Translate

Minggu, 23 Agustus 2015

AGAMA DAN KEKERASAN



WELCOME BLOGGER FROG GOZILLA
Terima kasih pada anda para pembaca yang sudah mau meluangkan waktu berharga anda hanya untuk membaca tulisan saya.


AGAMA DAN KEKERASAN


Walaupun tidak ada agama yang mengajarkan
 kekerasan konflik, dan penguasan terhadap mereka yang berbeda secara pakasa, sebagaimana terlihat dari kehidupan manusia, namum kita juga tidak bisa meneutup mata melihat kenyataan bahwa agama sering dikesankan  dengan wajah kekerasan. Ketelibatan agama sebagai pemicu terjadinya konlik tentu saja menimbulkan tanda tanya besar. Sebab di turunkannya agama  ke muka bumi justru membawa pesan ketuhanan dan kemanusaian  yang sama, meskipun jenis agamanya berbeda. Salah satu pesan dasar ini tampaknya  belum menjadi rujukan koliktif semua pemeluk agama karena kompleksitas persolalan teplogis historis dan sosiologis yang melekat pada semua pemeluk agama. Jika demikianm, dimana akar persolannya.
Memang tidak mudah untuk memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Tetapi kita isa meninjaunya dari berbagai sudut padang. Salah satunya sudut padang sejarah. Ditinjau dari sisi sejarah hubungan antaragama tidak selama nya diwarnai oleh hubungan yang harmonis. Konflik antaragama dan keyakinan menjadi sisi kelam sejarah  yang tidak bisa di hapus begitu saja. Fakta historis ini sedikit banyak  mempengaruhi memori dan kesadaran kolektif generasi berikutnya. Padahal konflik berkerpanjanagan ini justru merugikan martabat agama  dan kemanusian itu sendiri.
Tentu bukan hal mudah untuk mengurai persolan ini.
Meminjampenjelaswan Cherles Inggris. kita tidak isa serta-merta menuduh agama  sebagai biang masalah. Bagi ku jawaban atas persoalan ini sangat di pengaruhi oleh bagaimana orang memahami hakikat agama itu sendiri, Agama harus dipahami dalam konteks relasinya dengan kehidupan nyaris berbasis realitas,.
Agama adalah kekuatan penting agi kehidupan manusia. Karena itulah agama justru harus ditempatkan secara proporsional dalam konteksnya. Selaras dengan pendapat Haris Pasha yang mengatakan bahwa agama bukanlah pulau dalam dirinya religion is an island, Pasha menegaskan bahwa sekarang agama harus dipahami dan ditafsirkan dalam konteks pruralimes gloal Kenyataan plural dunia inilah yang harus dijadikan sebagai titik tolak dalam memahami possi agama dewasa ini.
Adaya berbagai bencana dan tragedi kemanusaian yang melibatkan agama tidak lain sebagai akibat dari terjadinnya pembusukan dan pengorupsian agama. Setidaknya terdapa beberapa tanda proses  pemubusakan dan pengorupsian agama. Pertama klaim keenaran. Adanya klaim ini pada giliranya mendegradasi pemahaman itu tehadap ke seggala maha tuahan. Biasanya hal ini deseakan karena pemeluk agama menyakini bahwa kita suci mereka memang mengajarkan kebenaran tungal. Penafsiaran ini kita suci, dengan demikian memegan peranan penting dalam  mewwarnai sikap umat beragama
Ketaatan buta terhadap pemimpin agama. Muncul nya gerakan-gerakan keagamaan radikal, sperti People Temple, David Koresh, dan sejinis nya merupakan bentuk ketaantan buta terhadap pemimpin agama. Maka, pola keberegaman yang dikembangkan pun juga membabi buta dengan dimensi ffanasme yang berlibihan.
Gerkana dengan model ini oleh saya dikatagorikan sebagai New religion cult yang menolak dunia. New religion jenid ini memadang tatanan sosial yang berlaku telah menyimbang secara substansial dari rencana dan ketentuan tuhan. Manusia telah kehilangan sentuhan nya dengan tuhan. Manusia bersifat spiritual mereka hanya mengejar materi belaka sehinga memnyebabkan terjadinya perusakan dan polusi lingkungan masyarakat ditunggangi nilai-nilai buruk yaitu individu-idividu yang saling memperalat dan dunia akhirnya dipenuhi kerakusan konflik keculasan dan keputusaasan. Angota cult ini tidak mengejar kepentingan individu dan sebaliknya mengadikan diri kepada nabi atau guru yang diyakini akan menyelamatkan mereka.
Upaya-upaya membangun zaman ideal. Dalam hal ini, Saya menegaskan  bahwa jika visi agama tentang zaman ideal itu diwujutkan dan para pemeluk nya menyakini nya sebagai kehendak tuhan sendiri maka agama sebenarnya telak terkorup dan karenanya jahat,. Di Afganistan kita bisa melihat bagaimana rezim taliban berbuat kekejaman terhadap warga nya sendiri deangan dalih ketaatan terhadap syariat Islam.
Tujuan menghalakan segala cara,. Tanda ini biasanya terjadi pada komponen-komponen agama, baik yan berkaitan dengan identitas maupun intitusi agama.
Penjelasan saya menarak jika gunakan untuk merefleksikan realitas keberaaman masyrakat Indonesia.
Pengalaman keberagaman masyrakat Indonesia beberapa tahun  terkhir ini menujukan kan etapa pemahaman agama masyrakat yang esklusif, rigid, antu-dialog, dan sarat dengan nafsu penguasan terhadap yang lain, menjadi salah satu pemincu lahirnya konflik. Agama yang seharus nya menjadi perekat soial nyata nya malah terperngkap  dalam konflik. Dalam kontesk mikro sebenarnya agama dapat di perankan secara positif konstruktif dalam mempertahankan dan sekaligus mengembangkan keutuhan bangsa indonesia yang ditandai denan keaneka ragaman dan kemajemukan \. Sayang nya aspek ini kurang memperoleh perhatian dan tidak di kembangkan secara sistematis.
Dalam telaah filsafat dan sosialogis konlik sebenarnya merupakan  sesuatu yang wajar seiring dengan dinamika perkembangan  dan kehidupan manusia. Namun harus dipahami bahwa konfflik tidak selamanya neati dan bersifat destruktif. Sebab dalam batas-batas tertentu konflik memiliki manaat juga. Tetapi tentu bukan konflik yangg sudah mengarah pada tindakan yang destruktif. Konflik dalam tingkatan wacana misalnya, dapat direkonstruksi untuk membangun dialog yang menumbuhkan pemahaman dan kesadaran secara bersama-sama.
Dalam kaitannya dengan konflik bernuasa agama, ada aspek lain dalam faktor pendorong yaitu distorsi epistemologi dalam menangkap absolutime agama yang bukan mendorongg ke-ilahi an pemeluknya tetapi sebenarnya justru mengarahkan kepada ekstrimis mentah-mentah yang dapat menubuhsuburkan eksklusivisme.
Absolutisme terutama yangg berbentuk realitas mutlak atau kebenaran tinggi The Ultimate Reality, adalah kebutuhan alami manusia seagai makluk yang serba relatif.
Dengan kerelatifan itu nalar rasinoal manusia acap kali gagal memberikan jawaban yang memuaskan jika dihadakan pada persoalan eksistensi dan persoalan fundametal yang bersumber dari keberadan dirinya dalam realitas kosmik, seperti tentrang onologisme manusia berseta proses teologi  manusia dalam mengarungi kesemestaan kehidupan ini. Bukti kegagalan nalar manusia itu dapat dilihat dalam filsafat yang meskioun telah di akui kecsnggihan nya dalam menguak hal-hal yang bersifat harus mengakaui sempitnya ruang epistesmologis yang dimilkinya. Sehinga tehadap hal-hal yang bersifat ekstrim dan fundamental pada akhirnya manusia mmenerima kebenaran agama yan dilahirkan ke bumi melalui pewahyuan. Apalagi dalam episteme  merdernisme filsafat sendiri debenarnya melakukan desakanralisasi terhadap pengetahuan yang bersifat ketuhanan. Sampai saat ini meskipun masih ada saja pemikirtan yang bercorak Nietzchean, namun agama tetap diakui keberadan nya terutama dalam memberikan penjelasan tentang persoalan kemutlakan.
Jika dilihat dari deskripsi ini, tidak diragukan lagi bahwa agama mengembang misi agung. Namun demikian, kita tidak dapat menutup mata terhadaf. Fakta Bahwa agama juga tetap rawan konflik. Dalam menjelaskan persoalan ini. A. Rizal  sebagai saya melihat ada beberapa ffaktor yang menyebakan agama terlibat sebagai pemicu konflik. Cara beragama masyrakat yang berorientasi ke dalam sebagai pemahaman yang dangkal terhadap apa yangg dipadang mempunyai nilai otoritatif dan kemutlakan dalang agama. Keberagaman seperti ini dalam istilah psikologi agama disebut dengan gaya hidup keagaman otoritatif religion off authority.
Agama mana pun memang menyandarkan pada suatu otoritas mutlak yang hadir melalu simbol-simbol agama di mana Tuhan yang absolut berteofani. Inti spiritual dalam simbol harus di pahami dengan melakukan proses transendensi diri yakni proses pembebasan diri dari perankap simbolik aama. Tuhan sediri sesunguh nya telah memberikan peringatan kepada manusia agar dalam beragama tidak berhenti pada kawasan simbol. Secara individual keberagaman yang berhenti pada tataran simbol kurang memberikan dampak psikologis atau absurd. Sementara secara sosioloogi keberanaman yang demikian akan melahirkan implikasi-implikasi sosial yang bersifat dustruktif. Hal ini terjadi sebaggai mana dijelaskan oleh kalangan struktural funggsional dengan melacak fungsi dari aggama yaitu socieatal gluethat contributes to sosial cuhesion and soladiritas y intergrating and unifying the members of comunity. Agam dapat diabil sebagai perekat sosial karena dalam dirinya tersidia suatu sistem malna yang hadir melalui simbol. Dengan sistem makna inilah manusia disatukan dan terjadi kohedi sihinga terbentuksuatau komunitas. Ada kencendurangan dalam diri manusia sebagai dari keadan alami manusia untuk mempertahankan komunitas tersebut memlalui suatu rangkaian sosialisasi atau internaslisasi secara berkesinambunggan  antara antargenerasi.
Dalam proses demikian akan terjadi penguatan terhadap simbol yang sudah ada dan sekaligus pembatasan  boundary maintenance dari simbol yang lain sehinga indentitas komunal dapat di pertahan kan. Dalam rangka mempertahan kan identitas terseut terdapat kecendrungan dari angota komunitas untuk bersikap eksklusif bahw sering kali membuat pencitra an yang bersifat prejudice tentang komunitas lain. Dari sinilah iasanya konflik mulai digelar. Dan karena menyakut agama pontensi disspora dalam penyeberan sangat rentang terjadi.
Kondisi ini mengindikasikan adanya kerangka pandang teologi yang esklusif. Semua agama yang diturkan ke muka bumi meniscayakan terbentuk nya keyakinan teologi terhadap agama yang di peluk oleh umat manusia. Tanpa terbentuk nya keyakinan mantaf kepemelukan sesorang terhadap suatu aama hanya menimbulkan berbagai ketidak pasti terutama terhadap persoalan yan bersifat ontologi dan eskatologis. Tapi ada suatau hal yan perlu disadari juga bahwa keyakinan teologi isa menimulakan persoalan kursial jika ditempatkan dalam kerangka pandang pluralitas agama. Masalahnya karena mesing-masing agama menekankan kepda hal yang sama.
Keranka pandang teologi semacam ini kemudian berimplikasi pada lahir nya warisan stima sejarah masa lalu yang terus melekat tidak saja sebagai memori tetapi juga membentuk kesadaran kolektif para pemeluk agamayang dapat menimbulkan prasangka-presangka negatif terhadap eksistensi dan dinamika agama lain. Dari sejumlah peristiwa sejarah yang menorehkan luka relasi antaragama ada dua yang terus membekas yaitu perangg salib dan imperialisme yan nyata-nyata mengadungg misi keagaman misionarty.
Dengan sikap keberangam seperti di atas agama, mudah dimanfaatkan untuk blow up isu-isu di luar dunia keagaman yang sedang mengemuka, yang dalam perkembangan nya lebih jauh membawa pontensi konfik. Dengan memlalui proses sosialogis tertentu, fragmentasi sosial yang terjadi meremet pada antarumat beragama. Hal itu dimungkinkan terjadi karena dalam alam kebudayan masyrakat kita, terdapat kecenderungan untuk mengidentifikasi tesk-tesk sosial dengan kepemelukanya pada agama tertentu. Akibat nya masyrakat sering membentuk jarak sosial social distance berdasarkan kepada prngelompokan agama.
Jika sudah demikian, kekecewaan dan kecemburaan masyrakat yang mengalami tekanan untuk terfragmentasi secara sosial akan semakin menikat. Terjadinya intensitas emosi itu pada umumnya memlalui suatu proses sosiologis yang disebut dengan amplifikasi interaksional yakni suatu proses dimana angota saling memberikan rangsangan dan respon satu sama lainnya sehinga intensitas emosi dan tanggapan mereka mengalami penikatan. Dengan rasngsangan emosi itu sebuah kasus yang terjadi di masyrakat yang pada mulanya hanya terbatas antarindividu dan kelompok yang sempit bahkan sering kali hanya persoalan sepele dapat berkembang menjadi perilaku koletifyang dapat membawa pengaruh yang lebih luas lahi.
Kegiatan Dakwah. Setipa agama meniscayakan keggiatan dakwah sebagai media dalam ,enyosialsasikan ide-ide kebenaran agama. Selain itu dakwah juga mengadung nilai yang didasarkan kepada suatu ikatan keagaman tertentu. Dalam kontesk pluralitas agama kegiatan dakwah acap kali menimbulkan gesekan-gesekan dengan komunitas agama lain sebagai akibat dari dangkal nya orientasi. Misalnya saja orientasi bahwa dakwah bertujuan untuk mengaer pemeluk agama baru sebanyak-banyaknya tanpa memedulikan agama asal pemeluk baru tersebut. Dalam orientasi semacam ini justru pesan-pesan dasar agama menjadi terabaikan. Bahkan dalam relasi antaraggama kemudian muncul kecurigaan dan dendam.
Penyebab lahirnya konflik sebenarnya cukup kompleks. Agama hanyalah salah satu faktor yang langsung atau tidak lansung dilibatkan dalam proses lahirnya konflik. Sementara faktor-faktor lainnya saling berkaitan dan terakumulasi sampai kemudian muncul beragam persoalan sebagaimana digambarkan di atas.
Berharap dengan kondisi semacam ini, hal penting yang mendesak dilakukan adalah mengeliminasi berbagai aktor yang ada yang mungkinkan lahirnya konflik menjadi potensi perdamaian dan kerukunan. Salah satu komponen yang menjadikan harapan adalah pendidikan. Hal ini dapat dimaklumi karena salah satu usaha yang diyakini mampu menyatakan cita-cita dan mimpi-mimpi manusia adalah pendidikan. Secara sosiallogis pendidikan selain memberikan amunisi dalam memasuki masa depan ia juga memiliki hubungan dialktikal dengan transformasi sosial masyrakat. Transformasi yang berlansung dalam dunia pendidikan menggabarkan corak dari tradisi dan budaya sosial masyrakat yang ada. Karena itu pendidikan di bangun guna melaksanakan amanah masyarakat untuk menyalurkan angota-angota nya ke posisi-posisi tertentu. Artinya suatu sistem pendidikan bagaimana pun harus mampu menjadikan diri nya sebagai mekanisme alokasi proporsional bagi civitas akademika untuk memasuki masa depannya.
Pendidikan sendiri memiliki beragam fungdi. Ia dapat berfungsi sebagai alat untuk menyalurkan ilmu pengetahuan alat pembentuk watak  alat pelatihan keterampilan alat mengasah otak alat untuk meningkatkan pekerjaan alat investasi alat menanamkan nilai-nilai moral keagamaan alat pembentuk kesadaran berbangsa alat meningkatkan taraf hidup ekonomi alat untuk menurangi kemiskinan alat untuk meningkatkan status sosial individu maupun kelompok alat untuk menguasai teknologi alat untuk menguak rahasia alam manusia dan sejinisnya dan berbagai fungsi lainya.
Dalam kerangka fungsi yang sedemikian luas, pendidikan mulai jenjang terendah sampai jenjang tertingi, dapat didesainkan untuk membangun dan memberikan gambaran ideal tentang pluralitas dan multikultural. Bagaimmana pun juga pendidikan harus memiliki orientasi yang dirumuskan secara bersama-sama. Pluralitas dan multikulitas merupakan realitas yang menjadi tantangan besar yang harus dihadapi. Realitas yang pluralis dan multikultural ini dapat menjadi pontensi besar, karena mampu menambah khazanah dan kekayaan kehidupan. Tetapi juga dapat berubah menjadi persoalan besar manakalah anterelemen dalam pluralilats dan multikultural tersebut saling mengedepankan egonya dan kemauannya untuk saling menguasai. Oleh karena itu disinilah sisi signifikan konstrusi pendidikan pluralis-multikultural.
Mewujutkan hal ini memeang membutuhkan waktu yang tidak pendek dan biaya yang tidak ringan karena untuk implementasi nya diperlukan refformasi kurikulum, evaluasi guru dan semua komponen sebab pendidikan memang memiliki kerangka pikir yang logis sebbab pendidikan memang memiliki tugas untuk mengembangkan kesadaran atas tangung jawab setiap warga negara terhadap kelanjutan hidupnya, bukan saja terhadap lingkungan masyrakat dan negara tetapi juga terhadap umat manusia secara keselurah.
Untuk mencapai dan mewujutkan tujuan tersebut pendidikan sudah saatnya dijadikan  sebagai wahana pendewasaan.
Dalam melakukan reformasi kurikulum misalnya dibutuhkan keranggka pandang yang lebih utuh. Menajadi kinerja yang tidak akan membawa hasil secara maxsimal manakalah reformulasi kurikulum dilakukan secara parsial. Selain itu pihak yang melakukan desain kurikulum haruslah memiliki kapasitas dan komponetsi sebagaimana yang diharapkan. Dengan kata lain untuk melakukan reformasi kurikulum dibutuhkan persipan SDM handal ynag bisa memahami spirit dan hakikat pluralitas multikultural.
Walaupun pendidikan pluralis multikulturalmemiliki signifikasi yangg tingi tetapi pemahaman dan kesadaran dalam masyarakat masih jauh dari harapan. Apalagi kenyatan menujunkan bahwa pendidkan semacam ini belum menjadikan rumusan yang sistematus dan operasinal. Pembahasan dan diskusi terkait dengan pemdidikan pluralitas multikultaral kebanykan masih bersifat epistemologi dan belum samapai ke taraf aksiologis.

Dan mungkin sekian dulu imformasi yang saya bisa berikan pada anda para pembaca. Dan kita bertemu lagi di lain epesodi tulisa saya yang baru nanti.
Terima kasih telah membaca nya semoga berguna untuk anda.
Mohon maaf bila ada kekeliruan dalam tulisan saya di atas.

FROG GOZILLA
Ketua Organisasi Alternativ Rock Numetal Comnty Tato88 Tanjung Tabalong yang bergerak memajukan pendidikan di Banjarmasin Aceh dan Indonesia.
Organisasi ini juga sangat aktiv di industri musik Rock Endergrond,
Dan berjuang untuk membangun perintahan ustmaniyah yang baru,  


simbol organisasi

Avril Lavigne