WELCOME BLOGGER FROG GOZILLA
Terima kasih pada anda para pembaca sudah mau meluangkan waktu berharga anda hanya untuk membaca tulisan saya, Dan semoga menambah pengetahuan anda tentang sejarah.
PERANG ACEH DALAM PERSAINGAN POLITIK
Perang Aceh sudah berjalan tujuh tahun dan sama sekali tidak terlihat tanda-tanda berahkhir. Belanda mulai menyadari perlawanan Aceh tidak serupa dengan aksi perlawanan lain di tempat lain berlangsung singkat dan Belanda selalu menang. Tapi lain dengan Aceh. beberapa daerah sudah dikuasai termaksuk Banda Aceh ibukota kesultanan Aceh tetapi peperangan sengit masih berlangsung.
Sebelumnya Belanda sama sekali tidak memperkirakan perang Aceh akan berlarut dan tidak tahu kapan berahir. Belanda tidak menyiapkan kelengkapan logistik untuk menghadapi perang lama sementara korban di kalanga pasukan baik pertempuran atau penyakit kian bertambah dari tahun ke tahaun. tidak mudah untuk merekrut pasukan baru hingga 500 prajurit yang siap tempur dari jawa dengan medan tempur Aceh yang berbukit-bukit.
Selain itu belanda tidak menyetujui merekrit tentara-tentrara khusus darai Belanda untuk menghadapi perang Aceh. Akibat nya usaha terpaksa Jenderal Karel van der Heijed untuk melanjutkan serangan ofensif terpaksa dihentikan pada tahun 1879 karena kekuatan pasukan Aceh hanya 6500 prajurit dan perbekalan logostik kian menciut.
Perang Aceh menghabiskan angaran rata-rata 20 juta gulden setiap tahunnya. Disisni lain kondisi ekonomi pemerintahan Hindia Belanda kian memburuk. pada awal perang Aceh. Penjualan kopi menghasilkan keuntungan sangat besar sehinga pemerintahan kolonia memberi jaminan pinjaman khusus dari Staaten-generall untuk melakukan agresi terhadap Aceh. Pinjaman ini cukup kecil hanya 6,5 juta gulden pada tahun 1872-1874, tetapi sebagai besar penbeluaran untuk biaya peperangan diambil dari surplus terencana sebesar 23.3 juta gulden dalam anggaran kolonia pada tahun 1873. dan surplus terduga sebesar 16 juta gulden dari hasil penjualan kopi tahun itu pemasuk surplus yang diperoleh mentri keungan Belanda dari Hindia Belanda hanya sampai tahun 1877 dan berhenti ketika harga gula dan kopi menurun tajam di pasaran dunia.
Ketimpangan ini memberi dampak kepada pemerintahan Partai Liberal yang berkuasa ari november 1877 agustus 1879 yang menghadapi dilema, memprogramkan janji mengakhiri politik tanam paksa terhadap berbagai tanaman exspor, dan junga mengakhiri perang Aceh.
Dua masalah ini telah mendatangkan bencana bagi barisan oposisi anti tanam paksa maupun aksi menetang perang Aceh di negeri Belanda. Stateen General yang merupakan lembaga yertingi di Belanda selalu mepertanyakan mengapa peperanagan Aceh belum juga berahir.
Barisan anti revolusi berhaluan Calpinis di Belanda paa aksi demo tahun 1880 mengutuk keras perang Aceh yang dinilai sebagai salah satu peperangan yang paling mengerikan yang sama sekali tidak di perlukan.
Baik pemerintah Den Haag maupun Raad van indie di jakarta tidak menghendaki perang Aceh berlanjut dan menilai orang-orang Aceh sudah tidak mampu memenangkan peperangan. Kepala Staf angkatan perang belanda yang ke Aceh pada September 1879 menegaskan perang Aceh sudah usai dan tidak diperlukan lagi pemerintahan militr dan digantikan oleh sipil.
Kritik oposisi terahadap diterapkannya sistem pemerintahan militer di Aceh kian membesar. Menurut mereka, militer yang melanjutkan opereasi ofensif sama sema sekali tidak menjamin ke amanan dan perdamaian di Aceh. Yang diperlikan adalah pendekatan kemanusaian. Bukan represif militer. Buktinya perang Aceh sama sekali tidak berakhir bahkan tambah parah. adanya berbagai kecaman menyebabkan pemerintahan liberal melalui menteri kolonia Belanda Willem van Goltsein di Den Haag mengangkat Abraham Pruys van der hoeven pegawai senior Hindia Belanda yang cuti di Belanda sebagai gubernur sipil Aceh pada tahun 1880.
Untuk menjalankan pemerintahan sipil dilakukan melalaui proses di jakarta. Gebernur jendral Johan van Lansberge menujukan Jendral Karel van Hejden dan Abraham Pruys van Der Hoeven sebabagai angota komisi guna mepelajari bentuk yang cocok untuk Aceh dengan sasaran utama mewujutkan pemerintahan sipil. Diharapkan dari pemerintahan sipil ini masalah Aceh dapat dituntaskan dan tidak lagi menjadi momok konflik politik di Belanda. Johan van Lansberge meperbaiki posisi untuk memperoleh kepercayan dari Den Haag menyingkirkan kelompok perang di Aceh dengan mengambilikan pengunsi ke rumah-rumah.
Persilisahan antara pro sipil dengan kelompok perang tetap berlanjut dan suksr dipadukan dalam satu komisi. Van der Hoeven tetap mepertahankan sipil sedangkan Van der Heijeden pada prinsisp peranan militer harus tetap dipertahankan paling tidak setahun lagi untuk mendapatkan stabilitas keamanan Benda pandangan ini barau dapat di atasi oleh Frederik der Kinderen angota Raad van indie yang bepengaruh.
Setelah der Kinderen melakukan penyelidikan di lapangan dia sependapat dengan tekanan militer di Aceh. Untuk itu pada 6 April 1881, secara resmi perang Aceh kedua dinyatakan resmi berahir walau tidak ada pernyatan menyerah dari pasukan Aceh. Pernyatan itu sekaligus melantik Abraham Pruys sebagai gubernur Aceh yang memimpin pemerintahan sipil Sejak itu raja mata satu yang bengis dicopot dari gebernor Aceh.
Langkah ini cukup mengejutkan dunia pemberitan yang mengikuti perang Aceh melalui media-media pers hinga merusak reputasi Belanda di berbagai forum internasinal. Walaupun perang diklaim berakhir. Iternasinal menghedaki bukti karena pernyatan itu dinilai sepihak dan tidak ada pernyatan menyerah dari pasukan Aceh. Lagi pula pemberitaan peperangan di partai barat tetap saja berlangsung sengit. Perang gerilya di pedalaman dengan menyerang berbagai posisi Belanda masih berlangsung.
Nyak Hasan putra Teuku Paya dan Nyak Husain adik Imuen Lueng Bata menyusun kelompok-kelompok gerilya dan melakukan penyerangan ke garis pertahanan Belanda. Teuku Chik Di Tiro ulama cerdas membakar semangat orang-orang Aceh dengan menujukan nilai-nilai kepahlawanan dengan jaminan bahwa Tuhan berada di pihak mereka. Dorongan semangat yang dilakukan Chik Tiro berhasil membakar semangat orang-orang Aceh hinga aksi perlawanan terhadap angrei Belanda meluas.
Aceh dilanda api perjungan kemerdekan terutama sepanjang tahun 1882-1883. Tiada hari tanpa penyerangan mematikan sepanjang pos-pos Belanda. Pekerja China yang ditangkap untuk membangun tangsi-tangsi meliter di Aceh menjadi sasaran penyerangan-penyerangan hinga mereka kabur dalam jumlah besar pada 1881. Serangan-serangan sporadis gencar dilakukan untuk menurunkan moral pasukan Belanda yang menjadi korban tusukan rencong yang memantikan.
Pada akhir 1882 terdapat 15 pasukan turunan Eropa yang disersi dan menyerahkan diri kepada Aceh. Ankatan disersi ini menikatkan pada periode 1882-1883, hinga 70 prajurit mereka yang membelot ke Aceh ini dimanfaatkan untuk meracik mesiu dan memperbaiki peralatan meliter yang rusak
Dan cukum sampai disini dulu yang saya bisa berikan untuk anda para pembaca. Dan kita berjumpa lagi di edisi tulisan saya selanjut nya nanti, Terima kasih telah membacanya sampai habis, semuga berrguna dan menambah pengetahuan anda tetang sejarah Aceh. Mohon maaf bila ada kekeliruan dalam tulisan saya.
Frog gozilla
Ketua organisasi Alternativ Rock Numetal Comnty Tato88 Tanjung Tabalong. yang bergerak untuk menikatkan dan memajukan pendidikan di Banjarmasi dan Indonesia.
Dan berjuang untuk membangun kembali pemerintahan Ottoman. Dan kami juga organisasi yang berjuang menjayakan kembali Musik Rock
Simbol organisasi
Ketimpangan ini memberi dampak kepada pemerintahan Partai Liberal yang berkuasa ari november 1877 agustus 1879 yang menghadapi dilema, memprogramkan janji mengakhiri politik tanam paksa terhadap berbagai tanaman exspor, dan junga mengakhiri perang Aceh.
Dua masalah ini telah mendatangkan bencana bagi barisan oposisi anti tanam paksa maupun aksi menetang perang Aceh di negeri Belanda. Stateen General yang merupakan lembaga yertingi di Belanda selalu mepertanyakan mengapa peperanagan Aceh belum juga berahir.
Barisan anti revolusi berhaluan Calpinis di Belanda paa aksi demo tahun 1880 mengutuk keras perang Aceh yang dinilai sebagai salah satu peperangan yang paling mengerikan yang sama sekali tidak di perlukan.
Baik pemerintah Den Haag maupun Raad van indie di jakarta tidak menghendaki perang Aceh berlanjut dan menilai orang-orang Aceh sudah tidak mampu memenangkan peperangan. Kepala Staf angkatan perang belanda yang ke Aceh pada September 1879 menegaskan perang Aceh sudah usai dan tidak diperlukan lagi pemerintahan militr dan digantikan oleh sipil.
Kritik oposisi terahadap diterapkannya sistem pemerintahan militer di Aceh kian membesar. Menurut mereka, militer yang melanjutkan opereasi ofensif sama sema sekali tidak menjamin ke amanan dan perdamaian di Aceh. Yang diperlikan adalah pendekatan kemanusaian. Bukan represif militer. Buktinya perang Aceh sama sekali tidak berakhir bahkan tambah parah. adanya berbagai kecaman menyebabkan pemerintahan liberal melalui menteri kolonia Belanda Willem van Goltsein di Den Haag mengangkat Abraham Pruys van der hoeven pegawai senior Hindia Belanda yang cuti di Belanda sebagai gubernur sipil Aceh pada tahun 1880.
Untuk menjalankan pemerintahan sipil dilakukan melalaui proses di jakarta. Gebernur jendral Johan van Lansberge menujukan Jendral Karel van Hejden dan Abraham Pruys van Der Hoeven sebabagai angota komisi guna mepelajari bentuk yang cocok untuk Aceh dengan sasaran utama mewujutkan pemerintahan sipil. Diharapkan dari pemerintahan sipil ini masalah Aceh dapat dituntaskan dan tidak lagi menjadi momok konflik politik di Belanda. Johan van Lansberge meperbaiki posisi untuk memperoleh kepercayan dari Den Haag menyingkirkan kelompok perang di Aceh dengan mengambilikan pengunsi ke rumah-rumah.
Persilisahan antara pro sipil dengan kelompok perang tetap berlanjut dan suksr dipadukan dalam satu komisi. Van der Hoeven tetap mepertahankan sipil sedangkan Van der Heijeden pada prinsisp peranan militer harus tetap dipertahankan paling tidak setahun lagi untuk mendapatkan stabilitas keamanan Benda pandangan ini barau dapat di atasi oleh Frederik der Kinderen angota Raad van indie yang bepengaruh.
Setelah der Kinderen melakukan penyelidikan di lapangan dia sependapat dengan tekanan militer di Aceh. Untuk itu pada 6 April 1881, secara resmi perang Aceh kedua dinyatakan resmi berahir walau tidak ada pernyatan menyerah dari pasukan Aceh. Pernyatan itu sekaligus melantik Abraham Pruys sebagai gubernur Aceh yang memimpin pemerintahan sipil Sejak itu raja mata satu yang bengis dicopot dari gebernor Aceh.
Langkah ini cukup mengejutkan dunia pemberitan yang mengikuti perang Aceh melalui media-media pers hinga merusak reputasi Belanda di berbagai forum internasinal. Walaupun perang diklaim berakhir. Iternasinal menghedaki bukti karena pernyatan itu dinilai sepihak dan tidak ada pernyatan menyerah dari pasukan Aceh. Lagi pula pemberitaan peperangan di partai barat tetap saja berlangsung sengit. Perang gerilya di pedalaman dengan menyerang berbagai posisi Belanda masih berlangsung.
Nyak Hasan putra Teuku Paya dan Nyak Husain adik Imuen Lueng Bata menyusun kelompok-kelompok gerilya dan melakukan penyerangan ke garis pertahanan Belanda. Teuku Chik Di Tiro ulama cerdas membakar semangat orang-orang Aceh dengan menujukan nilai-nilai kepahlawanan dengan jaminan bahwa Tuhan berada di pihak mereka. Dorongan semangat yang dilakukan Chik Tiro berhasil membakar semangat orang-orang Aceh hinga aksi perlawanan terhadap angrei Belanda meluas.
Aceh dilanda api perjungan kemerdekan terutama sepanjang tahun 1882-1883. Tiada hari tanpa penyerangan mematikan sepanjang pos-pos Belanda. Pekerja China yang ditangkap untuk membangun tangsi-tangsi meliter di Aceh menjadi sasaran penyerangan-penyerangan hinga mereka kabur dalam jumlah besar pada 1881. Serangan-serangan sporadis gencar dilakukan untuk menurunkan moral pasukan Belanda yang menjadi korban tusukan rencong yang memantikan.
Pada akhir 1882 terdapat 15 pasukan turunan Eropa yang disersi dan menyerahkan diri kepada Aceh. Ankatan disersi ini menikatkan pada periode 1882-1883, hinga 70 prajurit mereka yang membelot ke Aceh ini dimanfaatkan untuk meracik mesiu dan memperbaiki peralatan meliter yang rusak
Dan cukum sampai disini dulu yang saya bisa berikan untuk anda para pembaca. Dan kita berjumpa lagi di edisi tulisan saya selanjut nya nanti, Terima kasih telah membacanya sampai habis, semuga berrguna dan menambah pengetahuan anda tetang sejarah Aceh. Mohon maaf bila ada kekeliruan dalam tulisan saya.
Frog gozilla
Ketua organisasi Alternativ Rock Numetal Comnty Tato88 Tanjung Tabalong. yang bergerak untuk menikatkan dan memajukan pendidikan di Banjarmasi dan Indonesia.
Dan berjuang untuk membangun kembali pemerintahan Ottoman. Dan kami juga organisasi yang berjuang menjayakan kembali Musik Rock
Simbol organisasi


Tidak ada komentar:
Posting Komentar