Masalah Penanganan Hukum HAM Kasus Mirna Di Indonesia 2016
WELCOME BLOGGER FROG GOZILLA
Terima kasih pada anda para pembaca yang sudah mau melungkan waktu berharga anda hanya untuk membaca tulisan saya
Pendahuluan
Gambar Avril Fans Fender Repoter Redaksi Jurnalis Kantor Berita Kanada Banjarmasin
Tulisan ini saya dapat pertangung jawabkan kebenaran nya, dan tulisan ini juga saya tulis dari hasil diskusi dengan kawan-kawan Avril fans fender dan pengaman hukum dan HAM Banjarmasin, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.
Tulisan ini membahas masalah penangan hukum dan HAM di Indonesia 2016 yang sudah menyimpang, mengcilkan masalah pelangaran HAM yang besar, dan memperkecil masalah hukum pelangaran HAM yang besar, di tambah kegilaan media TV Jakarta, yang membombardir publik, dengan cara memperbesar masalah kecil dan memperkecil masalah yang besar.
Dan tulisan ini saya tulis dengan singkat padat dan berisi, dan juga sengaja saya merahasikan beberapa nama tokoh yang terlibat diskusi ini, karena atas dasar perjanjian penulisan yang di lakukan ini.
Dan mohon di maklumi pembaca, tulisan saya ini tercampur bahasa Indonesia dan melayu banjar, dan saya kurang pasif berbahasa Indonesia, dan sangat pasif berbahasa melayu, dan kalimat dalam tulisan ini juga di tulis dengan kalimat kata kasar, sesuai dengan hasil diskusi nya, dan saya tidak merubah nya.
Masalah Penanganan Hukum Ham Kasus Mirna Di Indonesia 2016
Gambar diskusi di kantor berita Kanada Banjarmasin
Kami masih heran dengan pemerintah Indonesia ini, yang juga tidak belajar dengan sejarah dulu, mereka semua selalu menyalahkan Orde baru nya rezim Soharto, pada hal pemerintah Indonesia ini, yang saat ini masih saja sama dengan Orde Baru nya pak Harto, hanya saja zaman Orde baru, pelangaran HAM nya jelas terlihat, berbeda dari sakarang ini yang cara melakukan pelangaran HAM tersebut kasat mata publik, namun hal demikian pelangaran HAM tersebut ada.
Kami juga heran dengan media masa cetak dan eletronik, yang mana sekarang ini, ada sebuah kasus pembunuhan seorang wanita bernama Mirna, yang membunuh nya adalah Jesika, dengan cara meracuni minuman korban nya.
Hampir beberapa bulan ini, aparat hukum Indonesia di sibukan dengan kasus pembunuhan Mirna tersebut, dan setiap saat di TV di tayakan, tidak peduli malam atau siang, dan semua media TV Jakarta menayangkan hal tersebut, dan ini juga membuat publik bertanya, mengapa media TV Jakarta dan aparat hukum Indonesia melakukan hal tersebut, padahal jika di lihat dari kasus pembunuhan tersebut biasas saja, seperti pembunuhan berancana yang lain terjadi, dan jika di bandikan dengan kasus Munir aktivis HAM Indonesia, yang juga mati dalam pembunuhan berancana, yang juga di racuni nya minuman Munir oleh tersangka, tapi kasus Munir, tidak di urus pemerintah Indonesia, padahal dalam segi masalah lebih penting kasus Munir dari pada kasus Mirna, karena kasus Munir banyak menyimpan rahasia yang harus di ungkap, dan rahasia itu mungkin keterlibatannya pemerintah Indonesia ini, dengan bermacam kasus-kasus kejahatan nya, yang di ketahui Munir.
Kasus pembunuhan Mirna lebih penting dari kasus pembunuahn Munir
Dan jika di bandikan kasus pembunuhan berencana, yang di lakukan Jhon Key, dengan menembak korban nya itu, kalah kasus Mirna ini, Jhon Key adalah pembunuhan bayaran Indonesia, sama Dengan Mafia besar Internasional dari Banjarmasin, yang bernama Ali Bima, yang korban nya yang di ketahui saja sudah 14 orang, atau Olo Pengabain dari Medan yang juga The Best pembunuhan bayaran Indonesia, yang mana nama mereka melintang di dunia Internasional, dan mereka ini sudah menampar muka Polri, yang mana tidak bisa mengungkap nya dengan benar.
Jika kita bicara masalah HAM dan pembunuhan, dan bagai mana penangannya di dunia ini, maka semua bisa disebut gagal, karena bukan saja Indonesia yang juga melakukan hal demikian, pembiyar, alias tutup mata dan telinga, tapi Indonesia juga hanya negara yang bisa di katakan masih belum dapat peringkat atas, atas kasus pembunuhan nya, negara yang banyak melakukan Pelangaran HAM berat, terhitung dari perang dunia 1 adalah Amerika Serikat.
Kami punya bukti sangat banyak, kasus pelangaran HAM oleh Amerika Serikat, dan jika anda inggin langsung melihat bukti nya, maka lihatlah berita di TV, yang meliput perang Timor Tengah, Amerika Serikat yang mengatakan Nazi dan Hitler kejam, sarat akan pelangaran HAM terhadap golongan Yahudi itu, tidak banyak menelan korban nya, di bandikan dengan korban rakyat sipil Irak, Afganistan, Libyia, Afrika, Pakistan, Palestina, Bom Nagasaki Herosima, Perang Vetnam, Bersekongkol dengan Indonesai menduduki T imor Lesti, di Papua, di Cina, dan Amerika Latin, seperti Kuba, Mexsico, Venazualia,dan lain nya, penjara Militer NATO, Bagaikan neraka, atau Kamp nya Nazi Hitler, dan begitulah sudah Amerika Serikat, yang sama dengan Indonesia, yang mana menuduh rezim pak Harto itu sarat akan pelangaran HAM berat, padahal sama saja juga.
Seperti yang di ajukan oleh kawan-kawan semua nya, yang sekarang ramai di bicarakan adalah, mengapa pemerintah Indonesia, membesarkan masalah kecil, dan mengecilkan masalah yang besar, bagai mana tidak demikan penilain publik, karena sudah membesarkan kasus Mirna yang kecil itu, dan juga pengadilan yang berbelit-belit untuk menenutukan hukum pada tersangka nya Jesika, pada hal bukti sudah ada. mungkin bisa juga ini adalah sandiwara pemerintah Indonesia, dengan media masa Jakarta sana, untuk mengecuhkan publik dari masalah lain, yang lebih penting di urus dari pada kasus Mirna itu, dan barangkali juga, media TV Jakarta sudah kehabisan berita hangat, jadi membuat hal tersebut di besar, bukan saja media TV politik macam Metro TV dan koroni nya yang melakukan hal tersebut, tapi media TV hiburan, yang seperti gosip selebrit dan koroni nya, yang panjang lebar mengurus masalah Pembunuhan dan pelangaran HAM Yang biasa dan kerap kali terjadi di mana saja dan kapan saja, bahkan kasus pembunuah Mirna ini, lebih di gambarkan mengerikan dari Kasus pembunuhan oleh Sumanto, yang mana bisa memakan korban yang di bunuh nya, dan juga di gambarkan lebih parah dari kasus Konflik pelangaran HAM, oleh suku dayak yang mana kerap kali bisa saling serang dengan suku banjar, pembunuhan Exstrem sekali, yang mana berlaku pertarungan macam galdiator saja.
Media TV Jakarta yang membesarkan masalah ini juga sudah mencoreng nama baik Indonesia, di mata Internasional, yang mereka nilai, aparat hukum Indonesia sudah mengurus hal yang tidak seharus nya di besarkan, dan berbelit-belit model mengurus pengadilan militer, yang sudah berlaku pelangaran HAM Berat macam Densus88 betukan Amerika Serikat, yang berkampanye Islam Teroris.
Gambar Densus88, Petrus nya pak Harto zaman sekarang
Kita kembali ke sejarah dulu sedikit agar jelas apa yang inggin di sampaikan tulisan ini.
Di zaman Orde Baru nya Rezim Soharto dulu, ada sebuah pasukan Rahasia yang bernama PETRUS panjang nya adalah, Penembak mesterius, Petrus adalah bentukan Orde Baru, yang mana mereka di tugaskan untuk membunuh dan menghilankan semua lawan Politik nya Orde baru tersebut, Petrus ini tidak segan-segan dalam berbuat pelangaran HAM, mereka bisa datang kapan saja, kerumah korban nya, dan menhilang bagai hantu saja, banyak dari mereka Petrus, sudah menghilangkan orang dengan menculik nya, sampai saat ini orang yang di culik mereka itu tidak pernah kembali lagi kerumah dan kekeluarga nya, dan Munir masuk dalam Target tersebut, cuma saja Munir selalu lolos saat itu, dan sampai ajal dengan di racuni di minuman nya, yang mana saat itu, terbang dari Jakarta untuk ke Belanda.
Dan Petrus ini tidak jauh beda dengan Pasukan Kusus Polri bentukan Amerika Serika di Indonesia ini, yang mana Densus88 yang sudah banyak melangar HAM Orang Indonesia, dengan dali Islam teroris, semua Ulama Islam akan di bunuh mereka, tanpa jelas akan bukti nya tersebut, seperti yang di katakan oleh seorang pengamat HAM dari Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, yang mana beliua sudah mengamati densus88 itu, dari tahun 2005 yang lalu, yang mana Densus88, menembak mati orang waktu Sholat Isa, kejadian tersebut terjadi di Jawa Barat, pada hal Ulama tersebut sudah tua, dan mesjid juga sudah di kepung nya, yang mana 90% ulama tersebut tidak akan bisa lari lagi dari mereka, Densus88 tidak seharus nya membunuh nya, dan jika memang dia adalah Teroris, maka bawa dia ke kantor untuk di sidik, dan jelas kan pada publik juga dengan terbuka, dan tuduhan tersebut sepeli, Ulama yang tidak pernah keluar negeri itu, jangankan keluar negeri, untuk berobat kerumah sakit saja tidak mampu, di katakan nya Densus terlibat Usama Bin Laden, aneh betul, kapan Usama Bin Laden bertemu ulama yang tua bangka dan sakit-sakitan itu, dan pelangaran HAM tersebut tidak di urus pemerintah Indonesia, dan mereka malah mengurus kasus pembunuhan Mirna yang bisasa saja ini, yang lebih parah kasus Jhon Key Tersebut.
Dan kasus pembunuhan kekerasan yang melangar HAM, yang lebih penting di urus, dari pada kasus Mirna tersebut adalah, Kasus konflik bersenjata TNI, POLRI, dengan GAM Aceh, dan OPM Papua, yang juga sampai sekarang ini tidak di tangani, kami bukan membela pasukan GAM Aceh atau OPM Papua, tapi malah inggin mengukap nya sacara benar, yang mana TNI dan GAM kontak senjata di lokasi umum macam pasar dan perumahan, yang berujung terbunuh nya rakyat sipil Aceh, dan Papua, TNI yang dan GAM tidak bisa menahan diri lagi, banyak pemerkosan terjadi, penjarahan dan segala bentuk aksi jahat lain nya, yang juga bagai hilang di talan bumi, belum lagi tuduhan dunia terhadap Milis Aitarak, yang melakukan Pelangaran HAM di Timor Lesti, yang mana Amerika Serikat, menghasut Indonesia untuk berdagang Senjata nya, dengan Dalil, pendirian negara Komunis oleh kolonia Purtugis saat itu, maka Indonesia akhir menanngung dosa nya sendirian, dan paling kasian adalah Erico Gudteres, panglima pasukan Aitarak, anak dari Kompasu, cucu dari TNI, buyut nya Oleh Abri, kurang Ajar betul Amerika Serikat mengado domba Indonesia untuk jual senjata nya, dan begitu sudah Amerika Serikat, yang juga melakukan hal yang sama di Timor Tengah, yang mana Amerika Serikat, yang degelari oleh Chaves Hugu, Presiden Venazualia, Amerika Serikat pedangan Asongan, kaki lima yang berjaja senjata Api dan jasa militer bayaran di Timor Tengah sana.
Kita kembalik kejalur pembahansan, jadi banyak sekali kasus pelangaran HAM dan pembunuhan yang lebih penting dari Kasus pembunhan Mirna ini oleh si Jesika itu, seperti kasus menghukum mati pengedar Narkoba Ala Rezim Jokowi, mana juga sudah menlangar HAM, karena apa yang di lakukan Bandar Narkoba tersebut, masih belum bisa di jatuhi hukuman mati, karena masih parah korupsi, yang mana korupsi merugikan seluruh orang Indonesia, dan bandar Narkoba, hanya merugikan diri nya sendiri, kawan-kawan sesama mafia, dan kelompok lain nya lagi, ini lebih penting dari kasus Mirna tersebut.
Dalam diskusi ini juga, Pakar HAM dan Hukum dari Sumatera ankat bicara, yang mana menudukan untuk pemerintah Indonesia, yang dari masalah tikus menjadi sebesar gajah, dan sebalik nya, masalah sebesar gajah menjdi kecil tikus, hukum tumpul ke atas, tajam di bawah, ini sudah keterluan, yang kira harus cepat di sudahi, dan teruma media TV Jakarta yang kekurangan berita itu, yang sudah mempermalukan Indonesia ini, yang ribut akan masalah kecil saja, dan menurut saya kasus pembunuhan Mirna itu, sama saja dengan kasus pembunuhan lain yang terjadi di dunia ini, dan media tv kekurang berita yang juga mereka tidak menduga akan dampak perbuatan mereka itu, yaitu sudah bikin malu negara ini, yang membesarkan masalah kecil, barang kali mereka semua itu sudah gila dan kurang waras lagi sudah, yang mana sudah terlibat dalam kasus tersebut.
Yang paling bodoh, adalah pemerintah Indonesia, dan seluruh koroni nya, mungkin saja juga dibayar oleh media TV untuk membuat gaduh Masyarakat, yang selama ini tidak ada berita hangat lagi, barang kali juga, memang sengaja pemerintah untuk melarikan pandangan Publik terhadap kasus yang penting lain, dan barangkali pemerintah Indonesia juga membayar media TV Jakarta untuk memperbesar masalah kecil ini.
Kesimpulan Avri Fans Fender dalam Kasus ini
Ketua Avril fans fender Banjarmasin, Rahmawati memberika rincian nya, dalam memandang kasus ini, tidak lebih dari persekongkolan media TV Jakarta dan Pemerintah Indonesia, yang bom bardir publik, dan ini di lakukan banyak hal yang mendasari nya, mereka juga sudah tutup mata dan telinga, atas gunjingan neraga lain Macam Malasyia dan Thailand, yang beberapa kali menyuarakan hal, tersebut, kasus kecil di besarkan, sedangkan masala penting lain nya, tidak di hiraukan nya lagi, kasus ini juga sudah heboh dari sebuah bom meledak di Sumatera kamarin, kasus ini juga lebih tenar darei kasus konflik Cina VS Orma Sumatera di Tanjung Balai kemarin, dan menurut saya ini harus cepat di hentikan sekian dan terima kasih
Dan mungkin sekian dulu imformasi yang saya bisa berikan pada anda para pembaca. Dan kita bertemu lagi di lain epesodi tulisa saya yang baru nanti.
Terima kasih telah membaca nya semoga berguna untuk anda.
Mohon maaf bila ada kekeliruan dalam tulisan saya di atas.
FROG GOZILLA
Ketua Organisasi Alternativ Rock Numetal Comnty Tato88 Tanjung Tabalong yang bergerak memajukan pendidikan di Banjarmasin Aceh dan Indonesia.
Organisasi ini juga sangat aktiv di industri musik Rock Endergrond,
Dan berjuang untuk membangun perintahan ustmaniyah yang baru,
Simbol Organisasi
Avril Lavigne






Tidak ada komentar:
Posting Komentar