 ini juga Kesultanan Banjarmasin melakukan penghapusan Budaya dan Tradisi mengenai Juriat, karena bertetangan dengan ajaran Islam, yang mana orang percaya para raja Banjar itu tidak benar-benar mati, melaikan hanya pindah alam saja, dan kadang bisa datang memantu mereka dalam kesusahan, dan kadang bisa memberikan sebuah kelompok mandat, yang mana Budaya ini bisa mendatangkan pemberontakan di masyarakat, sebab jika ada kelompok yang merasa kurang puas dengan pemimpin nya, maka dalil mandat para raja banjar kono di gunakan untuk provokasi, contoh nya adalah, seseorang akan mengaku di datangi misalnya Sultan Suriansyah raja banjar itu baik dengan cara bermimpi atau cara tanpa sengaja di daerah keramat, dan memberikan nya mandate untuk mengembang misi, dan Mandat ini mengagap kelompok harus melakukan pembersihan dengan cara perang atau konflik, kadang segel-segel raja banjar di ambil untuk sebuah bukti mandat pada banyak orang, dan Budaya ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam, dan menyekutukan Tuhan sudah, mengangap orang yang sudah mati kembali lagi ke dunia, atau bisa juga mengangap pasukan Dhemang Lhemhan akan membantu berperang, dan kebiasan ini biasa nya yang banyak terdapat pada kelompok Dayak, baik yang muslim, dan juga lebih parah lagi Non Muslim, dalam Budaya dayak Juriat ini di namai Mayau, perburuan Kepala, atau permintan atau pemberian mandate dari pemimpin mereka yang sudah lama meninggal dunia, budaya ini exstrim sekali, dan biadap, pembunuhan keji terjadi tanpa pandang bulu, seolah semua bukan lagi manusia, tapi Iblis dan binatang semua nya. Dan beberapa budaya dan tradisi banjar yang di hilangkan juga adala Budaya pemujan senjata pusaka seperti Kris, Tombak dan lain, dan ini biasa kelompok Yang melakukan dalam hal umum adalah kelompok Jawa, kelompok banjar meniru nya juga, Budaya ini bertentangan dengan Islam, karena penyekutuan Tuhan secara terang-terangan. Dan pada tahun 2017 ini Kesultanan Banjarmasin dengan focus sekali untuk menghentikan budaya dan tradisi banjar yang memuja kuburan, seperti kuburan Arsad Al- Banjari, Nafis, Datu Sangul dan para raja Banjar tersebut, yang jelas tanpak sekali di Palampain, Tapin dan Tabalong Amuntai, ini adalah penyekutuan tuhan secara terang-terangan, sebenar nya Kesultanan Banjarmasin ingin menindak nya dengan tegas, namun mereka berunding dulu dengan para pembesar masyarakat dan Pemerintah Jakarta, dan kusus nya depertemen Agama, dan tidak akan bertidak keras, karena bisa terjadi pemberontkan nanti nya, jadi ini perlu di pahami, dan ini hanya sebagain dari budaya dan tradisi yang di angap kesultanan Banjarmasin yang menyimpang, dan ini yang harus di tanggani terlibeh dahulu, dan masih ada juga budaya dan tradisi banjar yang menyimpang tidak tercantung dalam tulisan ini, karena sebelum penulisan di lakukan kami harus dengan cermat mempelajari agar tidak terjadi salah paham dan fitnah berujung petaka besar.
Dan perlu di ketahui juga hasil sutvei dinas sipil banjar dan statistic, dalam penrlitian dari tahun 2002 lalu sampai 2015 lalu, membulatkan data mutlak, bahwa tidak ada orang banjar asli atau yang lahir di banjar asli menganut agama non Islam, dan jelas nya orang Pribumi Banjar dan hulu sungai adalah muslim semua nya, termasuk juga dayak bakumpai di Marabahan, dan hanya orang pendatang saja di banjar yang menganut agama Katolik, Kristen, dan lain nya, dan Dayak manyan dan Keharingan biasa nya yang mengnut Kristen dan katolek. Dan bukan tidak ada gereja di Banjar, Gereja ada namun kadang jauh dari Istanan Banjar dan Martapura, dan kuburan pihak Kristen juga ada di Banjarbaru, dan kelompok Jawa atau orang luar Kalimantan saja yang beragama Kristen, Batak atau orang dari Sulawesi, kadang Gereja di Banjar hanya di pandang orang bahwa symbol agar orang tidak mengangap Kesultanan Banjarmasin anti non Islam, namun apa pun terjadi demikian lah yang terjadi, dan begitu juga orang yang berada di daerah DAS, Sungai Barito hulu Kalteng, masyarakat Muslim, dan sangat banjar sekali, dan hanya dayak manyan saja yang Bergama Kristen, namun dalam catatan Statistik daerah DAS, dayak Manyan pun juga banyak muslim nya dari pada Kristen, dan dari 100% kelompok Manyan hanya ada 20 % yang menganut Kristen, 30 % agama nenek moyang/anenisme, dan sisa nya muslim, dan dari untuk seluruh Pulau Kalimantan dari 2002 sampai 2015, masyarakat Kalimantan 80% muslim, dan mayoritas nya di golongkan kelompok banjar baik oleh pemerintah daerah atau pemerintah Pusat, bahkan sampai Serawak Malasyia, Brunai dan Sabah Federasi Malasyia, Mayoritas Muslim perbatasan ini di golongkan kelompok Banjar, dan kami sudah menjekesakan di atas tadi yang di masksut kelompok banjar di Kalimantan, ya itu Melayu Muslim, atau orang tidak bicara dengan tutur dialek Jawa dan dayak, dan tidak harus lahir di banjar atau Kalsel.
Kesimpulan nya, hampir semua daerah Kalimantan ini, orang Muslim mengunakan Budaya dan Tradisi Kesultanan Banjarmasin, baik dari bangunan mesjid nya, Rumah nya, dan perlu di ketahui juga, rumah adat banjar sebenar banyak bentuk nya di masyarakat, bukan saja Rumah bubungan tinggi Rumah Adat Banjar tersebut, dan Rumah Bubungan Tinggi itu hanya di jadikan pemerintah symbol untuk mewakili rumah orang muslim banjar, dan bertepatan juga Rumah Bubungan Tinggi adalah rumah nya para raja dan bangsawan, dan di masyarakat banyak versi nya, dan cirri utama nya adalah bagunan rumah Kayu, ukiran Melayu dayak kental Islam, untuk semua rumah orang banjar, jarang rumah kelompok banjar ini Benton, dan Rumah orang di pesisir sungai adalah Rumah adat Banjar, begitu juga batang atau pelbuhan kecil di sungai untuk tambatan jukung, dan di seluruh kampong atau mukim kelompok Banjar di daerah lain cirri nya pasti ada sebuah Mesjid, di mana kelompok ini tinggal pasti membangun mesjid, atau setidak nya langgar atau surau untuk shalat, dan yang membangun tidak meski orang fanatic, kelompok banjar tidak peduli, meski di tanah bukan totoriol Islam, pasti akan membangun Mesjid, ini cirri banjar atau Aceh.
Masyarakat banjar, baik di luar banjar atau di dalam banjar sendiri sebenar nya tidak menolak budaya dan tradisi mana pun, contoh nya barat, atau tidak menolak kelompok mana pun yang datang ke banjar atau tutorial mereka, asal kan bermoral, dan budaya dan tradisi orang juga banyak dipakai di banjar, terlibeh barat dengan music nya, kelompok banjar akan memakai budaya orang atau mimijam nya jika budaya tersebut tidak terpengaruh unsur agama non Islam, atau budaya dan tradisi masyarakat biasa layak yang non agama, kelompok banjar akan menolak budaya dan tradisi luar mana saja yang masuk wilayah mereka apa bila budaya dan tradisi itu terpengaruh agama. Dan kelompok banjar ini sangat kuat sekali dengan Budaya dan Trdisi Islam nya, dan tidak di harus orang yang lahir di banjar, atau dalam kawasan banjar, dayak muslim di luar banjar juga sangat kuat memengan budaya dan tradisi Islam banjar, dan kelompok orang muslim mana pun yang sudah terpengaruh budaya dan tradisi banjar, jarang sekali bisa melepaskan nya, orang jawa yang sudah terpengaruh budaya Banjar, 80% tidak akan bisa lagi lepas dari nya, meski mereka pulang ke Jawa, dan kadang memilih menetap di Kalimantan saja lagi engan pulang, karena sudah terbiasa hidup dengan kelompok banjar ini, bahasa jawa akan luntur, budaya jawa akan luntur sepenuh nya, dan bagi kalangan sumatera pun begitu juga, namun Sumatera dan Banjar tidak jauh berbeda melayu Islam nya, kecualai batak saja, dan semua hal ini dapat di buktikan, dan kami sudah meneliti nya selama 7 tahun lama nya, dan begitu kuat nya Budaya dan Trdisi Banjar ini. Dan masalah Kelompok Muslim di hulu sungai Barito atau daerah DAS, yang ingin mengabungkan daerah nya dengan Kesultanan Banjarmasin tauh 2017 ini belum menemukan jalan keluar nya, ada pun mereka ingin membentuk Provinsi baru, seperti yang terjadi di Kalimantan Timor, Kelompok Muslim Sulu dan Kutai ingin keluar dari tototial Kaltim, dan membentuk Provinsi Kalimantan Utara, wialayah ini termasuk Tarakan, dan hal ini di kabulkan pemerintah Jakarta, karena juga pemerintah Kaltim tidak bisa menangani daerah mereka yang terlalu luas, begitu juga Kalteng, karena wialayah yang teralu luas pemerintah tidak bisa mengelola nya daerah dengan benar dan adil, dan hal ini terjadi do daerah DAS, Pemerintah Jakarta dan Kesultanan Banjarmasin bisa mengabulkan nya, namum mereka memikirkan akibat nya, bisa bentrok dengan pemerintah Kalteng nanti nya, maka dari usulan pembentukan Provinsi baru pun di adakan dalam perudingan bersama, dan sampai sekarang ini Jokowi, DPR, dan MPR Jakarta masih mengadakan perudingan, dan belum ada tanda-tanda masalah ini akan selesai dengan cepat, dan Kelompok Muslil Dayak DAS, sudah menujuk kota yang akan di jadikan ibu kota Provinsi baru, ya itu Muara Teweh. Dan begitulah yang terjadi di masyarakat Kalimantan 2017 ini, dan bukan bermaksut untuk mengakukan atau membuat propaganda, atau terlalu banga Tapi Banjarmasin dari 26 September 1526 M sampai 2017 ini masih memainkan peranan penting untuk daerah Kalimantan, Kusus nya Perdagang, Industri, Pendidikan, Agama, Budaya dan Trdisi, Perdagangan Internasional, Kebijakan Pemerintah Jakarta, Konflik, daerah Acuan, Pertanian, Perikakanan, Ternak Intik, Sawah, Karet, Tambang Minyak dan Batu bara PT Adaro, Serta Teater. Hiburan, komendi Musik Dangdut Melayu, Rock, Alternativ Rock, Punk Metal, dan satu-satu nya Industri music paling besar di Kalimantan hanya ada di Banjarmasin, penyewaan panggung music, Promotor music Internasinal dan Lokal, Pembuatan Film, Video Clip, band Go Jakarta Banjarmasin, Raja, MR X, Remot Control Album Arogansi, Avril Fans Fender Band Rock Endergrons, Likin Park Fans Petronas Malasyia, Inter Mezo. Punk Metal Tabalong, Fender Telecaster Pembuatan Gitar Industri, Ottoman 1453 Fetih Rock Band, Relegion Band Banjarbaru, Amuntai Rock, Borneo Metal, Dayak Of Rock, Melayu Rock Band, Aceh Band, GMA Band, Pawer Metal. Cacan, Jujun Tralala, Ola Ramlan, dan banyak lagi Industri hiburan banjar, miski ini wilayah Islam, diskotik besar, HBI, Hotel Internasional Banjarmasin, olahraga nya, Barito Putra, Rece, Trail, Reli, Industri Fashion nya, Industri Teknologi nya, Percetakan dan Media TV nya, Duta TV, Banjar TV, Amuntai TV, Tabalong tv, Barabai TV, Kadangan TV, Tatakan Tapin TV, Kota Baru TV, Batu Locin TV, TVRI Banjarmasin, Kijang TV, Kanada TV, dan Aceh TV. Koran Banjarmasin Pos, Radar Banjar, Mentro Banjar, Metro Tabalong, dan juga Perpustakan Terlengkap kajian sejarah Kalimantan, Musium Terlengkap Kalimantan, Pembuatan Kurikulum pendidikan Islam, Tentara persenjata terlengkap, baik udara, laut dan darat, pembuatan Mubel terbesar Kalimantan, tambang Permata Tersebesar. Dan selangkah lebih maju mengenai Teknologi dan pendidikan Kalimantan. Jadi itu lah mengenai Banjarmasin dan Kalimantan untuk sekarang ini, dan kami masih mengumpulkan data untuk penulisan selanjut nya. 

Dan mungkin sekian dulu imformasi yang saya bisa berikan pada anda para pembaca. Dan kita bertemu lagi di lain epesodi tulisa saya yang baru nanti.
Terima kasih telah membaca nya semoga berguna untuk anda.
Mohon maaf bila ada kekeliruan dalam tulisan saya di atas.

FROG GOZILLA
Ketua Organisasi Alternativ Rock Numetal Comnty Tato88 Tanjung Tabalong yang bergerak memajukan pendidikan di Banjarmasin Aceh dan Indonesia.
Organisasi ini juga sangat aktiv di industri musik Rock Endergrond,
Dan berjuang untuk membangun perintahan ustmaniyah yang baru, 

Simbol Organisasi

Avril Lavigne